Cila dan Aci yang kebagian tugas mengurus para maba yang tidak mengerjakan oleh-oleh, dibuat kelabakan setelah mengetahui bahwa beberapa maba jatuh pingsan dan beberapa lainnya ditemukan dalam keadaan lemas di dalam gudang. Cila berlarian meminta bantuan teman-temannya sesama panitia untuk menolong tiga belas maba yang dihukum membersihkan gudang di rooftop itu. Sedangkan Aci berusaha mengeluarkan maba yang masih sadarkan diri ke luar gudang.
"Ada apa ini? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Panji yang datang bersama Cila.
Beberapa anggota komisi disiplin dan panitia ospek juga turut mengecek ke rooftop.
"Gue nggak tau, Nji. Udah deh, mending bawa semua maba ini keluar gudang dulu," ujar Aci sambil sibuk mengeluarkan maba-maba itu.
"Telepon ambulans rumah sakit kampus, cepat!" perintah Panji pada anggota komisi disiplin yang lain. Ia sendiri sudah mulai memindahkan para maba yang pingsan dari dalam ke luar gudang.
Beberapa panitia berusaha mengevakuasi para maba. Beberapa sisanya mengecek alasan maba-maba itu bisa sampai pingsan di gudang.
"Cila, Aci, kalian kan yang bawa maba-maba itu ke sini?" tanya salah seorang panitia ospek. Dia Morus Macroura, ketua panitia ospek tahun ini.
"Iya, Mor. Gue sama Cila yang bawa mereka ke sini." Aci menjawab pertanyaan Morus dengan tenang.
Morus menatap tajam ke Aci dan Cila secara bergantian. Tatapan cowok itu seperti menyalahkan Aci dan Cila atas kejadian ini.
"Kalian lalai," gumam Morus sengit.
"Lho, bukannya lo yang minta semua panitia tanpa terkecuali ikut apel pagi?" Cila balas menatap Morus dengan geram.
"Udah, kalian apa-apaan sih! Di situasi kaya gini, jangan saling menyalahkan. Itu ambulans udah dateng. Mending bantu bawa maba yang pingsan turun." Panji datang dan menengahi perdebatan antara Morus dengan Aci dan Cila.
***
Agatha memicing menatap ke arah tiga orang yang tengah saling menyalahkan. Bisa-bisanya setelah membuat banyak maba pingsan, para panitia itu justru saling lempar tanggung jawab.
"Tha, ngeliatin merekanya jangan kaya gitu deh," bisik Shana lirih.
Agatha yang baru sadar kalau ekspresinya menunjukkan kekesalan berlebih, akhirnya merubah rautnya menjadi datar.
Agatha melirik ke Verrel dan Arthur yang duduk tak seberapa jauh dari posisinya. Syukurlah karena mereka semua bisa bertahan meski hampir kehilangan kesadaran juga gara-gara terlalu lama menghirup udara yang terkontaminasi gas beracun.
"Ambulans udah dateng, yuk panitia bawa maba yang pingsan turun. Buat yang sadar, kalau emang sanggup jalan sendiri, kalian boleh langsung turun dan minta penanganan ke tim medis di depan gedung dekanat," ucap seorang cowok berkacamata yang baru naik ke rooftop. Agatha mengenalinya sebagai Langir Wijaya, si Ketua BEM.
Beberapa panitia segera mengangkat para maba yang tergelatak pingsan. Beberapa sisanya membantu maba yang sadar tapi dalam kondisi lemas.
Agatha menolak bantuan salah satu panitia karena dia merasa masih mampu untuk turun ke lantai satu. Bersama Shana, Verrel, dan Arthur, Agatha menuruni tangga.
Sesampainya mereka di lantai satu, mereka menemui perawat yang datang bersama mobil ambulans. Mereka berempat diberi oksigen murni untuk mengembalikan kadar normal oksigen dalam darah mereka.
Setelah selesai ditangani, para maba yang tidak dalam kondisi pingsan diminta berkumpul dulu oleh ketua BEM bernama Langir itu.
Langir membawa beberapa maba, termasuk di antaranya ada Agatha, Shana, Verrel, dan Arthur, ke bagian samping gedung dekanat. Langir memasang wajah serius, tapi tidak berniat marah-marah pada para maba itu.
"Yang bawa kalian ke gudang di rooftop itu Kak Aci dan Kak Cila?" tanya Langir pada tujuh orang maba di hadapannya.
Semua mengangguk, meski beberapa terlihat ragu karena tidak kenal dengan siapa Aci dan Cila yang dimaksud Langir. Kan tidak semua punya inisiatif untuk membaca name tag kakak panitia ini.
"Kalian udah lama ada di gudang itu?" tanya Langir lagi.
"Sudah lumayan lama, Kak," jawab seorang maba yang tadi berusaha mendobrak pintu tapi gagal.
"Kalian kenapa bisa sampai pingsan dengan dugaan keracunan gas?" Langir menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap heran satu per satu maba yang ada di sana.
Seorang cewek menggeleng, "Kami nggak tau, Kak. Kami terkurung di gudang itu karena pintunya terkunci. Kami nggak bisa keluar dari gudang itu. Lalu setelah beberapa saat, kami merasa ada yang tidak beres dengan udara yang kami hirup."
Aci dan Cila berlari-lari kecil mendekati Langir. Langir ganti menatap kedua cewek itu.
"Kalian kunciin mereka di gudang?" Langir segera bertanya saat Cila dan Aci sudah berdiri tepat di sampingnya.
Aci menggeleng cepat, "Enggak, Lang. Gue sama Cila bahkan nggak nutup pintu gudang pas mau pergi."
"Terus maksud lo, pintu gudang nutup dan ngunci sendiri?" tanya Langir dengan alis tertaut.
Cila buka suara, "Mungkin ada orang yang nutup dan ngunci pintu itu setelah gue sama Aci pergi dari sana."
"Kalian mau ngelempar tanggung jawab?" cecar Langir.
Aci menghela napas, "Gue berani sumpah deh, Lang. Gue beneran nggak berniat ngelempar tanggung jawab. Gue sama Cila beneran nggak tau kenapa pintu gudang bisa kekunci."
"Oh ya, tadi kan pas kita buka pintu gudangnya, pintu itu memang tertutup tapi nggak terkunci. Atau jangan-jangan pintu itu hanya bisa dibuka dari luar dan nggak bisa dibuka kalau dari dalam?" Cila mencoba mencari kemungkinan pintu gudang bisa terkunci.
"Nah, bisa jadi tuh yang dibilang Cila bener, Lang." Aci menjentikkan jari menyetujui ucapan Cila.
Langir mengusap dagunya. "Kalau memang begitu, kalian tetap salah karena meninggalkan mereka sendirian di gudang itu tanpa pengawasan panitia ospek. Coba kalau kalian ada di sana, pasti kalian bisa bukain pintu buat mereka. Morus pasti akan evaluasi kerja kalian setelah penutupan ospek hari kedua ini.
***
Arthur meletakkan tasnya di bagian depan kelas. Ia dan ketiga temannya harus mengikuti sesi ospek hari ini. Padahal meski kelihatan baik-baik saja, Arthur tetap merasa kepalanya sedikit berat.
Arthur duduk di barisan bangku belakang, karena bangku-bangku di sana lah yang belum terisi. Arthur memusatkan perhatian ke bagian depan auditorium.
Sekarang sesi ospek diisi oleh wakil dekan satu, Pak Adji. Pak Adji menjelaskan tentang mahasiswa sebagai agent of changes. Materi lumayan mudah diterima karena Pak Adji ini tipikal orang yang santai tapi serius. Pak Adji selalu menyelipkan candaan dan contoh-contoh lucu yang mudah diingat para maba saat menjelaskan topik yang ia bawakan.
"Siapa yang besok mau jadi aktivis?" tanya Pak Adji pada seluruh maba. "Aktivis itu identik dengan mereka yang berani menyuarakan aspirasi. Tapi menyampaikan aspirasi itu ada adabnya."
Penjelasan Pak Adji terus berlanjut hingga satu jam kemudian. Setelah selesai sesi karakter mahasiswa sebagai agents of changes, para maba diberi waktu ishoma.
Arthur melirik ketiga temannya, temannya pun melakukan hal yang sama. Pasti mereka teringat kejadian keracunan makanan kemarin yang menimpa para maba setelah makan siang.
"Makan nggak nih?" tanya Shana dengan suara lirih, takut terdengar panitia.
Agatha menggeleng, "Gue nggak mau sakit perut."
"Tapi menurut gue, kali ini makanannya nggak akan bikin sakit perut deh. Masa iya dua kali berturut-turut panitia ngasih racun ke makanan para maba." Verrel turut nimbrung dalam pembicaraan. Dia sepertinya berusaha meyakinkan temannya untuk makan siang. "Lagian gue laper banget nih. Tadi pagi nggak sempet sarapan."
"Bilang aja lo ada maksud lain," cibir Arthur. Tapi lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar.
Tiga orang temannya mengikuti langkahnya. Mereka lalu mengambil makan siang dan makan di bagian taman samping gedung dekanat.
Verrel yang pertama kali mencoba makan siang dari panitia itu. Sementara teman-temannya sibuk memperhatikan Verrel.
"Kenapa, kalian nggak berani makan?" tanya Verrel dengan tampang jenaka.
"Nope," balas Agatha lalu mulai membuka kotak makan siangnya.
Shana dan Arthur saling tatap sebentar. Dengan ragu, keduanya turut membuka kotak makan siang mereka.
Syukurlah, sejauh ini tak ada yang terjadi pada mereka. Makan siang kali ini sepertinya aman-aman saja.
***
Pulang ospek, Shana, Arthur, Agatha, dan Verrel tidak langsung pulang. Mereka memiliki tugas yang harus diselesaikan dengan teman sekelompok mereka masing-masing. Kebetulan sekali, mereka berempat tidak ada yang satu kelompok dalam tugas ini.
"Jadi kita mau bikin acara sosial apa?" tanya Shana pada lima orang teman sekelompoknya.
"Kita mintain sumbangan orang-orang, terus kita salurin ke panti asuhan atau panti jompo gimana?" usul seorang cewek berkacamata modis.
"Jangan minta-minta sumbangan deh. Ini kan acara kecil. Kalau kita nggak bisa kasih pertanggung jawaban gimana?" timpal yang lain tampak kurang setuju.
"Gimana kalau kita kumpulin uang saku kita terus kita bagi-bagiin makanan ke orang-orang di sekitar kampus aja?" Shana memberi saran yang sederhana.
Seorang cowok menjentikkan jarinya. "Bagus tuh, kita nggak usah target tinggi-tinggi. Yang realistis aja. Kita kumpulin uang jajan kita, terus buat beli beberapa makanan dan kita bagiin ke orang yang sekiranya membutuhkan."
Akhirnya, semua anggota kelompok mengangguk setuju. Mereka sepakat untuk merealisasikan rencana mereka besok sepulang ospek.
"Yang ada kamera, dibawa ya. Buat dokumentasi dan videonya dikirim ke observer kelompok kita." Seorang cewek yang duduk di sebelah Shana mengingatkan.
"Oh iya, bener banget itu," timpal yang lain.
Setelah diskusi sebentar, mereka akhirnya menyudahi perkumpulan itu. Mereka saling tukar nomor telepon agar bisa membuat grup dan membahas lebih lanjut perihal rencana mereka.
***
Sama halnya dengan Shana, Arthur juga tengah berkumpul dengan kelompoknya. Mereka sudah membahas kegiatan sosial apa yang akan mereka lakukan.
"Jadi, kita bakal stay di lampu merah depan kampus gitu buat cari mangsa?" tanya seorang cewek yang sedari tadi sibuk memilin rambutnya.
"Iya, pokoknya kalau kita ketemu orang yang sedang merokok, kita harus kasih dia lolipop sebagai pengganti rokoknya. Pasti keren banget deh," jawab cewek yang duduk di seberang Arthur.
"Tapi bukannya kalau di lampu merah, bakalan susah cari orang merokok?" Arthur menaikkan sebelah alisnya, menatap teman sekelompoknya penuh tanya.
"Iya, menurut gue nih, lebih gampang cari orang lagi ngerokok tuh dipinggir jalan atau di tempat-tempat umum gitu. Bukan di lampu merah." Seorang cowok dengan kacamata bertengger di atas kepala menyetujui pernyataan Arthur.
"Ya udah, sedapetnya aja di mana. Kalau emang ada di pinggir jalan, kita tinggal minta dia matiin rokoknya terus ganti deh dengan lolipop yang kita bawa. Beres kan!" tukas seorang cewek dengan gaya tomboi.
"Okay deh," balas cewek yang suka memilin rambutnya. "Kalau gitu kita mulai bagi-bagiin lolipopnya besok sepulang ospek kan?"
"Ya."
"Oke."
"Boleh."
"Bisa, tapi jangan lama-lama."
"Oke, balik ospek langsung cepet kumpul ya. Biar cepet kelar juga rekamannya."
Setelah semua sepakat, akhirnya teman-teman sekelompok Arthur saling berpamitan. Karena belum saling kenal, akhirnya sambil berpamitan, mereka memperkenalkan diri lagi serta membagi kontak mereka.
Arthur pun melakukan hal yang sama. Meski ia agak malas membagi-bagikan kontaknya, tapi ia tidak punya pilihan untuk menolak. Toh, ini demi tugas ospek mereka.
Setelah berpamitan dan bertukar nomor telepon, Arthur memisahkan diri dan bergabung dengan ketiga temannya. Sore ini mereka memiliki sebuah rencana.
***