Sehari setelah pertemuan Ibi dan Elvan di wartel tadi malam, Elvan mencari cara lain menemui Ibi. Pikirnya, sebelum gadis itu bertemu dengan Dewa besok ada baiknya dia melempar rayuan maut lebih dulu.
Elvan sengaja lewat di depan sekolah Ibi bertepatan dengan bel pulang sekolah. Tentu anak-anak keluar berhamburan, dan salah satunya adalah Ibi yang jalan berdampingan dengan Zara. Elvan sengaja mampir di kios fotocopy yang ada di depan sekolah Ibi. Maksudnya adalah menunggu gadis itu keluar lalu berpura-pura tidak sengaja bertemu.
Dan rencana Elvan berhasil. Lelaki itu melihat Ibi dari kejauhan. Segera dia bersiaga di tempatnya agar ketika Ibi mendekat dia seolah baru saja keluar dari kios fotocopy sehabis membeli sesuatu. Tapi sialnya Ibi malah tidak melihat keberadaan Elvan di seberang jalan. Padahal lelaki itu sudah berdiri tegak disana beserta sepeda motornya.
Namun jangan panggil Elvan kalau dia hanya diam saja. Lelaki itu justru menekan-nekan klakson motornya beberapa kali sembari mengecek karburatornya. Dia berlagak sepeda motornya mogok. Tentu kelakuannya mengundang perhatian banyak orang, termasuk Ibi.
Ibi menoleh dan memperhatikan sosoknya dengan seksama. Eh, itu ‘kan Kak Elvan. Kok bisa ada disini?
Ibi yang polos langsung mengajak Zara menyebrang jalan, menghampiri Elvan. “Ra, kesitu yuk, aku kayaknya kenal sama cowok itu.”
“Siapa, Bi?” tanya Zara sembari mengikuti langkah Ibi.
“Teman kostnya Dewa.” Sekarang mereka sudah berada di belakang Elvan. Dan lelaki itu menyadari keberadaan mereka.
“Kak Elvan,” tegur Ibi. Reflek Elvan menoleh.
“Eh, Ibi. Kita ketemu lagi, kok bisa ya? Kamu ngapain disini?” tanya Elvan pura-pura bodoh.
“Harusnya Ibi yang nanya, Kak Elvan ngapain disini? Tuh di seberang sana ‘kan sekolah Ibi,” saut Ibi polos.
“Oh ya, wah, kebetulan donk kalo gitu. Aku gak tau, loh, kalo kamu sekolah disitu. Tadi aku gak sengaja mampir ke kios fotocopy itu, terus waktu mau balik, motorku gak mau nyala. Aku pikir baterainya soak, tapi waktu aku pencet klakson masih nyala kenceng kok. Kira-kira rusaknya dimana ya?” Elvan memasang raut wajah seolah berpikir.
“Mana Ibi tau, Kak. Hehehe ...” Ibi tertawa kecil seperti biasa.
“Oh ya, kenalin, ini sahabat Ibi, Kak.” Ibi lalu memperkenalkan Zara pada Elvan. Mereka berdua pun berjabat tangan. Tapi entah kenapa Zara seperti merasa ada sesuatu yang aneh dari Elvan, tapi dia tidak tahu apa. Makanya Zara memilih diam dan terus membaca situasi.
“Terus kalian berdua ini mau pulang, ya?” tanya Elvan lagi.
“Rencananya sih gitu, Kak,” jawab Ibi.
“Yah, aku gak ada temennya donk. Kira-kira dimana ya bengkel motor dekat sini?” Pertanyaan Elvan barusan dijawab oleh Zara.
“Itu Kak, di deket simpang sana ada bengkel motor kecil. Kayaknya bisa deh dibawa kesitu motornya.” Zara menunjuk ke ujung jalan.
“Oh ya, pas banget. Makasih ya Zara. Udah manis, pinter lagi.” Elvan menyahut sambil memberi Zara sedikit godaan.
Pantes perasaanku gak enak sama dia. Rupanya tukang pemberi rayuan palsu, batin Zara.
Zara tetap membalas senyuman Elvan walau sesungguhnya dia tidak suka dengan kata-kata lelaki itu.
Tak tahunya, tanpa disangka Ibi justru mengajak Zara menemani Elvan mengantar motornya ke bengkel yang ditunjuk Zara tadi. “Ra, kita temenin Kak Elvan jalan sampe ke bengkel, yuk. Kasihan dia sendirian,” ajak Ibi.
Tepat sasaran. Memang itu yang ditunggu oleh Elvan. Memang sangat mudah menebak langkah Ibi si gadis polos ini, membuat Elvan semakin bersemangat mendapatkannya.
“Aduh, baik banget sih, Ibi. Bukan lagi cantik, dan manis, tapi juga berhati mulia kayak Cinderella,” saut Elvan, membuat Ibi terkekeh karenanya.
Oh, jadi ini toh maksud dan tujuannya Kak Elvan ini. Ya, ya, ya, aku paham. Dia pasti naksir sama Ibi. Tapi apa mungkin? Kok dia bisa sesantai itu? Kalo dia memang temannya Dewa harusnya dia gak boleh donk nunjukin perasaan itu. Tapi ini kelihatan banget. Zara yang sudah terbiasa bergaul dan berkenalan dengan cowok, langsung bisa memahami maksud Elvan. Antena sinyal tingkat tingginya bisa connect dengan cepat.
Jauh berbeda dengan Ibi yang terlampau polos dan naif. Ibi mengira kalau semua teman Dewa sudah pasti baik dan tulus, persis seperti Dewa. Dan sayangnya tidak semua manusia sama. Ada yang baik, pura-pura baik, baik karena satu tujuan, dan sungguh-sungguh baik. Ibi tak memahami hal seperti itu.
Kira-kira Dewa tau gak, ya, kalau Ibi lagi dideketin temennya? Kalau sampai tau bisa bahaya. Mereka pasti ribut. Tapi kalau Dewa gak tau juga lebih bahaya lagi. Si Elvan ini gak bakal berhenti deketin Ibi. Tiba-tiba Zara jadi khawatir terhadap hubungan sahabatnya dengan Dewa.
Zara tidak ingin ada orang lain yang merusak hubungan yang sudah Dewa dan Ibi jalin sampai seperti sekarang. Ya, walau Zara paham betul Ibi tidak menganggap Dewa kekasih hatinya, tapi Dewa jelas berpikir demikian. Sebab mana ada lelaki sebaik Dewa terhadap Ibi tanpa ada perasaan apapun. Terlalu banyak yang Dewa korbankan untuk seorang Ibi, dan Zara paham akan itu. Hanya Ibi saja yang terlalu naif masih tidak mengerti juga.
Sambil jalan menemani Elvan mendorong motornya menuju bengkel, Zara menyikut pelan lengan Ibi. Reflek Ibi menoleh, meliriknya sembari mengangkat alis, pertanda bertanya ada apa.
Hm, aku tau nih. Jangan-jangan Zara naksir juga sama Kak Elvan. Hehehe ..., si Zara pantang ngeliat cowok bagus dikit langsung deh naksir. Ibi senyum-senyum sendiri menduga demikian. Tapi yang disenyumi malah melotot dan menggeleng.
Cowok seperti Elvan bukanlah tipe Zara sama sekali. Playboy penggoda yang berkedok sebagai orang baik. Jauh lebih mending Adi yang jelas mengaku sebagai playboy sungguhan di depan Zara. Dia bahkan menasehati Zara agar tidak terjebak dengan model cowok sepertinya. Tapi justru sikap yang begitu membuat Zara merasa jatuh cinta pada Adi. Jujur dan apa adanya. Diluar dari bonus wajah ganteng dan keuangan yang mapan.
Adi masih sepuluh kali lipat lebih bagus dari si Elvan ini, batin Zara. Walau tanpa bicara, dia bisa membaca apa yang ada di dalam batin sahabatnya itu, mengira kalau dia naksir pada Elvan.
“Buruan pulang, yuk, Bi. Ada yang penting nih mau aku omongin sama kamu,” bisik Zara pada akhirnya. Untungnya hanya tinggal sepuluh langkah lagi mereka sudah sampai di bengkel tempat Elvan ingin menaruh motornya.
Segera setelah sampai, Ibi pun berpamitan pada Elvan. “Kak Elvan, Ibi sama Zara langsung balik ya. Takut ntar dicariin mama kalau pulang kelamaan,” ucap Ibi beralasan.
Elvan pun mengangguk dan mengacungkan jempol pertanda setuju. Walau sesungguhnya dia berharap Ibi masih mau duduk ngobrol menemani sampai motornya selesai dibenahi. Paling tidak dia bisa meminta si tukang bengkel berpura-pura mengotak-atik motornya yang tidak rusak selama satu jam dengan tujuan bisa membius Ibi dengan rayuan-rayuannya. Tapi rencananya malah gagal.
“Oke deh, Bi. Makasih banyak ya udah mau nganterin. Makasih juga buat Zara. Kalian hati-hati di jalan. Awas digodain supir angkot, hehehe ...,” candanya di akhir pembicaraan mereka.
Sekarang Ibi dan Zara sudah berada di atas angkot. Zara langsung mengintrogasi Ibi hal yang menjadi bahan pikirannya sejak tadi.
“Bi, kamu kenal dimana sih sama si Elvan itu? Aku gak suka deh sama dia,” ucap Zara.
“Ya, ampun, Ra. Kan udah aku bilang tadi. Kak Elvan itu temen satu kostnya Dewa. Ya, jelas aku dikenalin sama Dewa lah waktu aku main ke kostnya.” Ibi menjawab jujur.
“Emangnya kenapa sih sama Kak Elvan? Dia ‘kan lucu, Ra,” ucap Ibi lagi.
“Norak, tau. Gak lucu sama sekali,” saut Zara.
“Saran aku, mending kamu gak usah deket sama dia lagi deh. Kalau seumpama ketemu, cuekin aja. Dia itu gak baik, Bi.” Zara menyarankan.
“Masa sih? Kok kamu bisa tau, Ra? Padahal aku udah tiga kali loh ketemu sama dia. Dan sejauh ini dia baik-baik aja, gak berbuat buruk sama sekali ke aku. Lagian dia ‘kan temennya Dewa, gak mungkin aku cuekin lah, Ra. Ntar aku disangka sombong lagi.” Ibi menrangkan apa yang dia alami beberapa hari ini soal Elvan.
“Aku serius loh, Bi. Dia itu bisa jadi masalah antara kamu dengan Dewa. Percaya deh sama aku. Jadi lebih baik stop ngobrol sama dia kalau kamu gak pengen ribut sama Dewa.” Ucapan Zara kali ini membuat Ibi terdiam. Dia tidak mau bermasalah apa-apa dengan Dewa tapi dia juga tidak bisa sepenuhnya percaya dengan sahabatnya itu karena tidak terbukti di pandangan matanya.
Lantas apa yang akan Ibi lakukan selanjutnya mengingat besok adalah hari kedatangan Dewa ke kotanya?