"Hi Boy.."
Alen terbelalak saat melihat seseorang yang menghampirinya.
"Uncle hencem," katanya pelan.
Sedang pria itu hanya terkekeh mendengarnya.
"How are you?"
Alen mengangguk, "pen."
Lagi-lagi pria itu terkekeh geli.
"How cute you are."
Alen tersenyum dengan polosnya.
"Masih ingat Om?"
Alen mengangguk dengan semangat, "Uncle La."
"La?" Pria itu mengernyit bingung.
Alen kembali mengangguk dengan semangat, tanpa memahami kening pria yang ada di hadapannya yang berkernyit bingung.
"Ale-"
Alen dan pria itu memandang ke arah suara yang menginterupsi obrolan mereka.
"Papaaa.."
Tubuh pria itu membeku saat mendengar teriakan Alen yang kini tengah berlari ke arah seseorang yang tadi memanggilnya.
Dengan sigap orang itu menangkap dan menggapai tubuh kecil Alen dalam gendongannya.
"Halo Mr.Putra," sapanya sopan pada pria yang sedari tadi terlihat sedang mengobrol dengan Alen.
Gandha, pria yang semula berjongkok menyamakan tingginya dengan Alen kini sudah kembali berdiri tegak dengan senyum kaku membalas sapaan dari orang yang menggendong Alen.
Hatinya berdenyut ngilu saat mendengar Alen memanggil pria lain dengan sebutan Papa disaat dirinya bahkan hanya di panggil Uncle oleh bocah itu.
"Halo Angkasa," sahutnya kemudian.
"Papa, this is Uncle hencem," sahut Alen dengan senyum lebarnya.
Angkasa terkekeh pelan sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan pada pipi gembul bocah menggemaskan itu.
"This is your Uncle handsome?"
Alen mengangguk dengan semangat.
Angkas memandang segan pada Gandha, "maafkan putra saya. Dia nampak mengagumi ketampanan anda."
Tanpa sadar Gandha mengepalkan tangannya meski tetap menganggukkan kepala sebagai jawaban atas ucapan Angkasa.
"Putra anda?"
Angkasa mengangguk dengan senyum lebarnya.
"Saya rasa tidak mirip."
Senyum Angkasa yang semula berkembang luntur seketika, "memang iya?"
Gandha mengangguk.
"Ck, sepertinya saya harus membuat lagi yang mirip dengan saya, bukan ibunya."
Angkasa berucap sambil memandangi Alen penuh binar bahagia, tanpa mempedulikan Gandha yang saat ini sudah membelalakan matanya tak percaya dengan rahang yang mulai mengeras akibat perkataan pria itu.
"Maksud anda?" Tanyanya dingin.
Angkasa mengalihkan pandangannya pada Gandha yang masih berada di hadapannya.
"Banyak orang yang bilang Alen tidak mirip dengan saya, jadi saya rasa saya harus membuat lagi satu dengan ibunya yang mirip dengan saya."
Gandha semakin mengeratkan kepalannya, bahkan harusnya Angkasa menyadari wajah Gandha yang memerah dengan rahang yang jelas mengetat.
"Ah saya lupa, harusnya kita tidak mengobrol disini kan. Nampak kurang nyaman sepertinya."
Gandha mendengus, pria di depannya ini lah alasan ketidaknyamanan untuknya.
"Papa, Alen antuk," rengek Alen yang menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Angkasa.
Angkasa tersenyum lembut dan mengangguk dengan tangan yang mengusap pelan punggung anak itu.
"Maaf, saya harus pulang. Senang bertemu dengan anda disini," pamit Angkasa.
Gandha mengangguk samar dengan senyum kakunya. Ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tak lepas kendali dan melayangkan pukulan pada wajah pria yang di panggil Papa oleh Alen itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat dengan hati yang terasa ngilu. Tiba-tiba rasa takut hadir dan menjadikannya sedikit kurang percaya diri.
Bagaimana jika Alen memang bukan anaknya seperti yang Senja katakan?
Bagaimana jika Angkasa ternyata memang ayah dari bocah yang sudah mencuri hatinya?
Bagaimana jika memang Senja- Gandha menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran negatif.
"Loe lupa, anak loe udah gak ada?"
Tiba-tiba bayangan akan perkataan Senja kala itu kembali mengusik benaknya.
Senja benar, Gandha melupakan fakta bahwa Senja keguguran akibat dari kecelakaan yang dialaminya sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Bahkan Gandha sendiri yang memakamkan gumpalan darah berukuran sangat mini itu dan di beri nama "Samudra Antaka Putra."
Dadanya terasa sesak, jadi apa benar Alen bukan anaknya?
**
"Mommy.." Teriak Alen saat mendapati Naka yang baru saja memasuki apartemen.
"Sayangg.."
Naka bergegas mendekat pada putranya dan mendaratkan ciuman gemas pada seluruh wajah Alen.
"Belum tidur?"
"Baru bangun," Alen memanyunkan bibirnya saat sebuah suara mematahkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Mommynya.
"Mama," rengeknya.
Naura hanya tertawa melihat ekspresi yang menggemaskan dari anak itu.
Naka tersenyum menggelengkan kepalanya pelan, "udah. Masuk gih, tidur lagi. Mommy mau mandi."
Alen mengangguk lalu melangkah memasuki kamar Naka setelah mengecup bibir Naka dan memeletkan lidahnya pada Naura yang tak berjarak jauh darinya.
Naka hanya menggelengkan kepala lelah melihat kelakuan anaknya dan sahabatnya itu. Mereka jarang sekali akur, tetapi akan saling merindukan saat baru sebentar saja berjauhan.
"Alen kok baru bangun Ra?"
Tanya Naka saat memasuki pantry untuk mengambil minum.
"Dari jalan sama Papanya seharian."
Naka mengangguk pelan.
"Tadi gue ada kelas, pas mau anter Alen ke Om Carv eh Angkasa dateng nyari tu bocah ngajak jalan. Katanya mau quality time sebelum pergi."
Naka lagi-lagi mengangguk.
"Emang mau kemana sih Angkasa?"
Naka meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja pantry, "Perancis, Omanya sakit."
Naura mengernyit, "bisa sakit tuh Oma galak?"
Naka terkekeh, Oma Maria memang dikenal cukup galak pada semua orang. Naura saja langsung tak menyukainya saat pertama kali bertemu entah apa alasannya.
"Bisa lah, manusia kali."
Naura mengangguk acuh.
"Eh Ka,"
Naka menaikkan sebelah alisnya saat mendengar Naura memanggilnya.
"Gue mau ketemu dong sama Om handsome."
Naka mengernyit bingung, Om handsome?
"Siapa?"
Naura berdecak, "Om handsome Ka. Om handsome nya Alen?"
"Ada?" Tanya Naka bingung.
Naura mendelik, "loe gak tau?"
Naka menggeleng pelan.
"Lah itu bocah udah ngomong Om handsome mulu beberapa hari loe gak tau?"
Naka lagi-lagi menggeleng.
"Jangan bilang loe gak tau juga itu tampang Om handsome?"
Naka mengangguk dengan polosnya.
"Terus anak loe ngomongin Om handsome siapa ka? Kenal darimana?" Jerit Naura histeris.
Om handsome? Batin Naka.