Chapter 5 | INSECURE

1137 Words
Aku punya banyak alasan untuk menyerah, tapi aku tidak bisa. . . . . ---- "KITA?" Naka mengangguk. "Ada yang salah?" Ceril menggaruk rambutnya, dejavu dengan coretan yang ia tulis di buku diarynya tentang Kita. "Berarti hubungan kita teman, kan?" Naka menatap Ceril penuh harap. Hatinya teramat ingin berteman dengan gadis di depannya itu.  Alasannya? Entahlah, Naka belum tahu pasti. "Hubungan?" ulang Ceril dengan wajah meremehkan. "Kata hubungan terlalu berat untuk kita yang baru kenal," ujar Ceril. Matanya menatap tajam ke arah Naka yang menatapnya lembut. Alih-alih langsung menjawab, cowok itu malah menyemburkan tawa. "Kayaknya lo orangnya sensitif, ya? Pengucapan hubungan pun lo permasalahin," kata Naka sambil menatap Ceril lucu. Ceril mendengkus. "Serah lo! Gue mau pulang. Bye!" ujar Ceril dan bersiap mengayuh sepedanya. Namun suatu keanehan melandanya, sepeda Ceril tidak dapat bergerak maju ke depan meskipun sudah ia kayuh sekuat tenaga. Akhirnya Ceril menolah ke belakang, memastikan apa yang terjadi pada sepedanya. Ternyata di belakang ada yang sedang melakukan perbuatan konyol. Melihat kelakuan Naka, Ceril sontak turun dari sepeda dan bersiap menendang tulang kering cowok itu. Sebab, Naka menarik boncengan sepeda Ceril dan menahannya agar tidak bisa bergerak. "Lo kurang kerjaan atau gimana, sih?" sembur Ceril sambil melotot ke arah Naka. "Gue gak kenal lo! Gue juga gak ada urusan sama lo! Dan gue males nyari masalah sama lo, jadi tolong lepasin tangan lo dari sepeda gue." Akhirnya Naka melepas tangannya dari sepeda Ceril dan menatap polos ke arah Ceril yang sedang menatapnya galak. "Apa lo liat-liat?" Naka terlonjak kaget, sebelumnya ia tidak pernah menyangka jika Ceril salah satu dari sekian banyak perempuan galak di muka bumi ini. "Galak amat," decak Naka. "Makanya jangan ganggu gue!" "Siapa juga yang mau ganggu lo? Geer deh." Naka memberi jeda. "Jangan pulang dulu makanya. Gue mau ngomong sebentar," kata Naka sambil bersidekap d**a. "Waktu lo cuman 30 detik," ujar Ceril sambil menatap langit yang sedang menghadirkan gerimis. "Selain sensitif, ternyata lo juga gila, ya. Dengan waktu segitu gue-" "Waktu lo abis," potong Ceril cepat, ia menatap lawan bicaranya tanpa ekspresi. "Gue beneran mau temenan sama lo, Cer." Ceril mulai memegang erat stang sepedanya dan bersiap mengayuhnya membelah gerimis. "Tapi gue engga!" ujar Ceril sambil mengayuh sepedanya pelan. Akhirnya Naka hanya dapat menarik napas dalam-dalam. Sejujurnya baru kali ini ia melakukan hal konyol ke cewek yang baru dikenalnya, apa lagi sampai memohon mengajaknya berteman. Cih, lelucon yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Naka dengan cepat membuka hoodienya sebelum Ceril benar-benar hilang dari pandangannya. "TUNGGU!" panggil Naka sambil berlari. Ceril menggeram kesal, mau tidak mau ia menoleh ke belakang dengan perasaan teramat dongkol. Namun pemandangan yang ia lihat membuatnya sontak melongo tidak percaya. "Nih, pake!" Naka menyodorkan hoodienya agar dipakai Ceril. "Lagi gerimis, gak baik buat kesehatan," sambungnya. "Lebay deh lo! Gak usah, udah sana. Hush!" tolak Ceril dengan mata tidak fokus. Pasalnya bagian atas tubuh Naka tidak terbungkus sehelai benang pun. Karena Naka tetap menyodorkan hoodienya, dengan berat hati Ceril menerima dan memakainya di depan cowok itu. Wangi cool yang tercium dari hoodie Naka membuat Ceril mendadak gugup, ia merasa dipeluk secara langsung oleh pemilik hoodie itu. Otak Ceril blank. u*****n-u*****n yang ingin ia lempar mendadak sirna karena perlakuan manis Naka. "Kebesaran di tubuh lo, tapi keliatan lucu, sih. " Naka tersenyum simpul. "Jangan lupa balikin," kata Naka membuyarkan lamunan Ceril. Sebelum beranjak, Naka menyempatkan menepuk puncak kepala Ceril sebanyak tiga kali. "Gue kenapa?" gumam Ceril setelah Naka kembali masuk ke dalam rumahnya. ☆☆☆☆ Sesampainya Ceril di rumah, ia langsung dikagetkan dengan kebisingan teman-teman Teya di ruang tamu yang sedang membuat acara.  Yang jelas, Ceril melihat banyak barang yang berserakan. Sepertinya Teya akan melakukan pesta lagi. "Hai, Ceril," sapa seorang cewek. Ceril menoleh dan membalasnya dengan senyum ramah. "Adek lo, Tey?" cetus seorang cowok yang menggunakan tindik. Ia menatap Ceril dari atas ke bawah. Seperti sedang menilai penampilan Ceril. Teya mengangguk sambil tersenyum lebar. "Cantik, kan?" kata Teya dan berjalan ke samping Ceril, lalu merangkulnya. Tiga orang di ruangan itu hanya mengangguk kaku. Dua di antaranya ada yang menyemburkan tawa, termasuk cowok yang bertanya tadi. Sedangkan cewek yang menyapa Ceril tadi hanya melempar tatapan mengingatkan kepada temannya. "Beda jauh," ucap si cowok bertindik itu sambil mengedipkan matanya ke arah Ceril. Ceril mengepalkan tangannya mendapat perlakuan seperti itu. "Gue mau ke kamar, Kak," ujar Ceril dan melepas rangkulan Teya di bahunya. Sayup-sayup Ceril dapat mendengar jika ia sedang di banding-bandingkan. "Gue kira bukan adek lo, Tey. Beda jauh, buset." "Cantikan mana?" tanya Teya sambil menyibak rambutnya angkuh. "Cantikkan elo, lah!" Ceril mendecih, muak mendengarnya. Dengan perasaan dongkol, Ceril memutar knop pintu kamarnya, lalu menguncinya dari dalam. Ceril tersadar, hoodie Naka masih menempel di tubuhnya. Dengan gerakan cepat, Ceril melepas hoodie itu dari tubuhnya dan menggantungnya. "Dear Tuan hoodie, kenapa lo mau temenan sama gue di saat semua orang menjauh?" Ceril bergumam sambil menatap hoodie berwarna dongker itu. Ceril tersenyum miris, matanya terasa hangat, cairan bening berkumpul di pelupuk matanya dan bersiap menumpahkan diri. "Dear Tuan hoodie, jangan berbuat baik sama gue seolah lo peduli. Pliss, jangan." Ceril terisak. Jauh dari lubuk hati Ceril yang paling dalam, ia merasa sangat tersanjung saat ada orang yang menawarkan diri untuk menjadi temannya. Bohong jika Ceril tidak senang. Tapi perlakuan orang pada masa lalu membuatnya harus berhati-hati dan menutup diri. Ia belum siap untuk kembali tersakiti. ☆☆☆☆☆ Ternyata setelah menangis, Ceril tertidur pulas di ranjangnya. Dan suara berisik yang berasal dari luar membuatnya terjaga. Ceril sontak menghidupkan lampu saat mendengar pintunya diketuk. Saat Ceril membuka pintu, ada seorang cowok yang berdiri di hadapannya sambil memegang botol. "Hai," sapanya parau. Ceril menatap aneh cowok di depannya itu. "Mau apa lo?" Cowok itu ialah cowok bertindik yang menyapa Ceril di ruang tamu tadi. "Boleh masuk?" Ceril sontak menutup pintu, perasaannya mulai tidak enak. Namun kaki cowok itu mengganjal pintu kamarnya hingga tak tertutup sepenuhnya. "Lo mau apa, hah?!" "Temenin gue," ujar cowok itu dengan suara seraknya. Ceril menggeleng. Ada yang tidak beres. Pikirnya. "Yaelah, gak usah malu-malu." Cowok itu berusaha mendorong pintu kamar Ceril. "Lo mabuk, s****n!" ujar Ceril dan berusaha menendang kaki cowok yang mengganjal pintunya itu. "Ayolah, kita main-main sebentar di ranjang lo," ujarnya  dan menatap sayu ke arah Ceril. "b******k!" maki Ceril. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin dan perasaan takut mulai ia rasakan. Sebisa mungkin Ceril tetap berusaha tenang. "Pergi atau gue teriak sekarang juga?" ancam Ceril serius. "Tubuh lo indah!" ujar cowok itu tidak nyambung. Setelah mengatakan hal itu, cowok itu pun beranjak pergi dengan tubuh sempoyongan. "Apa salah gue, ya Tuhan?" Ceril bersandar di sisi ranjangnya. Sebutan yang ditujukan padanya tadi membuat Ceril tidak habis pikir dan merasa jijik. Pikirannya mulai kemana-mana hingga membuatnya mual. Ceril menatap pakaiannya. Ia sama sekali tidak mengenakan pakain terbuka dan ketat. "Apakah semua lelaki seperti itu?" Ceril bergumam. Ia mulai berasumsi yang tidak-tidak. "Jangan buat gue berpikir jika semua lelaki itu sama," ujar Ceril, entah ditujukan pada siapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD