Chapter 3 — INSECURE

1011 Words
Kau adalah patah hati pertama yang menyesakkan . . . . ---- Suasana lapangan begitu ramai, karena pagi ini jadwalnya senam pagi. Ceril dan Lusi dengan berat hati ikut bergabung. Saat senam pertama telah selesai, Lusi dengan cepat menarik tangan Ceril ke bawah pohon yang kebetulan tumbuh subur yang tak jauh dari lapangan. "Gue ada kabar baik dan kabar buruk,"ujar Lusi sambil tersenyum sumringah. "Apa?" Lusi menselonjorkan kakinya. "Mau kabar baik dulu atau kabar buruk?" Ceril diam sejenak, lalu menjawab, "kabar baik dulu deh." Lusi menutup wajahnya dengan kedua tangan, bibirnya tak henti tersenyum. "Lo kesambet?" tanya Ceril heran, tangan kanannya menempel di kening Lusi bermaksud memeriksa suhu tubuh sahabatnya. Lusi mengangkat wajahnya malu-malu, dapat Ceril lihat mata Lusi berbinar bahagia serta pipinya merona. "Gue jadian sama Rama," pekik Lusi bahagia, ia sontak memeluk Ceril dengan erat. Ceril melongo, namun sedetik kemudian senyum bahagia Lusi menular kepadanya. "Serius lo? Pajak jadiannya dong." Setau Ceril, memang sudah lama Rama mendekati sahabatnya ini, namun tidak pernah direspon oleh Lusi dengan alasan belum move on. Sepertinya Rama telah  berhasil meluluhkan hati Lusi yang sempat beku karena seseorang. Lusi menarik wajah Ceril dengan gemas. "Gampang! Nanti lo boleh pilih es krim kesukaan lo sepuasnya," ujar Lusi bersemangat. Diam-diam Ceril ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya. Saat menyadari sesuatu, Ceril menoleh menatap Lusi dari samping dan bertanya, "ngomong-ngomong, kabar  buruknya apa?" Wajah bahagia Lusi sontak meredup mendengarnya. Ceril yang tidak tahu apa-apa, hanya mengernyit bingung. Lusi membuang napas lelah, tangan kanannya sibuk mencabuti rumput liar di sekitarnya, tentu saja dalam keadaan tidak sadar. "Kabar buruknya gue belum move on," ujar Lusi, lesu. Ceril menekuk alisnya, mencoba mencerna ucapan Lusi. "Maksudnya lo belum move on dari Yanto?" Lusi mengangguk lemah, bibirnya mengerucut sebal. Yanto adalah gebetan Lusi. Gebetan yang berhasil menjungkir-balikkan perasaan Lusi. Namun na'as, Lusi hanya dianggap teman, tidak lebih. Parahnya lagi, Lusi mencintai lelaki yang tidak pernah mencintainya itu. "Bisa-bisanya lo gagal move on sama cowok yang sama sekali gak pernah nganggep lo istimewa," ujar Ceril turut prihatin, walaupun kisahnya sendiri tak kalah memprihatinkan. "Gue g****k banget, ya, Cer? Bisa-bisanya gue gagal move on sama dia." Lusi menarik kakinya lalu menekuknya. Ceril mengangguk. "Iya, lo g****k banget," ujar Ceril jujur. "Tapi dia baik banget sama gue, Cer," bela Lusi. "Tapi dia gak cinta sama lo." Lusi memukul kaki Ceril dengan pelan. "Terus gue harus gimana?" Ceril menopang dagu di atas lututnya yang sedari tadi ia tekuk.  "Move on lah." "Kayak lo udah move on aja!" Ceril terbelalak. "Kok jadi bahas gue?" Lusi mencebik kesal, bingung dengan hatinya yang plinplan. "Terus apa alasan lo pacaran sama Rama?" tanya Ceril penasaran. "Karena dia bersungguh-sungguh deketin gue," jawab Lusi dengan jujur. "Gue jahat gak, sih, nerima dia dengan posisi hati gue milik orang lain?" Ceril terdiam mendengarnya. Ia teringat masa lalunya yang hampir membuatnya kehilangan harga diri, bagaimana cowok yang dia anggap baik begitu bersungguh-sungguh meyakinkan Ceril jika ia mencintainya. Ceril terlalu takut dengan pemikirannya sendiri. Berjuang di awal doang, jika sudah diterima, ya dibuang. Ceril menepuk kepalanya. "Gue ke toilet dulu, ya," ujar Ceril buru-buru dan mengabaikan teriakan Lusi yang memanggil namanya. Masa lalu yang buruk itu bagai mimpi  yang siap mengahantui di setiap kesempatan. ----- Ceril menatap pantulan dirinya di cermin toilet. Di sana ia melihat wajah tembam, mata besar dengan kelopak mata bengkak dan sekitar mata yang menghitam, efek ia sering bergadang. Saat Ceril membasuh wajahnya dengan air, ia merasa ada yang memerhatikannya. Dengan cepat Ceril mengambil tisu dan mengelap wajahnya, ia ingin pergi secepatnya dari sana. "Tunggu," ucap seorang cowok, yang sedang bersandar di pintu toilet. Ceril berhenti, dan menatap datar cowok di depannya. "Gue gak maksud apa-apa, kok. Jadi harap jangan galak-galak," ujar cowok itu, merasa ngeri melihat ekspresi Ceril. Saat cowok itu maju selangkah, Ceril sontak mundur selangkah dan menatap tajam lelaki di depannya. "Mau ngapain lo?" Cowok itu menggaruk rambutnya saat menyadari ekspresi Ceril yang tidak bersahabat. "Gue gak bermaksud apa-apa, cuman mau mastiin aja." Ceril melirik name tag cowok di depannya. Arsenlino Alder, baca Ceril dalam hati. "Lo Ceril kan?" Ceril tidak mengubris, ia berbalik, ingin beranjak dari sana. "Ceril, lo mantan Karel, kan?" Ceril berhenti melangkah, tangannya mengepal, rasa takut yang telah lama ia coba kubur, kini kembali muncul, perasaan cemas itu kian menjadi dan terganti dengan pemikiran negatif. "Gue gak kenal!" jawab Ceril dengan suara tersendat dan bibir bergetar. Arsen menepuk pundak Ceril pelan, namun tangan Ceril tak kalah cepat menepis tangan Arsen dengan kasar. "Sorry, gue gak maksud apa-apa." Arsen berdehem, bermaksud mengikis canggung di antara mereka. "Gue cuman mau memastikan, soalnya gue sahabat Karel sejak SMP, kebetulan gue pernah lihat foto lo di HP-nya," ujar Arsen sambil nyengir. Ceril tetap diam, melihat cengiran Arsen membuatnya merasa takut. Takut jika Karel telah bercerita ke pada orang tentang sesuatu yang tidak benar tentang diri Carel semasa mereka masih menjalin kasih. "Ternyata ucapan Karel benar tentang lo," ujar Arsen sok tau. "Ternyata lo cewek-" Ceril sontak menutup telinganya dan berteriak, "STOP!" Arsen mundur beberapa langkah, bingung sekaligus ngeri melihat reaksi Ceril yang menurutnya berlebihan. "Lo kena-" "STOP!" Potong Ceril dengan urat leher menegang serta mata yang memerah. "GUE BILANG STOP, YA STOP!" Arsen melirik kanan dan kiri melihat cewek-cewek yang mau ke toilet, takut jika mereka berasumsi yang tidak-tidak tentangnya. Kebetulan toilet lelaki dan perempuan hanya bersebrangan, memudahkan siswa lelaki melihat ke arah Arsen. "Cer, gue gak maksud apa-apa. Gue cuman mau bilang kalau Karel sering cerita tentang lo, tentang ke-" "PERGI!" Sergah Ceril tanpa menatap ke arah lawan bicaranya. Arsen mengangguk paham, ia pun beranjak pergi dan tidak lupa meminta maaf kepada orang-orang yang sedari tadi menyimak. Ceril berlari menuju taman belakang sekolah, di sana ia meremas tempat hatinya berada. Perasaan sakit saat mengingat kejadian dua tahun yang lalu kembali menusuk hatinya. Sebuah benda tak kasat mata perlahan mengoyak luka yang belum sembuh sepenuhnya. Ucapan-ucapan Karel sebelum meninggalkannya kian terngiang. "Gue malu pacaran sama lo!" "Lo jelek!" "Jelek!" "Jelek!" "Gue malu!" Cairan bening perlahan jatuh di pipi Ceril, ia terisak dengan hati yang teramat sesak. Pikiran menyalahkan diri sendiri perlahan hadir di benak Ceril. "Gue yang salah, ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD