Chapter 2 — INSECURE

1065 Words
Terkadang, orang terdekatlah yang pertama kali membunuh perasaan kita . . . . --- Ceril menggerutu dengan kesal. Pasalnya ia lupa mengambil air sebelum masuk ke kamar. "Keluar gak, ya?" tanya Ceril pada dirinya. "Kalau gue keluar, entar ketahuan sama temen-temen Ibu," dengkus Ceril, mengingat ia tidak boleh keluar kamar sebelum tamu Ibunya pulang. "Bebe, gue haus banget, tapi gue gak boleh keluar kamar," adu Ceril pada boneka kelincinya. "Gini amat nasib gue, ya Tuhan." Ceril menepuk-nepuk pipi boneka kesayangannya, harap cemas boneka itu menjawab curahan hatinya, walau mustahil. Setelah berdiskusi dengan Bebe, akhirnya Ceril memilih keluar kamar dengan cara mengendap-endap. "Aishh, andai gue cantik, gak mungkin gue mesti kayak maling di rumah sendiri," gerutu Ceril dengan napas memburu. "Bebe, kasian banget, ya, hidup gue?" kata Ceril sambil mengelus kepala bonekanya. "Enggak." Ceril membelalakan mata saat mendengar suara serak dan berat yang menjawab pertanyaannya. "Bebe, lo bisa ngomong?" Ceril menggoyang-goyangkan boneka putihnya itu dengan mata melotot. "Sejak kapan boneka bisa ngomong?" Seorang cowok berpakaian rapi sedang berdiri di belakang Ceril,  mengamati ekspresi terkejut gadis itu. "Lo? Lo siapa?" "Gue Naka ... Naka Renando." Laki-laki berparas tampan itu mengulurkan tangannya sembari tersenyum hangat. "Hah?" Ceril menepuk wajahnya, harap cemas ini bukan sebuah mimpi belaka. "Gue Naka. Lo siapa?" Saat Yakin jika ia tidak bermimpi, barulah Ceril menormalkan ekspresi terkejutnya. Bagaimana pun juga ia tidak boleh terlihat menggelikan. "E-eum, gue Ceril, ya Ceril," jawab Ceril dan membalas uluran tangan Naka yang terasa pas dan hangat. "Santai aja, gue ngga gigit kok," kata Naka dengan senyum yang selalu menghias wajah tampannya. "Kalau gigit, ya gue gigit balik lah," gumam Ceril, matanya sibuk melirik kanan dan kiri, takut ada yang melihatnya. "Lo ngomong apaan barusan?" Ceril tercengang, lalu menggeleng. "Bentar, lo ngapain di rumah gue?" tanya Ceril dengan mata celingak-celinguk, takut ada yang melihatnya. "Gue nemenin Bunda." Laki-laki itu menggaruk pelipisnya pelan. "Di luar berisik banget, makanya gue izin ke toilet, eh ketemu cewek yang lagi ngomong sendirian, eh maksud gue sama boneka." Naka tersenyum geli, "gue baru tau kalau Tante Jeni punya tiga orang Putri," kata Naka dan berhasil merubah raut wajah Ceril. Iya tau kalau gue gak dianggap dan gak dikenal. "Oh, oke," ujar Ceril dan bersiap kembali ke kamarnya. Entah kenapa ucapan laki-laki yang baru dikenalnya itu sedikit menyinggung bagi Ceril. "Ceril," panggil Naka saat Ceril beranjak. "Iya?" jawab Ceril sedikit gugup, sedikit aneh di telinganya. "Gue harap kita bisa jadi teman baik." Lagi dan lagi sebuah senyum menghiasi wajah tampan milik Naka. Sejujurnya, hati kecil Ceril sedikit tergelitik melihatnya. Bagaimana pun juga, ia tidak memungkiri jika senyum lelaki yang baru dikenalnya itu mampu membuat wanita mana pun terlena. "Teman gue udah banyak," ujar Ceril sedikit jutek. Pengalamannya pada masa lalu membuatnya lebih berhati-hati dalam berteman. Ceril kira, laki-laki itu akan tersinggung, ternyata tidak. Malah ada tawa kecil yang Ceril dengar. "Kalau gitu temen level dua," ujar Naka sembari memasukkan tangannya di saku celana hitam polos yang ia kenakan. Ceril yang mendengar itu hanya mendengkus. "Lo beneran mau temenan sama gue?" Naka mengangguk dengan wajah polos. "Beneran." "Alasannya? Kita baru kenal loh." Naka mengembuskan napas secara perlahan sebelum menjawab, "emang harus kenal lama dulu baru boleh temenan?" Ucapan yang dilontarkan Naka berhasil membungkam Ceril. "Gue gak mau ada orang yang nyesel temenan sama gue," kata Ceril, berubah sendu. Naka tertegun mendengarnya. Hati kecilnya mengatakan jika gadis di depannya ini sedang tidak baik-baik saja. Padahal, tadinya Naka tidak serius mengajak Ceril berteman, hal itu ia lakukan demi menuntaskan rasa bosannya. "Fiks, kita temenan." ☆☆☆☆☆ "Semalam aku liat kak Ceril lagi ngobrol sama cowok di dapur," ujar Wika sambil melahap nasi gorengnya. Ceril yang mendengar itu hanya dapat mengomel dalam hati. Ada yang salah? Pikir Ceril. Jeni menatap anak bungsunya dengan serius. "Kamu serius, nak?" Wika menjawab dengan anggukan, lalu melirik Ceril dengan tatapan meledek. "Kan Ibu udah bilang, jangan keluar kamar sebelum tamu pada pulang," omel Jeni. "Ceril haus, Bu. Makanya keluar ambil air minum," bela Ceril dan mendelik ke arah Wika yang membalasnya dengan juluran lidah. "Ceril emang gitu, Bu. Suka bandel kalau dibilangin." Teya yang baru bergabung di meja makan ikut menimpali. "Sekali-kali nurut sama Ibu makanya. Kena omel, kan, lo," kata Teya sambil tertawa kecil. "Iya-iya!" jawab Ceril, sedikit kesal. "Ya udah, kalian lanjutin makannya. Ibu ke kantor dulu," kata Jeni sambil berlalu dari meja makan. "Btw, cowok yang diajak Ceril ngomong siapa, dek?" tanya Teya, menatap ke arah Wika yang sedang meneguk air. "Kurang tau, Kak. Aku liatnya sekilas, pas mau ke-wc." Wika melirik Ceril sejenak, lalu kembali menatap Teya. "Yang jelas, cowok yang diajak kak Ceril ngomong itu cowok ganteng," kata Wika sambil mengulum senyum. "Kira-kira siapa, ya? Gue gak terlalu merhatiin, sih, tamu mama tadi malam," kata Teya sambil menopang dagu. "Penting banget, ya, kalian tahu siapa yang gue ajak ngobrol?" bentak Ceril sambil menatap kesal Kakak dan adiknya. "Eh, slow. Kita cuman nanya kali, Cer." "Giliran Ibu udah pergi, Kakak baru berani ngebentak," ledek Wika sambil menjulurkan lidah. "Cemen," lanjutnya. Teya mendengar itu sontak saja terkekeh, entah apa yang lucu. "Cer, muka lo santai aja kali, gak usah tegang gitu," ujar Teya sambil mencolek dagu Ceril. Ceril sontak menepis tangan Kakaknya dengan perasaan kesal. "Terserah kalian!" ujar Ceril dan melahap nasi gorengnya hingga ludas. "Inget, lo belum boleh pacaran sebelum gue udah punya pacar," kata Teya, ia menatap Ceril serius. "Lo bebas temenan sama cowok kok, Cer, asal gak bawa perasaan aja," lanjut Teya sembari menepuk puncak kepala adiknya. Ceril memejamkan matanya sejenak, berharap emosinya yang mendadak muncul segera mereda. Setelah merasa mendingan, Ceril menoleh ke kanan, menatap kakaknya dengan bibir tersenyum. "Kalau gue pacaran sebelum kakak udah punya pacar, gimana?" tanya Ceril dengan alis terangkat sebelah. Yang ditanya hanya tertawa hingga matanya menyipit. "Emang ada yang mau?" Bukannya menjawab, Teya malah balik bertanya. Pertanyaan Teya berhasil meredupkan senyum pertahanan Ceril. Jujur, ia merasa sedih mendengarnya. Seolah tidak ada yang menginginkan dirinya. "Kenapa kakak ngomong kayak gitu?" tanya Ceril dengan suara tersendat. "Yang pertama kali dilihat itu fisik, Cer. Munafik banget kalau ada orang ngomong dia gak mandang fisik dalam suatu hubungan. Lo paham, kan?"  Teya menatap Adiknya dengan tatapan sedih, seolah ikut merasakan apa yang dirasa Ceril. Ceril tidak menanggapi ucapan kakaknya. Ia memilih beranjak dari sana, demi menyelamatkan perasaanya. Ucapan Teya sama sekali tidak menyinggung  Ceril, namun bagi Ceril ada makna tersirat di dalamnya. Seolah mengingatkan bahwa Ceril tidak layak untuk dicintai. Apakah fisik menjadi tolak ukur segalanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD