Dewa memandang serius pada Ibi, kedua tangan gadis itu dia genggam dengan erat. “Janji ya jangan bikin aku kecewa lagi,” ucapnya.
Ibi terbengong sesaat. Memangnya kapan dia pernah membuat Dewa kecewa dia sendiri pun tidak tahu.
“Maksudnya?” tanya Ibi polos.
“Jangan kenalan dengan cowok asing yang bakal bikin aku khawatir banget sama kamu, Bi. Aku gak tenang mikirin itu. Dan waktu tau kamu malah ngelakuinnya, hatiku sakit,” jelas Dewa.
Ibi tersenyum. “Iya, Ibi janji. Ibi gak akan ngecewain Dewa dengan ngelanggar janji itu.” Mendengar jawaban itu, pikiran Dewa jadi lega. Reflek dia mencium punggung tangan Ibi saking bahagianya. Yang tentu sekali lagi membuat Ibi terbengong. Eh, Dewa ...
Sekarang Dewa tidak lagi terbebani dengan beban perasaan. Kini dia bisa menerima tawaran dari atasannya dengan tenang. Tapi walau bagaimanapun menjaga Ibi untuk tidak luput dari perhatiannya tetap menjadi prioritas bagi Dewa.
Setelah kepindahannya ke Padang, Dewa selalu rutin menelepon maupun mengirim pesan pada Ibi. Setiap bangun pagi dia wajib mengirimkan sebuah pesan singkat.
Selamat pagi, Bi. Yang semangat ya belajar di sekolahnya. Semoga nilai kamu makin bagus.
Dan saat malam adalah jadwalnya menelepon Ibi. Menemani Ibi menjaga wartel dengan mengobrol di telepon. Dewa betah berlama-lama bicara dengan Ibi. Bahkan saat wartel Ibi sedang ramai pun dia tidak mau Ibi mematikan teleponnya. Biarkan dia menemani dengan mendengar suara Ibi yang sedang melayani pelanggan.
Sebegitu tidak inginnya Dewa melewatkan waktu tanpa Ibi. Padahal di bulan pertama dia masuk di tempat kerja yang baru, tentu pekerjaannya menjadi dua kali lipat lebih banyak. Dia harus mengatur ulang laporan perusahaan yang berantakan. Mengatur ulang bawahannya dan membagi tugas setiap divisi dengan tepat.
Pantas saja dia dipindah tugaskan di Padang, ternyata sistem di kota itu tergolong berantakan. Dewa harus membenahinya dari awal dan butuh kerja keras sebab dia juga harus menyesuaikan dengan macam-macam karakter bawahannya.
Lantas bagaimana dengan Hanin, kekasih Dewa yang sesungguhnya? Hanin patah hati. Perasaannya hancur diperlakukan seperti itu oleh Dewa. Lelaki itu menganggapnya seolah tidak ada lagi. Mereka sudah jarang sekali bertelepon. Bahkan membalas pesan dari Hanin saja Dewa bisa sampai dua hari dengan alasan sibuk di area kerja yang baru. Tapi anehnya tidak ada penegasan apapun yang dilakukan Dewa pada Hanin terhadap status hubungan mereka.
Jika memang sudah tidak mau bersama lagi, seharusnya Dewa mengungkapkan hal itu pada Hanin, tapi ini tidak. Dewa terus menggantung status Hanin tanpa kejelasan. Tidak diputuskan namun tidak juga dipedulikan. Perempuan mana yang tidak sakit diperlakukan begitu oleh kekasih yang sangat dicintainya.
Hanin sendiri kebingungan dengan sikap Dewa. Berulang kali dia mengurut kebelakang, mengingat apakah ada kesalahan fatal yang dia lakukan hingga membuat kekasih hatinya berubah seperti itu. Tapi sayangnya Hanin tidak menemukan masalah apapun. Sebulan bahkan tiga bulan sebelum perubahan drastis Dewa terjadi hubungan mereka masih harmonis. Walau tergolong tidak sebegitu intens seperti sebelum-sebelumnya.
Demi masa depan hubungannya dengan Dewa, gadis itu tidak bisa tinggal diam. Dia memutuskan untuk bertindak. Tapi apa dan bagaimana yang akan Hanin lakukan nanti, dia masih menunggu waktu yang tepat. Menyusun rencana dengan matang lebih dulu sembari menyelesaikan pekerjaan kantornya yang tentu juga menumpuk di penghujung bulan.
Sementara itu kota M, Ibi yang baru saja pulang sekolah mampir di warung jus tempatnya biasa duduk minum bersama Dewa. Dia membeli dua macam jus untuk dibawa pulang, namun tiba-tiba seorang lelaki yang tidak dikenal menghampirinya. Ternyata lelaki itu mengenali Ibi. Dia langsung menegur.
“Ibtisam ‘kan, ya?” tanya lelaki itu memastikan.
Ibi reflek menoleh ketika namanya disebut. “Siapa ya?” tanya Ibi ragu. Seingatnya dia memang tidak mengenal lelaki itu.
“Aku Elvan, temen satu kostnya Dewa. Inget gak?” Lelaki itu memperkenalkan diri. Rupanya dia salah satu teman kostnya Dewa di tempat lama.
“Hm ....” Tapi Ibi masih berpikir, mencoba mengingat satu persatu teman kost Dewa.
“Klo gak salah waktu itu kamu datang ke kost hari minggu pagi. Anak-anak pada libur kerja dan si Dewa lagi gak enak badan hari itu. Makanya waktu Dewa ajak kamu masuk ke dalam, ketemu aku, adi, sama Remon di depan kamarnya. Nah, disitu deh baru Dewa ngenalin kamu ke kita-kita,” jelas Elvan lebih jauh, mengingatkan Ibi dengan momen perkenalan mereka waktu itu.
“Oh, iya-iya. Ibi baru inget.” Ibi tersenyum menjawab.
“By the way, kamu mau kemana, nih?” tanya Elvan kemudian.
“Mau pulang ke rumah. Abis mampir tadi beli jus, nih.” Ibi mengangkat dua cup jus di dalam plastik yang di tentengnya.
“Ke arah mana? Mau aku anterin gak?” tawar Elvan.
“Eh, gak usah. Rumah Ibi deket kok. Jalan kaki dikit juga nyampe,” tolak Ibi sopan.
“Ya udah gak apa-apa. Kalau gitu aku temenin aja jalannya, soalnya aku juga lagi gak ada kerjaan nih. Lagi off kerja, jadi bosen di kost mulu. Pengen jalan-jalan.” Rupanya Elvan masih berusaha mengantar Ibi. Tiba-tiba dia jadi kepo ingin tahu dimana tempat tinggal gadis belia manis di hadapannya ini.
“Terus itu motor kamu gimana?” tanya Ibi lagi.
“Titip aja di warung jusnya. Ntar aku ambil lagi,” saut Elvan.
Sebelumnya Ibi sedikit ragu mengijinkan Elvan mengantarnya, mengingat hal yang dia janjikan pada Dewa sebelumnya. Yakni tidak berkenalan dekat dengan orang asing. Tapi setelah dia pikir lagi, Elvan itu adalah teman Dewa, artinya dia bukan orang asing. Tidak mungkin Ibi mengacuhkannya begitu saja. Apa tanggapannya nanti?
“Ya, udah kalo gitu.” Ibi menjawab dengan senyum sembari menunggu Elvan memarkirkan motornya di warung jus.
Sepanjang jalan kaki bersama mereka ngobrol macam-macam. Elvan merupakan orang yang asik diajak bicara, sifatnya yang nyablak membuat Ibi beberapa kali tertawa kecil karena celetukannya.
“Wah, berarti kamu masih enam belas tahun donk ya. Masih unyu-unyu,” ucap Elvan begitu dia mendengar jawaban Ibi soal usianya.
“Iya, Ibi masih kecil sih dibanding kalian. Eh, ngomong-ngomong, Ibi harus panggil kakak atau abang, nih?” Ibi menyadari usianya yang jauh di bawah Elvan.
“Panggil kakak kayaknya seru ya didengar. Hehehe. Atau panggil A’a juga boleh, hahaha ... Tapi terserah deh. Lagian aku juga gak tua-tua amat kok. Aku lebih muda dua tahun dari Dewa. Dia senior aku di kantor.” Rupanya Elvan lebih muda dari Dewa.
“Oke, Ibi panggil kak Elvan deh.” Ibi kembali tersenyum.
Tanpa terasa rupanya langkah mereka sudah sampai di depan Mama Corner. “Udah sampe sini aja ya nganternya. Rumah Ibi di dalam situ tuh.” Ibi menunjuk ke belakang Mama Corner.
“Oh, jadi itu rumah kamu. Oke, deh.” Elvan mengacungkan jempolnya.
“Makasih ya Kak Elvan. Ibi masuk dulu.” Ibi melambaikan tangan lalu kemudian pergi meninggalkan Elvan.
Sampai Ibi hilang tidak terlihat, Elvan masih berdiri mematung di depan Mama Corner. Senyum tersungging di bibirnya. Pantas Dewa tergila-gila, rupanya anak itu sangat manis dan polos. Mungkin aku punya kesempatan untuk mendekati dia. Lumayan, kapan lagi bisa punya cewek yang kinyis-kinyis begitu. Mumpung Dewa sudah gak ada disini. Hehehe ... Sampai ketemu lagi, Ibtisam.