Ketemu Elvan di Wartel

1157 Words
Tidak menganggap penting pertemuannya dengan Elvan siang tadi, membuat Ibi lupa untuk bercerita pada Dewa saat mereka sedang bertelepon. Sungguh dia tidak bermaksud menutupi apapun dari Dewa. Lagipula menurutnya tidak ada yang penting dari pertemuan mereka. Hanya sekedar ngobrol biasa. Ibi baru teringat saat dia sudah menutup wartel dan masuk ke dalam rumah. Jam sudah menunjuk ke angka setengah sepuluh malam, sudah larut untuk sekedar bicara pada Dewa perkara itu. Apalagi tadi Dewa mengatakan kalau dia sungguh sangat capek karena pekerjaan kantor yang menumpuk. Biarlah Dewa istirahat lebih cepat agar besok dia bisa fit untuk kembali bekerja. Ya udah, biarin deh. Lagian gak ada yang spesial kok, Dewa pasti gak bakal marah. Kan Elvan temennya juga. Ibi memilih untuk bersih-bersih dan bersiap untuk tidur. Besok dia juga harus bangun pagi agar tidak telat berangkat sekolah. Dua hari berlalu sejak pertemuan Ibi dengan Elvan dan hari ini pertemuan itu kembali terjadi. Tiba-tiba saja Elvan muncul di wartel Ibi ketika wartel itu baru saja buka setelah istirahat waktu magrib. “Eh, astaga, kok bisa ada kamu disini? Ngapain?” Elvan langsung bertanya saat melihat sosok Ibi duduk dibalik meja operator wartel. “Eh, Kak Elvan. Iya, ini Ibi lagi jagain wartel,” jawab Ibi singkat dengan senyum. “Oh, jadi kamu kerja disini? Sejak kapan?” tanya Elvan memastikan. “Hehehe, iya bener. Ibi kerja disini sejak dahulu kala, Kak. Sejak wartelnya berdiri.” Ibi tertawa kecil menjawab. “Wah, aku ketinggalan berita donk. Padahal setiap usaha yang buka daerah sini aku pasti selalu dapat laporannya, loh. Cuma kebetulan aja wartel ini kelewat, sampe aku gak dapat laporan apapun. Makanya hari ini aku mau sidak langsung. Pengen tau siapa pegawai yang jaga.” Kembali Ibi tertawa akibat ocehan panjang Elvan. Dia bicara dengan wajah yang serius seolah memang sungguh-sungguh berucap demikian. Sifat yang seperti ini yang membuat Elvan mudah bergaul dengan siapapun termasuk perempuan. Dia gampang memasukkan diri bahkan membuat lawan bicaranya menjadi nyaman dan selalu tertawa. Itulah kenapa lelaki baik dan perhatian selalu kalah satu langkah dalam merebut perhatian daripada lelaki yang humoris. Hal itu yang sedang terjadi diantara Ibi, Elvan dan Dewa bermulai dari malam ini. Sedang asyik-asyiknya Elvan mengeluarkan jurus canda tawanya terhadap Ibi, tiba-tiba Dewa menelepon. Ibi yang polos langsung mengatakannya di depan Elvan, membuat lelaki itu segera bersiaga dengan berbagai alasan. “Eh, Dewa nelepon, Ibi angkat dulu ya. Ibi kasih tau kalo ada Kak Elvan disini.” celetuk Ibi. Segera Elvan melambaikan tangan pertanda melarang. “Jangan, Bi, gak usah. Ntar dia salah sangka, dikirain aku mau nyeritain keburukannya di kostan yang suka jemur kolor di kipas angin.” Elvan menutup mulutnya dengan tangan seolah dia keceplosan bicara. Padahal itu semua hanya karangannya belaka. Tidak ada kelakuan seperti itu di diri Dewa. Dewa bukanlah lelaki yang sembrono. Hidupnya tergolong sebagai cowok yang rapi dan bersih. Bahkan dia juga menggunakan skin care dasar untuk wajah dan kulitnya yang kering karena terlalu lama berkutat di ruangan ber-AC. Dan yang Elvan katakan barusan adalah kelakuannya sendiri. Dia yang selalu malas mencuci kolor hingga bertumpuk dan saat sudah dicuci terpaksa dikeringkan dengan kipas angin agar besok bisa digunakan. Ibi yang pada dasarnya memang polos tingkat tinggi langsung saja percaya ucapan Elvan. Gadis itu kembali terkekeh mendengar ucapan itu. Bahkan Ibi sampai geleng-geleng kepala tidak menyangka kalau Dewa yang dilihatnya begitu sempurna ternyata memiliki kelakuan buruk juga. Selesai dengan tawanya Ibi pun mengangkat jempol, pertanda setuju tidak akan mengatakan pada Dewa bahwasanya Elvan sedang berada di wartelnya. Selagi Ibi dan Dewa berbincang di telepon, Elvan masuk ke bilik telepon. Dia menghubungi beberapa nomor temannya agar Ibi mengira dia sungguh-sungguh memiliki tujuan mampir di wartel. Padahal sebenarnya dia sudah memata-matai Ibi sejak pertemuan pertama mereka kemarin. Elvan sudah tahu kalau Ibi lah yang menjaga wartel, makanya dia nekat mampir dengan alasan yang dibuat-buat. Malam ini kebetulan Dewa dan Ibi betelepon tidak begitu lama. Dewa mengatakan pada Ibi kalau dia masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan harus dibawa ke kantor besok. “Bi, maaf ya, aku gak bisa lama-lama ngobrol sama kamu. Kerjaanku numpuk banget. Mau aku selesaikan secepatnya biar aku bisa ambil cuti dua hari minggu depan,” ucap Dewa. “Cuti? Loh emang Dewa mau kemana?” tanya Ibi. “Ketemu kamu donk, emang mau kemana lagi. Aku kangen banget sama kamu, Bi. Udah lama gak cubit pipi kamu,” jawab Dewa. “Hah? Serius? Dewa mau naik apa ke sini? Kan perjalanan dari Padang jauh, bisa dua hari naik bus.” Ibi terheran-heran. “Aku naik pesawat, Bi. Biar cepet sampe dan cepet ketemu kamu.” “Ih, sayang donk duitnya. Pasti tiketnya mahal, iya ‘kan?” Ibi bukan bermaksud perhitungan tapi dipikirannya masa hanya untuk libur dua hari, Dewa sampai datang ke kota tempat tinggalnya. Sayang sekali uang yang Dewa keluarkan. “Enggak kok, Bi. Aku dapet tiket promo. Pokoknya kamu tenang aja deh. Aku gak mungkin buang-buang duit, kamu jangan khawatir ya.” Dewa meyakinkan dan selalu dengan kebohongan. Mana ada tiket promo di bulan tanpa libur panjang seperti ini. Sayangnya Ibi percaya begitu saja. Dia langsung mengiyakan, dan tinggal menunggu kedatangan lelaki yang begitu menyayanginya itu. Senang, sudah pasti dirasakan Ibi. Sebab bukan hanya Dewa yang merindu, tetapi dia juga. Ibi rindu saat-saatnya menghabiskan waktu bersama Dewa. Orang yang selalu ada tiba-tiba harus berjauhan, tentu sepi rasanya hari-hari Ibi tanpanya. Selesai mereka bicara di telepon, Ibi kembali meladeni Elvan. Bahkan Ibi mengabarkan pada Elvan kalau Dewa akan datang dua hari lagi. Wah, gawat. Baru juga aku mau pendekatan udah bakal dateng aja macannya. Harus mikir siasat baru ini biar macannya gak sampe tau. Tidak berapa lama Elvan pun pamit pergi. “Eh, Bi, aku pamit dulu, ya. Mau ketemu temen lagi di cafe yang ujung. Ada kerjaan dikit yang mesti dibahas soalnya,” ucap Elvan. “Oke. Hati-hati ya, Kak,” jawab Ibi diiringi dengan lambaian tangannya. Sembari jalan pulang, di atas sepeda motor Elvan tampak berpikir bagaimana caranya mendekati Ibi tanpa sepengetahuan Dewa. Sebab jika mantan teman satu kostnya itu tahu pasti akan jadi masalah diantara mereka. Elvan paham betul kalau dia sudah melakukan kesalahan, yakni ingin menikung lahan teman sendiri. Tapi daya tarik Ibi memang tidak main-main. Kepolosannya memiliki daya pikat yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Hanya jika berinteraksi dengan gadis itu langsung barulah paham daya pikat seperti apa itu. Ibi sendiri tidak menyadari apa yang dia miliki. Dia hanya berlaku apa adanya seperti biasa. Polos, tulus dan tidak neko-neko. Tapi bagi lelaki kelakuan itu justru menarik perhatian. Ditambah lagi dengan fisik Ibi yang tergolong manis dan cantik. Hanya karena tampilan sederhana kecantikannya itu seolah tidak begitu bersinar. Padahal sesungguhnya untuk ukuran gadis seusianya, Ibi memiliki nilai sembilan dalam hal fisik. Mengingat ayahnya yang berdarah Arab itu. Pokoknya aku gak akan nyerah. Biarlah Dewa mau datang kesini. Paling-paling cuma beberapa hari. Gak mungkin dia cuti terlalu lama meninggalkan pekerjaannya disana. Selanjutnya aku yang akan mengisi hari-hari gadis itu. Dia terlalu manis untuk dilepas, dan terlalu cute untuk dilewatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD