Ibi lantas teringat dengan orangtuanya. Dia meminta Dewa jangan bersuara sedikitpun sebab dia ingin menelepon ke rumahnya. Hanya dengan dua kali nada sambung, telepon rumah langsung diangkat oleh Mama.
Ibi mengabarkan keberadaannya, menceritakan sedikit perjalanan selama di pesawat pada mama. Tentu mama menanggapi dengan baik, mama juga menanyakan keberadaan Zara. Langsung saja gadis itu ikut menyahut di telepon.
Selesai dengan urusan di telepon, Ibi kemudian menghampiri Dewa di kamarnya. Lelaki itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponselnya.
“Dewa,” tegur Ibi.
“Ya, Bi.” Dewa menoleh lalu tersenyum memandang Ibi. “Udah selesai neleponnya?” Ibi mengangguk.
“Kalau gitu sekarang kita keluar, yuk. Jalan-jalan sekalian nyari makan,” ajak Dewa.
“Eh, sekarang? Ibi mandi dulu boleh?” pinta Ibi.
“Gak boleh!” bantah Dewa.
“Loh, kok?” Ibi jadi heran dengan reaksi Dewa tersebut.
“Boleh banget donk. Hehehe ... Pake pakaian yang cantik, ya.” Rupanya Dewa sengaja mencandai Ibi. Dia tertawa kecil menggoda gadis manis yang sudah sangat memikat hatinya itu.
Gemesnya. Aku pengen peluk kamu, Bi. Serius. Begitu gemasnya Dewa saat Ibi pergi meninggalkannya dengan sebelumnya menjulurkan lidah padanya.
Sore menjelang mereka bertiga berjalan-jalan di sepanjang pantai Kuta. Pantai yang wajib dikunjungi setiap wisatawan yang datang ke Bali. Ibi mengenakan terusan lengan pendek dengan cardigan tipis sebagai luarannya. Lalu dia menguncir kuda rambut panjangnya. Menyisakan poninya yang memenuhi dahi tersapu angin pantai.
“Mau aku fotoin gak?” tanya Dewa kemudian. Kebetulan matahari baru akan menjelang terbenam.
“Pake apa?” Di zaman itu belum ada kamera ponsel. Tapi Dewa sudah menyiapkan segalanya. Dia membawa kamera tangan (tustel) di tas kecil yang selalu terselempang di bahunya sejak berangkat dari kota M.
“Nih, aku bawa kamera.” Dewa menunjukkannya pada Ibi.
“Mau donk. Ntar Dewa cuci ya hasilnya.” Ibi menyahut dengan senyum. Tak hanya foto Ibi, Dewa juga mengabadikan foto Ibi bersama Zara serta fotonya sendiri bersama Ibi. Sungguh ini akan menjadi momen terbaik yang ada diantara Dewa dan Ibi.
Matahari sudah terbenam dengan sempurna. Langit pun berubah menjadi gelap, berganti dengan bintang dan bulan sabit kecil sebagai penerang malam ini. Ibi, Zara, dan Dewa lantas mencari tempat untuk menikmati makan malam.
Banyak cafe dan restoran berjejer di dekat pantai Kuta hingga mereka dengan mudah memilih salah satunya. Pilihan pun jatuh pada restoran dengan nuansa merah dengan lampu yang sedikit redup. Mengusung tema pencahayaan yang romantis.
“Bi, rambut kamu kayaknya dilepas aja deh.” Dewa meminta Ibi melepas kuncir rambutnya dan langsung dituruti Ibi saat itu juga. Dia bahkan tidak bertanya kenapa Dewa meminta demikian. Di benak Ibi, apa yang Dewa minta selagi mudah dan mampu dia lakukan, tanpa ragu akan langsung dia kerjakan.
Sifat Ibi yang seperti ini yang begitu Dewa sukai. Bahkan dia berharap Ibi mau menuruti apapun yang dia minta. Tapi apakah itu mungkin, mengingat tidak adanya status yang jelas diantara mereka saat ini.
Ibi dan Zara lalu disuguhkan menu restoran. Mereka lantas memilih makanan sementara Dewa terus saja memandang gadis pujaannya tanpa melepas senyuman. Sungguh liburan ke Bali ini membuat kebahagiaan Dewa berlipat rasanya. Sebab dia bisa menghabiskan waktu selama empat hari bersama Ibi tanpa melewatkan sedetikpun.
Selesai makan malam, mereka bertiga pun kembali ke hotel. Ibi langsung membenahi dirinya di kamar mandi, berganti pakaian dengan piyama tidur. Begitu keluar dia sudah melihat Dewa duduk di sofa memandang ke arahnya.
“Dewa gak ganti baju?” tanya Ibi.
“Emangnya kamu udah mau tidur ya, Bi?” Dewa bertanya balik.
“Ya, enggak sih. Mungkin sejam lagi,” saut Ibi.
“Ya udah, kalau gitu ngobrol di kamarku, yuk.” Tiba-tiba saja Dewa menarik tangan Ibi, mengajaknya berpindah ke kamarnya. Ya, walau pintu connecting terbuka lebar tapi tetap saja Ibi merasa canggung. Sebab Zara, sahabatnya, masih di kamar mandi berganti pakaian.
Aduh, ntar Zara mikir yang macem-macem lagi liat aku berduaan sama Dewa.
Rupanya Dewa menangkap wajah canggung gadis pujaannya. Langsung dia tanyakan perkara itu. “Kenapa, Bi?”
“Eng ..., itu, Zara gimana? Gak diajak bareng sekalian?”
“Hehehe, Zara udah tau kok. Tadi waktu kamu di kamar mandi, aku udah pamit ke dia mau ngobrol berdua sama kamu.” Dewa sudah tidak perlu diragukan kalau soal yang seperti ini. Dia paham karakter Ibi.
Mereka lantas ngobrol berdua di kamar Dewa. Bercanda tawa hingga main game bersama lewat ponsel. Siapa yang kalah diantara keduanya akan mendapat hukuman, yakni menguncir asal rambutnya dengan karet gelang. Dan tentunya yang berkali-kali kalah adalah Dewa. Bukan karena dia tidak pandai bermain game, tetapi dia sengaja mengalah agar bisa melihat tawa kebahagiaan yang berkali-kali tersungging di bibir gadis pujaannya.
“Hahaha ..., perut Ibi sampe sakit ketawa terus dari tadi. Dewa kalah terus ih,” ucap Ibi sembari mengikat rambut Dewa dengan karet gelang. Ini sudah ikatan yang ke enam yang ada di kepala Dewa sekarang.
Di balik tawa bahagia sepasang insan yang saling bercanda itu ternyata ada tangis khawatir dari seseorang gadis di atas tempat tidurnya. Dia memeluk bantal, pikirannya terus terpusat pada satu nama yakni Sadewa Handaru. Ya, gadis itu adalah Hanin.
Terakhir kali dia berkomunikasi dengan Dewa adalah sekitar tiga hari yang lalu. Saat itu Dewa sedang sibuk-sibuknya mengurus rencana keberangkatannya dengan Ibi. Tidak ada yang salah dari kata-kata Hanin. Dia hanya bertanya kenapa belakang Dewa terlihat cuek padanya. Dan lelaki itu malah menjawab dengan nada yang tidak enak.
“Aku sibuk, Nin. Masa kamu gak bisa ngertiin aku, sih? Biasanya ‘kan gak kayak gini. Apa setiap telepon dari kamu wajib aku angkat walaupun aku lagi sibuk kerja?” Gaya bicara Dewa seolah merasa terganggu dengan telepon dari Hanin.
Jelas Hanin terkejut, tapi kemudian dia berusaha untuk mengalah dan mengerti. “I-iya, maafin Hanin ya, Mas. Ya udah, nanti kalau Mas udah senggang jangan lupa telepon balik, ya. Hanin tunggu.” Telepon pun berakhir sampai disitu.
Tapi yang di tunggu tak kunjung datang. Dewa tidak menghubungi Hanin sama sekali. Sampai akhirnya pagi ini sebuah pesan singkat dari nomor asing masuk ke ponsel Hanin. Ini Mas Dewa. Mas ditugasin keluar kota. Tolong jangan telepon atau kirim pesan dulu, ya. Nanti kalau sudah selesai semuanya, Mas yang akan hubungi kamu.
Entah sampai kapan Hanin harus menunggu. Dia sudah rindu mendengar suara kekasih hatinya. Bahkan untuk berkirim pesan saja Dewa melarangnya, apakah ada tugas luar kota yang seperti itu? Hanin bukanlah gadis yang bodoh. Walau berasal dari kampung tapi dia juga seorang wanita karir di kotanya. Sekalipun karir yang dia miliki tidak secemerlang Dewa namun dia paham dunia kerja.
Hanin tahu betul tidak ada tugas luar kota yang menyita waktu pekerjanya hingga dua puluh empat jam tanpa istirahat. Jadi tidak mungkin Dewa tak memiliki kesempatan untuk menghubunginya. Permasalahannya hanya satu, yakni mau atau tidaknya Dewa menghubungi dia. Dan jawabannya sudah jelas, Dewa tidak mau menghubunginya.