Dewa Dan Elvan Bertengkar

1254 Words
Sehabis mengantar Ibi pulang ke rumahnya, Dewa meminta supir taksi melajukan mobil menuju tempatnya kost dulu, bermaksud menemui Elvan disana. Tapi yang dicari tidak terlihat. Kamar kost Elvan terkunci, menandakan dia belum pulang ke kost. Dewa lalu memutuskan untuk menunggu di teras kostan. Berselang lima belas menit, seseorang muncul disana. Turun dari motor lalu membuka pintu pagar kost. “Baru pulang kamu, Di?” Rupanya yang datang itu adalah Adi, teman kost yang paling dekat dengan Dewa. “Eh, elu Wa. Kapan nyampe? Tiba-tiba udah nongol aja di mari.” Adi tersenyum melihat sahabatnya duduk di teras. “Yuk, ah, ke kamar gua. Kita nongkrong disono,” ajak Adi lagi. Mereka lantas masuk ke dalam menuju kamar Adi. Kebetulan kamarnya bersebelahan dengan kamar kost Dewa yang lama. “Dalam rangka ape, nih, lu nongol dimari?” Adi memberikan satu botol air mineral pada Dewa. Mereka duduk di depan pintu kamar. “Aku lagi nyari Elvan, Di,” jawab Dewa. “Elvan? Mang lu ade urusan ape ama tu anak? Tumben?” tanya Adi lagi. “Urusan penting yang gak bisa ditunda. Aku harus ketemu dia hari ini juga, Di. Dia udah kelewatan!” Wajah Dewa berubah kesal mengingat apa yang sudah dilakukan Elvan pada pujaan hatinya. “Wah, masalah ni kayaknye. Soal ape?” Adi jadi penasaran. Dewa lantas menceritakan semuanya pada Adi tentang apa saja yang telah Elvan lakukan pada Ibi. Persis apa yang Dewa pikirkan, begitu pula dugaan Adi terhadap Elvan. Tidak ada kebetulan yang bertubi-tubi, pasti ada perencanaan dibalik itu. Tidak mungkin pertemuan Elvan dengan Ibi yang sampai tiga kali terjadi hanya karena sebuah kebetulan. Pasti Elvan yang merencanakan itu. “Gua gak nyangka si Elvan mau main belakang begitu. Die ‘kan tau si Ibi gebetan lu. Ah, kebangetan, dah. Kurang jaoh mainnya tu bocah!” umpat Adi. Sebagai teman dia juga merasa tersinggung dengan apa yang Elvan lakukan. Begitu banyak perempuan di kota itu kenapa harus Ibi yang jadi sasarannya. “Terus rencana lu apaan, Wa?” sambung Adi lagi. “Pokoknya aku harus ketemu dia dulu, Di. Aku pengen tahu apa alasan yang keluar dari mulutnya,” jawab Dewa. Satu jam sudah Adi dan Dewa berbincang di depan kamar tapi kedatangan Elvan tak kunjung terlihat. Jam sudah menunjuk ke angka tujuh malam, bahkan waktu salat Maghrib pun sudah usai. “Lu masih mau nunggu, Wa? Gua keluar dulu kagak ape ‘kan? Mau beli makanan, laper banget. Lu mau nitip kagak?” Adi mengusap-usap perutnya kelaparan. “Ya udah, kamu pergi aja, Di. Biar aku nungguin Elvan disini. Lagian aku masih kenyang.” Dewa tidak peduli dengan perutnya sebelum urusan hatinya selesai. Dia harus mendapat jawaban dari Elvan hari ini juga. Tidak bisa ditunda. Syukurnya lima menit setelah kepergian Adi, suara motor kembali terdengar. Kali ini yang datang adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh Dewa. Dengan langkah santai Elvan masuk ke dalam kost setelah memarkirkan motornya. Dia tidak menduga akan bertemu Dewa di depan pintu kamar Adi. “Van,” tegur Dewa. Begitu terkejutnya Elvan melihat wajah Dewa disana. Tapi sebisa mungkin dia menutupi keterkejutan itu. “Eh, elo, Wa. Kapan datang? Dalam rangka apa, nih?” tanya Elvan pura-pura polos. Padahal dia sudah tahu dari Ibi kalau Dewa akan datang hari itu. Hanya saja dia tidak menyangka Dewa akan muncul disana. “Maksud kamu apa, Van?” Dewa malas berbasa-basi. Dia langsung bertanya pada intinya. Tapi yang diajak bicara tetap klise. Terus saja bersikap pura-pura polos. “Maksud apaan nih, Wa? Gue gak ngerti.” “Kamu ada niat apa sama Ibi?” Dewa masih berusaha stabil. Tidak ingin terburu-buru dibawa emosi. “Oh, itu. Hehehe ... Dia ada cerita apa aja emangnya?” Elvan tertawa kecil menutupi bingungnya. Namun bukannya menjawab dia justru semakin berbelit-belit. Berlagak santai dan tidak melakukan kesalahan apapun. “Semuanya. Ibi udah cerita semuanya,” saut Dewa. Waduh, mampus aku! Tuh cewek polosnya kebangetan, masa dia cerita semuanya. Ah, tapi kepolosannya juga itu bisa jadi alasan buatku. Elvan terdiam sesaat hingga akhirnya dia dapat ide. “Iya, bener, Wa. Gue aja sampe heran, kok bisa ya ketemu tuh anak berkali-kali tanpa disengaja. Padahal gue gak tau loh kemana aja langkahnya. Kebetulan banget.” Jawaban Elvan sungguh tidak memuaskan Dewa. Dia justru makin muak. “Udah 'lah, jangan berbelit-belit, Van. Sekali lagi aku tanya, maksud kamu apa sama Ibi? Kamu tau ‘kan aku siapanya Ibi?” ucap Dewa geram. “Hahaha ...” Tiba-tiba Elvan tertawa seperti menghina pada Dewa. “Sahabatnya? Temen terdekatnya? Kakaknya? Atau apa lagi? Lo gak lebih dari itu dipikiran Ibi, Wa. Lo aja yang ketinggian mikir,” sambung Elvan. Namun ucapannya barusan berhasil menghadiahinya sebuah bogem mentah dari Dewa yang mendarat di pelipis kirinya. Bug! “Hahaha ....” Bukannya melawan, Elvan justru semakin menertawai Dewa. Status tidak jelas antara Dewa dengan Ibi membuatnya memiliki celah untuk menghina temannya itu. “Tutup mulut kamu, Van! Jangan asal bicara! Dari awal aku udah bilang Ibi itu punyaku, jangan sembarang kamu! Terserah mau menghina status kami, tapi yang pasti gak ada seorangpun yang bisa ambil Ibi dariku! Pahami itu!” Kembali Dewa melancarkan bogemnya hingga berkali-kali di wajah Elvan. Tidak ada perlawanan dari lelaki itu. Dia tau betul kesalahannya. Ditambah lagi sakit di pelipis kirinya sudah membuat kepalanya pusing lebih dulu. Darah sudah menetes di bibir Elvan. Pukulan Dewa tidak hanya mengenai pelipis namun juga bibirnya yang pecah. Bahkan pipinya pun sampai bengkak. Wajah Elvan sudah tidak beraturan sekarang. Tapi jangan sebut namanya Elvan jika dia tidak menyahut, memprovokasi Dewa dengan kalimatnya. “Udah puas lo mukulin gue, Wa? Jangan lo pikir gue gak ngelawan karena takut sama lo, ya. Gue Cuma kasihan aja sama Ibi. Kasihan kalau kalo gue yang bikin lo babak belur, air matanya terbuang percuma buat nangisin lo. Hehehe ...” Sungguh menyebalkan sekali sifat Elvan ini. Sudah teman makan teman tapi masih juga berlaku seperti itu. Hampir saja Dewa melayangkan pukulannya lagi pada Elvan, tapi cepat-cepat ditahan oleh Adi yang kebetulan baru saja sampai. “Tahan, Wa! Istighfar, lu!” seru Adi sembari memegangi tangan Dewa. Menghalanginya menyerang Elvan. “Anak orang bisa ko’it lantaran emosi lu gak ke kontrol,” sambung Adi lagi. Pada akhirnya Dewa menurut. Apa yang dikatakan Adi memang benar. Saat emosi, siapapun orangnya pasti susah mengontrol diri. Jika salah pelampiasan bisa berakibat fatal. Bukannya menyelesaikan masalah, justru bisa menambah masalah jika terjadi hal buruk pada Elvan. Yang terpenting sekarang Dewa sudah memperingatkan Elvan akan kesalahannya. Dan membuat lelaki itu kapok agar tidak mendekati Ibi lagi lain waktu. “Ini peringatan pertama dan terakhir aku, Van. Kalau kamu masih ngotot main-main sama Ibi, aku akan lakuin hal yang gak terbayangkan sama kamu di kantor. Jadi pikir baik-baik kalau kamu masih ingin kerja dengan tenang!” ancam Dewa kemudian. Dewa akan bertindak serius untuk ke depannya pada Elvan. Dia tidak akan segan-segan melakukan segala cara agar posisi Elvan tergeser atau bahkan tersingkir dari tempatnya bekerja. Kebetulan yang sangat pas sekali mereka masih dalam satu perusahaan. Jadi jabatan yang dimiliki Dewa sekarang bisa menjadi jalan untuk dia menekan posisi Elvan. Anjrit! Kalau dia udah ngancam kerjaan, mau gak mau aku harus ngalah! Umpat elvan dalam hati. Tidak ada jalan lain baginya terkecuali menurut. Sebab posisinya sekarang di kantor sudah nyaman. Dia tidak ingin tergeser atau bahkan menjadi pengangguran. Ada beban yang harus dia tanggung di kampungnya. Selesai sudah acara main-mainnya bersama Ibi. Walau belum begitu jauh kedekatan Elvan dengan gadis itu. Namun sosok Ibi memiliki arti khusus di benak Elvan. Polos, cantik, baik, ramah, dan jujur. Sulit menemukan gadis yang seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD