Pesawat yang membawa Dewa serta di dalamnya baru saja mendarat di kota M. Saat itu tepat pukul satu siang. Hanya selisih setengah jam lagi dari jadwal pulang sekolah Ibi.
Dewa hanya menggendong ransel di pundaknya. Dari bandara dia langsung menaiki taksi menuju ke sekolah gadis pujaannya. Aku udah gak sabar mau ketemu kamu, Bi. Udah kangen banget.
Sesungguhnya malam sebelum berangkat Dewa sudah mengabari Ibi kalau dia akan menjemput ke sekolah lalu mengajak Ibi jalan-jalan. Sekarang tinggal mengirim pesan singkat yang menyatakan bahwa Dewa sudah on the way menjemputnya.
Bersamaan dengan itu, di dalam kelas senyum manis tersungging di bibir Ibtisam Kamila Bafagih. Dia baru saja mendapat pesan singkat dari lelaki terbaik yang ada dalam hidupnya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Sadewa Handaru. Hati Ibi seolah membuncah ingin bertemu, sebab sudah dua bulan mereka berjauhan. Dewa berubah gak ya? Jangan-jangan dia makin gendut, atau makin kurus saking banyaknya kerjaan kantor. Hihihi ....
Ibi segera merapikan buku-bukunya, memasukkan ke dalam tas lalu tinggal menunggu detik-detik bel berbunyi. Zara yang duduk di belakang Ibi menoel bahu gadis itu.
“Pssst, Bi,” panggil Zara dan Ibi menoleh.
“Dewa udah nyampe ya?” tanyanya lagi dan Ibi mengangguk senyum.
“Pantesan kamu senyum-senyum terus. Rupanya mau ketemu pujaan hati,” celetuk Zara menggoda.
“Ih, Zara, apaan, sih?!” saut Ibi sewot. Dia pasti kesal setiap kali Zara menggodanya seperti itu. Apalagi di depan Dewa, rasanya dia sangat malu sekali. Takut Dewa salah paham yang nantinya membuat lelaki itu menjauh. Begitu yang ada di pikiran Ibi. Padahal kenyataannya Dewa sangat ingin Ibi menganggapnya lebih, layaknya pasangan kekasih yang saling berbagi rasa.
Setelah bel pulang berbunyi, Ibi beranjak keluar kelas. Dia sudah meninggalkan pesan pada Zara agar jangan langsung pulang ke rumah, sebab Ibi beralasan pada mamanya akan pergi bersama Zara untuk menyelesaikan tugas kelompok. Dan dengan sangat pengertian Zara pun setuju.
Sesungguhnya Ibi sudah mengajak Zara untuk ikut pergi bersamanya dan Dewa, tapi sahabatnya itu menolak. Zara tidak ingin menjadi nyamuk diantara mereka berdua. Dengan kata lain, dia tidak ingin menganggu waktu dua insan itu. Sebab Zara paham betul bagaimana ketika dua orang yang saling merindu ingin bertemu tanpa ada gangguan orang lain.
Ibi melangkah keluar pintu gerbang sekolah. Dilihatnya kanan dan kiri, mencari nomor plat taksi yang dinaiki Dewa. Rupanya taksi yang dicari itu baru saja berhenti dengan jarak tiga puluh meter dari tempat Ibi berdiri. Senyum pun mengembang di bibir Ibi. Kakinya melangkah cepat menuju taksi tersebut.
Dari dalam taksi Dewa dapat melihat Ibi melangkah mendekat. Lelaki itu juga tidak bisa menahan senyumnya. Kalau boleh, rasanya dia ingin sekali turun dan berlari menghampiri Ibi, memangkas waktu untuk lebih cepat bersua. Tapi keinginan itu harus dia tahan. Tidak boleh terbawa napsu yang nantinya akan berakibat fatal. Sebab yang sedang bersamanya itu adalah gadis belia kelas satu SMA, bukan gadis dewasa seumurannya.
Apalagi Ibi bukan gadis biasa. Dia memiliki aturan yang ketat dalam hidupnya selama ini. Tidak bisa sembarangan berinteraksi dengan lawan jenis di depan umum. Takut diketahui oleh orangtuanya. Berbeda hal saat kemarin mereka berada di Bali. Sepanjang hari Dewa bebas menggenggam tangan Ibi dimanapun, tidak khawatir ada yang mengadu. Sebab mereka berada jauh dari keluarga Ibi.
Sekarang Ibi sudah masuk ke dalam taksi. Dia langsung dapat melihat Dewa duduk dengan senyum menatapnya. Ya, Dewa sengaja duduk di kursi belakang agar bisa berdampingan dengan Ibi.
“Dewa,” ucap Ibi pertama kali.
Seperti hal yang sering dilakukan Dewa, dia mengusap puncak kepala Ibi. “Aku kangen banget sama kamu, Bi.”
“Sama, Ibi juga kangen sama Dewa,” saut Ibi.
“Serius?” tanya Dewa meyakinkan. Dan tanpa ragu Ibi mengangguk.
Saat itu juga, seketika muncul keberanian di dalam hati Dewa untuk memeluk Ibi. Dia tidak ragu lagi melepas hasratnya untuk mendekap gadis pujaannya itu. Mereka saling berpelukan di kursi belakang taksi, membuat si supir tersipu malu melihat dari kaca depan. Tapi yang namanya rindu, sudah tidak tahu lagi apa itu malu.
Tidak sampai satu menit, pelukan mereka lepas. Keduanya saling menjaga diri dengan dugaannya masing-masing. Dewa lantas meminta supir taksi meneruskan perjalanan.
Rupanya Dewa mengajak Ibi duduk di taman kota. Tempat mereka pernah piknik tempo hari. Sebelumnya mereka sudah mampir di take away restoran siap saji. Membeli beberapa macam makanan dan minuman untuk menemani mereka ngobrol di taman.
“Kalau udah ketemu kamu gini, rasanya aku gak pengen balik lagi ke Padang, Bi. Hehehe ...” Dewa menertawai dirinya sendiri.
“Pasti disana kerjaan Dewa banyak banget, ya? Bikin Dewa mumet dan capek.” Begitu tanggapan Ibi.
“Yang namanya kerja udah pasti bikin mumet dan capek, Bi. Tapi yang bikin aku sumpek itu karena gak bisa ketemu kamu kayak biasanya. Gak bisa ngobrol dan makan bareng kamu kayak dulu,” keluh Dewa.
“Yah, mau gimana lagi. Yang penting ‘kan karir Dewa meningkat terus penghasilan Dewa juga jadi makin banyak. Ibu Dewa pasti bangga.” Ibi tersenyum mengingat itu. Dalam pikirannya, apalagi tujuan Dewa selain membahagiakan orang tuanya sendiri. Mengangkat taraf hidup keluarganya.
“Iya kamu bener, Bi. Semua ini buat mereka dan masa depan kita,” ucap Dewa tanpa ragu. Maksudnya adalah untuk persiapan masa depannya dengan Ibi. Tapi si polos Ibi salah menangkap, kata kita yang disebut Dewa barusan, diartikannya sebagai ibu Dewa dan dua orang adik Dewa yang ada di kampung.
Ibi sampai merasa bangga bisa mengenal lelaki seperti Dewa. Selain baik, perhatian dan begitu menyayanginya namun Dewa juga sangat peduli dengan keluarga. Berjuang meniti karir di luar kota hanya untuk keluarga.
“Oh ya, terus kamu gimana selama gak ada aku disini? Gak ada cerita baru yang aku lewatin ‘kan?” Tiba-tiba Dewa iseng bertanya demikian. Hanya ingin memastikan tidak ada cowok asing yang berkenalan ataupun dekat dengan Ibi.
“Maksud Dewa cowok asing, ya?” tebak Ibi dan Dewa mengiyakan.
“Gak ada kok, ‘kan Ibi udah janji. Cuma beberapa hari yang lalu Ibi ada ketemu sama temen Dewa yang namanya Elvan. Temen kostan Dewa dulu.” Akhirnya Ibi bercerita soal Elvan.
“Oh ya, dimana?” Awalnya tidak ada kecurigaan sama sekali di benak Dewa. Sebab menurutnya wajar saja orang bertemu atau berpapasan di luar.
“Pertama kali ketemu di warung jus tempat kita biasa minum,” jawab Ibi.
Tapi mendengar kata pertama membuat Dewa mulai merasa aneh. Pertama kali? Apa itu artinya ada yang kedua dan selanjutnya?
“Terus?” tanya Dewa yang masih berlagak santai.
“Ya, terus dia negur Ibi. Ibi sih udah ampir lupa sama dia. Tapi karena dia terus ngingetin, ya udah pelan-pelan Ibi jadi inget,” jelas Ibi.
Dewa semakin aneh dengan cerita tersebut. Ngapain Elvan sampai begitu? Apa maksudnya?
“Tapi cuma sebatas itu doang ‘kan?” Dewa mencoba positif thinking.
“Enggak, dia malah nemenin Ibi jalan sampe rumah.” Sekarang kening Dewa sudah berkerut. Pikirannya sudah terganggu.
“Kok kamu mau, Bi?” tanya Dewa lagi.
“Ibi udah nolak, tapi dia tetep mau nemenin. Ya udah deh, Ibi iyain. Lagiankan dia temen Dewa, bukan orang asing. Jadi Ibi pikir dia pasti orang baik sama kayak Dewa,” jelas Ibi dengan senyum. Namun yang mendengar penjelasan itu justru tersulut emosi.
“Kamu samain aku dengan dia, Bi?!” Kali ini nada suara Dewa berubah. Terdengar penekanan dari kalimatnya.
“Eh, enggak. Bukan gitu Dewa. Ibi pikir dia 'kan temen Dewa, jadi Ibi gak enak kalo terus nyuekin. Takutnya ntar dikira sombong,” jawab Ibi jujur.
Huuuft... Dewa menghembuskan napas panjang, berusaha meredam emosinya. Apa yang dia takutkan terjadi. Susah payah dia menjaga Ibi untuk tidak membuka diri dengan cowok asing tapi malah kecolongan hal di luar dugaan seperti ini. Tidak dibayangkan oleh Dewa akan ada temannya yang bersikap seperti itu pada Ibi.
“Jadi udah berapa kali kamu ketemu dia, Bi?” tanya Dewa lagi.
“Tiga kali.” Mendengar jawaban itu, tidak ada lagi kata tolerir di hati Dewa. Dia marah, benar-benar marah.
Dewa lantas bangkit dan mengajak Ibi pulang. Aku harus selesaikan masalah ini dengan Elvan. Kurang ajar dia! Ini udah bukan main-main. Dia pasti punya niat lain sama Ibi.