Bermain Jet Ski

1247 Words
Hari kedua di Bali, Ibi sudah terbiasa dengan segalanya. Sehabis mandi pagi dia wajib menelepon ke rumah, mengabari mamanya dan berbicara sebentar, sekitar setengah jam. Ibi sudah lancar menjawab semua pertanyaan mamanya. Seolah dia sudah paham bagaimana trik untuk berbohong. Itu semua berkat Zara dan dukungan dari Dewa, membuat Ibi jadi pintar pada akhirnya. Tidak hanya dengan Ibi, Dewa juga melakukan hal yang sama. Sehari minimal dua kali Baba menelepon Dewa untuk mencari tahu keberadaan anaknya sekaligus mengetahui aktifitas mereka disana. Untung saja di jaman itu ponsel masih belum canggih. Belum ada menu kamera ponsel ataupun aplikasi chat seperti sekarang yang memudahkan kita mengirim gambar maupun video. Menjadikan kebohongan Dewa dan Ibi lebih aman lagi. Hari ini rencananya mereka akan pergi untuk menikmati olahraga air. Begitu yang diutarakan Dewa sebelum mereka tidur tadi malam. Selesai sarapan di restoran hotel mereka bertiga langsung menaiki taksi menuju ke Tanjung Benoa, salah satu tempat wahana air favorit di Bali. Begitu sampai mereka berjalan-jalan sebentar lalu kemudian menghampiri arena pendaftaran water sport disana. Untuk percobaan pertama Dewa memilih jet ski. Dia mengajak serta Ibi ikut bersamanya. “Yuk, Bi, kita barengan. Aku bonceng kamu,” ajak Dewa. Lelaki itu langsung meminta pada operator water sport untuk penyewaan jet ski baginya. “M ...” Ibi tampak berpikir. “Ya udah, buruan sana, Bi. Biar aku yang jagain tas kalian,” saut Zara menimpali. “Terus kamu gimana, Ra?” tanya Ibi kemudian. Rupanya dia memikirkan temannya itu. “Ya ampun, gampang. Kan ntar bisa gantian. Abis kalian ya giliran aku ‘lah. Masa kalian doank yang mesra-mesraan di atas jet ski. Terus aku nganggur gitu? Ih, gak deh,” jawab Zara. “Ya, ntar kamu sama siapa donk kalo gitu?” Dengan entengnya Zara menunjuk pada salah seorang operator water sport yang tampak sedang membenahi pelampung. “Tuh, sama dia aja,” ucapnya. “Ih, apaan sih, Zara. Itu siapa?” Ibi memukul lengan sahabatnya lantaran kaget dengan jawaban tersebut. “Ya, gak tau. Aku ‘kan belum kenalan. Lumayan, Bi, wajahnya ganteng. Kan seru kalo aku diboncengin sama dia. Hehehe ...” Zara tertawa geli membayangkannya. Memang dasar somplak gadis itu. Karakternya yang easy going membuatnya dengan mudah bergaul dengan siapapun. Terbukti dia langsung menghampiri cowok operator water sport yang tadi dia tunjuk. Ibi sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Di saat yang sama Dewa sudah kembali menghampiri Ibi. Dia membawa dua buah pelampung badan yang wajib mereka kenakan. Sebelum itu Ibi diminta untuk berganti pakaian renang. Ibi lantas mengenakan itu lebih dulu di kamar ganti. Awalnya Dewa berpikir kalau Ibi akan keluar dari ruang ganti dengan pakaian renang yang seksi, atau paling tidak yang minim. Tapi ternyata dugaannya salah. Ibi mengenakan pakaian renang model jumpsuit yang berlengan pendek dan menutupi kakinya sampai batas lutut. Sungguh tampilan yang biasa saja dari seorang Ibi. Tidak ada yang seksi sedikitpun. Astaga, apa yang aku harapkan?! Dewa mengusap wajahnya agar pikirannya tentang pakaian renang seksi menghilang. Sementara Dewa sendiri bertelanjang d**a dan hanya mengenakan celana pendek pantai yang biasa dikenakan peselancar. Mereka lantas dituntun menuju ke jet ski oleh operator. Diberikan pertunjuk beberapa saat, lalu saat Dewa sudah mengerti dengan benar sang operator baru melepas mereka berdua di atas jet ski. Percobaan pertama Dewa mengendarai jet ski dengan pelan dan santai, membuat Ibi nyaman berada di belakangnya. Tapi kemudian pelan-pelan kemudi semakin bertambah kecepatannya. “Dewa, kok makin kenceng?” tanya Ibi heran. “Iya sengaja, biar seru,” jawab Dewa enteng. “Tapi Ibi jadi takut, Dewa. Ntar kalau jatuh gimana? Ibi gak bisa berenang loh.” Ibi mengingatkan. “Gak bakal, makanya kamu peluk aku yang kenceng. Bismillah, percaya deh sama aku.” Dewa semakin mempercepat gasnya. Reflek Ibi langsung memeluknya dengan erat, mengapit tanpa celah dari belakang. Rupanya hal itu memang sudah menjadi rencananya sejak awal. Sengaja mempercepat laju jet ski agar Ibi mau tidak mau memeluknya erat dari belakang. Sungguh pintar akal-akalan Dewa yang satu ini. Memanfaatkan keadaan demi sebuah pelukan. Pelukan yang sudah sejak lama dia harapkan dari seorang Ibi. Gadis belia yang sudah membuatnya jatuh cinta hingga rela melakukan apapun demi kebahagiaan gadis itu. Empat puluh lima menit berlalu batas pemakaian jet ski Dewa dan Ibi pun selesai. Mereka menepi dengan sekujur tubuh basah karena cipratan air. Semestinya tidak semua bagian tubuh wajib basah seperti itu, namun karena Dewa mengendarai dengan kencang, cipratan air laut mengibas tubuh mereka. “Waduh ..., asik banget yang peluk-pelukan di atas jet ski.” Begitu naik ke darat Ibi langsung dihampiri oleh Zara sembari berbisik ke telinganya. “Zara, apaan sih? Gak gitu ...,” bantah Ibi. “Hihihi ..., apanya yang gak gitu, Bi? Orang aku liat sendiri kok,” saut Zara kemudian. Disaat yang sama Dewa datang mendekat. “Bahas apa nih? Seru banget ketawanya?” tanya Dewa. Seketika Ibi melotot pada Zara, tidak memberi kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Awas aja kalo Zara bahas-bahas kayak gitu di depan Dewa! Kan malu. “Enggak, itu rambut Ibi sampe berantakan saking kencangnya naik jet ski.” Zara langsung mengalihkan pembahasan. Dia menunjuk ke rambut Ibi. Tentu Dewa ikut tersenyum karena itu. Dia bahkan merapikan rambut Ibi, menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu “Gak apa-apa. Masih tetep cantik kok walau berantakan.” “Cieee ...,” refleks Zara menyahut girang, yang sekali lagi mendapat tatapan penuh amarah oleh Ibi. Sungguh jahil sahabatnya itu. Persis seperti yang Zara katakan tadi. Tiba gilirannya main jet ski, dia berboncengan dengan operator cowok yang ditunjuknya tadi. Dia bahkan sudah bertukar nomor ponsel dengan cowok itu. Sungguh luar biasa Zara. Secepat kilat dia bisa mengenal seseorang dengan dekat. Berbanding terbalik dengan Ibi. “Kamu tuh beda banget ya sama Zara sifatnya.” Dewa ikut berkomentar. “Sangat. Orang sampai heran kok bisa Ibi malah sahabatan sama orang kayak Zara.” Ibi menjawab dengan senyum. Sifatnya yang sejak kecil tertutup dan susah bergaul malah bisa memiliki sahabat seterbuka Zara. “Tapi berkat Zara juga Ibi pelan-pelan bisa berubah. Tadinya Ibi sama sekali gak punya temen. Gak pernah ngobrol dengan siapapun kecuali dia,” sambung Ibi lagi. “Kalau gitu aku juga harus berterimakasih sama Zara, nih. Usahanya mengubah kamu sukses, sampai kamu mau kenal dekat dengan aku.” Senyum lebar tersungging di bibir Dewa. “Iya-ya, bener juga. Hehehe.” Ibi dan Dewa pun tertawa bersama. Mereka duduk menikmati air kelapa sembari menunggu Zara yang asik bermain jet ski bersama gebetan barunya. Di kota lain, seorang gadis yang tak kunjung bisa tenang terus saja memikirkan pemilik hatinya. Dia sudah tidak tahan lagi menunggu hingga akhirnya memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat. Kebetulan itu hari sabtu, jadwalnya gadis itu libur bekerja, sebab dia mengabdi di kantor milik pemerintah. Sedang asik tertawa bersama, tiba-tiba ponsel Dewa berbunyi singkat, pertanda ada pesan yang masuk. Langsung dia mengambil ponselnya di dalam tas lalu membuka pesan tersebut. Tertulis nama Hanin disana. Dewa sudah mengganti nama kontak gadis itu yang semula disimpannya dengan tulisan My love, kini hanya dengan nama aslinya saja. Sungguh Dewa sudah menggeser jauh posisi Hanin di hatinya. Berganti dengan Ibi yang selalu bisa dia pandang dan bahkan bisa dia sentuh kapanpun itu. Mck, mau apa sih, Hanin? Padahal udah aku bilang jangan ganggu dulu tapi malah masih kirim pesan. Dewa merasa terganggu dengan pesan tersebut. Agar moodnya tidak berantakan dia memilih untuk tidak membuka pesan itu, mengacuhkannya seolah tidak penting. “Siapa?” Entah kenapa tiba-tiba Ibi malah jadi kepo menanyakan perihal pesan yang masuk ke ponsel Dewa. Padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli soal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD