SENJA 0.7

884 Words
"Saya mohon Senja," Naka tak bergeming. Ia masih enggan memalingkan wajahnya menatap pria yang dulu di pujanya. Seminar hari ini baru saja selesai, seperti yang Mr.Carv katakan jika ia akan memperkenalkan Gandha pada mahasiswa yang akan jadi assistennya selama seminggu berada disini. Dan ternyata, orang itu adalah Naka. "Ck, apasi. Lepas!" Naka menyentakkan kasar tangan Gandha yang sedari tadi menggenggamnya. Tadi setelah seminar, Naka harus di buat terkejut saat tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Ia bahkan harus meninggalkan barangnya yang masih berserakan begitu saja. Ia hanya bisa mendengus kesal saat mendengar Gandha yang berteriak pada Romeo agar membereskan semua barang miliknya. Dan disini lah mereka sekarang, di salah satu taman fakultas yang nampak sepi karena mahasiswa nya yang sibuk berada di auditorium. Gandha mendesah lelah melihat respon Naka. Ini sudah kesekian kalinya ia memohon namun hasilnya sama. Lelaki itu bahkan membuang ego dan harga dirinya jauh-jauh hanya untuk memohon agar Naka mau kembali bersamanya. "Mas mohon Senja, jangan buat Mas semakin tersiksa." Naka masih tak bergeming, ia memejamkan mata saat merasakan ngilu di ulu hatinya mendengar suara Gandha yang begitu tersiksa. Ia tak menampik jika masih ada keinginan untuk kembali bersama, tapi ia juga tak bisa jika harus kembali dan berujung mengingat sakit hati yang dipendamnya sendiri bertahun-tahun. Katakanlah Naka egois mengabaikan luka hati Gandha, namun ia juga belum siap untuk menyiram kembali lukanya dengan garam. "Mas mohon Senja, Mas mohon.." Gandha masih terduduk di hadapannya. Ia terus mengiba agar Naka kembali padanya. Namun wanita itu nampak lebih keras kepala dari pria yang terus saja meminta mengabaikan harga dirinya. "Mas.." Gandha mendongak saat menatap wanita yang dicintai nya itu. Ia tadi mendengar wanita itu memanggilnya lembut sama seperti saat mereka masih bersama. "Senja.." Gandha berujar lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Naka menggeleng pelan. "Mari memulai kembali. Mas janji akan perbaiki semua dan menjaga kamu sesuai janji mas di awal." Naka menghela nafasnya pelan. "Maaf, gue kenal." Gandha tersentak mendengarnya. Apa maksudnya. "Senja udah mati sejak 3 tahun lalu. Yang ada di hadapan loe itu Naka, bukan Senja." "Senja," lirih Gandha. Naka tersenyum tipis. "Senja itu ada sejak kecil tapi akhirnya terkubur karena hal yang bahkan gak pernah dia lakuin. Tadinya gue bersyukur, karena Senja yang lama terpendam hidup kembali karena punya Matahari. Tapi gue salah. Selama apapun Senja menunggu, Matahari akan kembali dan mengalah pada Bulan. Matahari gak pernah tau seberapa Senja menunggu dia datang dan berkorban. Yang Matahari tau, dia hanya harus mengalah agar Bulan bisa bersinar terang. Matahari bahkan terus menopang Bulan setiap malam. Matahari memancarkan sinarnya untuk Bulan, bukan Senja yang hanya menunggu dan berlalu." Naka memejamkan matanya, mengatur nafas dan berusaha mengontrol emosinya saat semua kilasan masa lalu nya kembali. "Senja udah mati 3 tahun lalu. Gue Naka, dan gue gak percaya sama siapapun kecuali Naura dan Alen. Gue bukan Senja loe. Jadi jangan minta gue kembali dan memulai lagi apa yang gak pernah Naka perbuat." Gandha terpejam, hatinya sakit. Naka menolaknya, bahkan wanita itu menjelaskan kelelahannya pada Gandha. "Senja, Mas-" "Jangan ganggu gue, hidup gue udah tenang." Gandha menggeleng. Dia tidak akan berdiam sampai Senja-nya kembali. "Saya akan terus begini sampai kamu mau kembali pada saya," kali ini Gandha berujar dingin. "Gue gak bisa. Gue udah bahagia sama Alen." "JUSTRU KARENA ADA ALEN KAMU HARUS KEMBALI!" Gandha mulai terpancing emosinya. "ALEN BUKAN ANAK KAMU!" Naka tak kalah emosi. Rasa sakit dan Gandha yang membentaknya menjadikan Naka tak memiliki sisi lemah saat ini. "Jangan bohong Senja!" Gandha menggeleng, ia terdiam dengan d**a yang bergemuruh hebat. Siapapun yang melihatnya saat ini akan faham jika lelaki itu sedang menahan lonjakan emosinya. "Alen anak saya, saya tau itu." Naka tersenyum remeh, "bukan. Anak anda sudah mati." Gandha menggeleng, "tolong jangan buat semuanya menjadi rumit. Sekeras apapun kamu menyangkal. Saya tau jika Alen anak saya Senja." "Mari memulai semuanya, biarkan Alen merasakan hidup sesuai anak seusianya dengan Mommy dan Daddy nya." Gandha melemah, suaranya melirih jika harus mengingat bocah tampan yang mencuri hatinya kemarin. "Kalo pun dia bukan anak saya, saya akan mencintai dia seperti anak kandung saya sendiri. Saya sudah jatuh hati pada Alen sejak pertama kali bertemu." Naka memejamkan matanya, dadanya benar-benar sesak tak memiliki ruang untuk bernafas melihat Gandha yang meneteskan air mata dan menunduk frustasi di hadapannya. Ia tidak sejahat itu sampai ingin memisahkan anaknya dari ayah kandungnya,  ia hanya belum siap untuk kembali. Ya, ia kini sedang mempertahankan keegoisannya untuk menjaga hatinya. "Saya mohon," lirih Gandha. Naka beranjak, ia terduduk di depan Gandha dan mendekap pria itu erat. Ia tau, ia sadar jika pria itu kini menangis dengan hebatnya. Bahkan Gandha tak segan untuk menangis dan membiarkan Naka menyaksikannya. Naka memejamkan matanya erat, ikut menangis dengan keadaannya saat ini. Ia tak tega, tapi lagi-lagi ia belum siap. Harus bagaimana ia bersikap. "Senjaa," Gandha berujar lirih dan parau dalam dekapan Naka. Ia bahkan tak kalah erat membalas dekapan milik wanita yang masih bertahta di hatinya. "Saya masih sangat mencintai kamu, saya mohon.." Naka membeku, ia tak menyangka akan mendengar hal itu setelah sekian lama. Setelah apa yang terjadi dan apa yang ia lakukan. Gandha, suami ah bukan mantan suaminya masih mencintainya. Naka kembali tersentak saat merasakan pelukan Gandha yang merenggang, ia bahkan merasakan Gandha yang seolah tak bertenaga. Dengan perlahan, ia memberikan jarak untuknya dan terkejut saat mendapati Gandha yang tak sadarkan diri. "Mas, Mas kamu kenapa? Mas bangun, Mas.."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD