SENJA 0.6

885 Words
"Gue mau tes DNA!" "APA?" Romeo yang semula terlentang dengan terpejam tersentak sampai refleks bangkit dari posisinya. "Loe bilang apa Ga?" Gandha mendengus sebal, "gue mau tes DNA Me." Romeo menggeleng kali ini, "buat apa? Naka bilang itu bukan anak loe kan? Yaudah." Gandha mendelik tak suka saat mendengar tanggapan sahabatnya. Romeo yang mendapat tatapan tajam dari Gandha pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Salah omong gue, batinnya. Gandha memejamkan matanya sejenak. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman tipis saat bayangan wajah Alen terlintas di benaknya. Gandha tau Alen anaknya. Tanpa banyak orang tau, ia merasakannya. Merasakan bagaimana jantungnya berdetak hebat saat pertama kali melihatnya, bagaimana ia seolah merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya hanya pada anak itu, Alen. Ia tak perlu banyak bicara untuk mengetahui itu anaknya, mata anak itu adalah matanya. Meski samar, ia dapat menemukan cerminan dirinya dalam diri Alen. Terserah Senja-nya mau berkelik macam apa, yang ia tau. Hatinya masih milik wanita itu, dan saat ia menemukan wanita itu kembali ia justru dibuat jatuh cinta lagi akan sosok baru yang dimiliki wanita itu, Alen. "Ga, mending udah deh selesein tugas loe dan kita balik ke Indonesia." Ucapan Romeo menyadarkan Gandha dari lamunannya, dengan tegas Gandha menggeleng sebagai jawaban. Ia harus mendapatkan wanitanya kembali. ** "Mommy kenapa sayang?" Naura yang sedari tadi bermain bersama Alen di buat mengernyitkan dahi bingung lantaran Naka yang lebih banyak diam tak seperti biasanya. Ia bahkan tak masuk kerja hari ini dengan alasan kurang enak badan. Angkasa, lelaki itu sampai panik dan mendatangi apartemen mereka berniat mengajak Naka ke rumah sakit dan justru mendapat penolakan dari wanita itu. Lelaki itu baru kembali setelah 2 jam bermain bersama Alen. "Ma.." Naura menoleh saat mendengar Alen memanggilnya. Naura tersenyum sambil mengelus rambut Alen lembut. "Apa sayang?" Alen terdiam dan menundukkan kepalanya menjadikan Naura mengernyit bingung karenanya. "Adi Alen kal," kata Alen pelan. Naura mengelus lembut surai rambut Alen dan memberikan kecupan singkat disana. "Anak Mama nakal kenapa emangnya?" Alen yang mendapat kecupan berulang dari Naura terkekeh geli. Naura memang membiasakan Alen agar memanggilnya Mama. Biar enak katanya, gak usah sakit buat dan ngelahirin tapi udah punya anak. Naura juga sangat menyayangi Alen seperti anaknya sendiri. Jika dulu ia akan malas pulang ke rumah dan sibuk berbelanja hal tak penting, maka sejak kelahiran Alen ia menjadi tak betah jika harus lama lama berada di luar. Terlebih jika ia harus berangkat keluar negeri, hampir setiap waktu senggangnya ia habiskan untuk menelfon Naka hanya untuk mengetahui kabar Alen sampai tak jarang mendapat omelan Naka. Ia juga lebih senang menghabiskan uangnya untuk membelikan mainan atau segala sesuatu kebutuhan Alen. "Alen abak Uncle." "Alen nabrak Uncle?" Alen mengangguk dengan lucunya. Naura tersenyum lembut, "it's okay. Have you said sorry?" Lagi-lagi Alen mengangguk. "Good boy." Alen tersenyum lebar saat Naura tak memarahinya, ia hanya menasehati Alen agar lebih berhati-hati lagi. "Maa.. Uncle so hencem," Naura tertawa mendengarnya. Ini ia tak salah dengar kan? Alen biasanya akan marah saat ada yg menyebut orang lain tampan. Bagi bocah itu ialah yang paling tampan. Tapi lihatlah, dia barusan memuji lelaki yang di tabraknya tadi pagi. "Oh ya? Which one more handsome, you or Uncle?" "Me!" Teriak Alen lantang yang lagi-lagi membuat gelak tawa Naura pecah. Terlebih saat mendengar ucapan Alen selanjutnya yang syarat akan kebingungan, "but Uncle too." Naura penasaran, seperti apa lelaki yang di maksud oleh Alen. "Alen," Naura dan Alen sontak menoleh ke asal suara. "Yes Mom." Naka tersenyum lembut lantas menghampiri dua orang yang sangat ia sayangi itu. "Tidur udah malem, katanya besok mau pergi sama Mama." Alen mengangguk patuh. Ia bangkit dari posisinya lantas berjalan menghampiri Naka dan Naura memberikan kecupan di kedua sisi pipi Mommy dan Mamanya. "Mau Mama temenin?" Alen menggeleng sebagai jawaban. "Sleep well boy." Naura sedikit berteriak saat melihat Alen sudah memasuki kamar yang berjarak 3 meter dari posisinya. Naura tersentak saat Naka tiba-tiba memeluknya. Dengan perlahan ia membalas dan mengusap lembut punggung sahabatnya. "Are you okay? Gue liat loe diem aja sedari pulang. Loe bahkan gak kerja dan gak keluar kamar selain pas Angkasa dateng itu pun sebentar. Gue juga gak yakin loe udah makan?" Naka menggeleng pelan, "he is back." Naura melepas dekapannya dan memberi jarak antara dirinya dan Naka. "Maksud loe?" Naka tak menjawab, ia hanya memandang Naura dengan tatapan yang sulit di artikan bahkan mengangguk perlahan. "Gimana bisa?" Naura heran. Bukankah mereka tak pernah memiliki akses komunikasi sama sekali sejak saat itu. Ia bahkan harus bersusah membujuk Naka dan menghindar dari pria itu saat ia berada di Indonesia. Jadi bagaimana mungkin? "Loe inget kalo di fakultas gue lagi ada seminar, and he is the tentor." "s**t!" Naura mengumpat tanpa sadar. Sahabatnya sedang asyik menghindar, bersembunyi bahkan dari jangkauan semua orang yang berkuasa sekalipun. Menebalkan hati untuk tidak jatuh pada raungan kesakitan pria itu, dan semesta mempertemukan mereka dengan mudahnya. Naura diam terkekeh miris dalam hati, semesta suka bercanda se-asyik itu. "How can?" Naka menggeleng, "gue gak tau. Waktu itu gue lagi siapin bahan presentasi yang harus revisi buat besok sekalian liat persiapan pembukaan seminar, tiba-tiba Alen dateng dan meluk gue. Ya gue bales lah, kita bercanda kaya biasa dan gak tau darimana dia tiba-tiba meluk gue," ucap Naka melirih di akhir. "He hug you?" Naka mengangguk perlahan. "Tapi bukan itu yang gue takutin." Naura mengernyitkan dahinya bingung, "loe siap kembali?" Naka menggeleng, menjadikan Naura semakin mengernyit kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD