Zara Baru Tahu

1234 Words
“Dewa itu ketua club palang merah remaja di sekolah Ibi dulu, Ma,” saut Ibi asal. Dia malah teringat dengan Dimas dan mengganti namanya menjadi Dewa. “Terus ngapain dia nyariin kamu terus, Bi? Memangnya ada urusan apa?” tanya mama lagi. “Iya, juga, ya. Ada apa dia nyariin aku, Ra?” Ibi pura-pura setuju dengan pertanyaan mama. Kali ini dia menatap sahabatnya dengan tatapan membunuh. Awas aja kalau Zara salah ngomong lagi! Tapi jangan panggil Zara kalau dia tidak pandai mengarang alasan yang hebat dan meyakinkan sekali. Zara mengatakan kalau club palang merah yang Ibi sebut tadi akan melakukan kegiatan donor darah makanya dia mengumpulkan para pengurus senior club untuk ikut membantu. “Ow ..., gitu.” Mama baru berhenti bertanya setelah di rasanya jelas. Sesungguhnya dari sini saja sangat jelas terlihat bahwa sesuatu yang selalu saja ditutupi tidak akan berkah dan baik. Terbukti setelah tiga tahun lebih Ibi menutupi hubungannya dengan Dewa dari orang tuanya sendiri dan sekarang hubungan itu sungguh tidak berkah dan tidak baik. Bahkan sangat mengecewakan. Melukai Ibi begitu dalam hingga dia tidak mau berurusan apapun lagi dengan lelaki yang bersangkutan. Kalau diingat lagi kejadian tersebut, rasanya mata Ibi tidak bisa berhenti menetes. Tapi Ibi sekuat tenaga untuk melupakannya agar dia tidak menangis dan membuat mamanya curiga jika matanya bengkak. Ibi dan Zara lantas pamit ke kamar dengan alasan ingin ngobrol seru-seruan sambil rebahan. “Ya udah, sana kalian ke kamar, mama juga mau masak ini.” Mama meninggalkan mereka lebih dulu menuju dapur. Selepas kepergian mamanya, Ibi sudah tidak sabar mencubit pipi Zara karena kesal. Hampir saja rahasia yang begitu lama dia tutupi terbongkar di depan mama tadi. “Aduh, sakit, Bi. Maaf ..., aku gak sengaja keceplosan,” rengek Zara di dalam kamar Ibi. “Laen kali di rem tuh mulut kamu, Ra. Jangan asal keluar!” omel Ibi. “Iya, aku janji. Sekali lagi aku minta maaf, ya,” bujuk Zara dan Ibi pun mengangguk. “Lagian kamu kenapa sih, Bi, gak angkat-angkat telepon Dewa? Sampe aku harus datang ke sini. Ngambek ya sama dia? Aduh, gemesnya ...” Zara menduga hubungan Ibi dan Dewa makin romantis saja dengan acara ambek-ambekan, sepertinya dengan Adi. Tapi Ibi menggeleng. “Kamu jangan sebut nama dia lagi di depanku, ya Ra. Aku gak mau denger,” pinta Ibi. “Ih, apaan sih, kamu, Bi? Udah donk, jangan sampe kayak gitu ngambeknya.” Zara masih menduga masalah Ibi dan Dewa tidak serius. Hanya pertengkaran kecil biasa. “Aku serius, Ra. Demi Allah, aku gak mau ketemu dia lagi!” tegas Ibi. Tiba-tiba saja matanta berkaca-kaca, teringat dengan pelecehan Dewa padanya kemarin. Zara yang tidak tahu apa-apa jadi bingung. Tapi dia langsung memeluk sahabatnya dan mengusap-usap punggung Ibi agar tenang. “Aku gak tau apa masalah kamu dengan Dewa, Bi. Tapi kalau masih bisa dibicarakan baik-baik, aku saranin kalian ngobrol dulu,” ucap Zara pelan. Takut menyinggung perasaan Ibi lagi. “Aku udah bicara semuanya sama dia kemarin. Udah gak ada lagi kalimat yang tersisa untuk dia, Ra.” Jawaban Ibi membuat Zara makin heran. Aduh, beneran ribut mereka. Pasti masalahnya serius sampe Ibi hampir nangis kayak gini, batin Zara. “Ya udah, kalau emang gitu mau kamu. Aku sebagai sahabat gak bisa nyaranin lebih. Mudah-mudahan kamu serius ambil keputusan ini. Aku gak mau kamu nyesal belakang, Bi,” ucap Zara. Dan tanpa bisa dibendung lagi, air mata Ibi pun pecah. Kaca yang semula bertahan untuk membendung ternyata tidak sanggup juga. Zara yang melihat sahabatnya itu menangis makin tidak paham tapi dia tetap harus menunjukkan sikap sebagai sahabat pada Ibi. Zara mengambilkan tisu untuk mengusap air mata Ibi. “Aku memang sudah menyesal, Ra. Harusnya sejak kemarin aku gak perlu terima dia jadi pacarku. Akhirnya berakhir kayak gini. Rasanya sakit banget, Ra. Baru kali ini aku beneran jatuh cinta tapi kali ini juga hatiku hancur lebur. Ternyata aku memang gak ditakdirkan untuk jatuh cinta. Aku gak boleh menyalahi aturan keluargaku.” Ibi berucap dengan sisa tangisnya. Dia tidak ingin berlama-lama menangis, khawatir matanya bengkak lagi. “Putus cinta itu biasa, Bi. Memang begini yang namanya menjalani hubungan. Kadang cocok kadang enggak, tapi kalau beneran cinta, harusnya bisa saling menerima.” Zara yang master dalam dunia percintaan dan dunia pacaran seolah ingin menasehati. “Aku akui aku memang cinta sm dia, tapi sumpah, aku gak bisa terima dengan perlakuannya kemarin, Ra. Aku bukan perempuan gak beres yang bisa seenaknya dia gituin! Aku punya harga diri! Dan aku juga gak mau jadi orang ketiga saat dia udah mempersiapkan pernikahannya dengan perempuan lain,” jelas Ibi. Kali ini membuat Zara ternganga. Hah? Apa aku gak salah denger? Dewa mempersiapkan pernikahan dengan perempuan lain? Bukannya dia bilang cinta mati sama Ibi? Kok mau nikah sama yang lain? Zara bertanya-tanya dengan pengakuan Ibi. Daripada dia makin tidak paham dengan alur cerita Ibi, lebih baik dia jujur. “Sorry, Bi, aku makin gak ngerti. Sebenarnya kamu sama Dewa kenapa? Kok Dewa mau menikah sama perempuan lain sementara kita tau kalo dia Cuma cinta sama kamu dari dulu. Aku saksi hidupnya loh. Bahkan kisah cinta kalian sampai ke Bali.” Akhirnya Ibi menceritakan kejadian lengkap yang kemarin pada Zara. Tidak ada yang terlewat sedikitpun dari ceritanya. Namun kali ini Ibi tidak lagi menangis. Dia pikir sudah cukup air matanya untuk Dewa dan tidak akan ada lagi. “Astaghfirullohaladzim ..., ya Allah ...” Zara yang merupakan pakar dalam pacaran saja sampai mengucap berkali-kali. Entah berapa kali dia sudah pacaran sejak kelas satu SMA tapi tidak sekalipun kejadian yang dialami Ibi menimpanya hingga membuat dia terkejut setengah mati. Rupanya orang yang selama ini dia anggap baik, penyayang, sopan, ramah, dan tulus belum tentu seperti yang terlihat. Gugur sudah segala kebaikan yang pernah Dewa lakukan di mata Zara. Sekarang tanggapannya dia hanyalah laki-laki kurang akar yang tidak punya perasaan. Setega itu memperlakukan sahabatnya. Kalau saja Zara berada di dekat mereka saat kejadian, pasti dia sudah mematahkan tangan Dewa saat itu juga. “Harusnya kamu tonjok dia, Bi! Atau paling gak kamu tampar! Aku yang emosi dengar cerita kamu!” Zara menggeram. Di kepalnya kedua tangan seolah ingin mengjajart Dewa. Beruntung lelaki itu berada jauh dari kota M. Jika tidak, tentu Zara akan menemuinya dan memberinya pelajaran. Zara tidak pernah takut pada lelaki manapun terkecuali ayah dan kakaknya. Sebab sejak SMP dia sudah berlatih taekwondo dengan fasih. Makanya tidak ada pacarnya yang berani macam-macam jika ingin selamat. “Percuma, Ra. Itu gak akan bikin hatiku kembali sembuh. Aku hancur, bener-bener hancur. Di saat aku butuh seseorang yang bisa gantikan posisi Baba, aku justru tersakiti sampai seperti ini. Rasanya bukan lagi terpuruk tapi jauh lebih buruk dari itu.” Suara Ibi bergetar mengingat kisah hidupnya yang sekarang. Dia jadi merindukan ayahnya kembali ke pelukannya. Tapi itu sudah tidak mungkin lagi. “Mulai detik ini, aq pastikan kalau aku gak akan pacaran lagi. Hatiku udah tertutup untuk cinta ataupun jatuh cinta. Aku mau gak kenal dengan laki-laki di luar sana lagi, Ra. Udah cukup. Ini sudah bikin aku hampir mati menahan sakit. Biarlah nanti urusan masa depanku mama yang atur. Aku pasrah lillahi ta’ala,” ucap Ibi lagi dengan lebih tenang. Ikhlas adalah jalan satu-satunya agar dia bisa menikmati ketenangan hati. Tapi menuju ikhlas itu yang sangat sulit. Walau mulut mudah sekali berkata, tapi ikhlas bermakna dalam dan sulit dilakukan. Bersihkan hati, buang sesal dan dendam serta berserah diri pada Sang Pemilik hati yang sesungguhnya. Hanya itu satu-satunya cara untuk ikhlas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD