Hari ini hari Minggu, hari libur buat Dewa dan mungkin buat sebagian pekerja lainnya. Setelah sarapan dan membersihkan diri, Dewa bergegas menuju warnet berharap bisa bertemu dengan gadis yang beberapa hari mengganggu tidurnya.
Wajah dan senyum manis tanpa lesung pipi itu selalu hadir dalam mimpinya. Menggodanya dan menjeratnya dalam penjara cinta bernama Ibtisam. Namun, Dewa justru bahagia dan ingin selamanya terkungkung di dalamnya. Inilah titik awal perubahan hidup Dewa untuk kedepannya.
Dengan membawa beberapa coklat sebagai hadiah kecil, Dewa berangkat dengan motornya. Mencoba melakukan trik dari sahabatnya Adi, yang bilang bahwa gadis SMA seumuran Ibi masih labil. Jadi pasti gampang dirayu.
Seharusnya, wajah tampan Dewa sudah cukup untuk memikat wanita manapun. Itu menurut Adi. Tapi nyatanya, yang begitu tidak berlaku pada Ibi, gadis manis berwajah kearaban. Hidungnya agak tinggi dan matanya lebar serta senyum bibir tipis tidak berlesung pipi. Uh, membuat hasrat Dewa ingin bisa bersama dan memilikinya mencuat.
Sudah hampir tiga jam dia duduk di bilik komputernya. Tidak ada tanda-tanda gadis idamannya datang. Dewa mulai bosan, dia sebentar-sebentar berdiri dan melongokkan kepala. Namun yang di tunggu tidak juga muncul. Dewa lalu memilih pergi dari warnet dengan kecewa karena tidak bisa bertemu dengan gadis yang dirindukannya.
'Drrrrtttt.'
Saat dia baru saja melajukan motornya beranjak pergi, ponsel di saku Dewa bergetar. Nama Hanin tertera di sana. Dewa pun menepikan motor ke pinggir.
Sejenak dia teringat akan gadis yang sudah hampir empat tahun menjadi pacarnya. Hanin, pegawai swasta konsultan pajak sebuah perusahaan di Surabaya. Gadis yang dengan sabar menunggu Dewa merantau di tanah Sumatera. Yang berjanji akan dia nikahi setelah masa tugasnya di perantauan usai.
Hanin dan Dewa berpacaran bukan karena paksaan. Walau mereka masih kerabat jauh, tapi hubungan mereka berawal dari suka sama suka. Bukan karena sengaja dijodohkan. Namun sejak bertemu dengan Ibi, si gadis belia tanpa lesung pipi, fokus Dewa terhadap Hanin terpecah. Terbukti dengan seminggu belakangan Hanin terus yang meneleponnya lebih dulu, dan bukan dia.
"Halo. Assalamualaikum,” sapa Dewa setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
"Waalaikumsalam. Gimana kabarnya Mas? Lagi apa kamu? Sudah makan? Jangan sampe telat makan loh, Mas," ucap suara lembut dari seberang telepon.
"Alhamdulillah sudah. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu capek, Nin. Inget kamu punya anemia, vitaminnya di minum.” Sejak SMA Hanin memang mengidap darah rendah.
Saling menyapa meskipun lewat komunikasi suara mereka lakukan. Tiap malam dan setiap libur kerja mereka saling bertukar cerita untuk mengeratkan hubungan yang sudah lama mereka jalin. Demi jenjang karir Dewa, mereka rela menjalani LDR hampir satu tahun.
"Tuuuut tuuut tuuut." Baru sebentar berbicara, tiba-tiba panggilan terputus.
"Lah, hapeku mati." Dewa menghembuskan napas kasar. Semalam dia lupa mencharger ponselnya karena terus saja bicara dengan Adi tentang bagaimana cara mendekati cewek ABG, seperti Ibi.
Dewa lalu menolehkan kepalanya ke kanan kiri mencari wartel (warung telepon) terdekat. Dia tidak ingin membuat pacarnya itu merajuk hanya karena masalah kecil, dan Dewa bermaksud mengabari Hanin bahwa ponselnya mati karena kehabisan baterai. Celingukan dia memutar kepalanya. Akhirnya dia lihat sebuah plang nama bertuliskan 'Wartel Ibtisam' yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya menepi, tepat di sebelah Mama Corner.
Ibtisam, nama itu tentu saja sudah familiar di telinganya bahkan di hatinya. Hanya dengan membaca namanya di sebuah plang nama saja, sudah membersitkan suka menghilangkan duka. Menciptakan bahagia hingga senyum tersungging di bibirnya.
Bergegas Dewa berjalan ke wartel dengan nama Ibtisam. Apa nama itu milik orang yang sama? Semoga ....
Senyum yang tersungging kini semakin merekah melihat sosok yang dia tunggu kedatangannya di warnet sampai hampir empat jam itu, ternyata sedang duduk di balik meja komputer operator wartel. Seperti menemukan jarum di tumpukan jerami, Dewa bersorak dalam hati. Akhirnya, hari ini dia bisa melihat wajah penguar rindu yang perlahan menjadi candu itu.
Ibi terlalu sibuk dengan tugas yang dia kerjakan. Sampai dia tidak tahu Dewa sudah masuk ke salah satu bilik wartelnya. Sesekali dia mendengus sambil menyobek lembar kertas lalu meremasnya dan membuangnya ke keranjang sampah di sudut tempatnya duduk.
Tugas menggambar. Sumpah demi apapun, menggoreskan pensil dan menjadikannya suatu objek yang sedap dilihat adalah kelemahan Ibi. Jangankan lukisan abstrak, menggambar sebuah bangun ruang atau sekedar menggambar gunung seperti anak TK saja dia tidak bisa. Jari-jarinya bergetar tidak karuan jika sudah berhubungan dengan gambar-menggambar. Niat ingin menorehkan lengkungan halus malah jadi lengkungan keriting dari ujung ke ujung. Jauh dari ekspetasinya. Intinya Ibi tidak bisa menggambar.
Dewa masih duduk di dalam biliknya walau dia sudah selesai memberi kabar pada Hanin, sang kekasih, jika ponselnya mati karena kehabisan daya. Sekarang waktunya dia memandang gadis di balik meja operator. Dewa begitu betah memandang ekspresi wajah Ibi yang berubah-ubah dan terlihat menggemaskan.
"Ya Allah, Ibi nyerah!" Untuk kesekian kalinya, Ibi merobek dan meremas kertas gambarnya. Matanya terpejam dan bibirnya mengerucut panjang ke depan. Entah sudah berapa banyak kertas yang sudah dia robek dan berakhir di tempat pembuangan.
Melihat keadaan wartel sudah sepi, Dewa lalu keluar dari biliknya dan berniat mengajak Ibi ngobrol agar mereka bisa dekat.
"Ruang nomor tiga ya, Bang? Nih, dua belas ribu." Ibi dongakkan kepala untuk menyerahkan struk ke pelanggannya.
Betapa terkejutnya dia begitu melihat wajah yang tidak asing, yang beberapa hari ini mengikutinya dan berusaha mengajaknya bicara. Dengan wajah datar, antara tidak suka melihat Dewa dan kesal karena tugasnya yang belum terselesaikan, Ibi menyerahkan struknya.
"Apa gak takut pelanggannya pergi kalo ngelayaninnya sambil cemberut gitu?" seloroh Dewa. Ibi hanya diam. Hari ini dia benar-benar kesal dan malas meladeni pria dewasa yang kurang kerjaan seperti Dewa. Dan lagi dia juga tidak takut, sebab dia berada di kawasannya sendiri.
"Ada yang bisa aku bantu? Kayaknya lagi bete? Bikin puisi buat pacarnya ya?" Dewa berusaha membuat Ibi tertarik untuk sekedar mengobrol dengannya.
"Hih, boro-boro nulis puisi, pacarnya aja gak punya." seru Ibi dengan nada kesal. Dewa tersenyum dengan perlakuan Ibi yang membuatnya semakin gemas.
"Terus?" Dewa terus berusaha menarik perhatian Ibi.
Ibi ragu memberi tahu pria asing di depannya. Karena banyak motif para p*****l ingin menjerat mangsanya. Ih, ngeri! Tapi sebenarnya dia butuh bantuan dan siapa tahu pria tampan yang dari tadi tidak berhenti tersenyum itu bisa mengerjakan tugasnya.
Ibi menunjukkan pensil dan kertas gambar yang ada dihadapannya sekarang.
“Tugas sekolah, ya?” tanya Dewa.
"Iya, menggambar sketsa,” jawab Ibi sambil menganggukkan kepala. Lagi-lagi Dewa tersenyum.
Akhirnya, dia berhasil menarik perhatian gadis cantik yang sudah beberapa hari ini menjadi incarannya. Dewa yang dari tadi berdiri dengan menopang tangannya di atas etalase berisi beberapa aksesoris ponsel, menyodorkan tangan, meminta pensil dan kertas gambar Ibi.
"Kamu rencananya mau bikin apa?" tanya Dewa sebelum memulai. Ibi menaikkan kedua bahunya pertanda dirinya juga tidak tahu harus menggambar apa sejak tadi.
“Kalau aku bikin sketsa abstrak gimana? Kamu tahu ‘kan apa maksudku.” Ibi menggelengkan kepala. Dewa lalu tersenyum. Dia mulai menggerakkan pensilnya menari di atas kertas gambar.
"Menggambar abstrak itu seni kontemporer, yang gak harus berbentuk tapi bermakna. Jadi coret saja di atas bidang yang ingin kamu gambar. Gak apa-apa gak berbentuk karena apa yang kita torehkan adalah ungkapan hati. Syukur kalo ada yang paham." Dewa menjelaskan sambil terus menggerakkan tangannya.
Ibi memandang lekat pada jari yang menurutnya hanya coret-coret asal. Tidak ada gambar yang terbentuk.
"Namaku Sadewa. Kamu bisa memanggilku Dewa." Dewa memperkenalkan diri sambil terus fokus menggambar. Berharap kali ini Ibi mau melakukan hal yang sama.
Ibi mendongakkan kepalanya sekilas. Nama itu tidak asing, tapi apa benar dia pria yang sama? Ah, tidak mungkin. Pasti kebetulan saja namanya yang sama.
"Namaku Ibtisam, Bang. Biasa di panggil Ibi," ucap Ibi dengan wajah polos.
'Yes!' Dewa bersorak dalam hati. Akhirnya dia bisa menarik perhatian gadis berusia enam belas tahun di depannya itu.
"Berarti ini wartel punya Ibi?"
"Punya orang tua Ibi, Bang. Tiap hari habis maghrib juga hari libur Ibi yang jaga." Saking polosnya, Ibi sampai mengatakan kapan saja dia berada di wartel itu. Membuat Dewa tersenyum walau konsentrasi dengan lukisan yang dia buat.
"Boleh ya, tiap malam aku main ke sini?” Ini kesempatan yang tidak boleh dia sia-siakan. Daripada menunggu di warnet tidak jelas, lebih baik dia langsung ke sini setiap habis maghrib dan hari libur, pikir Dewa.
"Ngapain, Bang?" seru Ibi dengan mengawinkan alisnya.
"Ya nggak ngapa-ngapain. Kali aja kamu butuh bantuan aku seperti hari ini," ucap Dewa sambil menyodorkan hasil gambarnya. Sebuah lukisan wajah dengan senyum manis dan sekuntum mawar di tangan.
"Wow, bagus banget!" pekik Ibi sambil setengah melonjak senang. "Terima kasih ya Bang .... Abang boleh deh main ke sini tiap hari,” pekik Ibi lagi dengan girang. Yang di pikirkannya saat ini adalah lumayan ada yang membantunya mengerjakan tugas.
Dalam hati Dewa pun bersorak, akhirnya dia bisa selalu bersenda gurau dengan gadis impiannya. Cokelat yang Dewa bawa pun tidak berarti apa-apa. Hanya dengan garisan tangan di atas kertas gambar ‘lah dia bisa menarik perhatian Ibi.