Awal Perkenalan Dengan Ibi

1700 Words
“Kamu yakin mau tau fisiknya, Nin?” tanya Dewa balik sebelum menjawab pertanyaan Hanin. Dan Hanin mengangguk. “Ibtisam sedikit lebih tinggi dari kamu. Badannya kurus seperti papan saat itu. Mungkin karena dia masih SMA, baru masa pertumbuhan. Rambutnya lurus panjang melewati bahu dan berponi. Hidungnya tinggi, matanya sipit ketika tersenyum dan ada lesung di sebelah pipinya.” Oh, begitu tampilan Ibtisam. Layaknya anak SMA biasa. Kalau lesung pipi, aku juga punya di kanan dan kiri, batin Hanin menilai. “Secara keseluruhan dia cantik karena berdarah campuran Arab.” Dewa memperjelas fisik Ibi dan itu tentu mematahkan hati Hanin. Allah ...., ternyata dia cantik di mata Mas Dewa. Dewa melanjutkan ceritanya. Setelah dengan banyak usaha akhirnya Dewa bisa berkenalan dengan Ibi secara langsung di wartel milik Ibi. Sejak itu setiap malam dia datang menemui Ibi. Berbincang becanda hingga membantu Ibi mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Banyak hal tentang Ibi yang sudah Dewa ketahui. Baik makanan favorit, hobi, cita-cita bahkan film favoritnya. Dewa juga menceritakan pertama kali dia mengajak Ibi pergi jalan keluar. Terpaksa dia menjemput Ibi di sekolah dengan taksi tanpa turun. Hanya menunggu sampai Ibi masuk ke taksi bersama temannya. “Jadi Mas gak pergi berdua aja dengannya ‘kan?” Hanin memastikan. “Mas gak pernah pergi berdua dengannya terkecuali di sekitar rumahnya. Di warung jus, warung pisang goreng, ataupun warung makan. Selebihnya Mas selalu pergi bertiga bareng teman dekatnya,” jawab Dewa. Syukurlah ... “Tapi semakin bertambah waktu, kedekatan Mas dengan Ibi membuat Mas menyukai dia.” Pengakuan Dewa seperti sebuah palu yang menghantam kepala Hanin. Berarti disitulah awal mula hancurnya hubungan yang dia bina dengan Dewa selama tiga tahun sebelumnya. “Dan sayangnya itu hanya perasaan sepihak. Tapi entah kenapa rasanya Mas rela. Mas gak peduli dia mau membalas atau tidak. Yang Mas tau adalah Mas harus jaga dia, lindungi dia, dan tetap memberi perhatian penuh padanya.” “Dia terlalu polos, Nin. Gak tau apapun yang berhubungan dengan dunia pacaran maupun laki-laki.” “Mas yakin kalau itu rasa suka antara lawan jenis? Bukan sekedar kasihan atau simpati karena sikap polosnya. Seperti hubungan antara kakak dan adik, gitu?” tanya Hanin memastikan. “Awalnya Mas berpikir sama seperti kamu, Nin. Mas hanya terbawa perasaan kasihan dari kakak ke adiknya hingga membuat Mas wajib menjaga dan memperhatikan dia. Tapi waktu dia jadian dengan kakak kelasnya, Mas marah. Mas bahkan gak nemuin dia lagi. Gak mau peduli lagi dengan hidupnya.” “Lalu kedekatan kalian berakhir?” tanya Hanin. “Sayangnya enggak, Nin. Dia datang dan bawain sarapan untuk Mas. Waktu itu kebetulan Mas lagi demam kebanyakan lembur di kantor,” jawab Dewa. “Jadi dia datang ke kostannya Mas?” Hanin terkejut mendengar itu. Setahunya kost Dewa diperuntukkan khusus laki-laki. “Iya, bahkan dia kenalan sama semua anak-anak kost. Adi tuh, kenal banget sama dia.” Ya ampun, berarti dia udah masuk ke kamar kostnya Mas Dewa? “Kalian ngapain aja di kostan?” Hanin jadi was-was. Pikirannya sudah kemana-mana membuat Dewa tertawa. “Hahaha ..., gak seperti bayangan kamu, Nin. Kita Cuma makan bubur bareng. Itupun dengan pintu kamar yang terbuka lebar. Siapa saja bisa melihat ke dalam.” Syukurlah ... Aku kirain ngapa-ngapain. “Jadi intinya, kamu renggang sama aku, dan putus komunikasi karena kehadiran dia, Mas?” Hanin kembali fokus pada kenyataan hubungannya dulu dengan Dewa. “Iya, kalau itu Mas akui memang iya. Dan dia gak bersalah sama sekali. Dia bahkan gak tau kalau Mas punya pacar. Mas gak pernah cerita tentang kamu ke dia.” Dewa mengakui. “Jahatnya kamu, Mas ...,” tegur Hanin. “Memang. Di sini Mas yang salah sepenuhnya, Nin. Makanya pada akhirnya Mas putus kontak dengan kamu. Maksud Mas adalah Mas gak mau menyakiti kamu lebih dalam, sebab perasaan Mas sepenuhnya sudah berpindah pada dia.” Nyes! Sakit sekali rasanya mendengar pengakuan itu dari Mas Dewa. Lalu kenapa dia justru memutuskan menikah denganku dan bukan gadis itu? Hanin jadi bingung dengan pilihan Dewa. Wajah sedih Hanin tidak lagi bisa dia tutupi. Dia tampak layu menatap Dewa. “Kita sudahi saja ceritanya ya, Nin. Nanti makin lama kamu makin sedih. Mas gak tega. Karena sekarang yang jadi istri Mas adalah kamu. Kamu ibu dari anak-anak Mas yang sudah tentu Mas sayangi.” Dewa mengelus pipi Hanin. Tidak sanggup juga dia membiarkan Hanin sakit mendengar semua kisahnya. Walau bagaimanapun Dewa harus menjaga perasaan Hanin agar dia tetap semangat merawat anak-anak tanpa menyimpan pedih di hati. Tapi Hanin bukanlah wanita yang senang bersedih lama. Wajar dia murung saat baru pertama mengetahui kisah Dewa, tapi bukan berarti perasaannya pada Dewa berubah. Sampai napas berakhir cintanya hanya untuk Dewa. “Gak apa-apa, Mas, dilanjut aja. Hanin mau dengar semuanya,” jawab Hanin. “Baiklah kalau kamu yakin dengan itu.” Dewa kembali melanjutkan ceritanya. Dia menceritakan kedekatannya dengan Ibi walau gadis itu sudah punya pacar. Selalu mengawasi, bahkan mengikuti saat Ibi dan pacarnya sedang jalan bersama. Mendengar kelakuan Dewa itu, Hanin sampai ternganga. “Kamu serius, Mas? Masa orang pacaran diikuti. Atas dasar apa?” tanya Hanin heran. “Serius. Mas ikuti mereka, memantau gerak-geriknya. Ya, dasarnya apa lagi kalau bukan cemburu,” jawab Dewa. Ya Allah, sampai segitunya kamu, Mas. Bahkan dulu kamu gak pernah cemburuin aku. “Akhirnya lambat laun mereka putus juga. Mas senangnya bukan main. Kebetulan mantan pacarnya Ibtisam itu juga kurang ajar mulutnya. Dia kayak gak puas banget putus sampai harus nekan dan ngata-ngatai Ibtisam. Kasihan dia. Tiap cerita sama Mas tentang mantannya pasti nangis. Untung ada Mas yang selalu nenangin hatinya.” “Sejak itu Ibitisam gak mau pacaran dan gak Mas ijinin juga. Biarlah dia fokus sama sekolahnya. Gak usah pacaran dulu dan gak usah dekat dengan lawan jenis yang nanti bakal nyakitin hatinya lagi.” “Tunggu dulu, Mas. Sebelum makin panjang kisah tentang dia, Hanin mau tanya. Hubungan kalian itu apa, ya? Maksudnya, hubungan antara Mas dengan Ibtisam.” Apa yang dimaksudkan Hanin memang benar. Sudah bercerita sebaik itu dan sedekat itu dengan Hanin, namun apa hubungan yang terjadi diantara mereka? Dewa menggeleng. Wajahnya yang tadi bahagia setiap kali bercerita tentang gadis belia yang dikenalnya justru berubah murung. “Kok Mas sedih? Marah ya, Hanin tanya begitu?” Hanin jadi tidak enak sendiri. “Bukan, Nin. Mas bukan marah. Pertanyaan kamu memang sudah tepat. Mendengar cerita kedekatan kami siapapun pasti menanyakan hal yang sama,” ucap Dewa. “Lalu jawabannya apa?” Hanin makin penasaran. “Jawabannya gak ada, Nin. Hubungan Mas dengan Ibtisam hanya sebatas itu. Tidak pacaran, tidak juga yang lain. Hanya sebatas itu. Dekat yang tidak ada sebutannya.” Dewa mengaku. “Sampai berapa lama Mas bertahan dengan tanpa status begitu?” tanya Hanin lagi. “Sampai dia lulus sekolah dan akhirnya Mas menjauh darinya,” jawab Dewa jujur. “Apa? Hanin gak ngerti, Mas. Maksudnya gimana sih? Jadi apa makna dari kedekatan kalian?” tanya Hanin lagi. “Gak ada sama sekali, Nin. Mas menyimpan dan memberi rasa yang luar biasa untuknya. Memperlakukannya spesial. Menuruti semua keinginannya dan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Tapi dia ...” Kalimat Dewa terhenti sampai disitu. “Dia kenapa, Mas?” “Dia gak menganggap yang sama. Dia larut dalam kenyamanan untuk tidak memiliki hubungan spesial dengan cowok lagi. Tapi dia merespon siapapun yang mencoba mendekatinya tanpa ada pikiran buruk. Sikapnya yang seperti itu yang selalu bikin Mas ribut sama dia. Mas gak terima dia bersikap baik dengan laki-laki lain. Mas cemburu. Sebab Mas tidak mendapat hak spesial, ataupun pengakuan spesial atas dirinya Mas sendiri terhadapnya. Intinya dia pun tidak mengakui Mas siapa-siapa baginya. Hanya sebatas dekat yang tidak ada maknanya,” jelas Dewa panjang lebar. Ya Allah, kasihan Mas Dewa. Dia melepasku untuk mengharapkan yang di depan mata, namun tidak sedikitpun dia dianggap oleh gadis itu. “Apa itu artinya dia gak punya perasaan apa-apa terhadap Mas?” Hanin jadi ingin tahu isi hati Ibtisam. “Punya. Tapi gak seperti yang Mas punya untuk dia. Tiga tahun Mas menjaganya, membimbingnya, dan menahan cemburu untuk semua laki-laki yang mendekatinya. Dan ujung-ujungnya, hasilnya tetap sama. Dia gak paham maksud Mas. Dia pikir Mas menyayanginya hanya sebatas kakak adik biasa. Sepolos itu pikirannya. Dan itu nyata. Ibtisam memang sangat amat polos.” “Mungkin kalau dia bertemu dengan laki-laki lain yang bukan Mas, sudah entah bagaimana hidupnya. Hancur tidak karuan. Patah hati dan tertipu ke arah yang merugikan baginya. Sebab Ibi itu kalau sudah dekat dan berhasil mencuri perhatiannya, dia akan melakukan apapun dengan santai pada lelaki itu.” “Contohnya?” tanya Hanin heran. “Masuk ke kamar kost, Mas. Tidur di atas ranjang, Mas tanpa takut akan terjadi hal di luar ekspektasinya. Menurut dia kalau sudah dekat sudah pasti orang baik.” “Apa iya ada perempuan yang sepolos itu?” Hanin takjub. “Itulah kenyataannya, Nin. Mas pernah menyusul dia studi tour ke Bali, dan dia tidur di atas ranjang Mas semalaman,” ungkap Dewa dengan versi cerita yang dikemasnya lebih dulu. Tidak mau menyakiti Hanin terlalu dalam jika mengakui kalau dia dan Ibi spesial berangkat ke Bali untuk berlibur. “Mas nyusulin dia ke Bali?” Hanin melotot. “Kebetulan Mas ada seminar kerja di Bali waktu itu. Dan saat jadwal kosong, Mas susul dia ke tempatnya menginap. Begitu maksud, Mas,” ucap Dewa berbohong. “Lantas kalian tidur satu ranjang?” Mata Hanin belum berhenti melotot membuat Dewa tersenyum. “Kamu tau Mas ‘kan, Nin. Apa mungkin itu terjadi? Memang kesempatan terbuka sangat lebar, tapi Mas tidak melakukan yang kamu tuduhkan. Mas tidak sampai ke situ pikirannya.” “Mas yakin?” Hanin masih belum percaya. “Sangat amat yakin. Satu-satunya perempuan yang Mas sentuh sampai bagian yang terdalam hanya kamu, Nin. Kamu yang pertama dan kamu juga yang menjadi istri Mas sekarang.” Untuk yang ini Dewa berkata jujur dan Hanin pun jadi tenang. “Aku percaya sama kamu, Mas.” Hanin tersenyum. “Tapi sekarang yang jadi masalah, entah kenapa sampai detik ini Mas gak bisa lupain Ibtisam. Kepolosannya terpahat terlalu dalam di hati Mas. Sampai gak sedikit pun kenangan tentang dia yang Mas lupakan.” Dewa kembali jujur. “Maksudnya sampai detik ini Mas masih mencintai dia?” Hanin langsung ke intinya. “Ya, kamu bener, Nin.” Lalu aku dianggap apa? Mas Dewa tidak mencintaiku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD