Chapter 1 — INSECURE
Aku sangat lelah, tapi kau adalah alasan mengapa aku masih berjuang, bahkan kau adalah salah satu alasan mengapa aku seperti ini.
.
.
.
.
---
"Gue malu punya pacar kayak lo." Ucapan tak berperasaan itu meluncur bebas dari bibir seorang cowok berseragam SMA.
Yang mendengar hanya menggigit bibir, sebuah rasa tak kasat mata meremukkan hatinya.
"Kenapa?" Satu pertanyaan terlontar dari bibir gadis yang sedang menatap kekasihnya dengan tatapan terluka.
"Karena lo jelek." Karel mengatakan kalimat menyakitkan itu sembari menatap gadis yang sebentar lagi menjadi mantannya. Tidak ada rasa iba di wajah itu, hanya ada kebencian yang sulit dipahami.
Ceril menepuk tempat hatinya berada, mencoba menetralisirkan rasa sakit yang terjebak. Hatinya perih, bagaikan diiris sebuah benda tajam. "Terus kenapa kamu jadiin aku pacar selama ini? Terus kenapa kamu memperlakukan aku seolah aku adalah wanita spesial di hidup kamu?" tanya Ceril beruntun. Tanpa sadar cairan bening meluncur bebas di pipinya.
Sang cowok hanya menghela napas, lalu mendorong kening gadis di hadapannya dengan telunjuk. "Jangan pake aku-kamu, gue geli dengernya." Karel melepaskan tangannya dari kening gadis pemilik kulit sawo matang itu, lalu mengelapnya, seolah baru saja menyentuh kotoran.
"Ceril yang baik hati, anggap aja selama ini gue khilap pacaran sama cewek kayak lo." Cowok itu tersenyum miring. "Gue juga heran, kenapa dulu gue bisa suka sama lo." Jeda. "Lo pake susuk, ya?"
Sebuah tamparan mendarat mulus di wajah tampan Karel.
"Kita putus!" Ceril berlari setelah mengucapkan kalimat yang selalu ia hindari. Namun, untuk kali ini tidak ada yang perlu dihindari lagi. Cukup sudah perasaannya dicampakkan dengan seorang cowok yang selalu ia banggakan di hadapan sahabatnya.
"GUE NYESEL PERNAH PACARAN SAMA CEWEK KAYAK LO, RIL. LO CUMAN BUAT GUE MALU TAU GAK!" teriak Karel dari kejauhan. Entah apa yang terjadi pada cowok yang selalu membuat Ceril tersenyum, semua ucapannya hari ini tidak sesuai dengan perlakuan manisnya selama mereka pacaran.
Ceril terus berlari, tak menghiraukan. Yang pasti, Ceril sudah memutuskan hubungannya dengan lelaki b******k itu.
"Gue lebih nyesel, Rel!"
☆☆☆☆☆☆
Ceril mengerjapkan matanya kala sebuah tangan menyentil hidungnya.
"Lagi mikir apaan lo?" Seorang gadis pemilik netra indah ikut bergabung di samping Ceril.
"Aha, biar gue tebak, lo lagi mikirin mantan k*****t lo, ya?" tebak Lusi, gadis itu mengedipkan matanya, lalu tersenyum lebar.
"Kok lo tau?" Ceril mendelik, heran dengan kemampuan Lusi dalam menebak isi hatinya.
"Muka lo murung." Lusi menopang dagu, menatap sahabatnya dari samping. "Move on, dong! f**k boy kayak dia gak patut digalau-in," kata Lusi. Gadis itu menatap sahabatnya dengan ekspresi prihatin. Sebab, ia sangat paham dengan kisah percintaan Ceril beberapa tahun yang lalu, yang berakhir menyedihkan.
Ceril mencubit pipi Lusi dengan gemas. "Gue udah move-on, kok." Ceril beralih menatap sepatunya dengan tatapan hampa. "Cuman trauma aja," kata Ceril sendu.
"Jangan sedih dong, Cer." Lusi memeluk sahabatnya dengan sayang. "Lo gak seburuk apa yang dia bilang, kok," kata Lusi, mengeratkan pelukannya dan tidak memedulikan Ceril yang kesulitan bernapas.
Selepas pelukan Lusi yang menyesakkan, Ceril mendongak--menatap langit, menyaksikan keagungan Sang Pencipta. "Gue mau kayak burung, biar bisa bebas," gumam Ceril saat netranya menangkap sepasang burung yang sedang mengepakkan sayap di cakrawala.
Semoga semesta meng-aminkan keinginan gadis pemilik senyum manis itu. Semoga.
----------
Ceril melangkah pelan masuk ke dalam rumah bernuansa abu-abu itu. Netranya menelusuri setiap jengkal sudut rumah. Perasaannya mengatakan jika rumah ini tidak akan se-sepi biasanya.
Buktinya ia menemukan beberapa koper yang tergeletak dan berbagai macam belanjaan yang Ceril yakini milik Ibu dan saudaranya, seusai berlibur dari Maroko.
Saat Ceril melewati ruang tamu, di sana ia melihat Ibu, kakak, dan adiknya sedang menikmati camilan. Tentunya tanpa mengubris keberadaan Ceril yang tersenyum hangat ke arah mereka.
"Ibu kapan datang?" tanya Ceril sembari berdiri di samping sofa, tempat Jeni sedang bersantai.
Wanita paruh baya itu hanya mendongak, lalu kembali fokus ke camilannya. "Dua jam yang lalu."
Ceril mengangguk paham, lalu pandangannya beralih ke arah Teya, kakak perempuannya. "Kak, kiriman aku mana?" tanya Ceril.
"Kiriman apaan?" Teya tampak berpikir, seperti mengingat-ngingat sesuatu. "Eh, aku lupa. Duh, maap, ya, Cer. Ntar kamu pesen di online shop aja, ya. Gak apa-apa, 'kan?"
"Oh, ya udah," ujar Ceril dan melangkah menuju kamarnya. Bohong jika ia tidak merasa sedih, tapi bagaimana pun juga ia tidak berhak meronta seperti gadis lain jika permintaannya tidak dituruti. Toh tidak akan ada yang peduli.
Mungkin memang udah takdir gue yang selalu terlupakan dan ter-abaikan. Begitulah pikir Ceril.
Saat Ceril baru selesai membersihkan diri, sebuah ketukan mengurungkan niatnya untuk berkunjung di diary-nya.
Ceril tersenyum lebar saat melihat wanita paruh baya itu berada di depan kamarnya.
"Kenapa, Bu?"
"Tolong bantuin Ibu masak, ya," ujar Jeni dengan nada sedikit memaksa. Matanya sama sekali tidak menatap lawan bicaranya. Mungkin ada sesuatu yang lebih menarik di Hp yang sedang ia geluti.
Ceril mengangguk dengan cepat. "Siapp, Bu!" Gadis itu mengangkat tangannya membentuk hormat sembari tersenyum lebar, meskipun tidak digubris oleh Jeni.
"Eum, oleh-oleh buat Ceril mana, Bu?" tanya Ceril sedikit berbisik.
"Apa?"
"Oleh-oleh buat Ceril mana?"
Jeni memijit pelipisnya pelan. "Gak ada. Ibu lupa beliin kamu. Ayo, bantu Ibu masak, nanti malam teman-teman Ibu mau datang," ujar Jeni dan mengabaikan wajah pias milik anak gadisnya.
Ternyata benar, ia memang selalu terlupakan.
☆☆☆☆
"Kak Teya sama Wika mana, Bu?"
"Di kamar. Kenapa?"
Ceril mengelap peluhnya sejenak, bagaimana pun juga memasak cukup melelahkan. "Kenapa gak ikut bantuin?" tanya Ceril dengan mata fokus ke sop yang sedang ia aduk.
"Kakak kamu itu lagi capek. Biarin aja dia istirahat," ujar Jeni sembari membilas tangannya. "Kamu keberatan bantuin Ibu?"
Ceril menggeleng, "bukan gitu, Bu. Cuman, heran aja kenapa Ceril yang selalu Ibu suruh-suruh," ujar Ceril mengeluarkan isi hatinya selama ini. Biarlah jika ia harus menerima sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.
"Itu artinya kamu dianggap rajin di rumah ini," ujar Jeni tanpa ekspresi. "Kamu harusnya bersyukur masih dibutuhkan di rumah ini, Cer. Jangan bertingkah, oke."
"Ceril cuman nanya kok."
"Ibu gak suka. Jangan diulangi."
Perasaan luka kembali hadir, membawa luka baru yang belum sempat sembuh. Membuat sang gadis kembali mempertanyakan dirinya.
"Nanti kalau teman-teman Ibu datang, kamu di kamar aja, ya."
Ceril menjawab dengan deheman, toh alasannya ia sudah hapal di luar kepala.
"Ibu gak bermaksud apa-apa, ini juga demi kebaikan kamu, kok." Jeni menepuk pundak anak gadisnya, pelan. "Jujur, Ibu paling gak suka kalau teman-teman ibu nanyain kamu kenapa berbeda dari saudaramu yang lain. Jadi lebih baik kita menghindarinya. Kamu paham, kan?"
Ceril kembali mengangguk, perasaan ingin melempar spatula di tangannya teramat besar. Hanya saja ia tidak mau terlihat lebih buruk di hadapan Ibunya.
"Bu, Ceril jelek banget, ya?"