Sebulan berlalu setelah kejadian penyatuan pertama Dewa dengan Hanin secara sah. Rupanya penyatuan kali itu menghasilkan benih di rahim Hanin. Berbeda memang jika dilakukan dengan sah dibandingkan dengan yang haram.
Saat pertama kali dulu, mungkin rasanya pasti sakit dan mendebarkan jantung tidak henti dari awal hingga akhir. Sebab itu yang pertama kalinya bagi Hanin maupun Dewa, namun perbedaan rasa diantara keduanya tidak meninggalkan hasil di rahim Hanin.
Tuhan masih menyayangi Dewa. Dia masih diberi kesempatan untuk berubah dan tidak dipermalukan di depan banyak orang atas perlakuannya pada Hanin. Tuhan menutupi aibnya. Tidak membuat Hanin hamil di luar nikah. Untungnya ada sedikit tanggung jawab di pikiran Dewa hingga dia dengan sangat terpaksa harus menikahi Hanin. Sebab memang gadis itulah jodohnya. Jodoh yang dipilihkan Tuhan untuk dia.
Tapi Dewa memungkiri soal itu. Dewa tetap ngotot pada kemauan sepihaknya yang menghendaki Ibi sebagai jodohnya kelak. Entah kapan itu, Dewa sendiri tidak tahu, yang pasti dia selalu menanamkan pernyataan itu di benaknya.
Aku gak bisa berhenti mencintai kamu, Bi. Aku ingin kamu yang jadi jodohku. Aku benar-benar ingin. Kumohon kabulkan pintaku, ya Tuhan ... Begitulah doa yang tidak pernah putus Dewa panjatkan setiap dia selesai sholat.
Tuhan Maha Adil. Tuhan Maha Tahu segalanya. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, sebab pilihan Tuhan sudah pasti yang terbaik. Tapi Dewa menyangkal hal itu. Dewa bertahan pada keinginannya. Menurutnya Ibi adalah pilihan berbaik dalam hidupnya kelak.
Tepat selesai sholat magrib berjamaah, Hanin memberi kabar pada Dewa pasal kehamilannya. Gadis itu menunjukkan bukti test pack pada Dewa.
“Mas, ini,” ucap Hanin.
“Apa itu?” tanya Dewa dengan hanya melirik sekilas. Dia tidak terlalu peduli dengan apapun yang berkaitan dengan Hanin, hanya sekedarnya saja.
“Test pack, Mas. Aku hamil,” ucap Hanin menjelaskan.
Reflek Dewa menoleh padanya. Apakah itu berarti Dewa bahagia? Apa dengan mendengar kabar baik ini adalah awal perubahan bagi Dewa? Sayangnya tidak demikian.
“Kamu yakin, Nin?” tanya Dewa heran.
“Iya, Mas. Aku hamil anak kamu,” jawab Hanin.
“Ya sudahlah, bagus. Bapak, Ibumu dan juga Ibuku pasti senang dengan kabar ini.” Hanya begitu tanggapan Dewa.
“Kenapa Cuma mereka yang senang, Mas? Memangnya kamu gak ikut senang atas kehamilanku?” Hanin heran dengan suaminya itu. Bahkan setelah tahu kalau dia hamil, Dewa hanya bersikap biasa. Tidak tampak raut kebahagiaan di dirinya.
“Ya, aku juga ikut senang,” jawab Dewa datar.
“Tapi aku gak liat kebahagiaan di wajah kamu, Mas.” Hanin tidak bisa percaya dengan kalimat Dewa barusan.
“Terus aku harus gimana, Nin? Kamu mau aku teriak-teriak di rumah ini biar semua tetangga juga dengar berita kehamilan kamu?” Dewa menatap Hanin serius.
“Bukan itu maksud, Mas. Paling gak ada kebahagiaan di wajah kamu. Karena ini anak pertama kita, Mas.” Dengan sabar Hanin menjelaskan maksud hatinya.
“Dari awal kita menikah aku memang seperti ini ‘kan. Kapan kamu pernah liat aku bahagia?” Mendengar pernyataan itu reflek mata Hanin memanas. Bulir hangat tidak bisa dibendung keluar dari kedua sudut matanya.
Begitu tega Dewa berkata demikian hingga Hanin bisa menyimpulkan kalau ternyata Dewa tidak bahagia menikah dengannya. Dewa hanya terpaksa menikahinya. Lalu apa arti dari janji yang Dewa ucapkan saat malam itu? Malam pertama mereka melakukan kesalahan fatal itu. Apa itu bukan kalimat cinta? Apa itu bukan janji kebahagiaan untuk hubungan mereka? Banyak pertanyaan muncul di kepala Hanin.
“Kenapa kamu jadi nangis, Nin?” tanya Dewa heran. Dia memang tidak peka terhadap Hanin. Berbeda dengannya ketika bersama Ibi. Sedikit saja perubahan dari Ibi dia paham apa artinya.
“Tega kamu ngomong seperti itu, Mas. Itu sama aja kamu bilang kalau kamu gak bahagia menikah denganku,” jawab Hanin masih dengan tetesan air matanya.
“Udahlah, Nin. Jangan drama malam-malam begini. Aku gak punya waktu membujuk kamu. Jangan pikir yang macam-macam. Kamu jaga kesehatan. Kasihan anak yang ada di dalam perut kamu,” ucap Dewa mengakhiri perbincangan mereka malam itu. Dia malas banyak bicara yang nanti akan semakin membuat Hanin bersedih.
Dewa sadar kalau apa yang dia lakukan bukanlah cerminan seorang suami yang baik, tapi dia juga tidak bisa menahan diri untuk berhenti menyalahkan Hanin atas apa yang terjadi sekarang. Baginya, kalau saja malam itu Hanin tidak datang ke paviliunnya, kejadian fatal itu tidak mungkin terjadi. Dan dia tidak perlu bertanggung jawab atas apapun sehingga hubungannya dengan Ibi bisa berlanjut dan berjalan mulus sesuai kemauannya.
Mungkin-mungkin pun sekarang yang ada di sampingnya bukan Hanin, melainkan Ibi. Gadis yang begitu dia cintai, dia harap dan dia sanjung atas nama cinta. Cinta yang sekarang sudah menjadi obsesi tak terarah.
Sementara itu, sakitnya hati Hanin malam ini sudah tidak bisa diungkap. Berharap bisa membahagiakan suami atas berita kehamilannya malah mendapat tanggapan yang menyakitkan. Dewa bukan saja tidak bahagia, tapi dia juga menambahkan kalimat mengiris dari mulutnya untuk Hanin. Mengatakan kalau Hanin melakukan drama malam-malam.
Ya Tuhan ..., kenapa Mas Dewa jadi seperti ini? Apa salahku padanya sampai dia setega itu? Kalau dia memang tidak bahagia kenapa dia mau menikah denganku? Kenapa malam itu dia melakukannya denganku? Aku masih ingat raut harapnya saat mengajakku melakukan itu. Aku masih ingat kata-kata rindunya padaku saat itu. Aku gak akan pernah bisa lupa.
Setelah sekian lama kami berpisah, aku datang untuk meminta kepastian hubungan kami. Tapi yang kudapat adalah pelukan cinta, kalimat rindu hingga aku larut dan tergoda untuk mau merelakan semuanya pada Mas Dewa. Dan sekarang yang kudapat malah sebaliknya, sakit yang luar biasa. Kata-kata Mas Dewa bertolak belakang dengan kejadian malam itu. Apa artinya semua ini, ya Tuhan? Apa mungkin Mas Dewa salah orang? Mas Dewa tidak menganggap aku sebagai aku melainkan orang lain?
Ya, mungkin seperti itu. Aku harus cari tau yang sebenarnya. Aku gak mau hidup dalam salah paham dan dugaan yang mengada-ada seperti ini terus. Demi anak kami, aku harus tahu tahu! Hanin mengusap air matanya. Dia tidak mau jadi lemah dan hanya diam menghadapi masalah ini. Hanin bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Dewa. Alasan apa yang membuat Dewa bisa jauh berubah jadi seperti yang sekarang.
Hari berlalu Hanin terus menguatkan diri. Demi anak yang ada di dalam kandungannya dan juga demi pernikahannya. Selama hidup bersama dengan Dewa, tidak ada yang mencurigakan tentang wanita idaman lain dalam diri Dewa. Sehari-hari dia hanya pergi bekerja lalu setelah pulang dia makan dan beristirahat.
Dewa juga tidak pernah menyembunyikan ponselnya atau bertelepon diam-diam layaknya lelaki yang sedang menyimpan sesuatu. Keseharian Dewa masih tampak wajar. Hanya saja dia sering merenung dan terkadang menatap ponselnya agak lama lalu kemudian wajahnya tampak bersedih.
Oleh sebab itu, Hanin jadi penasaran. Malam ini dia bertekad untuk mengotak-atik ponsel suaminya. Mencari hal yang mencurigakan yang ada disana. Apakah itu Hanin masih belum tahu. Dia masih harus menunggu Dewa tidur nyenyak malam ini.