Chapter 7 | INSECURE

1056 Words
"Bisa-bisanya lo telat, Cer." Lusi menggeleng tidak percaya. "Lo bangun kesiangan, ya?" tanya Lusi sambil menyodorkan sebotol minuman dingin ke arah Ceril. Ceril tak langsung menjawab, ia memilih menenggak minuman yang diberikan Lusi hingga tandas. "Enggak." Ceril menjawab dengan malas. Matanya menyusuri sudut kantin, ia merasa ada yang sedang memerhatikannya. Tapi Ceril tidak tahu siapa orangnya. Mungkin cuman perasaannya saja pikir Ceril. Gara-gara insiden pas berangkat sekolah tadi, Ceril harus menerima kenyataan jika ia telat datang ke sekolah. Tidak hanya itu, ia juga di hadapkan dengan satpam sekolah yang terkenal galaknya. Untung saja Ceril bisa lolos dari kegalakan Pak Joyo, nama satpam sekolahnya. "Jadi kenapa lo bisa telat?" tuntut Lusi penasaran. Mendengar pertanyaan dari sahabatnya, Ceril seketika merasa sangat kesal, kepingan-kepingan kejadian yang ia lalui bersama Naka membuatnya tanpa sadar mengepalkan tangan. "Kalau gak mau cerita juga gak apa-apa kok." Lusi tersenyum maklum. Tangannya mengelus lembut punggung Ceril, bermaksud menenangkan. Pasalnya Lusi menyadari perubahan raut wajah Ceril, dari sana Lusi dapat menyimpulkan jika sahabatnya baru mengalami hal yang tidak mengenakkan. Ceril menoleh, menatap Lusi dari samping, tangan kanannya terangkat melepas tangan Lusi dari bahunya. "Gue gak kenapa-napa, kok," ujar Ceril diakhiri senyum menenangkan. Sebuah cubitan mendarat mulus di lengan Ceril. "Bohong aja terus sampai mampus," sentak Lusi. Ia mendesis, lalu menggoyang-goyangkan lengan sahabatnya seperti anak kecil yang merengek. "Cerita, dong. Gue merasa gak berguna jadi sahabat lo kalau lo begini terus." Ceril mencebik. "Barusan aja lo ngomong kalau gue gak usah cerita." Lusi tertawa garing. "Soalnya gue penasaran." Ceril menopang dagu, sejujurnya ia malas menceritakan sebab akibat kenapa ia bisa terlambat dan kesal. Karena menurutnya sama saja mengulang kejadian beberapa jam yang lalu. Dengan malas Ceril mulai bercerita. "Ada yang nawarin tumpangan sama gue, tapi tuh cowok malah-" Ceril tidak melanjutkan ceritanya saat mendengar obrolan tiga murid yang tidak jauh dari tempatnya. Sayup-sayup Ceril dapat mendengar jika tiga orang murid yang terdiri dari dua siswi dan satu siswa itu sedang membicarakan seorang adik kelas yang sempat ramai di penjuru sekolah AKSARA 1. "Jadi cewek itu yang ketahuan nembak anak SMA tetangga kita?" tanyanya sambil melirik sinis ke arah siswi yang sedang menunggu pesanannya. "Yoi. Menurut gosip yang beredar, si cowok nge-screenshot isi chatannya dengan tuh cewek pas dia nembak. Abis itu dia sebarin." "Wow banget, anjir!" "Diterima?" "Ya jelas enggak, lah! Siapa, sih, yang mau sama cewek b***k kayak dia?" Gelak tawa membahana di meja itu. Ceril tersenyum miris mendengarnya. Sedangkan Lusi celingak-celinguk mencari keberadaan cewek yang sedang digosipkan tiga murid itu. "Harusnya tuh cewek sadar diri. Awalnya gue kira dia cantik, ternyata sama sekali enggak! Malah kelihatan norak dan alay. Malah lebih ke gampangan gue ngeliatnya." "Jujur, gue malu banget pas tahu kalau yang nembak itu adek kelas kita," ujar si cowok. "Bukan lo aja yang malu, semua anak sekolah kita juga pasti malu. Toh si cowok yang ditembak nyebut-nyebut nama sekolah kita." "Ckckck. Udah jelek, pendek, jerawatan, gak tau malu pula. Dasar cewek gak punya otak, sekarang dia pasti lagi nahan malu dengan ketololan dia sendiri," timpal cewek satunya. "Murahan gak, sih? Jijik, iuh," tambah si cowok dengan ekspresi geli. "Bodoh!" Gelak tawa kembali pecah. Ceril menarik napas dalam-dalam, telinganya terasa panas serta emosi yang siap meledak. Suara kursi yang berderit membuat Lusi menoleh sepenuhnya ke arah Ceril. "Lo mau kemana?" Ceril tak mengubris pertanyaan Lusi. Dengan langkah pasti Ceril menyambangi tempat tiga murid itu berada. Matanya menyorot tajam serta rahang yang menegang. "Cerita yang menarik," komentar Ceril sambil tersenyum simpul ke arah mereka. "Ada apa, ya?" tanya salah satu dari mereka. Ceril melirik papan nama yang tertera dengan jelas di seragam tiga murid yang sedang menatapnya bingung. "Seren, Faya dan ... Jordi," ujar Ceril  sambil bersidekap. Sedangkan yang merasa namanya disebut hanya melempar tatapan bingung. "Apa rasanya ngatain fisik orang?" Ceril menatap mereka satu persatu dengan pandangan menilai. "Jelek, jerawatan, pendek, bodoh, murahan, tolol." Ceril mengabsen ulang ucapan tak senonoh itu. "Wow! Lengkap. Yang mau gue tanyakan, kira-kira di mana otak kalian? Di mana hati kalian? Oh, atau gak punya otak sama hati, ya?" Ceril berdecak kagum. Senyum simpul yang tadi ia tampilkan kini telah berganti dengan wajah tanpa ekspresi. Datar. "Langsung ke intinya aja bisa?" Yang bernama Seren membentak Ceril sambil menggebrak meja. "LO GANGGU TAU GAK! DATANG-DATANG NGOMONG GAK JELAS! SINTING LO!" Sontak yang berada di kantin itu menatap ke arah Ceril dan tiga murid itu. Wajah-wajah penasaran terpampang jelas di wajah mereka. Di lain tempat, Lusi mencoba memanggil Ceril. Karena Ceril tak mengubris, mau tidak mau Lusi berjalan mendekat dengan perasaan canggung. "Udahh, Cer," bisik Lusi sambil tersenyum paksa ke arah siswa-siswi yang menonton. Ceril tak goyah. Ia masih mempertahankan sorot tajam serta wajah datarnya. "Membicarakan fisik orang bukan perkara yang wajar dibicarakan, asal kalian tahu itu. Kalian sadar gak, sih, kalau kalian telah melakukan body shaming? Kalian pernah memikirkan perasaan orang yang kalian sebut 'buruk' itu, gak?" Ceril menatap Seren, Faya dan Jordi secara bergantian. "Kalian secara tidak sadar telah menjatuhkan mental orang! Jujur, gue malah lebih jijik sama tipikal orang seperti kalian. Hanya bisa mengomentari tanpa intropeksi." Ceril berdecih, matanya menatap mereka remeh. Faya yang tadinya hanya diam kini ikut angkat bicara. "Gak usah ikut campur deh dan sok ngebela tuh cewek! Urus aja muka lo yang gak ada cantik-cantiknya." Faya tertawa diikuti Seren dan Jordi. "Bahasa kasarnya, sih, jelek. Ups." Ceril mengepalkan tangan, napasnya memburu dengan ritme jantung yang tidak beraturan. Rasa itu kembali hadir. Rasa sakit yang dulu pernah ditoreh oleh seseorang. Rasanya seperti diremas oleh suata benda tak kasat mata. Luka itu ... kembali menganga. Ceril bersiap menampar Faya, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh seseorang. Jordi, Seren, dan Faya meneguk ludah, rasa gusar mulai menghantui mereka. "Gue gak peduli yang kalian katakan," ujar Ceril berusaha tidak terpancing dan tidak memedulikan tangannya yang digenggam erat oleh seorang cowok.  "Asal kalian tahu, kalian gak lebih dari manusia menyedihkan!" Ceril menatap tajam dengan ekspresi kasihan ke arah Seren, Faya dan Jordi. "Dan buat lo ...." Ceril menunjuk Jordi dengan tangan kirinya. "Berhenti mengomentari hidup orang. Lo ... hidup lo lebih menyedihkan dibanding orang yang lo komentari." Yang ada di sana menahan napas mendengar ucapan pedas Ceril. "BUBAR!" teriak cowok yang menahan tangan Ceril tadi. Akhirnya siswa-siswi yang hanya menonton seketika bubar, tak sedikit di antara mereka berbisik-bisik. Jordi menatap tajam ke arah Ceril yang juga menatapnya. "Menyedihkan!" Ejek Ceril. ☆☆☆☆ "Lo seharusnya gak perlu ikut campur urusan orang!" Ceril menatap tanpa minat ke arah Lusi yang sedang mencak-mencak. "Gue ... muak." "Muak boleh, tapi gak gini juga, Cer." Lusi menggaruk pangkal hidungnya. "Btw, yang nahan tangan lo tadi ... cowok yang nanyain lo kemarin." Ceril bergeming. Tidak habis pikir. Ada apa dengannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD