“Loh, kok penganten baru wes masuk dapor pagi-pagi gini. Piye toh? Wes sana, kamu siap-siap, gih. Sebentar lagi bidan pengantin dateng. Kamu mau dikemas lagi untuk acara ngunduh mantu siang ini.” Ibu Hanin menegur anaknya yang hendak membuka kulkas untuk menyiapkan sarapan.
“Tapi buk, biar Hanin bantuin sedikit sebelum bidan ne dateng,” pinta Hanin.
“Ora-ora! Lebih baek kamu temenin mantu Ibu di kamar. Mumpung belum dateng bidane, wes kelonan, gih.” Ibu tersenyum mengusir anaknya.
Hanin ikut dibuat tersenyum berkat kalimat ibunya. Ada-ada saja, seorang ibu menyuruh anaknya untuk kelonan dengan suami.
Hanin kembali ke dalam kamar dengan secangkir teh yang sempat dia buat di dapur tadi. Dilihatnya Dewa masih dengan posisi yang sama seperti saat dia keluar kamar. Berbaring miring dengan pandangan mata yang kosong. Sebenarnya Mas Dewa mikirin apa, sih? Kayaknya kok berat banget.
Hanin mendekat lalu meletakkan teh di atas nakas dekat dengan Dewa.
“Mas,” tegur Hanin sembari menyentuh lengan Dewa.
“Eh, ya, Nin.” Karena posisi Hanin yang sudah duduk di tepi kasur Dewa lantas bangkit dan ikut duduk bersandar di head board.
“Minum teh dulu, biar perutnya anget.” Hanin menyerahkan cangkir teh ke tangan Dewa.
“Makasih, ya,” ucap Dewa menerima. Pelan-pelan dia seruput teh itu. Mengalir cairan hangat dan manis di tenggorokannya.
Begini rasanya menikah. Pagi-pagi sudah dibuatkan teh. Kalau saja aku menikah dengan Ibi, mungkin aku yang akan menyiapkan teh untuknya. Seketika Dewa tersenyum. Dia teringat kenangan saat dia dan Ibi liburan ke Bali tiga tahun yang lalu. Ibi yang masih terlelap tidur sementara dia sudah rapi menatap gadis yang dicintainya itu.
Sungguh keterlaluan Dewa ini. Jelas-jelas yang di hadapannya sekarang adalah Hanin. Bahkan teh yang dia minum adalah buatan Hanin, tapi kenapa otaknya justru mengingat moment bersama Ibi? Malah dia tersenyum ke arah Hanin yang tentu membuat istrinya itu salah paham. Hanin terlanjur berbunga mendapat senyuman Dewa kali ini.
Pikirnya, tidak sia-sia dia ke dapur membuatkan teh, langsung diminum serta mendapat senyuman dari suaminya.
“Kamu suka teh buatan aku, Mas?” tanya Hanin.
“Suka.” Belum hilang bayangan Ibi di benak Dewa saat ini.
“Alhamdulillah, aku seneng dengernya, Mas.” Sebuah kecupan Hanin darakan di kening Dewa membuat laki-laki itu tersadar.
“Ngapain kamu, Nin?” tanya Dewa kemudian dengan raut wajah aneh.
“Ngapain apanya, Mas? Aku cuma cium kening kamu. Gak apa-apa ‘kan?” Hanin bertanya balik dengan bingung. Apa salahnya? Bukannya tadi Dewa terlihat bahagia saat menyeruput teh buatannya.
“Awas, aku mau mandi.” Dewa meminta Hanin minggir dari dekatnya karena dia ingin bangkit dari kasur. Tidak ada senyum lagi di wajahnya.
Mas Dewa sebenarnya kenapa, sih? Bukannya tadi dia baru saja tersenyum dan bilang suka dengan teh buatan aku? Wajar donk aku senang dan cium keningnya. Tapi dia malah kelihatan bete dan wajahnya berubah. Selepas kepergian Dewa, Hanin jadi bingung sendiri.
Hari itu berlanjut dengan acara ngunduh mantu di rumah keluarga Dewa. Hanya acara sederhana kata ibunya tapi mengundang lebih kurang lima ratus undangan. Ibu Dewa begitu antusias dengan pernikahan putra pertamanya, maka dia begitu semangat mengadakan acara. Sebagai rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.
Hari ke empat berada di Surabaya, Dewa pamit pada orang tua dan mertuanya untuk memboyong Hanin ikut bersamanya ke Padang. Sejak saat itu penderitaan Hanin pun di mulai.
Dewa bukan tidak bisa menjadi suami yang baik, akan tetapi dia yang tidak mau menjadi suami yang baik untuk Hanin. Otaknya tidak pernah bisa menerima kenyataan kalau dia telah menikahi Hanin dan bukan Ibi. Dia terus saja berharap pada hal yang tidak bisa dia raih. Apa lagi kalau bukan bersatu dengan Ibi.
Dewa sadar betul kesalahan fatal apa yang sudah dia lakukan terhadap Ibi. Sulit rasanya gadis itu untuk memaafkan. Tapi Dewa tidak peduli dengan itu. Dia tetap mencintai Ibi dan berharap suatu saat nanti bisa bersatu dengan gadis itu. Sungguh harapan yang kelewatan.
Dibalik itu, baik sengaja ataupun tidak Dewa jelas menyakiti Hanin. Raganya boleh bersama istri sahnya namun hatinya tidak pernah ada disitu. Lantas apa fungsi Hanin dalam hidupnya? Bagaimana dengan rumah tangga mereka?
Satu bulan pernikahan, total Dewa tidak sekalipun menyentuh Hanin. Jangankan menyentuh, melihat wajah Hanin saja dia malas. Tapi seiring berjalannya waktu, Dewa yang merupakan laki-laki normal tentu goyah juga. Keadaan mereka yang serumah bersama, sekamar bersama, tidur bersama membuat Dewa beberapa kali melihat Hanin mengganti pakaian di hadapannya usai mandi.
Walau tidak sekalipun Dewa berniat melakukan hubungan kasih dengan Hanin, tapi nalurinya sebagai laki-laki mendorong untuk itu. Apa yang semestinya bangkit tentu bergerak dari posisinya. Maka dari itu untuk pertama kalinya penyatuan kasih mereka terjadi di bulan kedua pernikahan.
Tanpa dimulai dengan kata-kata. Tanpa dimulai dengan tatapan cinta. Hanya napsu yang menjadi komandonya. Sedih, kecewa, pasti Hanin rasakan. Tapi posisinya sebagai istri yang soleha tidak memiliki hak untuk menolak. Apa yang seharusnya terjadi sejak awal, akhirnya terjadi juga. Setidaknya Hanin sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang sepenuhnya untuk Dewa.
Hanin berharap setelah malam penyatuan kasih itu sikap Dewa bisa berubah perlahan. Hatinya mulai lembut, tidak cuek lagi, dan kembali menghujaninya dengan cinta seperti saat mereka pacaran dulu.
“Aku cinta kamu, Mas ... Dari dulu bahkan sampai detik ini,” ucap Hanin ketika tugas utamanya sebagai istri baru saja selesai.
Tapi tidak ada jawaban dari Dewa. Dia hanya diam dan mendengarkan. Bahkan tersenyum pun tidak.
Seandainya aja kamu Ibi, Nin. Kamu gak akan sempat mengucap kata cinta sebab aku yang akan lebih dulu menghujanimu dengan kalimatku ... Dewa lalu meninggalkan Hanin ke kamar mandi.
Selesai berbenah di kamar mandi, Dewa baru berucap, “Kalau kamu keberatan dengan yang tadi, Nin. Aku cuma minta tolong satu hal. Jangan pernah ganti baju di hadapanku karena itu akan membuatku melakukannya lagi.”
“Astaghfirullahaladzim ..., kenapa kamu mikir gitu, Mas? Aku ‘kan istrimu sekarang. Mau berapa kali pun kamu menginginkannya, aku ikhlas Mas. Demi Allah, aku ikhlas, Mas. Itu memang kewajibanku sebagai istrimu.” Suara Hanin bergetar. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut Dewa, yang meragukannya atas penyatuan yang telah terjadi diantara mereka.
“Kamu yakin dengan kalimatmu barusan, Nin? Jujur pikiranku kacau belakang ini. Banyak hal yang tidak terselesaikan dalam hidupku. Jadi mungkin kamu akan kaget melihat aku yang sekarang. Aku sudah bukan Mas-mu yang dulu. Aku jauh berubah karena keadaan dan lingkungan. Tapi yakinlah, aku tidak akan lepas dari tanggung jawab, kamu gak perlu khawatir soal itu.” Dewa menjelaskan garis besar apa yang terjadi padanya sekarang.
“Aku gak pernah ragu sama kamu, Mas. Dan aku juga gak pernah main-main dengan ucapanku. Aku sungguh mencintai kamu setulus hati. Jadi pasti aku akan terima kamu yang sekarang dengan ikhlas tanpa harus tau apa dan kenapa.” Hanin melangkah mendekati Dewa. Diraihnya tangan kanan Dewa lalu kemudian dia cium sebagai tanda bakti pada suaminya itu.
Dewa menghembuskan napas panjang. Tidak hanya sebuah kecupan tangan yang Hanin berikan melainkan pemandangan yang menggetarkan sesuatu miliknya sekali lagi.
“Pakai kembali baju kamu, Nin. Nanti kamu masuk angin.” Dewa memilih keluar kamar daripada dia harus tergoda untuk kedua kalinya dengan istrinya itu.
Memang gila Dewa ini. Obsesi cintanya pada Ibi, membuat dia menepis keinginan untuk kembali menikmati sajian halal buah dari pernikahan yang sah di mata agama. Tidak hanya menghasilkan nikmat, tapi masih di tambah lagi dengan pahala. Puji syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan hamba-Nya berpasang-pasangan.