Aci dan Cila benar-benar pergi dari kampus saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Arthur, Shana, Verrel, dan Agatha akhirnya bisa pulang juga.
"Gue ngantuk dan oleh-oleh dari komdis belum gue sentuh." Agatha bersandar pada sandaran mobil.
"Santai aja, gue nggak akan biarin lo tidur sebelum tugas ospek beres." Shana membalas dari kursi depan.
Ya, mereka berempat memutuskan pulang bersama. Berhubung tugas ospek mereka belum dikerjakan, akhirnya empat s*****n itu sepakat untuk menginap di rumah Shana. Malam ini mereka akan lembur.
"Sha, ayah lo pulang nggak malem ini?" tanya Arthur.
Shana menoleh, "Pulang. Emang kenapa?"
"Ada yang perlu gue omongin lagi sama bokap lo," ucap Arthur.
Pembicaraan tidak berlanjut sampai mereka tiba di rumah Shana. Begitu tiba di rumah Shana, mereka segera masuk ke dalam.
Shana menemui ayahnya yang sedang menonton televisi. Shana dapat melihat di layar televisi terpampang pertandingan sepak bola kesukaan ayahnya.
"Yah, di depan ada Agatha, Arthur, sama Verrel. Mereka mau nginep di sini, ngerjain tugas ospek." Shana memberitahukan kedatangan teman-temannya.
"Suruh mereka masuk kalau gitu." Ayah Shana mengecilkan volume suara televisi.
"Iya, nanti Shana bawa mereka ke ruang santai di belakang aja." Shana memutar badan, siap pergi dari sana. Namun ia teringat perkataan Arthur tadi, "Yah, tadi Arthur bilang mau bicara sama Ayah."
Gerald mengangguk-angguk. "Oke, habis pertandingan ini selesai ya, Prim. Ayah akan samperin kalian nanti di ruang santai."
Shana mengulas senyum lalu berlalu ke depan. Ia membawa ketiga temannya ke bagian samping rumah, sebuah ruang santai yang menghadap ke taman dan terhubung dengan dapur.
"Kalau laper kalian tinggal ke dapur aja ya," ucap Shana sebelum berlalu ke kamarnya.
Saat Shana sudah menghilang, Agatha buka suara. "Guys, kalian semalem dapet teror nggak sih?"
Verrel yang semula tengah membuat garis-garis di kertas hvs nya, akhirnya menjeda aktivitasnya. Ia menatap Agatha dengan serius. "Dapet, gue semalem dikirimin tikus mati."
"Gue sama Shana juga diteror." Arthur mendongak sebentar, lalu kembali fokus ke garapannya.
"Kalian dapet teror apaan?" tanya Verrel antusias.
Agatha meletakkan ponselnya. Ia lalu menopang dagu dan mengingat-ingat kejadian semalam. "Jadi semalem pas gue sibuk ngerjain oleh-oleh ospek, tiba-tiba ada yang ngelemparin kaca jendela kamar gue. Kayanya sih pake batu kecil-kecil. Pas gue cek, nggak ada siapa-siapa di luar. Nah karena gue ketakutan, akhirnya gue naik ke tempat tidur. Gue sembunyi di balik selimut. Eh, nggak taunya malah ketiduran."
Verrel mengetuk kepala Agatha dengan pensil yang ia genggam. Agatha balas menjitak kepala Verrel. Keduanya lalu terkekeh. Sedangkan Arthur yang bertugas sebagai obat nyamuk, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Lo gimana Ar, dapet teror apa?" tanya Verrel setelah selesai cekikikan dengan Agatha.
Arthur melirik Verrel sekilas. Lalu ia lanjut menulis sembari bercerita, "Semalem listrik rumah ini mendadak padam pas gue sama Shana lagi nugas. Pas gue cek keluar juga nggak ada siapa-siapa. Tapi nggak berselang lama, jendela ruang depan yang bagian samping pecah setelah dilempar pisau. Di pisau itu ada surat peringatan supaya gue dan Shana nggak ikut campur sama urusan dia."
"Padahal kita juga nggak berniat ikut campur apa-apa. Justru kalau diperingatin kaya gini, kita jadi kepancing buat cari tau karena penasaran. Iya, kan?" Verrel mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja.
"Lagi pada ngomongin apa?" tanya Shana yang baru kembali bergabung.
"Soal teror, Sha," ucap Agatha.
Shana melebarkan matanya. Ia duduk di samping Agatha. "Terusin dong, gue kan baru gabung nih."
"Iya, harusnya si peneror ini nggak usah neror kita. Justru sekarang kita penasaran, kan. Terus menurut kalian siapa yang teror kita?" Agatha menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia menunggu jawaban teman-temannya.
Arthur berdecak, "Kayanya, pelaku yang neror kita ini adalah dalang dari dua kejadian tidak mengenakkan selama ospek."
"Hah, gimana-gimana?" tanya Shana yang belum paham.
Arthur menelengkan kepala, matanya menyipit dan tampak menerawang. "Dia teror kita supaya kita nggak ikut campur. Dia kirim foto panitia ospek ke rumah Verrel bersama bangkai tikus. Jadi sasaran orang ini bukan kita. Tapi dia menyasar panitia. Mungkin dia tau track record kita selama di SMA Argosaka. Makanya dia mewanti-wanti agar kita nggak ikut campur menggagalkan rencananya."
Verrel membanting pensilnya. "Wah, kayanya bener deh apa yang lo omongin, Ar. Tapi gue nggak rela kalau harus berhenti gini aja hanya karena teror recehan. Apalagi kalau sampai ada hal buruk yang terjadi selama ospek dan kita pasrah-pasrah aja, itu bukan kita banget."
"Halah, sok-sok an banget sih lo." Agatha menoyor bahu Verrel.
"Yuk, selidiki kasus ini," celetuk Shana serius.
"Yah, gue jadi kangen Akbar sama Bang Nizar," rajuk Agatha sembari memasang tampang cemberut.
"Mereka pasti udah tenang kuliah di luar negeri. Nggak diteror kaya kita-kita ini," timpal Verrel sambil cemberut juga.
***
Pagi buta, Verrel, Agatha dan Arthur sudah meninggalkan rumah Shana. Mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mandi dan berganti baju.
Semalaman mereka mengerjakan oleh-oleh ospek. Tentunya sambil ngobrol ke sana kemari agar tidak jatuh ketiduran. Dan syukurlah, mereka berhasil menyelesaikan oleh-oleh ospek itu. Jadi sudah tidak ada alasan panitia ospek untuk menghukum mereka lagi.
Sementara teman-temannya pulang ke rumah masing-masing, Shana juga bersiap pergi ke kampus. Hari ini ia tidak harus berangkat pukul lima pagi seperti kemarin. Jadi Shana bisa lumayan bersantai.
"Sha, nanti berangkat bareng ayah?" tanya Gerald dari pantri.
Shana mengangguk, "Boleh, Yah. Tapi jam enam udah apel pagi."
"Kita berangkat jam setengah enam lewat lima belas. Nggak akan terlambat, kan?" Gerald meletakkan piring berisi nasi goreng di hadapan Shana.
"Tumben masak?" Shana mengerutkan dahinya.
Gerald mengedikkan bahu, "Bundamu yang nyuruh ayah buat sekali-sekali masakin kamu sarapan."
Shana mengangguk-angguk. Ia menyuap nasi goreng itu ke mulutnya.
"Ayah siap-siap dulu ya. Kamu habiskan nasi goreng buatan ayah." Gerald menepuk kepala Shana lembut, lalu berlalu ke kamarnya.
Shana membuka ponselnya yang berdering ribut. Ternyata semua notifikasi yang masuk ke ponsel Shana berasal dari grup angkatannya. Ada apa pagi-pagi begini grup itu sudah riuh?
Dari pada penasaran, Shana memilih langsung mengecek saja. Shana membaca satu per satu chat yang masuk.
Kerutan tercetak jelas di dahi Shana. Ia agak bingung dengan kepanikan yang ada di grup angkatannya. Apa yang mereka bicarakan? Hingga tiba pada percakapan yang paling bawah, Shana bisa melihat sebuah foto bak sampah yang kelihatan tidak beres. Tapi dari keterangan temannya yang mengambil foto itu, sesuatu yang fatal telah terjadi.
Iswa_sywtra : Guys, ada mayat di tempat sampah ruang BEM dan ruang Senat :(
Shana menutup mulutnya. Tiba-tiba saja dia merasa mual.
***
Setelah selesai berdandan, Agatha lalu memesan ojek online untuk mengantarkannya ke kampus. Sambil menunggu ojeknya datang, Agatha membuka grup angkatannya yang mendadak ramai pagi ini. Jelas ini tidak seperti biasanya.
Agatha mengernyit, bingung sekaligus penasaran. Ia membaca sekilas-sekilas pesan-pesan yang masuk pagi itu. Agatha berhenti menggulir layar ponselnya saat matanya menangkap sebuah foto kiriman teman seangkatannya. Foto itu agak tidak jelas. Tapi Agatha berhasil dibuat merasa ngeri setelah membaca keterangan dari si pengirim foto.
Iswa_sywtra : Guys, ada mayat di tempat sampah ruang BEM dan ruang Senat :(
"What the hell," gumam Agatha tak percaya dengan apa yang terjadi di kampus barunya.
Agatha memperbesar foto kiriman teman seangkatannya itu untuk melihat lebih jauh objek apa yang berusaha di foto oleh temannya. Tapi yang terlihat hanya tempat sampah yang terisi penuh.
Agatha terlonjak kaget saat sebuah motor berhenti tepat di depannya. "Mbak Agatha, ya?"
"Eh, iya, saya Agatha, Bang." Masih sambil setengah bingung dan syok, Agatha meraih helm yang disodorkan pengemudi ojek online pesanannya dan segera naik ke boncengan.
"Sudah, mbak?" tanya pengemudi ojol itu untuk memastikan.
"Iya, jalan sekarang, Bang. Agak ngebut ya. Saya pengen cepet-cepet sampai di kampus," ucap Agatha dari boncengan.
***
Verrel mengamati sekitarnya dengan agak bingung. Ia heran kenapa teman-temannya kelihatan terburu-buru. Padahal sekarang baru jam enam kurang dan apel pagi masih belum akan dilaksanakan.
Verrel menghadang salah seorang maba yang melintas, "Eh, sorry gue mau tanya. Kenapa kalian yang baru dateng pada lari-larian gini?"
"Lo belum tau ya soal penemuan mayat di depan ruang BEM dan ruang Senat?" Orang yang dihadang Verrel justru balik bertanya.
Verrel melongo, "Hah, seriusan? Ada mayat di depan ruang BEM sama ruang Senat?"
"Iya, yuk ke sana. Gue pengen liat sebelum mayatnya dipindahin." Maba itu menepuk bahu Verrel dan segera berlalu.
Verrel bergidik ngeri dengan maba yang tampak antusias mendengar ada mayat itu. Ada apa sih dengan mereka? Kenapa kelihatan begini penasaran pada hal-hal mengerikan begitu dan bukannya prihatin?
Verrel melangkah menuju ke ruang BEM dan ruang Senat dengan niatan yang agak berbeda dengan teman-temannya. Verrel berencana memastikan kabar itu. Lalu ia akan menghubungi Pak Gerald, ayahnya Shana yang bagian dari kepolisian. Biar kejadian ini cepat ditangani.
Sesampainya di depan ruang BEM dan ruang Senat, Verrel mendapati kerumunan yang terdiri dari para maba dan beberapa panitia. Mereka benar-benar hanya penasaran dan bukan berniat membereskan masalah.
Verrel menyibak kerumunan. Ia berhasil melihat dengan mata kepalanya kalau ada sesuatu yang tidak beres pada tong sampah di depan kedua ruang itu.
Verrel merogoh saku seragamnya. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi ayahnya Shana.
"Hallo, Om Gerald. Ini saya Verrel temannya Shana." Verrel memperkenalkan diri. Barangkali ayahnya Shana tidak mengenali nomor ponselnya.
"Ya, nak Verrel. Ada apa?" tanya Gerald di seberang.
Verrel berbicara sembari matanya tetap mengamati tong sampah itu, "Ada mayat di tong sampah yang ada di depan ruang BEM dan ruang Senat Fakultas Ekonomi, Om. Shana nggak cerita?"
"Shana belum cerita. Sebentar lagi saya akan ke kampus kalian. Sekalian mengantar Shana. Tunggu saya. Kalau bisa amankan TKP. Jangan ada yang merusuh di sana," tutup Gerald.
"Ya, Om." Verrel mengiyakan. Ia memutus sambungan telepon dengan ayahnya Shana.
***