Ketahuan Mama?

1049 Words
Akhirnya Ibi berhasil keluar dar kamar itu. Dia melangkah cepat masuk ke dalam lift, turun, dan segera menaiki taksi menuju pulang ke rumah. Hancur sehancur-hancurnya perasaan Ibi sekarang. Jika bisa dia ingin sekali berteriak, mengeluarkan segala rasa kecewa yang memendam di hatinya. Tanpa bisa ditahan air mata Ibi kembali menetes deras. Dia menangis di dalam taksi. Meratapi nasib buruk yang menghampiri dirinya hari ini, bahkan di saat dia merasa sudah menemukan orang yang tepat dalam hidup. Tenyata dugaannya salah besar. Justru musibah yang hampir saja menggulungnya dalam kenistaan. Beruntung Tuhan masih menolongnya dengan dering telepon dari Hanin, hingga semuanya terbongkar. Kalau tidak entah bagaimana nasib Ibi sekarang. Pasti jauh lebih parah. Ya Tuhan ..., maafin Ibi. Ibi hampir saja melakukan dosa besar tanpa Ibi sadari. Ibi terbujuk oleh kata-kata manis dia dengan begitu mudahnya. Ibi memang bodoh. Bener-bener bodoh! Walau hati Ibi hancur, tapi Ibi bersyukur. Kehancuran ini masih jauh lebih baik dari kenistaan yang hampir terjadi tadi. Hiks ..., Baba ..., Mama ..., maafin Ibi. Ibi salah sama kalian. Ibi menutupi hal yang gal seharusnya dari kalian. Kalau aja dari awal Ibi cerita soal Dewa, pasti kedekatan Ibi dengannya gak akan terjadi sampai bertahun-tahun begini. Taksi yang membawa Ibi di dalamnya hampir sampai. Ibi segera menyudahi tangisa dan membenahi wajahnya. Dia tidak mau mamanya melihat keanehan saat dia pulang nanti. Walau sesungguhnya banyaknya Ibi menangis tidak visa menutupi kalau matanya sudah bengkak sekarang. Ibi sudah turun dari taksi sekarang. Dengan mengucap bismillah dia melangkah masuk ke dalam rumah dan apa yang ditakutkan Ibi terjadi. “Bi, baru pulang?” tanya mamanya saat Ibi berjalan masuk setelah mengucap salam. Kebetulan mama sedang duduk di ruang tv, menonton acara kuis favoritnya. “Iya, Ma,” jawab Ibi tanpa menoleh. Tidak mau mamanya sampai memperhatikan wajahnya. “Oh ya, Bi. Tadi tante Zulaikha datang ke mari, dia nyariin Ibi loh. Dia mau kenalin Ibi ke anaknya.” Mama terus saja bicara. “Oh,” jawab Ibi singkat. “Lusa katanya Tante Zulaikha mau datang lagi. Kamu gak kemana-mana ‘kan? Soalnya dia mau ketemu kamu.” Mama belum berhenti bicara membuat Ibi tidak bisa meneruskan langkahnya. “Iya, Ma. Ibi gak kemana-mana kok.” Ibi masih juga tidak menoleh walau sudah diajak bicara oleh mamanya. Sampai mama akhirnya heran sendiri kenapa anaknya tidak mau memandang ke arahnya. “Bi, kamu sebenarnya kenapa sih? Kok nunduk terus?” Mama mulai curiga dan memutuskan untuk mendekati Ibi. Astaga, Ibi pasti bakal ketahuan. “Ibi sebenarnya udah gak tahan, Ma. Perut Ibi mules pengen pup. Dari tadi udah buang angin terus. Kayaknya Ibi salah makan.” Ibi terpaksa berbohong sembari memegangi perutnya. “Ibi ke kamar mandi dulu ya, Ma. Takut keluar disini.” Sebelum mamanya sempat mendekat Ibi sudah buru-buru berlari ke kamar mandi. Syukurlah dia selamat dari mamanya. Di dalam kamar mandi Ibi mencuci wajah berulang kali, berusaha menghilangkan bekas matanya yang bengkak tapi sayang hal itu tidak bisa dia lakukan. Terkena air justru membuat wajahnya semakin sembab. Ya ampun, gimana ini? Mama pasti tahu kalau mata Ibi begini terus. Tiba-tiba saat makan malam tiba, Ibi mendapatkan ide. Agar mama tidak curiga saat mereka makan bersama malam ini, Ibi memutuskan menggunakan masker kopi. Dia melumuri wajahnya dengan masker kopi sampai tertutup semuanya. Kantung matanya pun dia olesi masker itu. Untungnya Ibi memiliki persediaan masker di kamarnya. Masker yang sengaja dia beli sebulan yang lalu saat ayahnya masih hidup. Karena musibah yang menimpa, dia sampai lupa kalau sudah membeli masker itu. Jadi baru hari ini dia gunakan. Alhasil malam itu berlalu dengan aman. Mama tidak tahu dan bahkan tidak curiga sama sekali dengan kelakuan Ibi tersebut. Justru mama meminta masker yang Ibi punya untuk dia pakai juga ke wajahnya. Setelah kembali ke dalam kamar, Ibi sengaja tidak mencuci mukanya. Dia pikir dengan berbalut masker semalaman wajahnya akan tampak segar besok. Tapi dugaan Ibi salah. Pagi menjelang, selesai mandi wajah Ibi malah bengkak seluruhnya, penuh kemerahan. Astaga ..., mau ngilangin mata bengkak malah semuanya rata jadi begini. Ibi menepuk jidatnya. Ibi lupa kalau kulit wajahnya sensitif. Tidak bisa berlama-lama menggunakan sesuatu baik masker, make up dan lainnya. Mau tidak mau Ibi keluar kamar dengan penampilan seperti itu. Tidak mungkin dia seharian mengurung diri sebab mama pasti curiga. Hanya ada mereka berdua di dalam rumah itu, jadi setiap harinya mereka selalu berinteraksi berdua. “Astaghfirullohaladzim ...,” seru mama begitu melihat wajah Ibi. Ibi tersenyum dibuat-buat. “Kok muka kamu bisa kayak gitu, Bi?” Mama memegangi dagu Ibi, memperhatikan wajah anaknya seksama “Ibi ketiduran, Ma. Lupa cuci muka tadi malam. Jadinya kayak gini. Kayaknya iritasi. Tapi gak apa-apa kok, dua hari juga hilang bekasnya. Tinggal dioles cream iritasi yang beli di apotik aja,” jawab Ibi santai. Mama sampai menghela napas. Ada-ada saja kelakuan anak gadisnya itu. Waktu terus berjalan sampai saat sore hari Ibi sengaja meninggalkan ponselnya di dalam kamar sementara dia berbincang dengan mama di ruang tv. Rupanya ponsel Ibi terus saja berdering sejak kemarin malam. Ibi sengaja mematikan suara ponselnya agar tidak terdengar. Dia malas mengetahui jika Dewa menghubunginya. Dan memang benar, sejak malam Dewa terus menelponnya. Sudah ada tujuh puluh panggilan tidak terjawab dari Dewa. Lelaki itu hanya ingin memastikan kalau Ibi sudah pulang ke rumah. Tidak mampir kemanapun atau lari karena pelampiasan dari rasa kecewa di hatinya. Ternyata usaha Dewa tidak hanya sampai disitu. Tidak bisa lagi menghubungi Ibi karena ponselnya sudah mati kehabisan baterai, Dewa malah menghubungi Adi. Meminta Adi agar Zara membantu mengecek Ibi ada di rumahnya atau tidak. Keesokan paginya Zara sungguh datang ke rumah Ibi. “Assalammualaikum ...,” seru Zara di depan rumah Ibi. Seperti biasa yang membukakan pintu adalah mama. Pas sekali kedatangan Zara, pikir mama. Rasa penasaran atas kisah cinta Zara yang kemarin ingin mama tanyakan, bisa dia tuntaskan hari ini. Mama mengajak Zara masuk ke dalam. Mereka berbincang berdua di ruang tv sementara Ibi masih di kamar mandi. Saat Ibi sudah keluar rapi dan keluar dari kamar. Zara melihatnya dan langsung berucap, “Bi, ponsel kamu kemana? Diteleponin gak aktif. Dewa nyariin kamu terus loh.” Tanpa sengaja Zara keceplosan kata-kata itu di depan mama. Aduh, Zara! Gawat! Dia nyebut nama Dewa! Seketika Ibi melotot melihat Zara. Mama yang mendengar jelas kalimat Zara barusan, langsung saja bertanya, “Dewa? Siapa Dewa? Kok mama baru dengar hari ini nama itu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD