Pernikahan Dewa Dengan Hanin

1140 Words
Di rumahnya, seorang gadis manis tidak henti tersenyum menanti datangnya hari. Hari dimana dirinya dan lelaki yang dia cintai akan bersanding di pelaminan. Alhamdulillah, akhirnya aku dan Mas Dewa akan segera menikah. Tidak sia-sia air mata yang kukeluarkan selama ini, Allah langsung menggantinya kontan dengan kebahagiaan yang sesungguhnya, batin Hanin. Kalau diingat-ingat perjuangan cintanya pada Dewa tidak main-main. Dia setia menunggu Dewa datang untuk melamar sesuai dengan janji mereka dulu, tapi di tengah-tengah perjalanan Dewa lupa dengan janjinya. Dewa bahkan mencampakkan dia tanpa alasan yang jelas. Berbekal keberanian Hanin datang menemui Dewa tanpa mengabari lebih dulu. Ternyata apa yang terjadi di luar dari bayangannya. Hal yang sangat dilarang agama justru terjadi diantara mereka. Dosa besar sudah pasti Hanin tanggung atas perbuatannya tapi sepadan dengan apa yang akan dia dapat sebentar lagi, yakni sebuah pernikahan. Hari terus bergulir sampai datangnya saat yang ditunggu-tunggu. Hanin yang sudah dihias dengan sangat cantik dan menawan menunggu di dalam kamarnya. Hari ini Hanin mengenakan kebaya putih dengan kain wiron khas Jawa. Dia begitu anggun dengan busana itu. Tidak lupa sanggul khas Jawa juga tersemat di kepalanya membuat penampilannya semakin sempurna. Tepat pukul sembilan pagi rombongan mempelai pria dikabarkan baru saja sampai di tempat. Hati Hanin sungguh deg-degan. Dalam hitungan menit dia akan segera menyandang status baru sebagai istri dari Sadewa Handaru, lelaki yang dia cintai sejak tujuh tahun belakangan. Detik demi detik rasanya sungguh lama berjalan, sampai lah saat dimana Hanin dituntun keluar dari kamar. Dengan langkah khas putri Jawa, Hanin mendekati susunan kursi tempat dirinya dan Dewa disandingkan untuk mengucap kalimat ijab dan qobul. Disana sudah duduk lebih dulu ayahnya, tuan kadi, dua orang saksi dan tentunya sang lelaki tampan pujaan hati, yakni Dewa. Semua mata tertuju pada Hanin dengan takjub dan senyum terkecuali Dewa. Lelaki itu hanya melirik sekilas dan tanpa senyum di wajahnya. Kenapa dengan Mas Dewa? Wajahnya datar. Tidak ada senyum sama sekali. Apa mungkin dia tidak bahagia dengan pernikahan ini? Hanin bertanya-tanya dalam hati. Langkah Hanin pada akhirnya sampai. Dia dituntun untuk duduk di samping Dewa. Maka dimulailah acara yang sesungguhnya. Tuan kadi memimpin dengan memberi nasihat pernikahan lebih dulu. Membukakan pikiran pada sepasang mempelai apa makna harfiah dari sbeuah pernikahan. Tidak hanya itu, ayah kandung Hanin juga dipersilahkan memberi satu dua patah kata sebagai pesan terakhir sebelum beliau menikahkan anaknya. “Terakhir di pesan Bapak hanya satu. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, setia dan membahagiakan Hanin sampai akhir hayat. Sebab dia putri Bapak satu-satunya yang Bapak bedarkan dengan kasih sayang yang sebentar lagi akan bapak serahkan pada kamu nak Dewa,” ucap ayah Hanin. “Baik, Pak. Insya Allah,” jawab Dewa singkat. Selesai itu proses inti pun dimulai. Tuan kadi mempersilahkan ayah Hanin untuk saling menjabat tangan dengan Dewa dan mengucap kalimat ijab. “Nak Sadewa Handaru, Bapak nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri Bapak, Hanin Larasati binti Selamet Anggoro, dengan mas kawin dua puluh lima gram emas, uang sebesar lima juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai,” ucap ayah Hanin. Sekarang giliran Dewa yang menjawab. Dia tampak berpikir beberapa detik. “Saya terima nikah dan kawinnya anak Bapak ...” Terputus sampai disitu. Seketika Dewa lupa nama calon istrinya. Tuan kadi mengusap lengan Dewa, lalu meminta dia mengulang kalimat qobulnya. “Ayo Nak Dewa, kita coba sekali lagi. Jangan gugup, tetap santai, dan ucapkan bismillahirrahmanirrahim,” ucap Tuan Kadi. Hanin yang duduk di samping Dewa sedikit was-was. Satu kali Dewa sudah gagal dalam menjawab. Dia berharap kali kedua ini Dewa lancar berucap. Batinnya tidak henti mengucap doa-doa agar segalanya diperlancar hari ini. Kembali ayah Hanin mengulang kalimat ijabnya, lalu giliran Dewa menyambut dengan kalimat qobul, untuk kedua kalinya dia tersendat. “Saya terima nikah dan kawinnya anak Bapak Hanin Kamila, eh ...” Terucap nama belakang Ibi disana. Astaga, astaghfirullahaladzim! Pikiranku tidak tenang. Aku terus memikirkan Ibi. Ya Tuhan, kumohon beri kelancaran dalam acara ini. Jangan biarkan keluargaku dan keluarga Hanin malu dengan kesalahanku untuk ketiga kalinya. Semua yang hadir menjadi kaget. Dewa salah menyebut nama belakang Hanin. Sepintas terdengar bisik-bisik yang tidak mengenakkan mempertanyakan siapa Kamila yang disebut Dewa tadi. Tapi kemudian Dewa mengambil alih menjawab. “Maaf, Pak. Sekali lagi saya minta maaf. Tadi malam saya menonton film India agar tidak gugup menghadapi hari penting ini. Tapi justru pemain film tersebut terngiang di pikiran saya.” Sontak semua yang hadir dan mendengar tertawa atas pengakuan Dewa barusan, termasuk calon ayah mertuanya. “Ada-ada saja kamu Dewa.” Pak Selamet tersenyum menatap kelakuan menantunya. Tapi berbeda dengan Hanin. Benaknya merasakan kalau na yang disebut Dewa barusan bukanlah seperti pengakuannya. Nama itu benar-benar ada dan Dewa kenal dekat dengan nama itu. Tapi siapa dia Hanin tidak tahu. Perasaannya kuat meyakini itu. Aku tau kapan kamu jujur dan kapan kamu berbohong, Mas. Siapa Kamila? Apa dia yang menjadi penyebab hubungan kita rusak kemarin? “Sudah, sudah, ayo kita coba sekali lagi. Nak Dewa harus konsentrasi ya. Silahkan ditatap dulu calonnya lalu diingat-ingat nama lengkapnya. Jangan sampai salah lagi.” Tuan Kadi memberi arahan yang dituruti oleh Dewa saat itu. Dewa menoleh ke samping kanannya, tampak Hanin yang begitu cantik dan anggun duduk dengan mengukir senyum yang paling manis. Ya, aku harus ingat. Dia Hanin dan bukan Ibi. Tidak ada lagi Ibi dalam hidupku. Hanya ada Hanin. Hanin yang selalu setia, selalu mencintaiku dan tidak pernah meninggalkan aku, batin Dewa meyakinkan. “Sudah siap?” tanya Tuan Kadi. “Insya Allah siap, Pak,” jawab Dewa mantap. Persis seperti jawabannya, untuk ketiga kali ini Dewa dengan lancar mengucap kalimat qobul. Nama Hanin dia sebut tanpa kurang satu apapun. Dia juga mengucap kalimat itu dengan satu napas yang mengartikan kalau dia bersungguh-sungguh dari hati untuk menghalalkan Hanin. “Alhamdulillahirobbil Al-Amin ... Saya nyatakan ijab qobul hari ini sah.” Tepuk tangan serta puji syukur dipanjatkan bersama oleh para tamu yang hadir. Kini Dewa dan Hanin resmi menjadi pasangan suami istri. Tidak ada lagi pemisah diantara mereka. Hanin sudah menjadi tulang rusuk pelengkap hidup Dewa. Mereka berdua diminta untuk menandatangani buku nikah. Lalu kemudian dengan status baru sebagai istri, Hanin diminta untuk mencium tangan suaminya di saksikan oleh para tamu. Masih di tempat yang sama mereka diminta untuk saling memakaikan cincin kawin titanium yang disepakati oleh keduanya. Berhubung dalam Islam seorang laki-laki tidak diperbolehkan memakai emas, mereka memilih titanium sebagai gantinya. Acara dilanjutkan dengan penyerahan mas kawin yang disebutkan Dewa tadi. Sebuah kalung dan gelang seberat dua puluh lima gram serta uang tunai sebesar lima juta rupiah. Penyerahan tersebut tidak lupa diabadikan lewat jepretan kamera. Terlukis senyum bahagia di bibir Hanin sementara bibir Dewa hanya senyum tipis biasa. Ada yang lain dari Dewa, Hanin menyadari itu. Mulai sejak dia bersitatap dengan Dewa saat dia duduk di sampingnya hingga ke acara-acara berikutnya. Mas, apa yang sesungguhnya ada di benak kamu? Entah kenapa aku merasa kamu gak bahagia dengan pernikahan kita ini. Tapi apa alasannya, Mas? Aku harus tau ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD