Hari Pertama Sebagai Suami Istri

1169 Words
Acara pernikahan Dewa dengan Hanin sudah selesai. Malam ini Dewa diwajibkan menginap di rumah orang tua Hanin sebelum besok memboyong istrinya itu ke rumah orang tuanya sendiri. Kebetulan besok masih ada acara lagi disana. Yakni yang disebut ngunduh mantu. Segala hal yang telah dipersiapkan oleh kedua belah pihak keluarga tidak satupun ada yang ditolak oleh Dewa. Dia menurut dan menjalani itu sesuai ketentuan walau di hatinya tidak sepenuhnya ikhlas. Hatinya masih tersangkut dengan satu nama yakni Ibtisam. Dewa baru saja selesai mandi. Dia mengecek ponselnya sebentar lalu kemudian menonaktifkannya. Sementara Hanin masih sibuk melepas atribut di kepalanya. Biasanya kalai sepasang suami istri yang saking cinta, suami akan membantu istri melepas itu. Tapi yang ini beda. Dewa cuek dengan apa yang dilakukan Hanin. Dia bahkan sudah naik ke atas kasur lebih dulu untuk bersiap tidur. Melihat kecuekan itu tentu saja Hanin protes. “Mas, kok kamu udah mau tidur, sih? Bantuin aku donk,” pinta Hanin lembut. “Aku ngantuk banget, Nin. Maaf ya.” Santai Dewa menolak. Dia segera masuk ke dalam selimut dan bersiap memejamkan mata. Begitu rasanya menikah tanpa cinta, peduli dengan apa yang dilakukan istri pun tidak. Dewa memang kelewatan, padahal itu adalah malam pertama mereka. Seharusnya bagi setiap pasangan suami istri malam pertama adalah malam yang dinanti. Malam dimana keduanya sudah dinyatakan halal untuk melakukan segalanya baik yang terdalam sekalipun. Tapi tidak bagi Dewa dan Hanin. Saat Dewa sudah memejamkan mata dengan sempurna, di atas kasur kamar Hanin, dia justru terbayang wajah Ibi. Ibi yang tersenyum menatapnya serta meninggalkan kecupan di pipi. Moment itu sungguh Dewa rindukan. Ketika itu jantungnya berdebar seperti anak SMA yang baru saja jatuh cinta. Sekian lama menunggu yang pada akhirnya memiliki kesempatan untuk mengikrarkan diri sebagai pemilik dari kekasih hatinya itu. Tapi kini semua sudah berakhir. Bahkan terlalu cepat berakhir padahal belum genap satu bulan mereka pacaran. Itupun di isi dengan jarak yang memisahkan. Total mereka hanya bertemu tidak lebih dari delapan hari. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan karena Hanin. Dewa menyalahkan Hanin dalam hal ini. Menurutnya gara-gara kedatangan Hanin malam itu, malam dimana dia mabuk berat hingga mengira Hanin adalah Ibi. Tanpa ragu malam itu Dewa mengukir cintanya di atas tubuh Hanin yang terlihat seperti Ibi. Sungguh pelampiasan cinta yang sempurna saat itu. Namun menjadi kacau dan malapetaka setelah keadaannya kembali sadar dan mengetahui siapa yang sesungguhnya bersama dia. Takdir hidupku sungguh kejam. Kemana hatiku berlabuh tapi justru ragaku melangkah ke tempat lain. Tempat yang tidak ingin kutuju. Tempat yang membuatku tidak bahagia dan tempat yang tidak aku harapkan. Dewa tidak pernah berhenti menyesali apa yang terjadi. Padahal jika dia mau mengkaji lebih dalam sedikit saja, seharusnya dia paham apa arti dari semua kejadian ini. Bahwa apa yang menurutmu benar belum tentu benar dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan berdoa, tapi tidak bisa menentukan apa yang wajib terjadi dalam hidup. Sebab takdir sudah menjadi ketentuan Yang Kuasa. Lantas apa Dewa mau memungkuri itu? Tuhan sudah menggariskan bahwa Dewa harus menikah dengan Hanin dan bukan Ibi. Karena dari sejak awal pun memang itu yang Dewa ikhtiarkan di dirinya. Hanya saja napsu dan obsesi mengubah jalurnya ditengah-tengah. Dewa tidak sadar dengan itu. Yang dia pahami sampai detik ini hanyalah cinta, cinta, dan cinta yang selalu dia sebut untuk Ibi. Hati dan pikirannya sudah dikuasai oleh sosok gadis itu. Membuat dia jadi setengah gila memikirkannya. Saking tidak hentinya Dewa memikirkan Ibi, malam itu dia tertidur diiringi dengan memimpikan Ibi yang berlari meninggalkannya. Tanpa sadar bibir Dewa justru berucap memanggil nama Ibi lumayan keras. Membuat Hanin yang tidur di sampingnya tersentak bangun. “Bi ...,” teriak Dewa. Hanin mengerutkan kening. Mas Dewa bilang apa tadi? Kalau aku tidak salah dengar dia menyebutkan Bi, tapi siapa itu? Yang pasti itu bukan namaku, bahkan panggilan pun tidak. Lantas apakah Bi itu seorang perempuan atau bukan, ya? Hanin bertanya-tanya. Hatinya sedikit cemas dengan itu. Tapi dia tidak mau terlalu larut berpikir. Biarlah besok dia tanyakan langsung pada suaminya. Pagi menjelang, selesai solat subuh berjamaah, Dewa termenung menatap Hanin yang mencium tangannya. Dulu dia sempat membayangkan kalau hal seperti ini akan dia lakukan bersama Ibi tapi nyatanya tidak. “Mas ...,” tegur Hanin menyadarkan lamunan Dewa. “Eh, ya,” saut Dewa. Segera dia bangkit dan merapikan sarung serta kopiah yang dia pakai ke tempatnya lalu kembali naik ke atas kasur. “Kamu mau tidur lagi, Mas?” tanya Hanin heran. Setaunya saat mereka pacaran dulu Dewa tidak pernah tidur lagi setelah subuh. “Enggak, aku cuma rebahan aja.” Dewa berbaring miring memunggungi Hanin yang ada di sampingnya. Hanin lantas mendekat. Dia memeluk lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu dari belakang. Dia usap lembut kepala Dewa mencoba untuk menyenangkan suaminya di pagi hari. Mungkin malam pertama yang tertunda tadi malam bisa mereka lakukan pagi ini, atau paling tidak mencairkan kekakuan diantara mereka. Membuat suasana menjadi hangat kayaknya suami istri yang saling cinta. Sayangnya tidak ada respon baik dari Dewa. Semula dia hanya diam tapi kemudian dia bergerak ke samping menatap Hanin. Meraih tangan Hanin yang mengusap kepalanya lalu, “Aku lagi gak pengen diginiin, Nin. Maaf ya.” Tak disangka Dewa menolak perlakuan istrinya. Istri mana yang tidak sakit ditolak seperti itu? Hanya usapan lembut Dewa tega menolaknya. Toh, Hanin juga tidak terlalu berharap untuk melakukan sunah rasul. Dia hanya ingin bermanja-manja dengan suaminya sendiri. Wajar sekali hal ini mengingat baru saja kemarin mereka menikah. Tapi begitupun tidak dia dapat. Hanin menarik diri. Dia turun dari kasur menuju keluar kamar. Daripada sakit hati memikirkan penolakan dari Dewa, lebih baik dia menyibukkan diri dengan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Mungkin dengan begitu hati Dewa bisa luluh. Hanin memang cerminan istri soleha. Dia tidak mau berburuk sangka hanya gara-gara satu kali penolakan. Justru Hanin berusaha lebih keras untuk melunakkan hati Dewa yang sejatinya adalah kekasih hatinya sejak beberapa tahun yang lalu. Masih jelas diingatan Hanin bagaimana harmonisnya hubungan mereka dulu. Walau hanya bermodalkan uang lima puluh ribu, tapi setiap hari minggu mereka selalu menyempatkan diri untuk berkeliling Surabaya. Duduk di taman sore-sore sambil makan gado-gado. Hanin ingat betul makanan kesukaan Dewa. Masa-masa pacaran mereka dulu sungguh manis. Sebulan sekali Dewa seolah wajib memberikannya kejutan walau hanya dengan sebuah ikat rambut baru. Tapi itu berarti banyak di hati Hanin. Membuatnya merasa sangat dicintai dan dihargai oleh seorang laki-laki yakni Dewa. Sekarang setelah mereka sudah sah menjadi suami istri, waktunya Hanin yang menjunjung tinggi Dewa di atas kepalanya. Dia akan membalas semua kebahagiaan yang pernah Dewa ukir dihidupnya dulu dengan kebahagiaan yang jauh lebih besar lagi. Hanin akan melakukan apapun yang Dewa sukai dan dia janji akan selalu menepati itu. Aku akan lakukan yang terbaik buat kamu, Mas, sampai kamu ingat betapa manisnya hubungan kita dulu. Cinta kita dulu tulus dan begitu indah sampai aku gak bisa lupa sekecil apapun kenangan kita. Kamu terlalu sempurna di mataku sejak dulu, Mas. Baik, tampan, penyayang, perhatian, dewasa, dan selalu memberiku kejutan. Sekarang waktunya aku membalas dengan memberikanmu kebahagiaan yang jauh lebih besar lagi dari yang kamu lakukan dulu. Aku sungguh mencintaimu, Mas ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD