Penjelasan Dewa

1339 Words
“Apa??!” Zara dan Ibi serentak bertanya dengan kencang, membuat supir taksi terkejut. “Eh, ayam, ayam, ayam.” Tidak tahunya si supir taksi memiliki penyakit latah. Lengkap sudah kehebohan yang terjadi di dalam taksi hanya gara-gara sebuah kalimat dari mulut Dewa. “Pak, tenang dulu, Pak.” Dewa mengusap bahu si supir. “ Kita minggir sebentar bisa 'kan?” pinta Dewa dan supir pun menurut. Kebetulan taksi berhenti di depan warung kecil penjual rokok dan minuman kaleng. Dewa keluar dari taksi menuju ke warung. Setelah beberapa saat pria dewasa itu kembali dengan membawa kantungan berisi empat kaleng minuman. Dia bagikan pada si supir, Zara dan Ibi. Namun Ibi tidak mau menerima. Alisnya bertaut, menunggu penjelasan atas kalimat Dewa tadi. “Aku jelasin di luar ya, biar kita ngobrol berdua,” ucap Dewa. “Eh tapi Mas, ini argo taksinya jalan terus loh. Ntar kalo kelamaan ngobrol bisa meledak bayarnya.” Khawatir si supir. “Gak apa-apa, Pak. Pasti saya bayar kok.” Dewa tersenyum kemudian membuka pintu mobil menunggu Ibi di luar. “Bi, buruan keluar gih. Dia mau jelasin tuh.” Zara menyenggol lengan Ibi yang hanya duduk diam. “Kita kabur aja yuk, Ra. Jangan-jangan dia penipu,” bisik Ibi. Sifat negatif thinking-nya keluar saat itu juga. “Ih, apaan sih. Jangan mulai deh, Bi, penyakit netingnya. Kalian ‘kan udah deket sebulan ini. Udah buruan sana, dengerin penjelasan dia dulu. Dari yang aku liat, kayaknya dia orang baik kok,” saran Zara. Mau tidak mau Ibi menurut. Ibi keluar dari taksi menghampiri Dewa. Raut curiga tampak jelas di wajahnya. Dia juga menjaga jaraknya dari Dewa. Berjaga-jaga jika hal buruk yang ada di pikirannya terjadi. “Maafin aku ya. Kamu pasti jadi mikir kalau aku penipu.” Dekat dengan Ibi sebulan ini sedikit banyaknya membuat Dewa paham sifatnya. “Aku memang Dewa yang kamu kenal di aplikasi chat. Aku tau kalau kamu Ibtisam ketika beberapa kali kita satu warnet dan berada di bilik yang bersebelahan. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan kamu dengan temenmu. Waktu itu kalian membicarakan tentang seseorang yang bernama Dewa. Ceritanya persis seperti perkenalan kita di aplikasi chat. Tentu aku jadi penasaran, langsung kutanyakan namamu pada Mas operator warnet. Dan dia bilang namamu Ibtisam.” Dewa menyunggingkan senyum tapi dibalas Ibi dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya. Tatapan curiga. “Hari itu juga aku menunggu kamu selesai di warnet. Lalu saat kamu keluar menuju pulang, aku ikuti kamu dari belakang. Aku gak bermaksud apa-apa, Cuma ingin menjelaskan kalau aku adalah Dewa yang kamu kenal. Tapi saat aku mengajakmu bicara, kamu kelihatan gak nyaman. Kayak takut gitu ngobrol sama aku.” “Hari berikutnya aku melakukan hal yang sama, mengikuti kamu untuk bisa bicara dengan kamu. Tapi yang ada kamu malah makin takut sama aku. Sampai akhirnya aku kembali mendengar percakapan kamu dengan Zara kalau kamu mengira aku adalah seorang pedofil.” Dewa menunduk. “Jujur aku sempat putus harapan untuk kenal dekat dengan kamu. Aku pikir daripada kamu salah paham, lebih baik aku berhenti mendekati kamu. Tapi gak tahunya takdir malah mempertemukan kita sekali lagi di tempat berbeda. Tanpa sengaja aku mampir ke wartel kamu. Sumpah, aku bener-bener gak tahu kalau itu punya kamu atau kamu ada disana saat itu. Dan terjadilah kedekatan kita sampai sekarang ini.” Dewa selesai dengan pengakuannya, tapi Ibi masih belum puas. “Terus kenapa gak cerita ke Ibi kalau kamu orang yang sama dengan yang di chat?” “Aku khawatir kamu salah paham lagi, sebab kita sudah berkenalan dengan cara yang baik di wartel kamu. Aku pikir bukan hal penting lagi untuk menjelaskan tentang itu.” Ibi masih juga belum puas. “Percayalah, Bi, aku gak punya maksud buruk sama kamu. Sumpah! Aku hanya ingin mempunyai hubungan baik. Saling ngobrol dan saling bercanda seperti sebelumnya.” Kali ini Dewa menatap Ibi penuh harap. Dia tidak mau hubungan baik yang sudah susah payah dia jalin dengan Ibi rusak begitu saja. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Ibi memilih untuk percaya. Mereka berdua kembali masuk ke dalam taksi dan meneruskan perjalanan. Ternyata tempat yang dituju adalah toko buku terbesar di kota itu. Ibi bingung, bertanya-tanya apa maksud Dewa sesungguhnya mengajak mereka kesana. Turun dari taksi Dewa mengajak mereka naik ke lantai atas toko buku. Tampak ruangan besar dengan ratusan ribu buku tersusun disana. Dewa melanjutkan langkahnya ke rak paling kiri di sudut, di ikuti Ibi dan Zara dari belakang. Begitu sampai, terlihat ratusan buku di hadapan mereka. “Maksudnya apa? Kok kita kesini?” Ibi belum paham maksud Dewa. “Pilih yang kamu suka. Sesuai yang aku bilang kemarin, aku mau kasih kado buat kamu.” Senyum tulus terukir di bibir Dewa. Dia menunjuk ke rak buku yang bertuliskan fashion. Apa yang Dewa lakukan sungguh tepat sasaran. Dia menembak langsung ke hal yang begitu Ibi sukai. Selama ini Ibi hanya melihat trend fashion dari internet. Untuk membeli majalah fashion dengan uang sendiri merupakan hal yang tidak masuk dalam perhitungannya, sebab uang saku yang diberikan orang tuanya pas pasan. Tidak kurang juga tidak lebih. Jangan ditanya bagaimana senangnya Ibi sekarang. Dia memandang Dewa dengan sorot mata bahagia. “Tapi ini 'kan mahal,” ucap Ibi jujur, tidak mau memberatkan Dewa. “Sekali dalam setahun gak ada salahnya 'kan? Aku beneran pengen kasih kamu kado, Bi. Lagipula aku baru dapat bonus kok dari kantor.” Kembali senyum tulus terukir di bibir Dewa. Sedikit berbohong soal bonus yang sesungguhnya tidak ada sama sekali kecuali di akhir tahun saat tutup buku. Itupun jika perusahaannya surplus. Saat itu juga Ibi menyunggingkan senyum lebar di depan Dewa. Mata bulatnya menyipit. Ini belum ada apa-apanya, Bi. Aku akan usahakan untuk kasih kamu yang terbaik sepanjang yang aku bisa. Bahkan seandainya kita memang jodoh, cita-cita kamu adalah prioritas utamaku. Sungguh sudah terlalu dalam Ibi memasuki hati Dewa hingga dia berharap begitu besar pada gadis belia di hadapannya. Padahal perasaan seperti itu tidak seharusnya terjadi. Ada hati yang jelas-jelas wajib Dewa jaga keutuhannya. Dia adalah Hanin, gadis berkulit putih dan berparas ayu khas suku Jawa. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Baru saja Dewa membatin tentang perasaannya terhadap Ibi, ponselnya berdering. Tertulis love di layarnya. Hanin yang menelepon. Seolah tahu dan ingin menyadarkan Dewa akan status yang sudah ada diantara mereka. Hanin? Dewa menjauhkan dirinya dari Ibi untuk mengangkat telepon. “Halo, assalammualaikum, Mas,” sapa Hanin di ujung telepon. “Ya, walaikumsalam, Nin.” “Mas lagi dimana? Udah makan belum?” tanyanya. “Belum, sebentar lagi, Nin. Ini Mas lagi di toko buku sebentar, ada yang Mas cari.” Dewa menjawab jujur walaupun tidak seratus persen jujur. “Gitu toh. Oh ya, Mas, iniloh, perasaanku belakangan ini kok ndak enak ya, Mas. Kayak nyesek gitu, tapi ndak tau kenapa. Padahal aku ndak lagi sakit loh, Mas. Aku malah kepikiran kamu terus. Kamu baik-baik aja kan disana?” Ternyata cinta Hanin kepada Dewa begitu kuat. Ikatan batin di antara mereka menyentuh relung hati Hanin saat kekasih hatinya mulai menyalah, melangkah ke lain arah. Mereka jadi terpisah tujuan. Entah hanya untuk sesaat atau tidak, hanya Dewa yang bisa memutuskannya. Yang pasti dengan setia Hanin berusaha menggapai kembali kekasihnya. Menghentikan langkahnya untuk tidak berbelok terlalu jauh hingga tidak terkejar lagi. “Alhamdulillah Mas baik kok, Nin. Udah kamu jangan mikir yang macem-macem. Jaga kesehatan dan selalu doakan Mas di sini.” Kalimat Dewa pada Hanin tetap sama seperti biasanya. Tenang dan seolah bijak. “Ya wis kalo gitu, Mas. Nanti malam kita sambung teleponannya ya. Kamu jangan lupa makan,” ucap Hanin. “Iya, Sayang.” Dewa menutup telepon dengan santai. Tidak ada rasa bersalah di hatinya terhadap Hanin sedikitpun. Dewa terlalu larut dalam keadaan yang membuatnya terbuai dengan yang ada di depan matanya sekarang. Setelah menyimpan ponsel dalam saku celana, Dewa kembali mendekat pada Ibi, menikmati pemandangan yang membuatnya candu. Bola mata hitam pekat Ibi menari-nari, memilih buku fashion yang dia sukai. Sesekali dilihatnya senyum terukir di bibir gadis belia itu. Bi, senyum kamu yang paling aku sukai dari semuanya. Bikin aku gak bisa lepas untuk terus menatap kamu. Oh Tuhan, jodohkanlah aku dengannya ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD