Chapter 6

1466 Words
    Verrel melangkah terlebih dahulu, diikuti Arthur, Shana, lalu Agatha. Mereka mengendap-endap menuju ke bagian selasar perpustakaan. Sesampainya di sana, mereka bersembunyi di balik rak perpustakaan yang telah rusak dan diletakkan di bagian luar bangunan.     "Aman nggak nih di sini?" tanya Agatha sanksi.     Verrel mengangguk, "Aman. Asal lo nggak gerak-gerak terus aja. Ntar kelihatan lagi bayangan lo."     Agatha akhirnya ikutan berjongkok di balik rak buku yang sudah rusak itu. Ia melongok ke arah ruang BEM dan ruang Senat yang ramai oleh panitia ospek.     "Kayanya mereka belum mulai evaluasinya deh. Masih pada beres-beres." Agatha menginfokan pada teman-temannya.     "Ck, kalau kita sembunyi di sini, kita nggak bisa denger dong apa yang dibicarain nanti. Gimana kalau agak mendekat ke ruang itu?" Shana menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia meminta persetujuan pada teman-temannya.     "Terlalu berisiko," gumam Verrel.     "Ar, gimana? Percuma kan kalau kita nggak bisa denger pembicaraan mereka." Shana masih berusaha menghasut temannya.     Arthur menoleh, ia tampak sedang berpikir. Barangkali sedang menyusun rencana. "Oke, kita masuk lewat bagian belakang gedung kegiatan mahasiswa. Yang mau ikut, ayo. Yang mau tinggal di sini juga nggak papa."     Shana tersenyum senang. Ia segera mengendap-endap keluar dari tempat persembunyiannya. "Yuk, Ar."     "Ih, terus gue sama Verrel tetep di sini aja?" tanya Agatha sambil melirik bergantian ke ketiga temannya.     "Mau ikut gue sama Arthur juga ayo," ucap Shana meyakinkan. "Aman, kita cari jalan. Jangan sampai ketahuan."     Akhirnya Agatha dan Verrel memutuskan untuk ikut dengan Shana dan Arthur ke arah jajaran gedung kegiatan mahasiswa. Mereka memilih jalur memutar. Mereka mendekati gedung kegiatan mahasiswa dari arah belakang dan mengendap-endap menuju bagian samping gedung.     Arthur menyuruh teman-temannya berhenti bergerak. "Gue akan cari tempat sembunyi yang strategis, kalian tunggu di sini dulu."     Arthur mulai berjalan mengendap menjauhi posisi teman-temannya. Ia berbelok ke kanan di depan koperasi mahasiswa. Ia berjalan lurus dan naik ke tangga, menuju lantai dua. Ternyata di lantai dua tidak ada aktivitas apa-apa.     Arthur berjalan ke arah tempat yang persis di atas ruang Senat dan ruang BEM. Arthur mencoba mendengarkan dengan saksama pembicaraan di bawah.     "Ya udah, karena ini eval besar, kita pake hall di lantai dua aja," ucap seorang cewek dari lantai satu.     Arthur mengernyit. Mungkinkah mereka akan naik ke sini?     "Ya udah, siapin gih hall di lantai dua buat eval habis ini."     "Oke, habis ini gue naik ke sana. Gue mau taruh berkas ini dulu."     Mendengar hal itu, Arthur dengan gegas menuruni tangga dan menuju ke tempat teman-temannya menunggu.     "Gimana, kita sembunyi di mana?" tanya Agatha saat Arthur sudah mendekat.     "Mereka bakal ngadain eval di lantai dua. Lebih baik kita ke lantai dua sekarang dan cari tempat sembunyi di sana." Arthur memberi aba-aba agar teman-temannya bergerak mengikutinya.     Mereka berempat sampai di lantai dua dan bersembunyi di bagian luar hall. Mereka sengaja menguping di bagian jendela agar bisa mendengar apa yang dibicarakan panitia ospek.     Tak menunggu lama, satu per satu panitia akhirnya mulai memenuhi hall di lantai dua gedung kegiatan mahasiswa. Acara evaluasi kerja pun dilaksanakan.     "Jadi, ada kejadian apa aja dua hari ini?" tanya Morus to the point.     Semua panitia terdiam. Mungkin sedang menyusun kronologi.     Seorang cewek mengangkat tangannya. Seingat Arthur, cewek itu bernama Aci.     Morus mempersilakan Aci untuk bicara. Aci berdiri dan langsung buka suara, "Sebelumnya perkenalkan, saya Aci dari perwakilan BEM yang masuk ke divisi komisi disiplin pada ospek kali ini. Izinkan saya bicara soal dua kejadian yang menimpa mahasiswa baru selama ospek dua hari ini. Yang pertama, sebagian besar maba mengalami sakit perut setelah mengkonsumsi makan siang yang disediakan panitia hari kemarin. Yang kedua, menurut laporan beberapa siswa yang mendapat tanda kasih dari komisi disiplin dan mereka diminta membereskan gudang di rooftop gedung dekanat, mereka menyebutkan bahwa mereka terkunci di dalam gudang dan tidak bisa keluar dari sana untuk beberapa waktu lamanya. Karena tidak ada ventilasi yang memadai, diduga mereka kehabisan oksigen atau bahkan keracunan gas beracun yang entah berasal dari mana."     "Baik, terima kasih atas pemaparannya, Aci. Jadi siapa yang bisa dimintai pertanggung jawaban untuk dua kejadian itu?" tanya Morus pada seluruh panitia ospek.     Suasana mulai terasa tegang. Tidak ada yang berani buka suara. Apalagi mengaku kalau mereka bersalah.     "Nggak ada yang mau tanggung jawab?" tanya Morus dengan tatapan tajam yang menghujam satu per satu panitia. "Mana ketua sie konsumsi?"     "Gue, Mor." Seorang cewek berdiri dari duduknya. Ia menatap Morus takut-takut.     "Kenapa bisa makan siang maba hari kemarin bikin mereka sakit perut dan harus antre di toilet? Kalian mau ngerjain mereka?" Morus agak membentak.     "Sama sekali enggak, Mor." Ketua sie konsumsi itu menggeleng kuat-kuat.     "Ada yang udah ngecek alasan kenapa makanan para maba bisa bikin sakit perut?" tanya Morus lagi. Kali ini nadanya sudah lebih tenang.     Lagi-lagi tidak ada yang menjawab. Sepertinya tidak ada yang punya inisiatif untuk mengecek hal itu.     "Nggak ada, kan? Kalian nggak peduli sama nasib para maba?" Morus kembali membentak.     Arthur mengernyit saat melihat Langir yang duduk di samping Morus terlihat menepuk bahu Morus.     "Mor, lo sendiri udah cek ada apa sama makan siang para maba? Jangan cuma marah kalau lo sendiri nggak ada inisitif buat cari tahu." Langir berkata tajam tapi dengan ekspresi tenang.     Morus mendengkus, "Lo pikir gue tong kosong nyaring bunyinya? Gue udah ngecek apa yang bikin para maba itu sakit perut."     "Ya sudah, kalau lo udah tau jawabannya, lo jangan tanya sambil marah-marah dan bentak-bentak semua panitia. Toh belum tentu mereka salah." Kini Panji yang menanggapi Morus.     "Oke, fine. Gue udah cari tau apa yang bikin maba-maba itu sakit perut. Ternyata di makanan mereka itu ada laksatif atau biasa dikenal dengan obat pencahar. Itu yang bikin mereka sakit perut dan perlu ke toilet." Morus menerangkan hasil penyelidikannya. "Terus menurut kalian, siapa dalang di balik semua ini?"     "Kenapa nggak salahin pihak cateringnya aja sih, Mor? Bisa aja kan mereka nggak sengaja masukin obat itu ke makanan yang kita pesan?" ungkap ketua sie konsumsi.     "Masalahnya, cuma makanan para maba aja yang mengandung laksatif itu. Sementara makan siang buat panitia yang ada di ruang BEM itu aman." Morus memperjelas.     Semua orang terdiam. Beberapa ada yang saling pandang.     Morus berdeham, "Gue sih yakin, ini semua ulah panitia. Tapi ya sudah, kalau tidak ada yang mau mengaku, kita lanjut eval buat kejadian hari ini."     "Lo mau nyalahin Aci sama Cila soal kejadian hari ini?" tanya Langir dengan serius.     Morus terkekeh, "Kenapa, Lang? Lo nggak mau Aci pacar lo itu kena hukuman?"     Aci berdiri dengan geram, "Stop ya, Mor. Kenapa sih di forum gini lo malah bahas yang enggak-enggak?!"     Morus mengedikkan bahu sambil menatap Aci dengan senyum miring, "Gue cuma nggak suka kalau Langir berusaha menghalangi gue dari memberikan pelajaran yang berharga buat lo sama Cila."     Aci berdecak, ia lalu duduk kembali setelah ditarik Cila. Meski begitu Aci tetap menatap penuh permusuhan ke arah Morus.     Morus beralih menatap Panji, "Panji, gue mau tanya deh ke lo, setuju nggak kalau gue kasih konsekuensi buat Aci sama Cila? Lo kan yang paling tau soal caranya mendisiplinkan orang, wahai Pak Kepala Komisi Disiplin."     "Hukuman memang perlu, tapi lo jangan asal kasih hukuman ke mereka. Harus yang wajar dan nggak menurunkan martabat mereka." Panji membalas Morus.     Morus mengangguk-angguk. "Oke, sesuai sama peraturan ospek berkaitan dengan panitia yang melanggar, maka mereka mendapat hukuman untuk bekerja lebih keras dari panitia lain. Itu ada di pasal 8 a. Jadi gue minta ke Aci dan Cila untuk bekerja lebih keras. Malam ini, kalian lembur mempersiapkan segala keperluan untuk ospek hari ketiga. Gimana, diterima?"     "Mor, jangan keterlaluan. Masa mereka suruh lembur!" Langir tidak setuju.     "Cuma lembur, Lang. Bukan apa-apa. Lagian mereka lembur di wilayah kampus. Apa yang perlu dikhawatirkan?" Morus menaikkan sebelah alisnya saat menoleh pada Langir.     "Oke, mereka boleh lembur, asal jangan lebih dari jam sembilan malem. Karena satpam bakal pada selesai tugas jam sembilan malem." Langir memberi syarat.     "Baik, tapi nggak boleh ada satu pun panitia yang bantu-bantu mereka. Gue nggak nyuruh mereka kerjain semua. Cukup yang mereka bisa sampai jam sembilan malam. Sisanya biar dipersiapkan besok pagi." Morus setuju pada syarat yang Langir berikan.     Akhirnya evaluasi hari ini ditutup. Semua panitia ospek diminta meninggalkan area kampus. Tak terkecuali Morus, Panji, dan Langir.     Tapi ke empat maba bandel yang berani menguping pembicaraan para senior itu memilih untuk tetap tinggal secara diam-diam. Mereka berniat menemani Aci dan Cila sampai jam sembilan malam. ***     "Tiba-tiba, gue kepikiran oleh-oleh hari ini. Bikin struktur organisasi BEM sama Senat, harus pake nama lengkap masing-masing anggota, rapi tanpa coretan. Ck, ribet bener deh." Agatha menggerutu pelan saat teringat oleh-oleh dari komisi disiplin saat ospek hari kedua berakhir. Sesekali Agatha menepuk lengannya yang digigit serangga penghisap darah.     Verrel mendesis, "Jangan banyak omong ya. Ntar kita ketahuan."     Posisi mereka sekarang ada di dekat ruang BEM dan Senat. Berhubung di sini sepi dan hanya ada Aci dan Cila, mereka jadi tidak terlalu takut ketahuan.     "Mereka kapan balik sih, ini udah malem lho." Shana melirik ke jam di tangannya.     Sekarang sudah pukul delapan malam. Sepertinya Aci dan Cila berniat untuk benar-benar melaksanakan hukuman mereka.     Agatha melongokkan kepala ke arah ruang BEM. "Kenapa sih mereka harus sepatuh itu sama Kak Morus? Mereka pulang sekarang juga nggak akan ada yang tau."     "Itu namanya mereka beneran tanggung jawab." Verrel membalas ucapan Agatha.     "Diem, suara kalian makin kenceng." Arthur memperingatkan. Dari tadi dia diam dan hanya memperhatikan ruang BEM lekat-lekat. Ia baru buka suara setelah mendengar perdebatan antara Verrel dan Agatha. Kalau tidak cepat dilerai, perdebatan itu pasti akan berkepanjangan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD