Chapter 10

1479 Words
    "Pulang yuk, udah beres kan?" ajak seorang cowok yang tadi bertugas mengambil video.     Yang lain buru-buru menyetujui. Termasuk Verrel yang memang sudah ada rencana lain sepulang kegiatan ini.     "Ntar gue aja yang edit videonya. Kalian setor nama, NIM, sama jurusan ya. Biar gue masukin ke dalam video," ujar seorang cewek bermata sipit yang kelihatan imut-imut.     Semua anggota mengiyakan. Mereka lalu membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.     Jika yang lain pulang ke rumah, Verrel justru balik ke fakultasnya. Ia sudah berjanji akan bergabung bersama Arthur, Agatha, dan Shana untuk mengintai Morus. Semoga saja Morus belum pergi dari kampus. Jadi empat s*****n itu tidak kehilangan jejak ketua panitia ospek itu. ***     Sesampainya di gerbang fakultas, Verrel segera masuk ke dalam. Barusan Agatha bilang kalau ia dan kedua temannya sudah menunggu di samping gedung dekanat.     "Hey, kalian. Kok cepet banget ngerjain video kegiatan sosialnya?" tanya Verrel begitu posisinya sudah dekat dengan ketiga temannya.     Ketiga temannya kompak menoleh ke arahnya. Mereka memberi isyarat agar Verrel tidak teriak-teriak.     Verrel menutup mulutnya dengan telapak tangannya, "Ups, sorry. Gue keceplosan."     Agatha langsung menarik Verrel berjongkok dan merapat di bagian yang tertutup pot tanaman.     "Itu Kak Morus sama Kak Panji keluar dari gedung dekanat," bisik Agatha sembari menunjuk ke arah selasar gedung dekanat.     Verrel, Arthur, dan Shana segera melihat ke arah yang Agatha tunjukan. Mereka bisa melihat Morus dan Panji tengah bicara dengan raut serius. Keduanya lalu berpencar.     "Kita jadi ikutin Kak Morus?" Shana memastikan.     "Iya, kita ikutin Kak Morus dulu." Agatha yang pertama keluar dari persembunyian. Ketiga temannya mengikuti perlahan.     Empat s*****n itu mengintai Morus dari jarak yang cukup jauh. Kalau dekat-dekat, bisa dipastikan mereka akan langsung ketahuan karena bergerombol seperti sekarang ini.     "Eh, kita kayanya berpencar aja deh. Agak jauh-jauhan gitu nguntitnya. Biar nggak menarik perhatian," ucap Shana karena merasa aneh harus mengendap-endap dengan ketiga temannya.     Arthur mengangguk, "Kita berpencar tapi fokus kita tetap ke Morus."     "Ya udah, gue sama Agatha ke sana aja." Verrel menarik Agatha ke bagian lain dari tempat di mana Shana dan Arthur berada.     Agatha tidak sempat menolak dan ia hanya menurut saja saat dibawa Verrel ke tempat lain.     Saat ini, meski berpencar, mereka berempat sama-sama mengintai Morus yang sedang berjalan ke TKP tempat kedua mayat panitia ospek ditemukan. Kenapa Morus terus-terusan mendatangi TKP?     Ternyata dugaan keempat s*****n itu meleset. Morus memang mendatangi gedung kegiatan mahasiswa. Tapi dia tidak menuju ke ruang BEM dan ruang Senat yang diberi garis polisi.     Morus mendekati sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari gedung kegiatan mahasiswa. Morus tampak mengutak-atik bagian mesin mobil itu. Kemudian tak lama dengan aktivitas mengutak-atik mesin mobil, ia beralih sibuk ke ponsel.     Morus sepertinya menelepon seseorang. Ia bicara sebentar di telepon, lalu kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya. Morus pergi meninggalkan mobil itu dan berjalan keluar kampus.     Keempat s*****n masih membuntuti Morus. Mereka bisa melihat Morus naik ke sebuah mobil. Mobil itu segera melaju meninggalkan gerbang fakultas.     Tak berselang lama, sebuah mobil kembali berhenti di depan gerbang. Kali ini adalah mobil pesanan Agatha.     "Untung gue ada inisiatif buat pesen taksi online." Agatha menepuk dadanya bangga.     "Iya, lo emang yang paling prepared buat urusan ginian," celetuk Shana sambil menyenggol bahu Agatha.     Arthur yang duduk di jok depan mengarahkan sopir taksi untuk mengikuti mobil di depannya. Meski Arthur agak khawatir kalau mobil yang tengah ia ikuti ini sadar sedang diikuti.     Mobil yang ditumpangi Morus itu berhenti di sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari kampus. Arthur segera meminta taksi itu menepi agak di depan.     Arthur mengamati dari spion. Ia bisa melihat dua orang turun dari mobil yang ditumpangi Morus itu.     Seorang cewek bergelayut manja di lengan Morus. Tapi Morus terlihat tidak terlalu mempedulikan cewek itu.     Arthur mengerutkan keningnya. Ia menyipit mengamati tingkah dua orang yang sedang ia intai itu. ***     Sekarang empat s*****n itu tengah mengintai dari luar kafe tempat di mana Morus menghabiskan waktu sorenya bersama seorang cewek.     "Genit banget ceweknya. Jijik gue liatinnya," komentar Agatha dengan sinis.     "Iri bilang, Tha." Shana meledek Agatha.     Agatha menoleh pada Shana. Bibirnya sudah tertekuk sempurna. "Sha, gue iri sama cewek menye-menye gitu? Shit."     Shana tergelak melihat respon Agatha. Namun ia segera menutup mulutnya saat sadar suara tawanya cukup keras hingga membuat beberapa orang menoleh heran ke arahnya.     Untunglah, ada sekat kaca yang memisahkan bagian dalam dan bagian luar kafe. Jadi pengunjung kafe yang duduk di dalam tidak akan mendengar percakapan pengunjung yang duduk di bagian luar. Morus juga duduk agak jauh dari pembatas kaca. Cowok itu tidak sadar kalau ada yang tengah mengintainya.     "Iuh, jijik banget sih ceweknya. Masa cium-cium pipi Kak Morus terus." Agatha memasang tampang ingin muntah.     "Lo kalau mau cium-cium pipi gue juga nggak masalah kok," timpal Verrel dengan isengnya.     Seperti biasa, Agatha akan melayangkan pukulan pada Verrel. Agatha mendelik kesal pada Verrel sembari menarik garis bibirnya melengkung ke bawah.     "Morus noleh ke sini," gumam Arthur sembari menutupi wajahnya dengan buku menu.     Verrel yang duduk di sebelah Arthur segera menunduk. Ya, Arthur dan Verrel memang menghadap ke arah Morus. Sementara Agatha dan Shana membelakangi meja Morus. Jadi yang pasti terlihat adalah Arthur dan Verrel.     "Morus masih liatin ke arah kita?" tanya Shana berhubung dia tidak berani menoleh ke belakang.     Arthur mengangguk, "Kayanya dia sadar kalau ada kita di sini."     "Gara-gara baju hitam putih ini deh kayanya. Kita jadi gampang dikenali." Agatha menghela napas.     "Morus berdiri. Dia siap-siap mau pergi," ujar Arthur.     "Mau pergi atau mau nyamperin kita di sini?" tanya Verrel sangsi.     Arthur menggeleng yakin, "Dia nggak akan kemari."     Benar saja dugaan Arthur itu, Morus memang tidak menghampiri empat s*****n. Dia dan cewek genit itu keluar dari kafe dan langsung kembali ke mobil.     "Kita ikutin mereka lagi," ucap Agatha. Dia dengan cepat memesan taksi online.     "Besok-besok kayanya gue kudu bawa kendaraan deh. Meski nggak dimasukin ke area fakultas." Verrel bicara sembari memperhatikan jalan. Ia kelihatan takut kehilangan jejak Morus.     "Yuk, yuk, itu taksinya udah di depan." Agatha memberitahu temam-temannya.     Mereka lalu masuk ke dalam taksi. Lagi-lagi Arthur duduk di jok depan untuk menunjukkan arah. Syukurlah, mereka tidak kehilangan jejak Morus.     Tapi mereka harus menelan kecewa karena ternyata Morus masuk ke sebuah rumah yang sepertinya adalah rumahnya.     "Aneh nggak sih, kalau Morus dan cewek genit itu tinggal di rumah yang sama?" Agatha berkomentar.     Shana mengangguk, "Gue kira mereka pacar. Tapi kok tinggal serumah, ya?"     "Mungkin si Morus kaya Arthur kali. Suka nginep-nginep gitu di rumah ceweknya." Verrel berkata dengan kalem dan lugu.     Sontak saja perkataan Verrel membuat Shana dan Arthur mendelik kesal ke padanya.     Shana melayangkan protes, "Arthur nginep di rumah gue karena ada sesuatu yang mau dibahas sama bokap gue ya."     Verrel menangkupkan tangannya di depan muka, "Ampun, Sha. Bercanda kali gue."     "Eh, gue tau nih apa yang terjadi sebenarnya di sini," ujar Agatha menggantungkan kalimatnya.     "Apaan?" tanya Verrel antusias.     Agatha memberi kode agar teman-temannya mendekat. Ia lalu membisikkan dugaannya. ***     Berhubung Morus tidak lagi keluar rumah, empat s*****n itu memutuskan untuk pergi dari rumah Morus. Toh sekarang sudah lewat jam delapan malam, sepertinya memang sudah saatnya mereka pergi dari sana sebelum ada orang yang curiga dengan kehadiran mereka.     Dua jam mengamati rumah Morus, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Rumah Morus yang kelewat megah itu cukup sepi meski semua lampu dinyalakan. Mungkin tidak banyak yang menghuni rumah mewah itu. Atau, hanya Morus dan cewek genit itu saja? Entahlah.     Mobil sewaan Agatha menepi di depan rumah Verrel. Jarak rumah cowok itu yang paling dekat dengan rumah Morus dan kampus.     Mobil kembali melaju ke luar kompleks perumahan tempat Verrel tinggal. Saat mobil keluar dari gerbang kompleks, Shana mencolek bahu Arthur.     "Ar, inget nggak dulu kita dikeroyok preman di sini. Sekarang jalanan ini udah rame sama ruko-ruko." Shana berceloteh mengingat kenangannya dulu ketika dikeroyok preman.     Agatha menjentikkan jari, "Yang lo bikin lidah salah satu preman itu kegigit terus putus, kan? Wah, apa kabar tuh preman."     "Gue kenal sama cewek yang ternyata bokapnya adalah bos besar preman-preman itu." Arthur turut nimbrung.     Shana mengerling curiga pada Arthur. Bukan cemburu, dia hanya bingung dari mana Arthur mengenal cewek yang bapaknya adalah bos besar preman itu.     "Pasti cewek itu sangar, berotot, dan punya banyak tato," duga Agatha.     Arthur menggeleng, "Sama sekali nggak seperti yang lo bayangkan, Tha. Dia feminin. Seringnya pake dress panjang. Rambutnya panjang sepunggung yang bakalan berantakan kalau kena angin. Kulitnya pucat. Terlebih, dia kelihatan kaya cewek lemah, ringkih, dan sakit-sakitan."     Agatha mengernyit, "Kok dari penjelasan lo, gue bayangin penampilan cewek itu horor ya. Kaya cewek jadi-jadian gitu, hihi."     "Memang, awalnya gue kira dia juga penganut ajaran sesat. Apalagi sikap bokap nyokapnya agak aneh pas pertama kali gue nyamperin rumahnya." Arthur membenarkan ucapan Agatha.     "Terus-terus?" pancing Agatha yang penasaran dengan sosok cewek yang ia bayangkan mirip hantu tapi punya bapak bos besar dari preman-preman.     Arthur mengedikkan bahu, "Orang tuanya bukan mistis, tapi mereka menyimpan rahasia sebagai penggiat di dunia gelap. Makanya mereka membatasi aktivitas dengan dunia luar. Bahkan mereka tinggal di perumahan mati yang udah nggak dihuni. Bokap cewek ini menjadikan rumah-rumah di perumahan itu sebagai sarang preman-preman yang dinaunginya."     "Kayanya, cewek itu menarik banget ya, Ar. Jarang-jarang lho lo seantusias ini pas lagi ngomongin cewek," sindir Shana.     Agatha menoleh ke Shana yang duduk di sebelahnya. Ia menatap sahabatnya itu dengan mata berkilat-kilat ingin meledek. "Ohh, cemburu bilang, Sha. Mumpung doi denger kan, jadi nggak perlu dipendem-pendem lagi."     "Ih, s****n lo, Tha!" tukas Shana galak sembari menjambak ujung rambut Agatha. Tapi kemudian ia tergelak bersama Agatha.     Arthur yang duduk di jok depan hanya bisa mesam-mesem sambil memandang ke jalanan yang lengang. Satu pertanyaan berputar-putar di kepalanya. Apa iya Shana sungguhan cemburu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD