Ternyata yang menepuk bahu Ibi adalah petugas bandara. Melihat wajah kecemasan dari dua orang anak remaja di ruang tunggu pesawat, membuatnya berinisiatif menghampiri lalu menanyakan tiket yang mereka miliki.
“Permisi, Dik. Kalian berdua mau berangkat kemana ya? Boleh saya lihat tiketnya?” Tanpa ragu Ibi langsung menunjukkan tiket yang mereka punya.
“Oh, pesawat G tujuan Bali. Silahkan langsung menuju pintu nomor sembilan di sebelah sana.” Petugas itu menunjukkan ke arah pintu yang semestinya Ibi dan Zara masuki. Tapi mereka berdua belum berani melangkah.
“E, i-iya. Terima kasih, Kak,” jawab Ibi ragu. Matanya masih mencari-cari sosok Dewa.
“Ayo tunggu apa lagi? Pesawatnya sudah ready dan menunggu semua penumpang untuk masuk,” ucap petugas itu lagi.
“Tapi ....” Belum selesai Ibi bicara tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari arah pintu nomor sembilan.
“Bi ..., ayo, buruan,” teriak suara itu.
Alhamdulillah, akhirnya ...
Ya, itu adalah Dewa. Entah dari mana datangnya yang pasti Dewa sudah menunggu Ibi dan Zara tepat di depan pintu nomor sembilan. Langsung mereka berdua berlari dengan menggendong ranselnya.
Begitu memasuki pesawat, mereka duduk dengan berjajar tiga. Dewa di dekat jendela, Ibi di tengah, lalu kemudian Zara. Mereka lantas mengatur napas masing-masing. Mereka baru saja melewati masa yang menegangkan, sebab mereka bertiga adalah penumpang terakhir yang masuk ke dalam pesawat. Adegannya mirip seperti dalam film home alone, berlari memasuki pesawat karena takut tertinggal.
“Alhamdulillah ..., untung masih keburu ya,” saut Dewa dengan senyum. Tapi gadis di sampingnya malah cemberut.
“Loh, kok cemberut? Kenapa, Bi?” tanyanya lagi.
“Dewa jahat!” saut Ibi kesal.
“Memangnya aku bikin apa sama kamu?” Dewa jadi bingung.
“Dewa kemana aja selama ini ...?” rengek Ibi.
Zara sudah tidak mendengar percakapan dua insan di sampingnya. Begitu duduk dia langsung memakai headphone yang tersambung ke tv kecil yang ada di hadapannya, menikmati sajian musik disana.
Kembali Dewa tersenyum. “Maaf ya, aku sibuk banget nyiapin semuanya. Takut ada yang terlewat. Soalnya aku gak mau sampe mama papa kamu curiga, Bi. Jadi butuh persiapan yang matang untuk keberangkatan kita ini,” ucap Dewa menjelaskan.
Seketika wajah Ibi berubah sedih. “Harusnya Ibi yang minta maaf ke Dewa. Gara-gara ngajak Ibi liburan, Dewa sampe repot setengah mati. Ibi udah bisa bayangin gimana ribetnya nyiapin orang segitu banyak cuma buat nunjukin ke mama dan baba kalo ini beneran pemenang acara kuis.”
“Enggak ribet, kok. Semua itu temen-temen aku. Jadi aku tinggal minta tolong aja sama mereka. Alhamdulillah, mereka semua mau. Langkahnya ringan untuk menolong.” Dewa jelas berbohong, sebab semua orang yang terlibat dalam sandiwaranya itu adalah orang-orang yang sengaja dia bayar untuk berakting.
Syukurlah, ternyata temen-temen Dewa orang baik semua, batin Ibi polos.
“Udah, sekarang kamu gak usah mikir yang macem-macem. Kita nikmati perjalanannya.” Dewa mengelus lembut puncak kepala Ibi, lalu kemudian tangannya beralih menggenggam tangan Ibi.
Tidak ada yang khusus disini, sebab setiap kali bepergian dengan Ibi, Dewa sudah pasti menggenggam tangannya. Membuatnya aman dan nyaman. Merasa terlindungi di samping Dewa.
Tiba-tiba Ibi kembali teringat dengan nomor ponsel penanggung jawan acara yang diminta oleh Babanya di bandara tadi. Dia lantas menyampaikan pada Dewa.
“Oh, soal itu aku udah tau kok. Dan nomor ponsel yang Vanesa kasih itu nomor ponsel aku. Kamu gak usah khawatir. Nanti kalau Baba kamu yang telepon, biar aku yang jawab, mengaku sebagai Kevin.” Dewa menyebutkan nama penanggung jawab acara abal-abal tadi.
Sungguh persiapan tanpa cela. Semua sudah dia pikirkan secara matang untuk keberangkatannya bersama Ibi kali ini. Pantas kalau Dewa tidak sempat mengangkat telepon Ibi ataupun menghubungi Ibi kembali, sebab dia tidak ingin konsentrasinya pecah saat mengurus segala persiapannya.
Empat jam berlalu, pesawat dari kota M menuju Bali mendarat. Tertulis besar Bandara Ngurah Rai disana. Ya Allah, akhirnya Ibi sampai di Bali juga. Masya Allah ... Ibi berdecak kagum menyebut asma Allah. Begitu bahagianya dia. Pertama kali bepergian jauh menaiki pesawat dan tujuannya ke Bali pula. Tempat liburan yang diminati oleh banyak orang di dunia.
Tempat saat mereka bertiga baru saja ingin mencari taksi menuju hotel, ponsel Dewa berdering. Nomor tidak dikenal masuk. Entah kenapa perasaan Ibi langsung menebak kalau itu adalah Babanya.
“Itu pasti Baba,” saut Ibi.
Dengan satu tarikan napas, Dewa mengangkat telepon tersebut. “Halo, assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa’alaikumsalam. Saya ayahnya Ibtisam. Kamu penanggung jawab yang tadi ‘kan?” Rupanya benar. Telepon tersebut berasal dari Babanya Ibi.
“Ya, Pak. Saya Kevin,” jawab Dewa tanpa ragu.
“Kok suaranya kedengeran beda ya?” Baba sempat curiga.
“Mungkin karena di telepon, Pak. Suara ‘kan bisa saja terdengar berbeda, tapi orangnya dijamin sama.” Kembali Dewa menjawab tanpa ragu.
“Oh, ya. Benar juga yang kamu bilang. Bagaimana kalian, sudah sampai di Bali ‘kah?” Baba langsung pada intinya.
“Alhamdulillah sudah, Pak. Baru saja mendarat. Sekarang rombongan akan naik ke bus travel yang akan membawa kami ke hotel yang sudah disediakan oleh panitia.” Entah dimana Dewa belajar berbohong seperti ini, sebab dia sungguh lancar menjawab.
“Alhamdulillah kalau begitu. Oke, terima kasih ya nak, Kevin. Nanti setelah sampai di hotel tolong sampaikan pada Ibtisam untuk mengabari saya segera.” Berikut pesan terakhir Baba sebelum mengakhiri teleponnya.
“Baik, Pak. Akan saya sampaikan.” Dewa tersenyum menatap Ibi. Wajahnya yang ketakutan tampak lucu dipandang mata Dewa.
“Kata Baba kamu, ntar sampai hotel kamu disuru kabarin beliau,” ucap Dewa setelah menyimpan ponselnya di kantong.
“Udah itu doang? Baba gak nanya-nanya yang lain?” Dewa menggeleng. Tangannya melambai pada seorang supir taksi yang mangkal di bandara. Mereka lantas naik ke taksi.
“Aduh, Ibi jadi takut deh. Ntar nyampe hotel Ibi kabarin apa ya ke Baba?” Ibi berucap sendiri.
“Ya, kabarin aja kita udah nyampe. Susah amat sih, Bi. Ntar aku juga kabarin bunda, kok,” saut Zara. Dia jadi pusing sendiri melihat kelakuan sahabatnya yang over gelisah itu.
“Bener yang dibilang Zara, Bi. Kamu santai aja, jangan gelisah terus. Ntar yang ada kamu salah ngomong lagi di telepon.” Dewa menambahi.
“Huft ..., bismillah deh.” Cuma Ibi satu-satunya yang kesulitan berbohong disini. Sementara Zara dan Dewa santai saja seperti tidak ada kejadian yang menyalah.
Begitu sampai di hotel, ternyata Dewa memesan kamar bersebelahan yang connecting. Yakni kamar yang memiliki pintu penghubung di tengah yang dapat menyatukan keduanya. Jadi siapapun bisa saling memasuki kedua kamar tersebut.
“Loh, kok kamarnya nembus?” tanya Ibi polos. Ya, begitu polosnya Ibi sampai yang seperti itu dia pertanyakan.
“Iya, aku sengaja pesan yang begini biar kita bisa saling ngobrol,” saut Dewa santai.
Terus kalo Ibi atau Zara lagi mandi gimana? Masa Dewa bisa masuk seenaknya? Kan mesti pake baju dulu abis mandi.