Keputusan Baba

1054 Words
“A-alhamdulillah aku menang, Ra,” jawab Ibi sedikit gagap sembari menatap wajah mamanya yang kaget. “Ya ampun, serius? Kamu beruntung banget, Bi. Siapa yang bakal kamu ajak? Pasti aku ‘kan? Kita udah janji loh, Bi. Siapapun yang menang diantara kita bakal saling ajak.” Sekarang suara tangis Zara berubah jadi antusias. “E ..., gi-gimana ya, Ra. Aku minta ijin ke mama sama baba dulu ya. Soalnya mereka kaget banget sama hadiahnya. Ka-kamu doain aku ya. Kalau nanti diijinin aku pasti pergi bareng kamu.” Ibi masih juga tergagap. Tatapan tidak percaya dari mamanya belum lepas. Nyali Ibi jadi menciut. Tiba-tiba dia jadi khawatir kalau sandiwara hadiah ke Bali itu diketahui oleh orang tuanya. “Iya, aku pasti doain kamu, Bi. Bismillah ..., semoga diijinin ya,” saut Zara dipenghujung telepon. Selesai dengan itu, mama Ibi masih belum bisa mengatakan apapun. Dia masih tidak percaya dengan yang baru saja dia saksikan, bahwa anak bungsunya memenangkan kuis berlibur ke Bali. Sungguh suatu kejutan baginya. Sebab sejak kecil Ibi tidak pernah bepergian jauh tanpa kedua orang tua. “Ma ....” Akhirnya Ibi memecah keheningan diantara mereka. “Mama gak bisa kasi tanggapan apapun sekarang, Bi. Nanti tunggu Baba pulang kita bahas ulang,” ucap mama lalu kemudian beranjak pergi meninggalkan Ibi. Siapapun orang tua tentu akan terkejut mendapat kabar seperti itu dari anak gadisnya. Apalagi Ibi adalah anak paling kecil yang sejak dulu selalu mengikuti aturan ketat yang diterapkan oleh orang tuanya. Berbeda hal dengan kedua kakak laki-laki Ibi yang sudah dewasa bahkan sudah menikah. Mereka dibentuk untuk mandiri sejak dini. Berbanding terbalik dengan Ibi. Dengan langkah gontai Ibi berjalan menuju kamarnya. Dia sudah yakin betul kalau rencana pergi ke Bali itu akan gagal seratus persen. Sesungguhnya sejak awal rencana dibuat, Ibi sudah ragu. Namun karena Dewa terus bersemangat dan begitu yakin, membuat Ibi berpikir ada kemungkinan. Sekarang Ibi sudah berganti pakaian. Dia naik ke atas ranjang dan rebahan sembari pasrah dengan keputusan yang akan Babanya ucapkan nanti. Tidak lupa dia juga mengabari Zara lewat pesan singkat. Mengatakan kalau sahabatnya itu tidak usah terlalu berharap karena sudah jelas dia tidak akan diijinkan. Waktu yang ditunggu pun tiba. Ibi terpaksa keluar dari kamarnya untuk makan malam. Di meja makan mama dan babanya sudah mulai makan lebih dulu. Tentu kedatangan Ibi membuat kedua orang tuanya kompak memperhatikan anak gadisnya. Jelas terlihat raut lesu di wajah Ibi. Belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mama maupun babanya. Mereka sengaja menunggu hingga Ibi menyelesaikan makan. Dan setelah suapan terakhir masuk ke mulut Ibi, Baba baru angkat bicara. “Baba udah dengar kabarnya dari mama. Kita bicara di ruang tv,” ucapnya tanpa basa basi lalu kemudian lebih dulu pergi ke ruang tempat biasa mereka sekeluarga menonton tv. Selesai meletakkan piring kotor di dapur, Ibi pun bergegas menemui Baba dan Mamanya. Ibi sudah menebak apa yang akan Babanya sampaikan. Dan sejak sore tadi Ibi juga sudah tidak berharap apapun lagi. Ya, jelas ini memang salahnya. Sudah tahu watak orangtuanya seperti apa, tapi masih ngotot menyetujui rencana Dewa. Sungguh pekerjaan yang sia-sia. Sekarang Ibi sudah duduk berhadapan dengan Baba di ruang tv. Sementara mama duduk di sampingnya. “Memangnya kuis apa yang kamu ikuti itu, Bi?” tanya Baba di awal pembicaraan. “Kuis yang ada di majalah remaja, Ba. Tapi Ibi cuma iseng-iseng kok waktu itu. Barengan sama Zara ngirim undiannya. Ibi gak kepikiran sama sekali bakal menang, Ba. Ibi juga gak berharap kok. Cuma karena Zara terus ngajakin jadi Ibi ikut-ikutan ngirim. Ibi juga udah tau kalau Baba dan Mama gak bakal ngijinin. Ibi terima kok, Ibi gak sedih. Kan Cuma kuis doank,” jawab Ibi panjang lebar lalu kemudian berusaha memasang tampang sebiasa mungkin. Tidak menunjukkan raut sedih ataupun kecewa sama sekali. “Kamu yakin gak sedih?” tanya Baba lagi. “Yakin, Ba,” jawab Zara mantap. “Tapi tadi bundanya Zara telepon Mama. Dia bicara panjang lebar dan minta supaya mama ngijinin kamu dan Zara berangkat ikut tour dari hadiah kuis itu.” Mama menyahut ditengah-tengah pembicaraan Ibi dengan Babanya. Eh, bunda telepon mama? Pasti Zara yang minta. Ih, anak itu beneran antusias banget mau ke Bali. Udah tau mama dan babaku kayak apa, tapi masih juga ngarep, batin Ibi. “Jadi, Baba tanya sekali lagi. Kamu yakin gak sedih kalau batal berangkat tour hadiah itu?” tanya Baba lagi. “Yakin, Ba.” Ibi mengulangi jawabannya. Sebab dia yakin betul, sekalipun dia mengaku jujur ijin dari orang tuanya juga tidak akan turun. Seketika Baba tersenyum saat itu. Dia puas dan bangga dengan jawaban anak gadisnya. Artinya Ibi paham betul dengan karakternya. “Tapi keputusan Baba berbeda kali ini,” saut Baba kemudian. Loh, maksud Baba apa? Ibi bertanya sendiri. Ternyata keputusan Baba memang benar-benar berbeda. Awal mendengar cerita dari istrinya, Baba langsung menolak hadiah yang ditujukan untuk Ibi itu. Tapi kemudian mereka berdiskusi lagi setelah bundanya Zara menelepon. Apa yang bunda Zara katakan ada benarnya. Kepergian anak-anak mereka resmi dari event yang mengadakan kuis, sebab tiket serta akomodasi selama di Bali terlampir jelas di dalam amplop yang Ibi terima. Kop surat dari perusahaan yang mengadakan acara kuis tersebut juga terlampir jelas. Ditambah lagi bundanya Zara juga sudah menghubungi langsung nomor kantor yang tertera disana untuk menanyakan kebenaran dari acara kuis tersebut. Dan syukurnya jawaban dari si penerima telepon sangat baik dan begitu meyakinkan. Itu pasti orang suruhan Dewa yang sudah dia atur sampai seperti itu. Nama pemenang yang tertera pun semuanya adalah perempuan. Itu berarti Ibi akan berangkat bersama empat orang pemenang lainnya berikut dengan pendamping yang mereka bawa. Atas dasar itulah hati mama Ibi melunak, dia justru meyakinkan pada Baba agar mau memberikan ijin pada anak mereka. Apalagi ini pertama kalinya Ibi bepergian jauh bersama temannya. Sebelumnya Ibi tidak pernah melakukan itu. Bahkan untuk sekedar menginap dirumah Zara saja dia tidak pernah diijinkan. “Baba berpikir untuk mempertimbangkan kepergian kamu. Walau Baba terkesan tegas, tapi Baba juga ingin sekali-kali membuat anak Baba bahagia.” Baba tersenyum menatap Ibi. Masya Allah, ini serius? “Baba gak lagi bercanda ‘kan?” Ibi sampai tidak percaya dengan apa yang Babanya katakan. “Kamu berdoa aja, semoga Baba gak berubah pikiran,” saut Baba santai. “Ih, Baba ...,” rengek Ibi kemudian. Tentu hal itu menarik tawa di bibir kedua orang tuanya. Masya Allah .... Alhamdulillah ... Ibi beneran pergi ke Bali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD