“Kak Fel, please jangan nangis lagi, ini make – upnya nggak ngeset lho kalo kena air mata terus.” tukas salah satu tim MUA yang bertugas mendandani Felo untuk sesi iklan produk minuman di televisi.
“Diem ahh lo.. kayak gak tau orang habis putus aja!” gertak Felo dengan suara sengau. Tisu yang dipegangnya tak berhenti mengelap air hidung yang terus – terusan mengalir.
“Udah lah Fel, cari cowok kaya yang jalannya lurus – lurus aja. Nggak kayak Noah. Mega proyeknya nggak jalan, suka nyuap polisi. Orang kayak gitu masih lo kejar juga?! Nggak bakal tenang hidup lo!.” ujar Vanya, sahabat dekatnya yang selalu menemani Felo saat galau.
“Tapi aku cinta sama dia, Vanya.. cinta banget.”
“Cinta Noah apa duitnya? Ups!”
“Ya Noah lah, goblog! Heran gue! Kenapa dia repot – repot bikin acara tunangan kalo pada akhirnya nggak mau nikahin aku?” keluh Felo. Disekanya ujung mata yang berair secara asal, membuat foundation-nya luntur lagi.
“Kan udah dibilang, dia cuma butuh popularitasmu.” ucap Vanya sembari memiringkan bibir bawahnya. Gadis cerewet itu memang hobi mempermainkan emosi Felo.
“Ya emang, sih kita udah bikin kesepakatan kayak gitu. Tapi masa selama dua tahun pacaran Noah nggak menaruh perasaan sama gue? Apa gue kurang cantik, ya?” suara Felo semakin terdengar sengau.
“Enggak, kamu cantik kok.” tukas Vanya. “Mungkin Noah nggak bisa nikah sama kamu karena lagi ngincer cewek lain.” tukas Vanya sembari terkekeh, membuat Felo menabok gadis cerewet itu saking kesalnya.
“Sampah banget mulut lo!”
Tiba – tiba saja Ibu Felo membuka pintu ruang make – up dan bergegas menghampiri anak kesayangannya. Wajahnya menyiratkan bahwa ia sudah tak sabar ingin menyampaikan sesuatu.
“Mama ngapain ke sini?” tanya Felo sesaat setelah si ibu mengambil tempat duduk di sampingnya.
“Mama punya kabar mengejutkan. besok malem, Noah mau ngadain party. Mama nggak tau buat ngerayain apa tapi yang jelas kamu harus dateng. Dan bawa ini!” Ibu Felo menyerahkan sekantung plastik kecil yang berisi potongan kain kecil yang kusam, membuat dahi Felo berkerut penuh tanda tanya.
“Apa ini?”
“Pokoknya bawa aja dan taruh di sakunya.” jelas Ibu Felo penuh harap. Tak berapa lama Felo menggelengkan kepala tanda tak setuju.
“Please deh, Ma. Aku nggak percaya barang klenik kayak gitu.” mata Felo melotot tajam pada ibunya sendiri. Membuat hati seorang ibu Felo yang sekeras batu teriris perih.
“Udah.. dicoba aja, Fel. Siapa tau mempan” bujuk Vanya enteng. Gadis cerewet itu sebenarnya juga tidak percaya dengan hal – hal klenik. Tapi, mengetahui sifat ibunya Felo yang berambisi besar mendapatkan menantu seorang Crazy Rich, barang aneh tersebut pasti punya khasiat yang mujarab.
Felo melirik barang itu dengan tatapan lesu. Tangannya perlahan meraih plastik kecil itu dengan ragu meskipun ibunya menatapnya yakin. Bagaimana pun juga, impiannya sejak kecil untuk mendapatkan pangeran berkuda putih yang tinggal di kastil harus terwujud. Apapun caranya.
***
Sepulang sesi pemotretan, Felo memutuskan meluapkan amarah dan kesedihannya dengan menjadi teman satu malamnya Pak Carlos, pemilik rumah produksi Kapoor Production. Mereka berdua terbaring telanjang bulat di sebuah kamar hotel berbintang lima yang modern. Wajah letih dua insan beda umur itu menegaskan betapa dahsyatnya pertempuran barusan.
“Barusan kamu hot banget, makasih ya, sayang!” ucap Pak Carlos sembari mencium kening Felo. Ada kepuasan di raut wajah keriput itu karena kejantanannya tersalurkan oleh tubuh molek Felo, yang tidak pernah ia dapatkan dari istri tuanya.
“Yang, kamu bisa nggak bikin aku nikah sama Noah? Kamu kan punya koneksi orang – orang penting.” pinta Felo memohon. Mata sembabnya semakin menonjol saat melihat wajah pria paruh baya itu.
“Noah? Noah mafia properti itu?” ujar Pak Carlos meremehkan, membuat Felo bersungut kesal. Raganya memang sering ‘dipakai’ para petinggi – petinggi perusahaan untuk memuluskan karirnya. Tapi di dalam hatinya, hanya ada Noah seorang.
“Apa yang lo dapet dari Noah? Dia banyak musuhnya. Lo ceroboh sedikit, kelar hidup lo! Mending jadi istri siri gue. Pasti gue mulusin jalan lo jadi artis nomor satu di Indonesia!”
“Aku nggak mau jadi istri siri atau istri kedua! Aku maunya jadi nyonya! Kamu sih nggak mau cerein istrimu yang udah turun mesin itu!” ucap Felo. Alisnya menukik tajam, sarat akan keangkuhan dalam dirinya.
“Aku bisa ngabulin semua permintaanmu, kecuali cerein Desi. Bisnisku nggak jalan tanpa campur tangan dia.” ucap Pak Carlos, sudut matanya melirik pada wajah gadis cantik yang bersandar manja di dadanya.
“Semua? Berarti bikin Noah bertekuk lutut sama aku juga bisa dong?!” tanya Felo merengek, membuat Carlos membuang nafas kesal.
“Gue nggak mau berurusan dengan mafia licik kayak dia. Masih nggak ngerti aja lu, Fel!”
Sejenak Felo berpikir. Otaknya yang keras kepala memang sulit menerima jawaban yang tidak diinginkan.
“Minta yang lain aja, lah.. jangan mempersulit diri dengan menikahi mafia kayak Noah.”
“Iya.. iyaa.. jangan ngomel gitu, dong, sayang..” jawab Felo manja.
“Kalo gitu.. aku minta yang lain boleh nggak?”
“Apa?!”
“ Bisa nggak kamu jadiin aku pemeran utama di Rumah Kaca? Pasti bisa dong..” Felo memasang wajah imut agar kali ini Carlos mengabulkan permintaannya.
“Yaa.. gampang lah, nanti gue suruh Mega batalin kontraknya Gladys.” mendengar ucapan itu, Felo langsung berseru kegirangan, seakan lupa hatinya sedang patah. Carlos yang melihatnya hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Tak lama kemudian Felo mencium bibir hitam lelaki berumur itu, dan mereka pun melanjutkan ronde kedua, di hotel milik keluarga Desi, istri sah Carlos.
***
Seminggu sudah Rania dihantui rasa bersalah atas tindakannya yang gegabah. Ia memilih tinggal di kediaman Noah untuk sementara waktu sembari menunggu kepulangan lelaki itu dari rumah sakit dan meminta maaf padanya. Waktu itu, ia sebenarnya tidak berniat untuk membunuh Noah. Tapi entah setan apa yang merasukinya, saat membayangkan kematian Taka yang begitu tragis, pikirannya langsung menuduh bahwa Noah lah pelakunya. Padahal, ia bukan tipe wanita yang ceroboh. Apapun informasi yang didapat, ia harus menemukan bukti yang valid.
Tiba – tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. Rania langsung bergegas lari membuka pintu itu, berharap salah satu pengawal Noah membawa kabar baik. Namun, seketika hatinya kecewa saat mengetahui di balik pintu itu bukan pengawal biasanya, melainkan staf kitchen yang bekerja di rumah Noah. Staf pria tersebut membawakannya sepiring english breakfast ikan tuna.
“Maaf, tapi saya nggak pernah sarapan.” kata Rania. Meskipun wajahnya masih sendu, ia berusaha sesopan mungkin kepada staf kitchen yang setiap hari menyediakan masakan kelas atas selama dia tinggal di rumah ini.
“Iya, Bu. Pak Noah pernah bilang sama saya kalau Ibu nggak sarapan. Tapi beliau pengen Ibu sarapan selama Ibu tinggal di sini.” Rania menautkan alis. Dari mana Noah tahu kalau dia tidak pernah sarapan?
“Pak Noah udah sembuh?”
“Nggak tau saya, Bu. Coba tanya Mas Bagas aja.” ucap si staf dapur. Membuat Rania sedikit kecewa.
“Yaudah saya balik dapur dulu, Bu”, pamit sang staf sembari menyerahkan sepiring english breakfast kepada Rania. Bergegas Rania menutup pintu setelah mengucapkan terima kasih, lalu merebahkan tubuhnya di kursi dekat jendela.
Sembari menyantap sarapan, pikirannya mengawang atas apa yang telah dipersiapkan Noah untuknya. Ia bertanya dalam hati, dari mana lelaki itu tahu tentang makanan kesukaannya, hobi, bahkan warna kesukaan pakaiannya? Teringat seminggu yang lalu, saat pertama kali ia memijakkan kaki di kamar super luas ini, ia tersanjung oleh isi kamar yang sudah dipenuhi barang – barang yang ia butuhkan, mulai dari pakaian, tas, sepatu hingga piano untuk mengisi kekosongan. Bahkan, dress warna putih tanpa lengan yang sedang dipakainya menjadi baju favoritnya saat ini. Seketika hati lembut wanita itu menyesali perbuatan jahat yang telah dilakukannya. Tidak sepantasnya lelaki yang telah memberikan segalanya mendapatkan luka dari tangannya sendiri.
Tiba – tiba saja, ia mendengar deru suara mobil yang berhenti di depan bangunan utama. Sudut matanya mulai melihat ke bawah. Terlihat seorang pengawal muda membuka pintu belakang sembari membungkuk, dan..
Deg!