SENJA 0.8

885 Words
"Kak," Sambar Naka saat melihat Romeo masuk ke dalam kamar Gandha. Romeo tersenyum lembut menepuk pelan pundak Naka. "It's okay. Arga cuma kelelahan dan perutnya kosong." Naka menghembuskan nafas leganya tanpa sadar. Ia mengangguk perlahan dengan senyum simpul pada Romeo. Tadi saat mendapati Gandha yang pingsan, Naka tak tau ia harus berbuat apa. Ia terus berteriak meminta bantuan namun sayang tak ada satu orang pun yang mendengar. Untungnya, tak berselang lama Romeo datang dengan maksud memberitahukan jadwal Gandha berikutnya. Tak banyak bicara, mereka pun membawa Gandha ke apartemen. Kenapa bukan ke rumah sakit? Tentu saja untuk menyembunyikan kabar ini agar tak terendus media. Naka yang sejak tadi sibuk mengusap pelan surai rambut Gandha tiba-tiba tersentak saat sebuah suara menginterupsinya, "Ka.." Naka mengalihkan pandangannya pada Romeo yang ada di depannya. Di sisi lain ranjang Gandha. "You still love him?" Naka menghela nafas pelan, kenapa akhir-akhir ia sering sekali mendapat pertanyaan itu. Pertama Angkasa, lalu Naura, dan kini Romeo. Naka mengendikkan bahunya tak tau, "Senja still love him, but Naka.." Naka tak meneruskan ucapannya. "And guess what, orang yang ada di depan gue kali ini adalah Senja?" Tebak Romeo. Naka lagi-lagi menggeleng, kali ini ia sudah menurunkan tangannya dari Gandha. Perhatiannya kini berfokus pada Romeo sepenuhnya. "Senja udah mati 3 tahun lalu. Dan yang Kak Meo kenal sekarang itu Naka bukan Senja." Romeo menggeleng dengan senyum remeh nya. "You still love him. I know it." Naka masih tak bergeming. "Ka, dengerin gue oke. Ini demi kebaikan kalian bertiga; loe, Gandha, dan Alen." Naka mendelik saat mendengar nama Alen ikut masuk di dalamnya. "Gue emang gak tau apa yang loe rasain hari itu, saat itu. Tapi yang gue tau pada akhirnya kalian sama-sama melukai diri kalian sendiri. Tolong jangan lagi bersikap egois dan mementingkan ego kalian masing-masing. Ada Alen diantara kalian." "Alen bukan anak Gandha." Sentak Naka memotong ucapan Romeo. Romeo tersenyum miring, "loe gak tiba-tiba amnesia dan lupa siapa Arga kan Ka?" Naka membeku, ia melupakan fakta itu. Fakta bahwa mantan suaminya memiliki kecerdasan yang tak bisa di remehkan, apalagi kini ia berjaya dengan hartanya sebagai seorang triliyuner yang di segani di wilayah Asia dan beberapa benua lainnya. Romeo secara terang-terangan memberikan senyum miringnya. "Gue harap loe gak lupa. Ka, gue mohon tolong permudah semuanya. Jangan jadikan Arga semakin liar dan mengeluarkan jiwa binatangnya yang bisa nyakitin loe pada akhirnya. You two still loving each other. Go ahead, perbaiki hidup kalian yang lalu jangan justru menjadikan boomerang lain dalam hidup kalian." Naka memandang Gandha yang masih setia memejamkan mata. Ia tak menampik jika ia masih bertahan pada rasa yang sama, tapi lagi-lagi ego mengalahkannya. "Gue gak bisa." Tegas Naka yang pada akhirnya memilih untuk beranjak meninggalkan apartemen Gandha. Romeo menghela nafas lelahnya, "semoga loe baik-baik aja." ** "Ngelamun terus?" Naka tersentak saat merasakan sebuah tepukan di pundaknya, ia menolehkan kepalanya dan mendapati Angkasa yang sepertinya baru sampai di cafenya. "Masih sakit?" Naka menggeleng samar. "Lagi ada masalah?" Naka terdiam, Angkasa mengangguk faham. Angkasa meraih tangan Naka dan digenggamnya lembut. "I don't know a reason that make you feel bad now, but Ka.. you've me. I'll do everything to make you happy. So, you can tell me anything you want too." Naka tersenyum lembut menepuk pelan tangan yang masih setia menggenggam tangannya. "Thanks." Angkasa mengangguk, "mau pulang aja?" Naka menggeleng saat mendengar pertanyaan Angkasa. "Aku balik kerja aja." Angkasa mengangguk dengan senyum manisnya, baru saja Naka melangkahkan kakinya suara Angkasa kembali menginterupsinya. "Ka.. Aku harus ke Prancis karena Oma sakit buat beberapa hari, jadi aku gak bisa ngontrol di cafe." Naka mengangguk dengan senyum lembutnya, "send my regard to your Grandma." Angkasa tersenyum dan mengangguk penuh semangat. "Ah Ka once more," Naka mengerutkan keningnya heran. "2 jam lagi bakal ada orang yang beli cafe ini. Jadi aku minta tolong kamu buat nyiapin segala sesuatunya." Naka terkejut mendengarnya, pembeli cafe? Apa Angkasa berkata bahwa cafe ini mau di jual? Naka melangkah semakin mendekat. "Kamu mau jual cafe, kenapa?" Angkasa tersenyum lembut, "setelah ini aku lulus Ka. aku bakal balik ke Indonesia buat nerusin perusahaan Papa dengan serius. Udah bukan waktunya main-main." "Kamu bakal balik ke Indonesia?" Angkasa mengangguk. "Cepet balik ke Indonesia yaa nanti, biar kita bisa ketemu." Angkasa tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya. "Kapan?" "3 bulan lagi aku graduate." Naka mendelik, "terus kenapa di jual sekarang?" "Mumpung ada orang yang mau beli dengan harga bagus," kekeh Angkasa. "Otak Mafia," gerutu Naka kesal. "Terus kamu mau ngapain 3 bulan disini gak megang cafe?" Lanjut Senja. "Mau ngabisin duit sama anak ku dong," sahut Angkasa menaikkan sebelah alisnya. Naka menampar lengan Angkasa lantas beranjak keluar tanpa mempedulikan pria itu yang kini mengaduh kesakitan. Sesuai apa yang Angkasa katakan, hampir 2 jam setelahnya ia mendapat informasi dari salah seorang temannya bekerja bahwa Angkasa memintanya menyiapkan apa yang di perintahkan tadi. Naka dengan pasti melangkah menaiki tangga menuju lantai atas tempat dimana terdapat ruangan kerja Angkasa. Namun ia harus dibuat membeku saat melihat orang yang berada di dalamnya. "Ah itu dia, masuk Ka.." Seru Angkasa dengan riangnya. Ia juga pamit ingin ke kamar mandi yang di angguki oleh lainnya. Naka merutuk Angkasa dalam hati, bisa-bisanya ia meninggalkan dirinya sendiri disana. Setelah meletakkan semua yang di bawanya di meja, Naka beranjak pergi. Namun, lagi-lagi ia harus menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang sukses membuatnya was-was. "Kamu salah membangunkan sisi binatang saya Senja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD