Siang ini, acara ospek adalah jalan-jalan keliling kampus. Para observer membagi maba-maba itu menjadi beberapa kelompok besar dan mereka dibawa ke bangunan-bangunan yang ada di fakultas ini.
Para observer memperkenalkan ruang-ruang yang nantinya akan digunakan dalam kegiatan perkuliahan.
"Ini ruang dosen-dosen departemen akuntansi. Buat anak-anak akuntansi, kalian bakal sering banget dateng kemari. Buat ngumpulin tugas lah, buat minta tanda tangan dosen lah," terang seorang kakak observer dengan semangat.
Para maba kembali dibawa ke tempat lain di gedung ini. Ternyata itu adalah ruang admin yang terletak di lantai dua. Sebenarnya di lantai dua ini terdapat banyak ruang kelas, tapi kakak observer hanya menjelaskan ruang admin ini saja.
"Nah, teman-teman. Ini ruang admin. Kalau kalian mau ngurus absen, minta cap buat kartu ujian, atau sebagainya, kalian kudu banget ke sini." Kakak observer menunjukkan sebuah ruangan yang di bagian depannya disekat dengan kaca seperti pada loket-loket pembayaran.
Shana yang juga menjadi rombongan ini turut memperhatikan ruang admin yang ditunjuk oleh kakak observer. Entah karena mata Shana lelah atau bagaimana, Shana melihat sosok bertudung kepala di pantulan kaca ruang admin yang ngomong-ngomong kaca depannya dibuat gelap.
Shana menoleh panik ke kanan dan ke kiri, tapi tidak mendapati apa-apa di sekitarnya. Apakah sosok bertudung kepala tadi itu pantulan di kaca atau sungguhan ada di dalam ruangan itu?
Mendadak Shana merasa merinding. Untunglah kakak observer tidak menjelaskan lebih jauh lagi soal ruang admin itu. Kakak observer membawa para maba naik ke lantai tiga. Di lantai tiga, ada sebuah ruangan serba guna. Biasa digunakan untuk bimbingan skripsi atau penyelenggaraan kelas tambahan dari dosen.
Kakak observer membawa para maba menuju ke arah sebaliknya. Kakak observer itu membuka sebuah pintu yang langsung menampaknya ruang santai terbuka yang nyaman.
"Anggap aja ini rooftop untuk bersantai. Karena gedung ini nggak ada rooftopnya." Kakak observer membawa maba memasuki area terbuka itu. "Kalian bisa belajar, makan, atau sekadar menghabiskan waktu sambil menunggu kelas selanjutnya di sini."
Para maba mengangguk-anggukan kepala. Mereka juga mulai berpencar. Ada yang mencoba duduk-duduk di bangku yang disediakan. Ada yang berjalan ke pagar pembatas tepian ruang terbuka lantai tiga. Ada yang tetap berdiri di tempat sambil ngobrol dengan teman sebelah.
Shana sendiri memilih berjalan ke pagar pembatas tepian ruang terbuka lantai tiga. Ia menatap ke bawah. Ternyata jarak antara lantai tiga dan lantai satu tidak begitu jauh. Itu karena memang posisi lantai satu bisa dibilang di bawah tanah dan yang lantai dua jadi sejajar dengan tanah. Ya, tinggi rendah bangunan di sini memang membingungkan karena struktur ketinggian tanahnya juga bervariasi.
"Dek, kamu tau nggak kalau hujan kadang tempat itu jadi kaya kolam renang. Air menggenang di sana," ucap seseorang yang berdiri di samping Shana.
Shana menoleh dengan kaget. Ia mendapati kakak observernya berdiri di sampingnya. Cewek berambut pirang itu sepertinya tengah berbasa-basi dengan Shana. Jadi Shana hanya membalas dengan senyum dan anggukan kaku. Kakak observer itu berlalu, meninggalkan Shana yang masih terpaku.
Kakak observer tadi meminta para maba kembali berkumpul dan membentuk barisan. Para maba digiring kembali masuk ke gedung.
Shana berjalan di barisan belakang. Ia sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia sebenarnya sudah sangat ingin memisahkan diri dari kelompok ini dan bergabung dengan temannya di kelompok lain. Dia memang s**l karena harus terpisah sendirian.
***
Selesai berkeliling area kampus, Shana duduk sembari meluruskan kakinya di lorong depan auditorium gedung dekanat. Di samping Shana, ada Agatha yang sibuk meneguk air dalam botol minum.
"Eh, Sha, cewek rambut pirang itu bukannya observer kelompok lo?" tanya Agatha sambil menunjuk seorang cewek berambut pirang dengan botolnya.
Shana menoleh ke arah yang Agatha tunjuk. Shana lalu mengangguk, "Iya, kenapa emang?"
Agatha berbisik, "Liat deh, dia lagi ngobrol sama siapa."
"Kak Panji bukan sih?" tanya Shana ragu karena lawan bicara cewek berambut pirang itu terhalang oleh meja presensi.
Agatha mengangguk, "Iya. Cewek itu siapanya Kak Panji ya? Kok ngobrol berdua doang."
"Mereka kelihatan akrab," ucap Shana saat melihat dua orang itu tengah tertawa malu-malu.
Agatha berbisik lagi, "Jangan-jangan Kak Panji lagi PDKT ke cewek berambut pirang itu."
Shana meringis. Ia tidak habis pikir dengan cowok yang notabenenya adalah seorang ketua Senat tapi kelakuan agak laknat. "Berarti dia deketin banyak cewek dalam satu waktu dong. Kemarin di video itu, dia kelihatan deket sama salah seorang maba cewek. Terus sekarang dia deketin cewek rambut pirang yang notabenenya adalah teman panitianya itu."
Agatha menutup mulutnya sendiri saat sebuah pikiran konspirasi masuk ke otaknya, "Eh, tunggu Sha. Kayanya gue mencium bau-bau perselingkuhan."
"Ha, gimana maksud lo?" Shana turut melongo.
"Sha, cewek rambut pirang itu mungkin adalah pacarnya Kak Panji. Sedangkan maba yang masih belum jelas identitasnya itu adalah incerannya Kak Panji. Ini persis sama kaya Kak Langir dan Kak Aci. Kak Langir deketin cewek yang notabenenya adalah maba, padahal Kak Langir udah punya pacar."
"Wow!"
Agatha dan Shana terdiam saat cewek berambut pirang itu menoleh ke arah mereka. Mungkinkah dia bisa merasakan kalau dia sedang dijadikan bahan pembicaraan Agatha dan Shana?
***
Acara ospek dilanjutkan dengan pembagian kelompok dan persiapan untuk Parade Seni. Ya, besok tidak ada sesi ospek di dalam kelas. Jadi besok agenda ospek adalah setiap kelompok kecil akan menampilkan pertunjukan seni yang menghibur. Lalu, ada pula penampilan dari UKM di bidang seni yang turut memeriahkan acara itu.
Satu kelas ospek ini dibagi menjadi delapan kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima puluhan mahasiswa baru.
Beruntung, kali ini Shana, Arthur, Agatha, dan Verrel kedapatan masuk dalam kelompok yang sama. Mereka lalu berkumpul dengan teman sekelompok mereka di luar auditorium. Kakak observer yang bertugas mengarahkan kelompok itu membawa lima puluh maba ke dalam satu ruangan yang sudah disediakan.
"Nah, guys, kalian bisa langsung bahas-bahas dan latian juga buat penampilan besok. Karena acaranya mepet, aku saranin konsep penampilannya yang simpel aja, tapi tetap menghibur dan lain dari yang lain." Kakak observer itu memberi saran di depan kelas. Ia lalu menyerahkan pembahasan kepada perwakilan kelas yang berniat memimpin koordinasi.
Banyak anggota kelompok yang menyarankan untuk menampilkan sebuah band saja karena memang alat-alat band akan tersedia di sana. Itu karena band kampus akan turut mengisi acara. Setelah mantap akan menampilkan band, ternyata anggota kelompok tidak ada yang sanggup untuk jadi perwakilan. Tidak banyak yang sanggup bermain musik dan hanya mau jadi penyanyinya saja. Akhirnya rencana pertunjukan band digugurkan.
Lalu tak sedikit pula yang menyarankan untuk menampilkan pertunjukan teater. Meski pada akhirnya karena pertimbangan waktu latihan, rencana pertunjukan teater dicoret dari daftar.
Terakhir, terdengar celetukan soal musikalisasi puisi ditambah sedikit adegan drama tanpa dialog. Karena kedengaran keren dan unik, akhirnya usulan itu yang terpilih.
"Jadi siapa yang bakal mewakili kelas ini buat nampilin musikalisasi dan drama tanpa dialog besok?" tanya perwakilan kelas yang memimpin pembahasan.
"Kalau nggak ada yang mau, lo tunjuk aja," usul seorang cewek yang duduk tak jauh dari si perwakilan kelas.
"Yakin mau ditunjuk, ntar nggak sanggup lagi," celetuk yang lain.
"Ya udah, sukarela dulu. Kalau nggak ada yang mau, gue tunjuk beneran nih." Si perwakilan bersiap menuliskan nama-nama sukarelawan kelas.
"Gue deh, Lean."
"Gue, Lona."
"Gue, Sekar."
"Gue, Atta."
"Gue, Talea."
"Gue, Kejora."
"Cewek semua masa?" protes si perwakilan kelas yang memimpin rapat ini.
"Nolan, lo kan cowok, gabung dong buat penampilan besok," ujar seorang cewek yang tadi memperkenalkan diri sebagai Talea.
"Oke, demi Lea yang cantik jelita, gue gabung buat acara besok. Yok, cowoknya nambah lagi." Perwakilan kelas yang diketahui bernama Nolan itu kembali mengedarkan pandangan.
Mata Nolan berhenti ketika menatap ke bagian belakang kelas, di mana Verrel dan Arthur duduk berdampingan dengan Shana dan Agatha.
"Lo yang di belakang, ikutan ya?" pinta Nolan.
Verrel menegakkan tubuhnya. "Gue apa dia?" tanya Verrel sembari menunjuk Arthur.
"Terserah, kalau bisa kalian berdua," balas Nolan.
Arthur dan Verrel saling tatap sebentar. Kelihatan mereka ingin menolak. Tapi tak enak hati lantaran keduanya tengah ditatap dengan tatapan memohon oleh seluruh isi kelas.
"Oke," gumam Arthur.
"Gue gabung deh," tambah Verrel.
"Nama kalian?" tanya Nolan yang sudah siap mencatat di papan tulis.
"Arthur."
"Verrel."
"Nah masih ada lagi yang mau gabung? Lima belas orang yuk biar rame," ajak Nolan pada seisi kelas. "Cewek boleh nambah, tapi kalau yang nambahin cowok lebih oke."
***
Sore ini sepulang ospek, Verrel dan Arthur langsung pulang ke rumah masing-masing. Mereka rencana akan kembali ke kampus pukul setengah tujuh malam nanti untuk berlatih dengan anggota kelas mereka.
"Yah, kita nggak bisa kepoin Kak Panji atau Kak Langir. Btw, kita udah cukup kan kepoin Kak Morusnya?" Agatha membuka pembicaraan saat mobil yang Verrel kendarai mulai berlalu meninggalkan tempat kosong di sebelah gerbang fakultas mereka yang mendadak jadi tempat parkir mobil Verrel.
"Kayanya udah cukup sih cari tau soal Kak Morusnya. Kan kemarin dia nggak melakukan apa-apa tapi tadi pagi ada mayat lagi yang ditemukan di sekolah. Mayat itu juga diduga gebetannya Kak Langir yang ditemukan di mobil Kak Panji. Ah, Tha, gimana kalau kita berdua aja yang mata-matain Kak Panji atau Kak Langir? Biar Arthur sama Verrel fokus latihan buat tampil besok," usul Shana.
"Jangan," cegah Verrel cepat-cepat saat mendengar usulan Shana.
"Gue nggak setuju kalau kalian mata-matain mereka tanpa gue atau Verrel," imbuh Arthur.
Verrel mengangguk-angguk mantap, "Iya, kalian jangan nekat deh."
"Ya terus gimana dong? Kita kan pengen kasus ini cepet kebongkar," kilah Agatha.
"Pokoknya enggak boleh!" Verrel berkeras.
"Iya, iya, enggak." Agatha menggumam dengan wajah masam dan tertekuk kusut.
"Sebenernya, karena nanti malem kita latihan di kampus, gue rasa justru lebih mudah buat ngamatin pergerakan pelaku. Dua mayat ditemukan di area kampus. Kalau misal bakalan ada mayat ke tiga, pelaku akan buang mayat itu di area kampus juga. Dengan keadaan kampus yang rame sama maba nanti malem, gue pikir pelaku nggak akan bertindak." Arthur menjabarkan.
"Tapi, Ar, gimana kalau orang yang diincar pelaku buat jadi korban ke empatnya ada di kampus nanti malam? Bukannya itu juga memudahkan pelaku melancarkan aksinya?"
***