Air mata Hanin luruh bersamaan dari kedua matanya.
Ya Allah, ada apa sebenarnya ini? Kenapa dengan Mas Dewa? Pasti ada yang gak beres, ada hal yang membuat hatinya kacau sampai dia tampak hancur seperti ini. Tapi apa ...?
“Mas, kalau hal yang membebani hati dan pikiran Mas itu bikin Mas gak bahagia, Hanin rela tersakiti, Mas. Hanin ikhlas, daripada harus melihat Mas terus termenung seperti ini. Mas jadi gak punya gairah. Gak ada senyum Mas lagi di rumah ini.” Selama Dewa memeluknya Hanin sudah berpikir dan menetapkan hati. Dia memilih untuk ikhlas tersakiti asal senyum Dewa tidak hilang untuknya.
Kurang apa lagi kebaikan Hanin? Kurang apa lagi pengertiannya? Semua demi cinta, demi melihat senyum lebar di bibirnya.
Dewa menatapnya serius lebih dulu lalu bertanya, “Kamu yakin dengan apa yang kamu bicarakan barusan, Nin?”
“Yakin, Mas. Hanin yakin banget. Hanin justru sedih lihat Mas yang berubah jadi seperti ini. Kalau soal hati Hanin yang tersakiti nanti, obatnya selalu ada di depan mata Hanin kok. Sebesar apapun rada sakit di hati Hanin, tapi kalau melihat Mas bahagia, hati Hanin tenang dan Hanin pun jadi ikut bahagia.” Hanin mengelus pipi suaminya. Dia tulus mengungkapkan hal itu pada Dewa.
Dewa menarik napas dalam lebih dulu, kemudian dia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Mungkin memang sekarang ‘lah saatnya semua diceritakan setelah bertahun-tahun ditutupi.
“Bismillah ....” Dewa mengelus puncak kepala Hanin lebih dulu.
“Maafin Mas, ya, Nin ...” Hanin mengangguk.
“Begini ceritanya, semua berawal dari tahun kedua Mas berada di kota M. Tidak ada yang salah dengan hubungan kita saat itu. Semua berjalan dengan baik. Dan Mas juga hanya mengenal satu perempuan dalam hidup yakni kamu. Walau kita berpacaran jarak jauh, tapi komunikasi kita selalu intens, saling mengabari satu sama lain setelah punya waktu istirahat.” Dewa memulai ceritanya.
“Suatu ketika, Mas sakit dan dari surat keterangan dokter diminta untuk istirahat selama dua hari di kost. Rupanya istirahat sendirian nitu membosankan. Semua teman satu kost kerja dan kos pun jadi sepi.”
“Mas memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kos. Maksud hati mencari keringat agar sehat. Tapi setelah terasa capek, ternyata Mas sudah berdiri di depan sebuah warung internet kala itu.”
“Tanpa pikir panjang Mas langsung masuk. Duduk di salah satu bilik, memesan minum, lalu larut dengan komputer yang ada di hadapan Mas. Mulai dari main game, melihat-lihat situs menarik, mengecek email sampai akhirnya Mas masuk ke aplikasi chat online yang sedang difavoritkan banyak orang saat itu.”
“Kamu pasti tau apa nama aplikasinya. Berwarna hijau, biru dan merah.” Dewa menerangkan perkara aplikasi tempat dia bertemu dengan Ibi.
“Nah, itu pertama kalinya Mas menggunakan aplikasi chat. Masih belum paham, Mas pelajari sedikit-sedikit hingga akhirnya mengerti semuanya. Rupanya aplikasi itu bisa membawa kita tergabung di banyak grup. Baik yang berdasarkan dengan kota, usia, maupun hobi.”
“Saat itu Mas memilih kota, yakni kota M, tempat Mas tinggal.”
Sampai di sini Hanin masih mendengar dengan santai dan seksama. Tidak ada kalimat atau bagian manapun yang menyakitinya bahkan membuatnya bertanya curiga. Semuanya masih wajar. Orang yang sedang sakit diminta istirahat oleh dokter tapi bosan dan memilih jalan-jalan keluar kost sampai singgah untuk main di warnet.
“Nah, di aplikasi itu banyak kenalan yang Mas temui. Baik cewek maupun cowok. Semuanya pasti seperti Mas, hanya iseng. Dan setelah hampir satu jam Mas di situ tanpa sengaja ada seorang lagi kenalan. Dia lumayan unik dan menarik perhatian, Mas.”
Saat masuk cerita di tahap ini, Hanin mulai waspada menanti kelanjutan kalimat Dewa. Tampak senyum tipis tersungging di bibir Dewa.
“Mas menyapanya lebih dulu. Dia menggunakan nama perempuan. Tapi saat Mas sudah menyapanya dia justru mengganti namanya menjadi nama laki-laki.”
“Setelah mengganti nama dia baru membalas chat Mas. Maaf saya laki-laki, ucapnya. Tentu Mas tertawa dan tidak percaya begitu saja. Mas jadi penasaran dan mengirimkan chat yang lain. Nah, dari situ awal mula Mas kenal dengan dia.”
“Sebelum Mas lanjut ceritanya, Mas tanya kamu dulu, Nin. Kamu yakin masih mau dengar? Karena ini pasti menyakiti kamu,” ucap Dewa jujur.
Bismillahirrahmanirrahim, aku pasti kuat mendengarnya demi Mas Dewa dan anak-anak, batin Hanin.
“Insya Allah aku kuat, Mas. Gak apa-apa, Mas lanjut aja ceritanya,” jawab Hanin mantap.
Dewa lantas melanjutkan ceritanya. Dia memberitahukan pada Hanin awal mula berkenalan dengan Ibtisam. Seorang gadis belia yang dia kenal melalui aplikasi chat. Tahu kalau berada dalam satu kota yang sama membuat Dewa jadi penasaran ingin bertemu. Dia membayangkan bagaimana wajah Ibi, nama panggilan Ibtisam kala itu. Dan ternyata Tuhan mengabulkan pinta Dewa.
Beberapa hari setelahnya tanpa sengaja Dewa berpapasan dengan seorang gadis belia berponi yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Entah apa daya tarik anak itu, yang pasti Dewa mengikuti langkahnya hingga pulang ke rumah. Begitu anak itu masuk ke dalam rumahnya, Dewa pun tersadar dan tertawa sendiri. Heran dengan kelakuannya yang menguntit orang yang tidak dikenal.
Hari berganti obrolan chat dengan Ibi terus berlanjut sampai akhirnya Dewa ditegur oleh perusahaan tempatnya bekerja. Sebab setiap siang dia selalu telat kembali ke kantor setelah istirahat makan siang. Ternyata yang dia lakukan adalah sibuk berbalas chat dengan Ibi.
Sejak itu chat pun terputus. Dewa sibuk dengan pekerjaannya sementara Ibi menunggu tidak jelas di aplikasi. Tiga hari Dewa tidak muncul di aplikasi Ibi memutuskan untuk tidak lagi bermain aplikasi chat. Pikirnya daripada menunggu tanpa jawaban lebih baik tidak sama sekali.
Namun ternyata Tuhan menakdirkan jalan lain. Tanpa sengaja Dewa berada di warnet yang sama dengan Ibi. Dan tanpa sengaja pula Dewa mendengar percakapan Ibi dengan sahabatnya yang membahas dirinya.
“Jadi kalian sesungguhnya berada di warnet yang sama sejak awal?” tanya Hanin heran. Sebab sedikit sekali terjadi kebetulan yang seperti itu.
“Iya, Nin. Dan Mas baru tau setelah menguping mereka bicara.” Dewa menjawab dengan senyum. Ada kebahagiaan di dirinya saat menceritakan tentang Ibi.
“Tapi setelah tau wujud aslinya Ibtisam, bukan berarti perkenalan berjalan mulus. Kamu tau ‘kan kalau Mas sudah dewasa sementara dia masih anak SMA.” Hanin mengangguk.
“Mas mengikutinya saat dia berjalan pulang ke rumah. Mas tegur dan mengajak kenalan. Dan dia hanya diam tanpa menjawab. Langkahnya makin cepat seperti berlari. Intinya hari pertama itu Mas gagal.”
“Begitupun dengan hari kedua dan seterusnya. Mas tetep gagal juga. Ibtisam tidak mau diajak bicara oleh orang asing. Dia seperti ketakutan. Padahal itu tempat umum. Di pinggir jalan yang bisa dilihat banyak orang. Tidak mungkin Mas berbuat macam-macam dengannya.”
“Lalu?” tanya Hanin lagi.
“Lalu Mas putus asa. Pikir Mas, ya sudahlah, memang dia tidak mau apa boleh buat. Saat itu setiap malam kita masih rutin berkomunikasi. Hubungan kita masih baik-baik saja. Mas juga tidak melupakan kamu begitupun dengan perasaan yang Mas punya buat kamu.”
“Tapi rupanya Tuhan belum memutuskan kami untuk saling melupakan. Ketika itu hari minggu, Mas berjalan-jalan berkeliling mencari makanan kecil. Dan kamu menelepon. Kita bicara seperti biasa di telepon. Tapi tiba-tiba ponsel Mas mati kehabisan baterai. Tanpa sengaja Mas melihat ada warung telepon di sekitar situ. Jadi Mas langsung mampir untuk lanjut menelepon kamu.”
“Kita bicara sebentar lalu kamu meminta Mas untuk segera pulang agar bisa mengisi baterai ponsel.”
“Rupanya sekali lagi Tuhan menakdirkan jalan yang berbeda. Penjaga warung telepon itu adalah Ibtisam.”
Astaga, kebetulan lagi. Apa iya ada kebetulan yang bertubi-tubi begitu? Hanin jadi heran sendiri. Hanya berawal dari aplikasi chat tapi justru terkait di sekitar Dewa.
“Dan sekali lagi Mas mengajaknya berkenalan. Tapi jawabannya tetap sama. Dia menolak dan hanya diam.”
Syukurlah, anak yang bernama Ibtisam itu benar-benar menjaga dirinya dari laki-laki. Sekalipun tidak ada tampang jahat di wajah Mas Dewa dia tetep menolak. Kali ini Hanin yang tersenyum.
“Tapi Mas tidak putus asa. Setiap malam Mas mampir kesitu untuk menelepon kamu. Kamu ingat ‘kan kalau Mas pernah telepon kamu pakai telepon wartel setiap hari. Nah, itu di tempatnya Ibtisam.” Dewa mengakui apa yang dia lakukan dulu.
Rupanya Mas Dewa yang sudah terpikat padanya. Aku jadi penasaran, bagaimana sih tampilan anak itu? Cantik, manis, atau bagaimana? Hanin jadi ingin membandingkan dirinyalah dengan Ibi.
“Dia cantik, Mas?” tanya Hanin.