Hari berikutnya, selepas magrib Dewa bergegas melajukan motor menuju wartel Ibi. Malam ini dia membawa sebuah buku yang berisi coretan tangannya. Ternyata selama ini untuk mengisi kebosanan di kost, Dewa senang melukis abstrak.
Sampai di wartel Ibi, Dewa langsung masuk ke bilik telepon. Menelepon Hanin sejenak, kemudian barulah dia berbincang bersama Ibi.
Dewa menunjukkan hasil coretan tangannya pada Ibi. Ya, lewat lukisan abstrak bikinannya dia menarik perhatian Ibi lebih dalam. Dewa seolah menjadi guru di depan Ibi. Menjelaskan bagaimana sesungguhnya melukis itu. Tidak dengan logika melainkan dengan rasa. Rasa yang tertuang lewat goresan pensil dengan memainkan imajinasi si pembuatnya.
“Ih, tapi tetap aja itu sulit buat Ibi,” protes Ibi disela-sela perbincangan mereka.
“Gak ada yang sulit asal kita mau belajar,” ucap Dewa bijak.
“Ya udah kalau gitu Ibi gak mau belajar melukis, menggambar atau sejenisnya. Toh, cita-cita Ibi bukan jadi pelukis kok.” Ibi menjawab enteng, membuat Dewa tersenyum. Memang sungguh menggemaskan gadis di depannya itu. Sifat ngototnya bikin Dewa semakin menyukainya.
“Terus cita-cita kamu apa?”
“Pengennya sih Ibi jadi fashion stylist, tapi kayaknya gak mungkin deh. Baba pasti gak ijin.” Raut wajah Ibi berubah ketika ditanya soal cita-cita.
“Ntar palingan Ibi disuruh kuliah ke Mesir. Ujung-ujungnya jadi dosen atau ustadzah di pondok pesantren,” sambung gadis bermata hitam pekat itu.
“Baba?” Dewa meyakinkan pendengarannya.
“Ya, Baba, ayahnya Ibi. Dari dulu Baba tuh pengen salah satu anaknya ada yang kuliah di Mesir. Dan faktanya kedua kakak Ibi kuliah di Indonesia semua. Cuma sisa Ibi doang yang belum kuliah. Itu artinya mau gak mau ntar Ibi deh yang akan berangkat ke Mesir.” Ibi menarik sudut bibirnya sebelah sambil menghela napas. Kenyataan berat yang harus dia alami nantinya, sebab hanya dialah harapan terakhir sebagai anak bungsu. Keinginan orang tua yang tidak bisa ditolak jika nanti saatnya tiba.
“Kecuali ...,” sambung Ibi lagi namun terputus. Jelas kalimatnya yang satu ini membuat Dewa penasaran.
“Kecuali apa?” Entah kenapa Dewa antusias menunggu pengecualian itu. Seolah ada harapan untuknya disana sebelum Ibi benar-benar akan berangkat ke Mesir.
“Kecuali Ibi ketemu jodoh dan menikah setelah lulus sekolah. Hahaha, gak jadi kuliah deh.” Mata Ibi menyipit saat dia tertawa.
Pantas gak kalau aku yang memintamu menjadi jodohku nanti, Bi?
Terlintas pertanyaan itu di benak dewa. Ya, begitu terpikatnya dia dengan gadis belia di hadapannya itu hingga berharap menjadi jodohnya. Padahal pertemuan dan perkenalan mereka belum lama. Bahkan untuk sekedar ngobrol langsung pun baru dua hari ini mereka lalui.
Setelah satu jam berbincang dengan gadis pujaannya, Dewa pamit pulang. Dia merebahkan tubuh di atas kasur di kamar kostnya. Memejamkan mata namun pikiran mereka ulang perbincangannya di wartel tadi.
Senyum manis Ibi dan tawanya yang lepas tergambar jelas di pelupuk mata Dewa. Belum lagi dengan kepolosan Ibi, kalimat gadis itu sangat apa adanya. Apa yang dia suka dan tidak dia suka, diutarakan secara gamblang. Ibi juga tipe anak yang penurut dengan orang tua. Semua pesan dan wejangan orang tuanya selalu dia ingat. Contohnya ya saat Dewa mengintilinya waktu itu. Ibi mengungkapkan kalau dia mengira Dewa adalah seorang p*****l, hingga dia ketakutan dan harus extra hati-hati. Tentu kenyataan itu membuat Dewa tertawa geli.
Polos tapi sangat mengesankan. Begitulah penilaian Dewa terhadap Ibi.
Hari berganti kedekatan Ibi dengan Dewa pun menjadi intens. Mereka bahkan baru saja bertukar nomor ponsel. Kebetulan saat itu Ibi baru saja dibelikan ponsel oleh kakaknya sebagai hadiah ulang tahun.
“Jadi kamu hari ini ulang tahun?” Dewa sedikit terkejut. Dia merasa kecolongan moment ini. Saking senangnya berbincang dengan Ibi setiap malam dia sampai lupa menanyakan tanggal lahir gadis itu.
“Iya, makanya Ibi dapet hadiah handphone. Ih, seneng banget deh.” Saat usianya tepat enam belas tahun Ibi baru memiliki ponsel.
“Kalau hadiah aku nyusul hari sabtu, bisa gak?” Dewa menatap Ibi yang sibuk memencet-mencet ponsel barunya.
“Maksudnya?” Ibi mendongak, mengalihkan pandangan dari ponsel ke pria dewasa di hadapannya.
“Aku mau kasi kamu kado juga. Tapi hari sabtu. Bisa gak?” Ibi mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
Ya, kalau mau kasi kado ya kasi aja. Kok pake bisa atau enggak sih. Bikin bingung aja.
Paham dengan kebingungan Ibi, Dewa menjelaskan.
“Hari sabtu nanti kamu pulang sekolah jam berapa? Aku mau ajak kamu pergi, beli sesuatu yang kamu sukai.”
“Jadi Ibi disuru milih kado buat Ibi sendiri?” Dewa mengangguk. Dilihatnya sorot bahagia di mata gadis pujaannya itu.
“Eh tapi ...” Tidak sampai satu menit sorot bahagia itu hilang dari tempatnya.
“Tapi apa?” Ibi memang selalu bisa membuat Dewa penasaran dengan kalimat sepenggalnya.
“Ibi pasti gak bakal diijinkan mama pergi. Apalagi sama cowok. Bolehnya cuma sama temen cewek doank. Itu juga Zara, bukan yang lain,” terang Ibi. Memang orang tua Ibi sangat membatasi pergaulannya dengan teman lain jenis. Hanya Zara lah satu-satunya sahabat terdekat Ibi setelah Vera yang pindah keluar kota.
“Kalau gitu ajak Zara sekalian bareng kamu. Ntar aku jemput ke sekolah.” Ibi buru-buru menggeleng.
“Eh, jangan! Ntar keliatan sama guru Ibi bisa bahaya. Diaduin ke mama. Soalnya mama anggota aktif komite sekolah.” Dewa tersenyum. Begitu susahnya mengajak si anak mama untuk pergi, pikirnya. Tapi Dewa tidak kehabisan ide.
“Tenang, aku gak akan turun dari taksi. Aku tunggu kamu di ujung jalan sekolahan. Ntar aku kasih tau nomer plat taksinya, biar kamu mudah nyarinya.” Sekarang giliran Ibi yang tersenyum, setuju dengan rencana Dewa.
Waktu bergulir sampailah hari dimana Dewa dan Ibi janjian untuk pergi. Sesuai dengan rencana, Dewa menjemput Ibi dengan menunggu di dalam taksi sampai gadis itu dan temannya datang menghampiri.
Setelah kehadiran Ibi dan Zara masuk, supir taksi langsung tancap gas ke tempat yang telah diutarakan oleh Dewa. Sementara Zara yang baru pertama kali bertemu dengan Dewa langsung menatap pria itu tanpa henti.
“Hai,” sapa Dewa dari kursi depan sebelah supir. Dia tahu kalau Zara terus memperhatikannya.
“Eh, iya, kenalin. Ini Zara temen Ibi.” Zara dan Dewa pun berjabat tangan. Di dalam benak Zara dia mengakui wajah oke pria dewasa di hadapannya. Ada lesung pipi di pipi sebelah kanan Dewa. Kulitnya putih untuk ukuran seorang lelaki. Matanya jernih dan bibirnya cerah, menandakan kalau Dewa bukan seorang perokok.
“Dewa,” ucap pria dewasa itu.
“Zara.”
“M ..., kayaknya aku pernah denger nama yang sama deh. Tapi dimana ya?” Zara mengerutkan kening seperti mengingat sesuatu.
“Di film ultramen, Ra. Dewa kegelapan. Hahaha ....” Ibi tertawa menyahut.
Waduh, dikatain Dewa kegelapan sama dia. Dewa menghela napas pelan dari kursinya.
“Kalo gak salah namanya sama ya kayak temen chatingan kamu waktu itu, Bi.” Rupanya ingatan Zara kuat. Terutama bagian tentang dunia perlaki-lakian.
“Memang aku orang yang sama,” ucap Dewa jujur. Sontak dua gadis belia di kursi belakang melotot dan saling berpandangan.