"Ck, kalo gak mau ngomong sama gue terus ngapain sih loe ngajak gue kesini. Segala pake mecat si Alexa."
Gandha terus berjalan menelusuri jalan setapak menuju gedung auditorium University of California, tempatnya akan mengisi seminar.
Bicara soal Romeo yang harus terpaksa ikut hal itu dikarenakan Gandha memecat secara tak terhormat sekretaris lamanya yang sialnya disaat kurang beberapa jam saja ia akan berangkat ke Amerika. Harusnya ia berangkat kemari bersama sekretarisnya, Alexa. Namun, sungguh wanita gila itu yang sangat bernyali atau bagaimana ia justru menceburkan dirinya dalam kandang singa seperti Gandha di dalamnya.
Beberapa saat setelah ia menyampaikan jadwal Gandha saat itu, bukannya keluar saat diminta keluar, Alexa justru mendekat kepadanya yang saat itu masih setia bertengger di kursi kebesarannya. Lantas dengan entengnya ia menawarkan diri untuk seorang CEO GD Group yang terkenal se-Asia.
Bukan hanya terkenal karena prestasinya, tetapi juga karena sikap dan sifatnya yang sangat di segani. Muhammad Argandha Putra, seorang milyuner sukses yang berhasil mengembangkan bisnisnya sejak 4 tahun perusahaannya didirikan. Seorang CEO muda yang terkenal dengan sikap dingin dan bengisnya yang tak pandang bulu dalam dunia perbisnisan.
Jadilah, Alexa harus menerima nasib pahit yakni di pecat dengan tidak hormat dan akan sulit mendapatkan pekerjaan dimana pun.
Itulah sebabnya Gandha menarik Romeo, sahabatnya untuk menemaninya mengabaikan lembaran berkas yang menumpuk di meja kerjanya sebagai seorang CEO di sebuah EO terkenal di Jakarta.
"Excuse me, Mr.Putra," Gandha mengangguk saat sampai di lobby universitas dan disambut dengan seseorang yang sepertinya bekerja sebagai salah satu tenaga pengajar di sini.
"This is my partner, Mr.Romeo," jelas Gandha memperkenalkan Romeo yang hanya tersenyum sopan saat mereka berjabat tangan.
"Mr.Carv, head officer here. Nice to meet you all."
Gandha mengangguk dengan senyum sopan menimpali ucapan Mr.Carv, "nice to meet you too."
Mereka bertiga mulai memasuki area universitas dengan Mr.Carv yang melakukan tur singkat sebelum mereka sampai di ruang auditorium dimana Gandha akan mengisi acara 2 jam lagi.
"Akhh.."
Gandha dan Mr.Carv menghentikan langkahnya saat mendengar ringisan dari Romeo yang kini nampak sudah terduduk di lantai dengan seorang anak kecil yang berdiri menunduk dengan wajah memerah di sampingnya.
"Oh sorry Mr.Romeo," Mr.Carv bergerak cepat dengan menghampiri Romeo dan anak kecil itu.
"It's okay sir."
Itu bukan suara Romeo, lelaki itu saja masih sibuk meringis dengan mengusap sesekali pantatnya yang terasa ngilu karena harus terduduk paksa karena terjatuh. Tetapi Gandha, yang kini sudah berjongkok di depan anak kecil yang masih setia menundukkan wajahnya itu.
"Hi boy," sapanya lembut dengan senyum manis yang entah mengapa terkembang di wajahnya. Ah, jangan lupakan tangannya yang tanpa sadar mengelus rambut hitam kecoklatan yang meski ikal tapi masih terasa begitu lembut untuknya.
Anak kecil itu masih tak bergerak ia masih setia menundukkan wajahnya dengan wajah yang memerah sepertinya. Karena saat ini Gandha dapat melihat pipi dan hidung yang memerah, sangat kontras dengan warna cerah kulitnya.
"So.. ly," ujarnya pelan yang justru membuat Gandha gemas di buatnya.
Tanpa sadar ia pun mencium gemas pipi gembul milik anak tersebut. Romeo yang sudah berhasil berdiri tegak dibuat menganga tak percaya.
Bagaimana tidak, sudah tiga tahun ia tak melihat sahabatnya itu tersenyum begitu tulus. Bahkan ia sudah lupa kapan terakhir kali Gandha menunjukkan berbagai macam ekspresi seperti saat ini.
Tapi sekarang, karena seorang bocah yang mungkin belum genap berumur 3 tahun Gandha sudah bisa tersenyum seperti sedia kala. Bahkan mendaratkan ciuman di pipi anak itu.
Oke, mungkin siapa saja akan gemas melihat bocah itu. Bahkan Romeo saja dibuat gemas melihatnya. Bagaimana tidak, kulit putih dengan pipi chubby, hidung yang bisa dibilang pesek dan mata sipit justru nampak sangat menggemaskan melekat padanya yang berambut ikal. Bocah itu juga tampil menawan dalam balutan kaos dengan jeans yang dipadukan sepatu sneakers kecil berwarna putih. Oh betapa modisnya anak jaman sekarang, batin Romeo.
Anak itu kini menatap Gandha setelah tadi ia merasakan lelaki itu mencium pipinya.
"Glandpa, Alen di tium."
Gandha dan Romeo di buat melongo saat anak itu berujar dengan bahasa Indonesia pada Mr.Carv.
Mr.Carv yang berdiri di samping anak itu tersenyum lembut sambil mengelus pelan kepalanya, "it's okay. Om-om ini teman Grandpa, mereka orang baik."
Kali ini kedua pria dewasa itu dibuat tak percaya saat mendengar Mr.Carv menyahuti ucapan anak kecil itu dengan bahasa Indonesia pula.
"Maaf, anda berbahasa Indonesia?"
Mr.Carv mengangguk dengan senyum sopan mendengar suara Gandha.
"Ah iya maaf saya lupa. Saya bisa berbahasa Indonesia karena istri saya orang Indonesia."
Gandha dan Romeo mengangguk faham. Gandha kembali mengalihkan atensinya pada anak kecil yang kini nampak tengah menyembunyikan wajahnya di kaki jenjang milik Mr.Carv.
"Halo jagoan, nama Uncle Putra. You?"
Gandha menggerakkan tangannya di depan anak kecil itu. Setelah mendapat anggukan dari Mr.Carv anak itu memajukan tangannya dan meletakkannya di atas tangan Gandha seolah mengajak berjabat tangan.
"Alen."
Gandha tersenyum lebar lantas mencium punggung tangan mungil itu gemas.
"Hi Alen, this Uncle Putra and that is Uncle Meo," ucap Gandha menunjuk dirinya sendiri lantas Romeo yang berada tak jauh darinya.
Alen tersenyum tipis dalam persembunyiannya.
Gandha mengacak rambut anak itu sejenak sebelum akhirnya ia menegakkan tubuhnya kembali berdiri.
"Cucu anda?"
Mr.Carv mengangguk perlahan dengan pandangan yang masih setia menatap anak kecil bernama Alen itu.
"Bukan cucu kandung, tapi memang sudah menjadi cucu ku sendiri."
Gandha mengangguk memperhatikan interaksi antara pria yang mungkin berumur sekitar 60 tahunan itu dengan Alen.
"Ibunya berasal dari Indonesia. Mereka tak memiliki keluarga disini selain dengan keponakan saya, jadilah saya dan istri saya menganggapnya seperti putri kami sendiri. Lagipula kami memang tak memiliki keturunan."
Mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka dengan Alen yang sudah berada dalam gendongan Mr.Carv.
"Dimana ibunya?"
Romeo akhirnya membuka suara. Gandha hanya memperhatikan saja, toh pertanyaan yang sedari tadi ada di kepalanya sudah di lontarkan oleh Romeo.
"Mungkin sedang sibuk di auditorium. Ibunya mahasiswi di sini, orang yang akan menjadi assisten Mr.Putra selama 3 hari mengadakan seminar disini."