Restoran Favorit Dewa

1162 Words
Setelah dari toko buku, Dewa kembali mengajak Ibi dan Zara menaiki taksi. Laju mobil membawa mereka memasuki mall terbesar di kota itu. “Kok kita kesini?” tanya Ibi gusar begitu taksi berhenti di loby mall. “Iya, gak apa-apa 'kan? Sebentar aja, kita makan siang bareng. Biar aku yang traktir,” jawab Dewa tanpa ragu. Memang sudah menjadi niatnya sejak kemarin. Mengajak ke toko buku lalu mampir untuk makan sebelum mereka pulang. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Ada hal lain yang Ibi khawatirkan. Begitu turun dari taksi, mata Ibi tidak henti menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari sesuatu. “Kamu ngelihat apa, Bi?” Dewa memperhatikan kegelisahan Ibi. “Kayaknya kita salah tempat deh, Bang,” sahut Zara yang berdiri di sebelah Ibi. “Ini mall tempat Baba-nya Ibi kerja. Bisa gawat kalau gak sengaja ketemu Baba,” sambung Zara lagi. “Hah? Serius? Aduh, aku gak tau.” Dewa mengerutkan dahi. Dia salah langkah kali ini. Pantas Ibi terlihat kurang nyaman. Tapi Ibi tidak ingin membuat Dewa kecil hati. Dewa sudah begitu baik dengannya. Jadi tidak ada salahnya dia mengikut hanya untuk sekedar makan bersama. Toh mereka tidak hanya berdua, melainkan bertiga dengan Zara. “Kita mau makan dimana? Buruan masuk, yuk. Sebelum kita beneran ketemu Baba.” Ibi lebih dulu melangkah masuk ke dalam mall. Dia mempercepat langkahnya, diikuti Dewa di samping. Di lantai yang sama di sebelah ujung, mereka memasuki sebuah restoran chinese food yang ditunjuk oleh Dewa. Masakannya sangat enak menurut penilaian Dewa. Beberapa kali dia bersama teman kantornya makan di tempat itu. Begitu duduk , mereka langsung disambut oleh pelayan yang akan menulis pesanan mereka. Kebetulan di atas meja sudah tersedia beberapa lembar kertas yang bertuliskan menu makanan. Mereka memilih meja yang paling sudut agar tidak terlihat dari pintu masuk restoran. “Kamu pesan apa, Bi? Zara pesan apa?” tanya Dewa bergantian. “M ...” Sekali lagi Ibi menatap Dewa gusar. “Kenapa?” Dewa hapal dengan tatapan itu. Tapi Ibi hanya menjawab dengan gelengan, membuatnya bingung. Dewa yakin betul, jelas Ibi ada apa-apa, sebab tatapannya tidak biasa. “Kita pesan lemon tea tiga ya, Mbak. Nanti pesanan berikutnya menyusul, adik-adik saya masih mau diskusi, mereka bingung mau pilih yang mana.” Dewa mengambil alih menghadapi pelayan agar tidak menunggu terlalu lama. Dan benar, saat pelayan telah pergi, Ibi baru angkat bicara. “Aduh, ini restoran apa? Ibi gak pernah makan beginian. Ini halal gak sih?” Ternyata itu kekhawatirannya. Persis seperti Ibi, Zara juga belum pernah masuk ke restoran chinese food. Dia juga bingung dengan daftar menu yang ada dihadapannya. Sudah berulang kali dibaca pun, tetap dia tidak mengerti. Apalagi tidak ada gambar makanannya di buku menu. Semakin tidak mengerti harus pesan apa. Kampungan memang. Tapi begitulah Ibi dan Zara. Dua gadis belia yang tidak mengerti akan kehidupan kelas atas dengan segala macam selera dan gayanya. Walau ayah Ibi bekerja di mall terbesar di kota itu, tapi Ibi terbiasa hidup sederhana. Tidak ada yang menonjol di kehidupannya. Serba cukup dan tidak berlebihan. Bukan karena tidak mampu, tapi memang kesederhanaan itulah yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Apalagi Ibi hidup di keluarga keturunan Arab. Jelas bertolak belakang dengan restoran yang mereka singgahi saat ini. Tentu dia tidak paham dengan jenis makanan Cina. “Hehehe, jangan khawatir. Ini halal kok. Tuh lihat aja, ada lambangnya ‘kan, lisensi dari Majelis Ulama Indonesia,” terang Dewa. Dia menunjuk ke dinding yang berlogo halal dari MUI. “Tapi kalau kalian ragu, kita pindah restoran aja. Gak apa-apa, kok,” sambung Dewa. Tapi saat Ibi baru akan menjawab setuju untuk pindah, Zara menendang pelan kakinya dari bawah meja sembari melirik Ibi dengan memainkan mata. “Eh, apaan, Ra? Aku gak ngerti maksud kamu. Ngapain mata kamu muter-muter gitu?” Dengan polosnya Ibi berceloteh menanggapi temannya. Membuat Dewa tertawa kecil. “Ih, lemot banget sih kamu, Bi. Di kodein gak paham! Malah nanya langsung, bikin malu aja.” Zara menarik tangan Ibi untuk lebih dekat dengannya. “Kita gak usah pindah, Bi. Gak apa-apa, makan disini aja. Aku baru inget kalau ini restoran yang pernah diceritain Trizka waktu di sekolah. Restoran mahal favorit keluarganya. Kan lumayan kita jadi bisa ngerasain makan di restoran mahal,” bisik Zara. Ha, apa iya? Aku lupa kalau Trizka pernah cerita. Eh, tapi aku emang gak pernah ikut gabung sih kalau mereka cerita. “Gimana? Mau pindah tempat atau?” Dewa kembali bertanya. “M ..., ya udah gak apa-apa, kita disini aja,” saut Ibi. Seketika Dewa tersenyum, merasa kalau pilihannya memang tepat. Dewa lantas menunjukkan beberapa menu favoritnya disitu. Dari mulai camilan hingga makanan berat. Sambil menjelaskan dia juga memesan semua makanan yang dia sebutkan. Setelah beberapa menit, satu persatu makanan datang ke meja mereka. “Yuk, cobain, yuk. Ini enak banget loh. Cocolin ke sausnya sedikit, baru masuk mulut.” Dewa mempraktekkan cara makan cemilan itu di hadapan mereka. Dan benar katanya, rasa makanan itu tidak diragukan lagi. Cacahan udang, ayam dan bengkuang yang diberi bumbu dibalut dengan kulit siomay serta rumput laut kering. Lalu dikukus dengan kematangan maksimal. Sungguh lezat sekali. “Suka gak?” tanya Dewa disela-sela mereka makan. “Suka, enak banget ternyata.” Senyum lebar terukir di bibir Ibi sembari dia mengunyah. Ternyata saking semangatnya makan, sisa saus tertinggal di sudut bibir Ibi. Tentu mata Dewa fokus kesana. Ingin rasanya dia membantu membersihkannya dengan tisu, tapi dia khawatir Ibi salah paham. Dia urungkan dengan hanya menunjuk ke area itu. “Itu, ada saus di sudut bibir kamu,” tunjuk Dewa. “Mana?” tanya Ibi polos. Dia bahkan menjilat keliling bibirnya dengan gerakan memutar. Astaghfirullah! Bi .... Dewa tidak mampu berkomentar. Jantungnya seketika berdesir. Gerakan polos Ibi tadi jelas mengundang perasaan berbeda di hati dan pikirannya. Ya, biar bagaimanapun Dewa adalah seorang laki-laki dewasa yang normal. Tentu yang seperti itu mengundang pikiran berbeda di dirinya. Apalagi yang melakukan adalah seseorang yang memiliki tempat khusus di hatinya saat ini. Dewa menghembus napas panjang perlahan. Mencoba menenangkan diri, menghilangkan pikiran berbeda yang sempat terlintas tadi. Setelah dirasa kenyang, mereka bertiga berhenti mengunyah. Entah sudah berapa piring cemilan yang masuk ke perut mereka masing-masing. Dewa sungguh memanjakan lidah dua gadis belia di hadapannya. Bukan tanpa alasan, tapi memang dia bertujuan untuk menarik simpati Ibi lebih dalam agar hubungan mereka semakin dekat lagi. “Bi, Zara, aku permisi ke toilet sebentar ya. Sekalian mau nyari atm sebentar.” Tiba-tiba Dewa pamit, dan tanpa pikir panjang Ibi dan Zara mengangguk. Ternyata kepergian Dewa lumayan lama. Sudah lima belas menit Dewa belum juga muncul. Zara yang pertama kali menyadari. “Bi, kok dia lama banget? Apa jangan-jangan ...” Kali ini Zara menggantikan posisi Ibi untuk berburuk sangka (negatif thinking). “Jangan-jangan apa, Ra?” Entah memang tidak paham atau karena terlalu kenyang, Ibi jadi lupa untuk neting. “Ya itu, jangan-jangan dia kabur. Terus ninggalin tanggihan restoran mahal ini ke kita. Aduh! Mana tadi aku makannya banyak banget lagi,” rengek Zara sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD