Kejadian Malam Itu Dengan Hanin

1275 Words
Adi tidak bisa memberi tanggapan apapun, dia hanya bisa terkaget-kaget dengan apa yang diakui temannya itu. Percuma juga menasehati Dewa, toh dari caranya bicara jelas kalau dia mengatakan melakukan itu semua demi cinta. Cinta yang seolah dia junjung tinggi padahal kenyataannya cinta tidak seperti itu. Sebulan berlalu persiapan pernikahan Dewa dan Hanin pun sudah matang, tinggal sepuluh persen lagi. Semuanya diurus oleh kedua belah pihak keluarga mereka. Tugas Dewa hanya mengirimkan uang untuk segala biaya yang dibutuhkan. Hubungan Dewa dengan Ibi juga tidak pernah ada lagi. Putus tanpa kabar dan bahkan Ibi sudah mengganti nomor ponselnya. Beberapa kali Dewa memohon pada Zara untuk tahu nomor ponsel Ibi yang baru, tapi gadis itu tidak mau memberitahu. Tidak hanya sampai disitu, Dewa juga membujuk Adi agar mau mencuri info nomor Ibi di ponsel Zara diam-diam. Tapi Adi menolak. Dia tidak mau hubungannya dengan Zara kacau hanya gara-gara masalah yang tidak ada untung baginya. Apalagi Zara sudah jelas mengatakan kalau dia ikut membenci Dewa sampai kapanpun. Jadi tidak ada point lagi segala hal tentang Dewa kembali muncul. Tiga hari menjelang pernikahannya, Dewa wajib pulang ke kampung. Akad nikah dan resepsi dilaksanakan di hari yang berbeda, yakni sabtu dan minggu. Satu minggu belakang Dewa sudah tidak boleh lagi berkomunikasi dengan Hanin, bahkan berkirim pesan pun tidak. Mereka hanya boleh berdiam di rumah menunggu hari bersejarahnya tiba. Biasanya detik-detik menuju pernikahan setiap calon mempelai pasti deg-degan sekaligus bahagia, tidak sabar menanti datangnya hari. Tapi berbeda dengan apa yang dirasakan Dewa saat ini. Dia justru cemas akan mengakhiri masa lajangnya dengan perempuan yang tidak dia cintai. Segala hal ini terjadi hanya atas dasar keterpaksaan yang diawali oleh ketidaksengajaan. _flashback on_ Malam itu Dewa mabuk berat. Dia sudah menghabiskan dua botol minuman beralkohol di paviliun tempatnya tinggal selama si Padang. Siapa lagi yang membuatnya frustasi sampai seperti itu jika bukan Ibtisam Kamila Bafagih. Gadis keturunan arab yang membuatnya jatuh cinta bahkan tergila-gila. Hubungan kedekatannya yang hancur dengan Ibi membuatnya stres tingkat tinggi. Sudah beberapa bulan dia tahan untuk tidak meluapkan kegalauan hati tapi nyatanya tidak bisa. Dewa memutuskan untuk melampiaskannya lewat minuman. Pikirnya dengan begitu bisa membuatnya enjoy dan melupakan masalah hingga tidak bersisa lagi. Tapi rupanya malam dia mabuk-mabukan itu awal kehancuran baginya sekaligus pengubah impian dan masa depannya. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu dan mengucap salam memanggil namanya. Tubuh Dewa yang sudah berat bukan main dia paksaan untuk bangkit dan membuka pintu. Tidak jelas dia dengar itu suara siapa, sebab kupingnya pun sudah pengang berkat efek minuman haram itu. Begitu dibuka, ternyata yang datang adalah gadis manis berparas ayu dengan lesung pipi di kiri. Rambutnya panjang sedada dan suaranya sungguh lembut mbak putri keraton. “Mas Dewa ...,” ucap gadis itu. Dia adalah Hanin, mantan pacar Dewa yang jauh-jauh datang dari Surabaya. Berbulan-bulan yang lalu sesungguhnya Hanin ingin menemui Dewa tapi dia terkendala dengan banyaknya pekerjaan di kantor tempatnya bekerja. Sampai akhirnya baru hari ini dia mendapat ijin cuti. Hanin segera menaiki pesawat jam dua siang menuju kota Padang. Jarak yang tidak dekat membuat perjalanan menjadi lebih lama walau dengan pesawat. Apalagi Hanin harus transit di Jakarta lebih dulu lalu kemudian baru lanjut ke Padang. Barulah pukul delapan malam dia sampai di bandara. Setelah mendarat Hanin berulang kali menghubungi ponsel Dewa, tapi tidak aktif. Dia jadi bingung sendiri harus kemana menarik apa. Setengah jam duduk merenung di bandara, Hanin pun menghubungi beberapa teman Dewa yang dia tahu untuk menanyakan alamat lengkapnya. Syukur setelah orang keempat yang dia telepon akhirnya memberitahu alamat lelaki itu. Tanpa pikir panjang Hanin segera menaiki taksi menuju ke alamat yang sudah dia dapat. Letaknya lumayan jauh dari bandara, lebih kurang satu jam perjalanan. Alhasil tepat pukul setengah sebelas malam Hanin sampai di depan pintu paviliun Dewa. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kekasih hati yang beberapa tahun merajut kasih dengannya itu. Walau mereka sudah putus, tapi statusnya belum jelas. Putus kontak begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kedatangan Hanin sesungguhnya bertekad untuk meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya pada Dewa. Hanin ingin tahu kesalahan apa yang dia perbuat hingga Dewa menelantarkannya begitu saja, sebab sebelumnya tidak ada masalah apapun diantara mereka. Begitu pintu sudah terbuka dan muncul Dewa dari sana, Hanin senang bukan main. Tanpa pikir panjang dia langsung memeluk Dewa sambil membisikkan, “Aku kangen banget sama kamu, Mas.” Sayangnya pandangan Dewa sudah tidak jelas karena mabuk. Wujud Hanin di hadapannya justru terlihat seperti Ibi. Gadis yang selalu dia pikirkan. Jangan tanya soal Hanin, sudah lama sekali Dewa melupakan sosok itu. Menyangka di peluk oleh Ibi membuat hati Dewa berbunga. Dia membalas pelukan Hanin dengan erat dan mengatakan kalau dia jauh lebih kangen lagi. Dewa mengajak Hanin masuk hingga ke kamarnya. Kepalanya yang sangat amat berat dia paksaan untuk baik-baik saja di depan Ibi. Tidak mau terlihat lemah. “Kamu minum-minum ya, Mas. Kenapa?” Hanin yang melihat beberapa botol minuman di atas meja tentu bertanya. Ada apa dengan Dewa saat ini? Kenapa dia sampai melakukan perbuatan haram begitu? Sepanjang yang Hanin tahu, Dewa bukanlah sosok lelaki yang urakan. Jadi tidak mungkin dia mabuk-mabukan tanpa alasan yang jelas. Mendengar pertanyaan begitu, Dewa tidak mungkin mengaku. Dia harus memberi alasan yang masuk di akal. “Kerjaanku disini berat banget. Penuh tekanan,” jawab Dewa akhirnya. “Kasihan kamu, Mas.” Hanin menyentuh lembut lengan Dewa. Dia usap-usap dari atas sampai bawah sambil menatap sendu pada pujaan hatinya itu. Tapi tatapan tersebut justru ditangkap Dewa berbeda. Wajah Hanin yang dia lihat sebagai Ibi seolah ingin memasrahkan diri. Dewa membalas sentuhan tersebut dengan menarik pinggang Hanin mendekat padanya dan mengusap lembut pipi gadis itu. Perempuan mana yang tahan diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang dia cinta dan begitu dia rindukan. Sudah lama sekali rasanya Hanin tidak merasakan sentuhan cinta dari seorang Dewa. Terakhir dia bermesraan dengan Dewa adalah tiga tahun yang lalu saat Dewa di mutasi ke kota M. Dewa menatap fokus pada bibir Hanin. Efek alkohol yang memenuhi dirinya membuat dia jadi bernapsu. Apalagi berada sedekat itu dengan gadis yang dikiranya Ibi. “Mas ...,” ucap Hanin lagi pelan. Kata-katanya seolah memberi kode kalau bibirnya siap merasakan sentuhan bibir Dewa. Tanpa pikir panjang Dewa melaksanakan apa yang sudah ada di otaknya saat itu. Menempelkan, melumat, bahkan menghisap dengan begitu asiknya. Mereka sungguh menikmati permainan bibir itu. Tidak munafik Hanin sangat menginginkan hal ini. Sentuhan dalam dari Dewa yang dulu sering mereka lakukan seminggu sekali saat masih pacaran normal di Surabaya. Tapi hanya sebatas itu yang berani mereka lakukan, tidak berlanjut ke yang lain. Namun kali ini, Dewa tidak bisa lagi menahan napsunya. Pengaruh alkohol semakin membuat dia hilang akal. Hanya kata-kata ingin dan lakukan yang ada di benak laki-laki itu. Pelan-pelan Dewa jadi semakin liar dengan permainan bibirnya. Dia membarengi aksi itu dengan tangannya yang bergerilya. Jelas Hanin terkejut dan menjauhkan bibirnya. “Mas, kok?” tanya Hanin. “Katanya tadi kangen, aku juga kangen sama kamu. Udah lama banget aku tahan,” saut Dewa di telinga Hanin seperti berbisik. Napasnya memburu, hembusannya sampai menyapu-nyapu belakang telinga Hanin. Apa yang dikatakan Dewa memang benar. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu, tentu rasa rindu sudah menggunung tertumpuk. Dengan jantung yang berdetak kencang, akhirnya Hanin menyetujui akan itu. Dia membalas ucapan Dewa dengan senyum dan anggukan. Pertanda kalau dia setuju melanjutkan apa yang Dewa inginkan menjadi keinginan mereka bersama. “Janji jangan tinggalin aku lagi ya, Mas,” ucap Hanin kemudian saat Dewa sudah mengajaknya naik ke atas ranjang. “Gak akan,” jawab Dewa. Malam itu apa yang tidak seharusnya terjadi justru benar-benar terjadi. Dewa memadu kisah cintanya dalam balutan selimut bersama Hanin tanpa pemisah sehelai benang pun diantara mereka. Padahal sesungguhnya ada kesalahpahaman berat diantaranya. Hanin pada Dewa namun Dewa pada Ibi. _flashback off_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD