"Mommy.."
Alen berteriak sambil berlari menuju seseorang yang nampak tengah sibuk di depan laptop.
"Alen.." Sahutnya membentangkan kedua tangan saat melihat bocah tampan yang dengan lucunya berlari ke arahnya.
'Hap!
Alen kini tertawa lepas saat merasakan geli karena wajahnya yang dihujami ciuman bertubi-tubi dari wanita yang dipanggilnya Mommy.
Mr.Carv tersenyum saat memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu, tanpa menyadari ada dua orang yang kini justru membeku melihat hal yang terjadi di depannya.
Tanpa mereka sadari, salah satu dari dua orang pria dewasa itu mulai melangkah maju menghampiri ibu dan anak yang seolah tak menyadari keadaan sekitar karena asyik bercanda.
"Senja," lirihnya setelah berhasil memeluk dua orang yang semula tengah asyik tertawa.
Mr.Carv membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sedang Alen yang semula tertawa kini terdiam memperhatikan ibunya yang membeku di tempatnya setelah mendapat pelukan dari pria asing yang baru tadi di kenalnya.
"Senja, ini kamu."
Gandha kembali membuka suara dan tangan yang semakin mengeratkan dekapannya. Ia bahkan tak menyeka sedikit pun air mata yang entah sejak kapan jatuh membasahi wajahnya.
"Who are you?"
Naka akhirnya membuka suara dan memberontak sampai Gandha melepaskan pelukannya.
Lelaki itu memandang terkejut wanita yang ada di hadapannya. Ia tidak mungkin salah. Itu Senja, Senja-nya.
"Senja, ini Mas." Ujarnya berusaha meraih tangan Naka namun di tepis dengan kasarnya.
"Mom.."
Naka dan Gandha mengalihkan atensinya pada Alen. Gandha menatap dua orang yang ada di hadapannya sejenak sebelum akhirnya membuka suara.
"Dia-"
"Uncle bisa ajak Darren?"
Mr.Crav yang mengerti maksud dari ucapan Naka pun mengangguk dan mengambil Alen yang ada dalam gendongannya. Ia pun melangkah keluar dari Auditorium disusul dengan Romeo yang ada di belakangnya.
"Senja, Mas-"
"Pergi!"
Naka berujar dingin. Gandha menggeleng pelan berusaha meraih tangan Naka yang slalu ditolak oleh pemiliknya.
"Mas cari kamu selama ini, kenapa kamu pergi gitu aja? Kamu kemana aja, Mas rindu." Ujar Gandha melirih di akhir.
Naka memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan terluka dari seseorang yang akan melemahkannya.
"Senja-"
"Gue udah bahagia, gue gak mau di usik siapapun lagi. Pergi!"
Gandha menggeleng tak mempedulikan ucapan wanita-nya. Ah masih pantaskah ia di panggil wanitanya, setelah apa yang terjadi selama ini.
"Dia anak Mas?"
Naka menoleh cepat, menatap Gandha lantas menggeleng dengan mantap, "bukan!"
Gandha mengernyit, "bohong," bantahnya.
Kali ini Naka tersenyum meremehkan, "loe lupa, anak loe udah gak ada?"
Gandha membeku. Ucapan Naka barusan benar-benar memukulnya telak. Membawanya kembali ke masa dimana ia melakukan banyak kesalahan.
Gandha menggeleng setelahnya, menatap Naka dengan tatapan memohon.
"Lantas? Kamu sudah menikah?"
Gandha menahan sesak saat mengucapkannya. Ia memejamkan matanya kuat berusaha melawan sakit yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya.
"Iya," Gandha membuka matanya lebar saat mendengar jawaban Naka.
"Alen anak gue dan gue gak pernah menikah."
Gandha membuka matanya semakin lebar, gak mungkin Senja..
"Kamu?"
Naka tersenyum miring, "ini Amerika hal kaya gitu udah biasa."
Lagi-lagi Gandha menggeleng.
"Bohong! Mas tau kamu gak akan ngelakuin itu."
Naka maju mengikis jarak antara ia dan Gandha.
"Loe lupa gue siapa? Dari sebelum kita kenal gue udah biasa keluar masuk club. Kalo loe lupa, loe sendiri yang bilang gue murahan. Jadi gak usah kaget gitu dong."
Naka melengos pergi setelahnya, mengabaikan Gandha yang kini terpaku karena mendengar ucapan wanita itu.
Kepalanya berdenyut nyeri dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Ingatannya lari ke masa dimana ia menampar dan menyumpah serapahi Naka semaunya di depan umum.
Senja-nya kembali, ah bukan. Tapi Naka yang kembali.
Senja, lirihnya.
**
"Jadi, dia mantan suami Naka?"
Romeo mengangguk sebagai jawaban. Setelah keluar dari auditorium saat ini ia dan Mr.Carv tengah menunggui Alen yang asyik bermain di taman universitas.
"Saya tau apa yang di perbuat sahabat saya adalah sebuah kesalahan besar. Tapi saya rasa juga sudah cukup dengan kepergian Naka dari sisi sahabat saya 3 tahun lalu sebagai hukuman atas perbuatannya. Disini, bukan hanya Naka yang hancur tapi Gandha juga."
Mr.Carv masih tak bergeming. Ia masih cukup terkejut saat menerima fakta bahwa lelaki yang selama ini diam-diam ia pertanyakan keberadaannya saat ini ada di dekatnya.
"Sejak kepergian Naka, Gandha mengalami depresi. 3 bulan awal bahkan ia mengurung diri di kamar dan mengabaikan semua orang. Saat itu saya tau satu hal, dunianya sudah runtuh. Setelahnya, saya dan Aira.. adiknya berusaha menariknya untuk bangkit. Berat memang, namun syukurlah Gandha mengerti dan mau bangkit secara perlahan. Tapi semua tak lagi sama."
Romeo menjeda sejenak ucapannya.
"Gandha kembali sebagai orang yang berbeda. Dia menjadi orang yang kasar dan dingin. Tak tersentuh oleh siapapun. Menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bertindak membabi buta pada siapa saja yang menyalahi rencananya. Gandha menjadi buas."
"Tapi tadi saya cukup di buat terkejut saat melihat ia bisa menjadi Gandha yang saya kenal 3 tahun lalu hanya karena bertemu Alen."
"Apa Alen anak sahabat saya?" Kali ini Romeo memelankan ucapannya.
Mr.Carv menggeleng perlahan, "ini bukan kapasitas saya untuk menjawab. Kamu bisa tanyakan ini langsung pada Naka."
Romeo mengangguk faham.
"Apa yang akan terjadi saat ini?"
Mr.Carv membuka suara saat mengingat track record seorang Argandha yang terkenal ambisius.
Romeo menggeleng, "I don't know. Tapi saya rasa anda sudah cukup tau bahwa sahabat saya merupakan seorang yang ambisius dan tak ingin mengalah."