"Kak, Lo kenal sama Om Abram?" tanya Ceril tanpa pikir panjang. Saat mendengar pertanyaan Ceril tersebut, Teya sontak menegakkan tubuhnya dan menatap Ceril dengan kedua mata melotot. "Maksud lo?" Teya hampir terpekik saat berucap. Terlalu terkejut dengan pertanyaan Ceril. Kening Ceril mengerut melihat respon Teya yang menurutnya berlebihan. Perlahan Ceril dapat menyimpulkan jika membahas Abram—ayah Wika, termasuk hal sensitif untuk dibicarakan. "Nggak jadi," gumam Ceril hampir tidak terdengar di telinga Teya. "Nggak usah mengalihkan pembicaraan!" Ceril menoleh, menatap Teya bingung. "Gue nggak mengalihkan pembicaraan. Gue cuman ngerasa ... kalau objek pertanyaan gue terlalu sensitif untuk dibahas. Gue males debat." Teya berdecak. Menarik baju Ceril agar kembali duduk. "Lo kenal sa

