“Ih, jangan nakut-nakutin dong, Ra. Kita kan gak bawa duit. Kalopun ada ya cuma dikit, Cuma cukup buat ongkos pulang. Mau bayar pake apa kita tagihan makanannya?” Dahi Ibi berkerut. Dia terpengaruh dengan kekhawatiran Zara.
Benar juga yang Zara bilang. Bukan tidak mungkin Dewa kabur meninggalkan mereka berdua di restoran itu. Toh, yang paling banyak makan adalah mereka berdua. Jadi sudah sepantasnya mereka yang membayar tagihan. Tapi masalahnya mereka harus bayar pakai apa?
“Cuma ada satu caranya, Bi,” ucap Zara.
“Apa?”
“Mau gak mau kamu harus minta tolong ke Baba. Jam segini Baba masih disini kan?” Ternyata ayah Ibi 'lah yang menjadi solusi menurut Zara. Kebetulan saat itu masih jam tiga sore. Ayah Ibi masih berada di lantai atas. Kantor gedung mall.
“Astaghfirulloh! Enggak, ah! Cari mati itu namanya, Ra.” Ibi jelas menolak.
“Kita bakal ketauan kalo main di mall. Terus nanti Baba bakal tanya kenapa kita makan di restoran ini. Seumur-umur ini pertama kalinya aku makan masakan Cina. Baba pasti marah besar. Dikirain kita makan makanan gak halal. Sama kayak dugaaan aku waktu masuk tadi. Ih, gak bisa bayangin aku gimana marahnya Baba nanti,” sambung Ibi.
“Lah, terus harus gimana lagi, Bi? Siapa yang bisa nolong kita? Aku gak mau disuruh nyuci piring semaleman disini,” rengek Zara. Dia sudah tidak bisa menemukan cara lain hingga ketakutan.
“Ya, aku juga gak mau lah. Tapi jangan itu donk solusinya, Ra. Memang kita pasti selamat kalau ada Baba, tapi deritaku di rumah gak akan berakhir. Aku lebih gak kuat diaduin ke mama. Satu tahun mama akan bahas itu terus. Ngomel gak berhenti dan pasti aku gak bakal boleh kemana-mana lagi. Aturan hidupku bakal diperketat.” Sekarang giliran Ibi yang merengek. Dia tidak bisa membayangkan nasibnya jika sampai orang tuanya tahu kejadian ini.
Mereka berdua lantas menunduk, meletakkan kepalanya di atas meja, memandang ke bawah. Meratapi nasib yang akan mereka jalani saat ini, yakni tidak ada pilihan lain selain mencuci piring semalaman di restoran tersebut.
Di saat yang sama seseorang muncul, menyentuh bahu Ibi lembut. Saking lembutnya sampai tidak terasa oleh si empunya badan.
Setelah lima menit menunduk dan dirasa cukup, Ibi mengangkat kepalanya.
“Aku kira kamu ketiduran,” ucap seseorang di hadapan Ibi.
“Alhamdulillah ...” Reflek Ibi berceloteh demikian. Ternyata dia mendapati sosok Dewa di hadapannya.
“Loh, kenapa?” tanya Dewa heran.
“Ibi kira Dewa ninggalin kita disini.” Mata Ibi berkaca-kaca. Hampir saja dia menangis jika Dewa tidak benar-benar kembali.
“Aduh, maaf. Pasti kalian nunggu kelamaan ya. Tadi toiletnya antri, rame banget.” Dewa paham kekhawatiran Ibi.
“Aku janji, next gak akan kayak gini lagi. Aku gak akan ninggalin kamu lama-lama, Bi.” Kalimat itu tulus Dewa ucapkan dari dalam hatinya.
Tidak ada satu katapun yang terlewat bagi Dewa. Dia selalu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tidak ada kata main-main di hidup Dewa jika berhubungan dengan hati.
Tapi kenyataannya bagi Ibi itu bukan hal yang berbeda. Dia tidak menanggapi terlalu jauh. Yang ada di pikirannya adalah dia dan Zara bisa selamat dari mencuci piring di restoran.
“Ya udah, sekarang kita balik yuk. Aku antar kamu pulang.” Dewa mengajak Ibi dan Zara pergi dari restoran.
“Eh, tapi ini udah dibayar belum?” Ibi meyakinkan. Sebab dia tidak melihat Dewa mengeluarkan uang sejak tadi.
“Udah kok. Tadi aku bayar langsung ke kasirnya.” Ibi dan Dewa bangkit dari kursi hendak meninggalkan restoran. Tapi langkah mereka terhenti.
“Zara,” ucap Ibi.
“Eh, iya. Temen kamu daritadi nunduk terus itu. Ampir kita lupa sama dia, hehehe ...” Dewa tertawa kecil.
Rupanya Zara yang memang tertidur. Perutnya yang kekenyangan membuat dia berpikir buruk hingga tertidur dengan menunduk di atas meja. Ini berarti Zara tidak boleh makan terlalu banyak. Sebab dia akan lebih mengkhawatirkan dari Ibi.
Taksi yang membawa Ibi baru saja berhenti di depan Mama Corner. Ibi turun dengan tergesa-gesa, sebab sudah terdengar kumandang adzan ashar. Itu artinya dia harus segera masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan sholat.
Begitupula dengan Dewa. Sampai di kost pria itu membersihkan diri dan sholat. Selepas itu dia berbaring di kasur sembari tangannya mengetik pesan singkat di ponsel untuk dia kirimkan pada Ibi.
Makasih ya, Bi, untuk hari ini.
Makasih juga udah mau makan siang bareng aku.
Dalam sepuluh menit, pesan balasan dari Ibi pun masuk ke ponselnya.
Ih, Ibi dong yang harusnya terima kasih. Udah dibeliin buku, ditraktir makan lagi.
Makanannya enak banget. Ibi suka.
Mereka berdua lalu berkirim pesan hingga masuk waktu magrib.
Sejak saat itu hubungan Ibi dan Dewa menjadi semakin dekat lagi. Tidak hanya sebatas tugas sekolah, tapi Ibi mulai menceritakan hal pribadinya pada Dewa. Termasuk dengan kisah asmaranya di sekolah.
Ada seorang kakak kelas yang bernama Abdi sering mengirimi Ibi surat. Surat itu beirisikan puisi tentang cinta, tentang rasa, dan kehidupan.
Awalnya ibi tidak menanggapi. Tapi karena terlalu sering, Ibi jadi terbiasa dan mulai menikmati kata-kata yang tertulis disana. Hingga akhirnya kakak kelas yang bernama Abdi itu menyatakan perasaannya pada Ibi dan mengajaknya untuk pacaran.
Tentu Ibi bingung harus menjawab apa, sebab ini pertama kalinya bagi Ibi. Sebelumnya dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dikirimi puisi hingga di ajak pacaran.
Saat masih di SMP Ibi tergolong kutu buku. Jarang sekali keluar dari kelas jika tidak untuk pulang sekolah. Jadi tidak banyak yang mengenalnya. Otomatis tidak banyak juga yang menyadari kalau dia memiliki wajah yang sangat manis dengan bola mata hitam pekatnya.
Dan saat di SMA seperti sekarang, Ibi baru membuka diri perlahan. Mulai banyak bicara dan berkumpul dengan teman-teman. Jadi wajar kalau sekarang Ibi menjadi perhatian banyak lawan jenis.
Ibi lantas meminta waktu untuk berpikir sebelum menjawab pada kakak kelasnya itu. Dan ternyata hal itu dia konsultasikan pada Dewa.
“Sekarang Ibi bingung harus jawab apa.” Dewa terduduk di kursi panjang wartel mendengar cerita dari gadis pujaannya.
Khawatir, tentu Dewa rasakan. Dia tidak mau kehilangan gadis manis di hadapannya ini. Tidak mau Ibi menjadi pacar orang lain. Namun Dewa juga tidak ingin membuat Ibi membatasi segala hal terhadapnya. Termasuk menceritakan semua yang dia alami.
“Kamu punya perasaan suka gak sama dia?” tanya Dewa.
“M ..., kayaknya sih ada. Soalnya belakangan Ibi jadi seneng dengan puisi-puisinya,” jawab Ibi jujur.
Wah, gawat! Kalau gitu bisa-bisa aku kalah dengan coretan puisi!
“Aku juga bisa bikin puisi kalau kamu mau.” Dewa jelas tidak mau kalah. Walau sesungguhnya belum pernah tapi dia yakin bisa membuat puisi.
“Oh ya, puisi tentang apa?” Dan benar, wajah Ibi langsung berseri mengetahui itu.
“Puisi apapun yang kamu suka, aku pasti bisa. Jadi kamu gak perlu sampai jadian sama dia hanya karena puisi.”
Apapun yang kamu suka aku pasti bisa, Bi. Walau sesungguhnya aku belum pernah bikin puisi, tapi kalau untuk kamu, pasti aku usahakan. Membuat yang terbaik sampai kamu gak akan berpaling dariku.
“Hahaha ..., masa pacaran gara-gara puisi. Ya enggak 'lah. Lagian Ibi emang belum pernah pacaran, jadinya bingung pas ditembak kayak gitu. Untung ada Dewa tempat Ibi curhat semuanya.” Ibi tertawa sembari menatap Dewa.
Gak hanya sebatas cerita, Bi. Seandainya kamu tahu, aku ingin berbagi segala hal dengan kamu. Aku ingin bisa menyentuh kamu, membelai rambut kamu dan bahkan memeluk kamu.