Dipijat

1141 Words
“Gak tau nih, pesan nyasar.” Jelas Dewa berbohong. Namun sialnya kebohongan itu harus terus bertambah, sebab hanya berselang lima menit pesan yang baru dari Hanin kembali masuk. Astaga, Hanin! Ada urusan apa sih sebenarnya dia?! Dewa menggerutu kesal bersamaan dengan pertanyaan Ibi yang berulang. “Kalo itu siapa?” Sungguh Ibi tidak seperti biasanya. Mungkin dia terlalu tidak memiliki pekerjaan hingga sempat-sempatnya memerhatikan ponsel Dewa yang sudah berbunyi dua kali. “Ini dari ibukku. Biasa nanyain kabar.” Dewa tersenyum menjelaskan. Jawabannya tepat, karena Ibi pasti tidak akan bertanya lagi jika ada rentetan pesan lain yang masuk. Dianggapnya Dewa sedang berbalas pesan dengan ibunya sendiri. Namun nyatanya dua pesan yang Hanin kirimkan tadi tidak satupun yang dibalas oleh Dewa. Jangankan dibalas, dibaca saja tidak. Lelaki itu sungguh keterlaluan. Apa salah Hanin hingga dia tega berlaku seperti itu? Tidakkah dia menyisakan sedikit saja rasa cintanya yang dahulu begitu besar pada Hanin? Tidak adakah celah lagi di hatinya yang masih menyimpan nama Hanin disana? Fix Dewa sungguh sudah dimabuk cinta karena Ibi. Liburan empat hari tiga malam yang dipersiapkannya demi Ibi, dia maksimalkan sedemikian rupa hingga tidak memberi kesempatan pada siapapun untuk mengganggu. Dewa sudah tidak main-main soal ini. Berawal dari ketertarikan, penasaran, suka, nyaman, hingga menjadi cinta. Cinta yang begitu besar yang akan melukai dirinya sendiri tanpa dia sadari. Tuhan menciptakan rasa bukan untuk kita lebihkan porsinya. Sukailah seadaanya, begitupula dengan mencintai. Karena sesungguhnya sesuatu yang berlebih-lebihan adalah sifat syaiton. Waktu terus berlalu hingga akhirnya menjelang sore. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel sebab seharian sudah letih bermain olahraga air. Dewa juga berinisiatif memesan makan malam ke kamar agar tubuh mereka yang sudah letih tidak lagi harus melangkah keluar untuk mengisi perut. Selesai makan malam, Zara sibuk dengan ponselnya. Ternyata dia sedang berkirim pesan dengan cowok operator water sport yang dikenalnya tadi. Sementara itu Dewa dan Ibi duduk berdampingan di dekat jendela kamar. “Kamu udah ngantuk, Bi?” tanya Dewa. “Belum, sih. Tapi capek banget seharian main tadi.” Ibi menjawab dengan senyum. “Mau aku pijetin gak?” Reflek Ibi terpelongo dengan tawaran Dewa. “Hah?” Yang ada di pikiran Ibi adalah Dewa menawarkan diri untuk memijat tubuhnya. Apakah itu mungkin? Itu berarti Dewa akan menyentuh setiap lekuk tubuh Ibi dengan kedua tangannya. “Siniin kaki kamu, biar aku pijetin.” Rupanya yang Dewa tawarkan adalah memijat kakinya, bukan seluruh badan. Ibi sudah berpikir terlalu jauh. Tanpa bicara lagi Dewa langsung meraih kaki Ibi dan dia letakkan di atas pahanya. “Eh, gak usah. Dewa ‘kan juga capek, masa mijetin Ibi.” Ibi menolak. Dia kembali menurunkan kakinya. “Gak apa-apa, Bi. Aku ‘kan cowok, kegiatan outdoor begitu udah biasa. Kamu yang gak terbiasa pasti capek banget. Sini aku pijetin, biar besok kita bisa jalan-jalan lagi. Besok hari terakhir kita disini loh, Bi. Sayang banget kalo gak kemana-mana.” Apa yang Dewa katakan memang benar. Tapi Ibi tidak sampai hati memberikan kakinya untuk Dewa seperti itu. “Tapi ..., Ibi gak enak hati kalo Dewa pangku kaki Ibi kayak gitu. Gak sopan banget kesannya.” Kembali Ibi menolak. “Ya udah kalo gitu di atas tempat tidur aja yuk. Kamu duduk selonjoran kaki, biar aku pijetin.” Belum Ibi menjawab tapi Dewa sudah menarik tangan Ibi menuju ke kamarnya. Meminta Ibi duduk di atas ranjang dengan meluruskan kedua kaki lalu kemudian dia segera memainkan jarinya di atas kaki Ibi. Ya Allah, Dewa kok baik banget ya. Kayaknya gak bakal ada lagi cowok yang sebaik dia sama Ibi. Ibi beruntung bisa kenal sama Dewa. “Makasih ya, Dewa,” ucap Ibi kemudian. “Kan aku belum selesai mijetinnya, kok kamu udah bilang makasih.” Dewa tertawa kecil. “Makasih karena udah baik banget sama Ibi. Gak ada orang yang sebaik Dewa, serius deh.” Ibi menjelaskan maksudnya membuat senyum Dewa semakin lebar mengembang. “Iya, Bi. Buat kamu apapun pasti aku lakuin,” ucap Dewa. “Kenapa gitu?” tanya Ibi polos. “Karena aku sayang banget sama kamu, Bi. Sayang banget.” Dewa mengutarakan isi hatinya. Namun lagi-lagi Ibi selalu salah memahami. Tidak ada jawaban dari Ibi. Dia hanya tersenyum tapi di hatinya ucapan tersebut seolah ungkapan perasaan seorang kakak pada adiknya. Memang Ibi terlalu polos untuk yang satu itu. Bukan karena dia tidak paham dengan perasaan suka lawan jenis, melainkan karena perbedaan usia yang begitu jauh antara dia dengan Dewa membuatnya berpikir demikian. Di benaknya lelaki dewasa seperti Dewa tidak mungkin memiliki perasaan sayang layaknya pasangan terhadap anak kecil seperti dia. Sebab apa yang bisa diharapkan dari anak SMA sepertinya. Pacaran saja baru satu kali dan itupun gagal jadi tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia yang cupu ini. Maka hanya sampai disitu Ibi memahami perasaan yang Dewa punya. Dia sudah lebih dulu menjengkali dirinya yang tidak layak diberikan perasaan berlebih dari seorang lelaki dewasa yang baik, ganteng, dan mapan seperti Dewa. Coba kalo Dewa seumuran sama aku, atau paling gak kakak kelasku. Pasti kita udah pacaran dan jadi pasangan yang adem dan hepi terus. Soalnya Dewa baik banget, sweet pula. Tanpa sadar Ibi yang melamun sambil kakinya terus dipijat oleh Dewa menutup matanya. Dia tertidur, masuk ke alam mimpi dengan posisi duduk bersandar dengan kaki yang selonjoran. Capeknya seharian tadi menjadi alasan besar dia tertidur seperti itu. Dewa lantas menggendong tubuh Ibi sedikit, membenahi posisi tidirnya hingga dia terlentang dan kepalanya berada di atas bantal. Beberapa saat Dewa memandang wajah polos Ibi yang tertidur. Rasanya ingin sekali dia mencium kening gadis itu, tapi dia urungkan. Tidak ingin Ibi salah paham atau malah nanti dia jadi menginginkan yang lebih. Biarlah rasa itu dia tahan untuk nanti dia tuai hasilnya dipenghujung perjuangan cintanya pada seorang Ibi. Lalu dimana Dewa tidur? Apakah dia akan tidur satu ranjang dengan Ibi berdampingan? Sebab yang ditiduri oleh Ibi saat ini adalah kamarnya. Apa yang akan Zara katakan nanti jika itu benar terjadi? Dewa tidak seceroboh itu. Dia melangkah menuju kamar satunya, bermaksud memanggil Zara agar mereka bertukar tempat tidur malam ini. Membiarkan Ibi dan Zara di ranjangnya, sementara dia di ranjang mereka. Tapi Tuhan berkata lain. Tidak jauh berbeda dengan Ibi, Zara juga merasa letih bermain seharian di luar. Dia sudah tertidur pulas bahkan tubuhnya pun sudah berbalut selimut. Kasihan jika dibangunkan. Kira-kira apa pilihan Dewa selanjutnya ya? Tidak mungkin dia tidur di lantai. Tubuhnya pun letih seharian ini. Dewa lantas mendapat sebuah ide. Dimatikannya pendingin ruangan di kamarnya lalu kemudian dia membuka lebar connecting door agar hawa dingin dari kamar sebelah masuk ke kamarnya sedikit-sedikit. Lalu Dewa pun mengambil sebuah bantal untuk alas sandaran kepalanya. Rupanya dia rebahan di atas sofa kecil yang ada di kamar itu. Namun karena sofanya tidak panjang, Dewa terpaksa melipat kakinya. Sungguh posisi yang tidak nyaman. Tapi dia bahagia. Sebab dia berada dalam satu kamar dengan gadis pujaannya. Bisa menatap wajah polos itu sampai matanya lelah dan tertutup. I love you, Bi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD