Mobil menepi di depan apartemen Arthur. Arthur turun selepas berpamitan dengan Shana dan Agatha. Begitu Arthur turun dari mobil, mobil kembali melaju ke arah rumah Shana.
Agatha menoleh pada Shana yang sedari tadi sibuk bermain ponsel. Agatha melongok ke muka Shana membuat Shana mendongakkan kepala.
"Kenapa, Tha?" tanya Shana.
Agatha kembali bersandar pada sandaran jok. "Sha, lo suka kan sama Arthur?"
"Halah, ngapain sih tiba-tiba bahas itu?"
"Hilih," cibir Agatha. "Arthur diembat cewek lain baru tau rasa lo."
Shana berdecak. Ia kembali fokus bermain game bercocok tanam di ponselnya.
"Sha, Arthur tuh suka sama lo." Agatha masih berkeras membahas hal ini.
Shana membalas dengan gumaman tak jelas. Ia berusaha tidak terpancing untuk bicara yang tidak-tidak.
"Sha, ih, dengerin gue ngomong dulu," pinta Agatha.
"Iya, Tha. Gue denger kok," balas Shana acuh tak acuh.
Agatha menghela napas kasar. "Sha, nih ya, gue kasih wejangan. Arthur itu cowok langka. Dia itu paket lengkap. Nggak sayang di sia-siain? Diseriusin kek."
Shana meletakkan ponselnya. Ia lalu menatap Agatha serius, "Tha, kalau gue jadian sama Arthur dan ternyata di tengah jalan hubungan gue sama dia nggak berjalan mulus, taruhannya adalah persahabatan kita berenam. Termasuk akbar dan Bang Nizar."
"Maksud lo?" Agatha mengernyit bingung.
"Ya gitu deh, Tha. Lo pikir semua bakalan sama kaya semula kalau misal gue sama Arthur ada apa-apa? Nggak, Tha. Gue udah pikirin ini mateng-mateng." Shana menggeleng-geleng. Ia meraih ponselnya dan kembali fokus pada kegiatan bercocok tanam virtualnya.
"Buktinya, gue sama Verrel baik-baik aja." Agatha masih ngotot.
"Iya, lo sama Verrel kan semua dibawa santai. Gue nggak yakin bisa kaya lo," tutup Shana. "Pak, rumah depan itu ya."
Mobil sudah berhenti di depan rumah Shana. Shana turun dan melambaikan tangan pada Agatha. Ia segera berlalu menuju rumahnya.
***
Agatha meletakkan tasnya di kursi belajar. Ia lalu pergi ke kamar mandi dan membersihkan badannya.
Setelah badannya terasa bersih dan segar, Agatha keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Mamanya sedang sibuk menghangatkan makanan, sementara papanya duduk di kursi makan sembari membaca koran.
"Kamu kok pulangnya malam-malam terus? Padahal ospek kan cuma sampai jam empat sore." Mama Agatha berbicara sembari memunggungi Agatha karena sedang sibuk mengaduk sayur.
Agatha mengangguk-angguk. Meski mamanya tidak melihat itu. "Agatha main dulu sama Shana, Verrel, dan Arthur."
"Main apa main? Jangan-jangan kamu sibuk cari masalah lagi." Papa Agatha turut bicara.
Agatha menggeleng, "Enggak kok, Pa. Semua aman."
"Kamu ini. Awas aja kalau sampai diculik lagi. Udah gede kok masih bisa diculik sama orang," ujar mama Agatha sembari menjewer kuping Agatha.
"Aduh Ma, jangan ditarik dong telingaku. Iya-iya, Agatha akan lebih hati-hati," janji Agatha.
Papa Agatha menurunkan koran yang barusan dibacanya, "Ya udah, habisin dulu makanannya. Ada tugas ospek apa buat besok?"
"Bikin struktur kepengurusan fakultas sama implementasi visi misi fakultas. Haduh, Agatha lelah," keluh Agatha.
***
Setelah mengerjakan oleh-oleh ospek semalaman, Shana baru bisa tidur pukul dua pagi. Dan sekarang, Shana sudah harus menghadapi kenyataan bahwa hari telah pagi.
Meski kepala pening, Shana tetap berusaha semangat memulai hari. Ia segera mandi dan mengenakan seragam hitam putih. Selesai berdandan, Shana keluar dari kamarnya dan menuju ke pantri.
Kali ini ayah Shana sudah memanggang roti isi daging dengan tambahan sosis, selada, dan tomat. Segelas s**u juga tersaji di sana.
"Ayah sebenernya pengen masak lagi, tapi ayah harus ke kantor habis ini." Gerald meletakkan piringnya yang telah kosong di wastafel.
Shana memutar kursi yang ia duduki agar menghadap ke ayahnya. "Yah, kelanjutan kasus penemuan mayat di kampusku gimana?"
Gerald menoleh, "Bukan ayah yang pegang kasus itu. Ayah masih ada urusan sama gembong n*****a. Nanti ya, ayah kenalkan dengan rekan ayah yang menangani kasus ini."
Shana hanya bisa mengangguk-angguk kecewa. Padahal akan lebih mudah kalau ayahnya lah yang menangani kasus ini. Shana jadi bisa leluasa bertanya ini dan itu.
Tapi ya mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Semua sudah ada yang mengatur. Tidak mungkin Shana berkeras kalau kasus ini haruslah ayahnya yang menangani.
"Prim, ayah berangkat sekarang ya. Oh ya, tadi bunda pesen, kamu jangan lupa ambil laundrian minggu kemarin di laundrian depan kompleks ya." Gerald mengacak rambut Shana dan melenggang mengambil jaket serta tas kerjanya. Shana hanya bisa diam sembari mengamati ayahnya yang bergerak cepat.
Shana menghabiskan sarapannya dengan lahap, lalu segera mengambil tasnya. Ia juga harus segera pergi ke kampus agar tidak terlambat.
Baru saja akan memesan ojol, Shana melihat sebuah mobil yang cukup familier. Itu mobil Verrel.
Saat mobil itu menepi di depan pagar rumah Shana, barulah Shana merasa yakin. Jendela mobil di bagian Shana berdiri terbuka. Arthur duduk di jok depan bagian penumpang. Sementara Verrel ada di balik kemudi. Agatha juga ada di sana, duduk di jok belakang sembari melambaikan tangan pada Shana.
"Buruan masuk, bentar lagi apel pagi dimulai." Verrel memperingatkan.
Shana mengangguk dan segera membuka pintu belakang. Ia duduk di sebelah Agatha.
"Rel, lo nekat banget bawa kendaraan ke kampus. Selama ospek kan maba dilarang bawa kendaraan sendiri." Shana geleng-geleng kepala, takjub dengan kenekatan Verrel.
"Tenang, Sha. Gue udah tau mau parkir ini mobil di mana. Pokoknya nggak gue bawa masuk ke gerbang fakultas." Verrel berkata santai.
Mereka melaju di jalanan sekitar dua puluh menitan. Saat mulai memasuki area kampus, Verrel tak lantas menuju ke gerbang fakultas. Ia membelokkan mobilnya ke lahan kosong yang mendadak ia jadikan lapangan parkir.
"Lo mau ninggalin mobil lo seharian di sini? Gila apa, gimana kalau ada orang yang punya niat jahat atau iseng ke mobil lo? Siapa yang bakal tanggung jawab?" Shana masih menentang keputusan nekat Verrel.
Verrel menepuk bahu Shana ringan. "Tenang, Sha. Mobil gue ada asuransi kok."
Shana masih geleng-geleng. Tapi ia tidak lagi protes.
***
Baru memasuki gerbang fakultas, mereka sudah dibuat bingung dengan bisik-bisik para maba. Sepertinya, lagi-lagi ada kejadian yang cukup menyita perhatian.
Arthur, Verrel, Shana, dan Agatha saling bertatapan bingung. Mereka akhirnya memutuskan mengikuti arus ke mana teman-teman mereka itu pergi.
Ternyata maba-maba itu berjalan ke arah TKP hari kemarin. Masa sih ada kejadian lagi di sana?
Arthur dan ketiga temannya berjalan gegas ke sana. Dugaan mereka soal TKP yang sama dengan hari kemarin memang tidak terbukti. Karena yang jadi TKP hari ini adalah mobil milik Morus. Oh tunggu dulu, mobil itu belum tentu milik Morus.
"Kemarin pacarnya Kak Langir sekarang denger-denger maba itu incerannya Kak Langir." Seorang cewek berseragam hitam putih yang menandakan dia seorang maba tengah ngerumpi dengan temannya.
"Ih, kok serem sih. Semua yang dekat sama Kak Langir jadi korban," timpal yang lain dengan raut wajah ngeri.
Dari arah belakang, Morus, Panji, Langir datang. Mereka kelihatan terengah-engah selesai berlari.
"Mor, panggil ambulans!" perintah Panji.
Sementara Morus memanggil ambulans dan polisi tentu saja, Langir dan Panji mendekati objek yang dikerumuni para maba dan beberapa panitia.
"Panitia tolong jangan ikut berkerumun." Morus selesai dengan teleponnya dan segera meneriaki panitia-panitia ospek yang ikut berkerumun karena penasaran dengan kejadian pagi ini.
Panitia yang mendengar kecaman Morus segera memisahkan diri dari kerumunan. Mereka melipir pergi ke arah lapangan dekanat.
"Untuk semua maba, tolong menyingkir dari sini dan menuju ke lapangan depan gedung dekanat. Apel pembukaan ospek hari ke empat akan segera dilaksanakan." Morus kembali meninggikan suara.
Para maba menoleh dengan tatapan kecewa. Mereka pasti masih ingin berkerumun dan melihat korban dengan lebih dekat. Tapi jelas tidak ada yang berani melawan perintah Morus, ketua panitia ospek.
Perlahan, para maba membubarkan diri. Termasuk Arthur dan kawan-kawan. Sebelum meninggalkan TKP, sempat tak sengaja Arthur bertatapan langsung dengan Morus. Tapi tidak ada yang terjadi. Morus segera memalingkan wajahnya dan berjalan mendekati dua temannya itu.
***
Selesai apel pagi, para mahasiswa baru langsung digiring ke auditorium. Mereka tidak diberi kesempatan kelayapan untuk kembali penasaran pada penemuan mayat hari ini.
"Hallo, teman-teman. Masih semangat, kan? Masih dong. Oke, pagi ini biar seger gitu kan, kita joget dulu yuk." Observer mengajak para maba untuk berjoget.
Jangan kalian bayangkan kalau mereka akan diajak joget lagu dangdut. Karena kenyataannya mereka dipandu untuk melakukan gerakan senam irama.
Seperti kemarin, panitia akan memberi lagu dan observer akan mencontohkan gerakan. Tapi, lagi-lagi ada kendala di bagian pemutaran video.
Beberapa mahasiswa baru bersorak-sorai melihat adegan tidak pantas yang ditampilkan di layar auditorium. Kakak observer bergerak panik. Mereka berusaha mematikan video yang memperlihatkan dua orang tengah berciuman di tempat gelap di kampus ini. Tepatnya dua orang tadi berciuman dengan latar mobil yang pagi ini menjadi tempat penemuan mayat.
Video itu diambil dengan cara yang tidak profesional, makanya gambarnya tidak jelas. Jadi semua yang melihat tampilan itu hanya bisa bertanya-tanya siapakah gerangan dua insan yang berani berciuman mesra malam-malam di kampus.
Tapi, Shana kelihatannya bisa menebak siapa orang dalam video itu. "Itu Kak Langir, kan?" bisik Shana pada ketiga temannya.
Arthur, Verrel, dan Agatha mengangguk. Ternyata mereka juga sepemikiran dengan Shana.
Video berakhir setelah terputar sekitar tiga menit. Komentar-komentar bernada mencemooh terdengar di sana-sini. Para maba menyadari bahwa salah satu objek video itu adalah panitia ospek karena orang itu masih menggunakan jas almamater ala panitia. Sedangkan objek satunya lagi adalah seorang maba dilihat dari seragam formal hitam-putihnya.
"Hallo, boleh minta perhatiaannya. Untuk kesalahan teknis barusan, kalian jangan anggap serius. Itu pasti bukan kelakuan mahasiswa sini." Salah seorang kakak observer berusaha menutupi hal menjijikkan itu.
Tapi para maba juga tidak bodoh. Jelas-jelas itu kejadiannya melibatkan panitia dan seorang maba. Beberapa bahkan menebak kalau maba yang terlibat dalam video itu adalah maba yang ditemukan tewas di dalam mobil.
Lagi-lagi, kegiatan ospek berjalan tak terkendali. Kakak observer kesulitan menghandle para maba bandel.
***