Hari Keberangkatan

1159 Words
Hari yang dinanti pun tiba, yakni hari keberangkatan Ibi dan Zara ke Bali. Tentu kedua orang tua Ibi mengantarkan mereka sampai ke bandara. Bukan hanya sekedar mengantar tapi mereka juga ingin melihat dan memastikan siapa saja pemenang yang berangkat dari acara kuis tersebut. Mama Ibi juga ingin berkenalan langsung dengan penanggung jawab acaranya, seperti panitia acara. Sepanjang perjalanan menuju bandara Ibi dan Zara saling tatap. Mereka begitu cemas dengan keadaan di bandara nanti. Khawatir kalau semua sandiwara itu terbongkar, sebab sejak surat pengumuman pemenang hadiah dikirimkan ke rumah Ibi, tidak sekali pun Dewa menelepon atau mengabarinya lewat pesan singkat. Begitupun saat Ibi yang meneleponnya lebih dulu, sambungan telepon ke ponsel Dewa selalu sibuk. Jadi pantas kalau Ibi gelisah karenanya. Tidak tahu apa yang menanti mereka nanti di bandara. “Udah ‘lah, Bi. Mendingan kita doa aja yang banyak. Semoga gak ada hal yang bikin orang tua kamu marah disana,” bisik Zara pasrah akhirnya. Ya, benar, memang tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan terkecuali itu. Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih akhirnya mereka sampai di bandara. Ibi, Zara, dan mama Ibi turun di loby. Sementara Baba memarkir mobil lebih dulu. Sambil menunggu Baba, Ibi terus melongok ke kanan dan kiri. Mencari sosok Dewa. Tapi yang dicari tidak kunjung terlihat. Tak berapa lama, tiba-tiba seorang perempuan dan seorang laki-laki yang sama-sama membawa beberapa lembar kertas di tangannya menghampiri Ibi dan Zara serta mama. “Selamat pagi, apa benar ini dengan Ibtisam Kamila Bafagih?” tanya perempuan itu sembari mencocokkan apa yang ada di kertas dengan yang tampak di hadapannya. “I-iya, saya Ibtisam Kamila Bafagih, Kak,” jawab Ibi sedikit gagap. Dia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tersebut sebelumnya. “Ah, ya, syukurlah. Kenalkan saya Vanesa dan ini rekan saya Kevin. Kami penanggung jawab acara kuis majalah remaja yang kamu ikuti. Dan kami sudah menunggu kamu dari tadi. Ayo ikut kami. Kelompok yang menang dalam acara kuis semua sudah berkumpul di sebelah sana.” Perempuan itu mengarahkan telunjuknya ke sudut sebelah kanan pintu bandara. Tampak beberapa orang berkumpul disana. Ibi, Zara, dan Mama pun mengikuti langkah mereka, membawa mereka menuju kumpulan yang lain. Disana mereka semua diminta saling berkenalan. Ibi dan Zara tidak menyangka sandiwara yang dibuat oleh Dewa akan melibatkan orang sebanyak ini. Sesuai dengan list di pengumuman pemenang, ada lima orang yang berangkat ke Bali, ditambah dengan pendamping satu orang bagi setiap pemenang. Jadi totalnya ada sepuluh orang yang dinyatakan berangkat ke Bali berikut dengan dua orang penanggung jawab acara sebagai pemandu selama mereka disana. Sungguh sebuah sandiwara yang disusun secara sempurna oleh Dewa. Dan ini semua hanya untuk seorang Ibi. Ya, gadis belia yang mengisi setiap celah di hatinya hingga dia rela berkorban begitu besar. Tapi anehnya, Ibi tidak melihat wajah Dewa dimana pun sejak tadi. Kemana laki-laki itu? Ibi terus saja celingak-celinguk mencari sosok Dewa. Sampai akhirnya ditegur oleh mama. “Kamu liatin apa sih dari tadi, Bi?” tanya mama. “Eng ... gak liat apa-apa kok, Ma. Ibi cuma kepo aja sama setiap sudut bandara.” Ibi beralasan. “Ya, maklumlah, Ma. Ini ‘kan keberangkatan pertama Ibi, jadi wajar kalau dia norak,” saut Baba yang belum lama muncul setelah memarkirkan mobil. Entah bermaksud membela ataupun menyindir Ibi juga tidak mengerti. Sementara Zara menikmati perkenalannya dengan semua peserta disitu. Padahal dia juga tahu kalau itu hanyalah peserta palsu buatan Dewa. Selesai dengan semua perkenalan dan segala macamnya, sampai ‘lah waktu dimana semua peserta yang berangkat diwajibkan masuk ke dalam ruang tunggu pesawat. Ibi dan Zara pun berpamitan dengan orang tua Ibi. Mereka mencium tangan Mama dan Baba bergantian. “Pokoknya begitu pesawat mendarat di Bali, kamu telepon Mama ya, Bi.” Begitu pesan Mama. Sementara Baba berbeda lagi. “Baba udah minta nomor ponsel penanggung jawab acaranya kok. Kita bisa telepon dia sewaktu-waktu,” saut Baba pada Mama. Mendengar ucapan Baba, Ibi jadi khawatir. Duh, gawat. Baba minta nomor telepon siapa? Penanggung jawab palsu yang dua orang itu ‘kan gak beneran ikut berangkat ke Bali. Terus gimana dong kalau Baba telepon nanti? Ibi lantas memandang Zara, seolah memberi kode atas apa yang Baba katakan barusan. Tapi dasar Zara, dia terlalu excited untuk pergi hingga tidak memperdulikan yang lain. Setelah berpamitan, mereka semua bersama-sama memasuki ruang tunggu pesawat. Hal itu di saksikan oleh Mama dan Baba sebab mereka baru akan pergi dari bandara ketika melihat anak gadisnya sudah masuk kesana. Seharusnya hal ini tidak diperkenankan di bandara. Hanya para penumpang yang sudah memiliki tiket resmi dan pasti berangkat yang diperbolehkan masuk. Namun ternyata Dewa sudah mengatur semuanya. Dia sudah memprediksi sampai di tahap ini melihat karakter kedua orang tua Ibi yang ketat dengan segala aturan. Rupanya Dewa memiliki seorang kenalan yang kebetulan bekerja di angkasa pura bandara tersebut. Dengan berbagai alasan akhirnya Dewa diperkenankan membawa rombongannya turut masuk ke ruang tunggu pesawat. Tapi hanya diperbolehkan selama lima belas menit. Setelahnya mereka wajib keluar. Sesuai dengan janji, setelah lima belas menit rombongan tersebut berada di ruang tunggu, mereka lantas bersiap untuk keluar. Sebelum keluar, perempuan yang bernama Vanesa yang mengaku sebagai penanggung jawab acara menitipkan pesan pada Ibi. “Sudah waktunya kami keluar sekarang. Kalian berdua tetap menunggu disini, ya. Jangan berpindah kemana-mana. Sebentar lagi dia akan datang. Dia sudah dalam perjalanan kesini.” Ibi dan Zara pun kompak mengangguk. Mereka kembali duduk di bangkunya setelah melambaikan tangan pada rombongan palsu itu. Berselang sepuluh menit berikutnya ponsel Ibi berdering. Ada telepon masuk dari mamanya. “Halo, Bi. Kalian udah masuk dalam pesawat?” tanya mama. “Belum, Ma. Mungkin sebentar lagi,” jawab Ibi. “Mama sama Baba masih di parkiran bandara nih. Nunggu sampe pesawat kamu berangkat.” Rupanya mama sekhawatir itu pada anak gadisnya hingga rela menunggu di parkiran. Di saat yang sama microphone bandara mengumumkan bahwa pesawat dengan maskapai G tujuan Bali akan segera berangkat. Para penumpang diminta untuk memasuki pesawat sekarang juga. “Eh, Ma. Itu panggilan masuk ke pesawatnya. Ibi sama Zara berangkat ya, Ma.” Mendengar pengumuman panggilan Ibi pun berpamitan. “Ya udah, kalian hati-hati ya. Jangan sampai terpisah dari rombongan. Nanti Baba yang pantau lewat panitianya setelah kaliam sampai di Bali,” pesan Mama di akhir pembicaraan. Ibi dan Zara lantas saling bertatapan. Mereka berdua bingung harus melangkah ke pintu yang mana, sebab ini pertama kalinya bagi mereka naik pesawat. Ditambah lagi kehadiran Dewa tak kunjung muncul juga. Setelah lima menit berlalu, sekali lagi pengumuman panggilan penumpang keberangkatan maskapai G tujuan Bali kembali terdengar. Ibi dan Zara pun makin panik. “Bi, gimana nih, Bi? Kalo kita terus diam disini yang ada kita ketinggalan pesawat,” oceh Zara dengan menggoyang-goyangkan kakinya. Pertanda dia sudah tidak sabar ingin bergerak dari tempatnya duduk. “Aku juga gak tau, Ra. Sampe sekarang Dewa-nya belum kelihatan.” Jangan tanya bagaimana bingungnya Ibi. Bukan karena dia takut batal berangkat melainkan jika itu benar terjadi harus mengarang alasan apa lagi dia pada Mama dan Babanya. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menepuk bahu Ibi. Siapa dia? Apakah itu Dewa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD