Chapter 4

1540 Words
    Agatha terbangun saat alarm ponselnya meraung-raung histeris. Ia mematikan alarm ponselnya dan segera beranjak dari tempat tidur sebelum tanpa sadar ia jatuh tidur lagi.     Agatha melirik malas ke meja belajarnya. s**l, oleh-oleh ospek belum selesai ia kerjakan. Padahal sekarang sudah pukul empat pagi. Satu jam lagi tugas itu harus sudah diserahkan pada anggota komisi disiplin.     Agatha memasukkan essai yang baru selesai setengah itu ke dalam tasnya. Ia juga memasukkan hasil gambar denah kampus yang juga merupakan tugas ospeknya itu ke dalam tas.     Kening Agatha berkerut saat tak sengaja matanya menatap ke arah jendela. Semalam ia diteror, tapi apa maksud teror itu. Entah atas perintah siapa, kaki Agatha sudah melangkah mendekati jendela kamarnya.     Semalam Agatha tidak sempat memperhatikan jendela itu karena ketakutan. Sekarang, ia bisa melihat sebuah tulisan berwarna merah menghiasi kaca jendelanya. Apa itu darah?     Agatha meringis ngeri. Ia berusaha membaca tulisan yang terbalik itu karena ditulis dari luar jendela kamarnya.     "Jangan ikut campur. Targetku bukan kalian!" gumam Agatha membaca sebaris kalimat di kaca jendelanya.     Kening Agatha berkerut rapat. Apa maksud kalimat itu? Siapa kalian yang dimaksud penulis kalimat itu?     Agatha berlari kecil ke meja belajarnya, meraih ponsel, dan segera memotret tulisan di jendela kamarnya. Barangkali nanti ia akan meminta pendapat teman-temannya soal teror yang ia terima. Foto itu bisa jadi bukti.     Setelah beres memotret, Agatha memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kampus. ***     Verrel mengemasi tugas-tugasnya. Semalam ia sudah berhasil mengerjakan lima belas halaman essai. Rencananya, pagi ini ia akan lanjut menyelesaikan tugasnya itu. Tapi nahas, Verrel malah ketiduran sampai pukul setengah lima pagi. Setengah jam lagi, tugas itu harus sudah diserahkan pada komisi disiplin.     Daripada terlambat datang ke kampus, Verrel akhirnya memilih bersiap-siap dulu. Ia mandi dan kembali mengenakan seragam hitam putih. Verrel menata rambutnya agar rapi seperti yang ada dalam peraturan penampilan ospek. Verrel juga memasukkan co-card ospek ke dalam tasnya.     Cowok itu bergegas keluar rumah saat mengetahui kalau sekarang sudah pukul lima kurang sepuluh menit. Verrel memesan ojek online untuk mengantarkannya ke kampus.     Beruntung, waktu sepuluh menit yang tersisa ternyata cukup untuk Verrel sampai di kampus. Meski begitu, Verrel tetap tidak tenang. Ia teringat tugas essainya yang masih kurang lima halaman. Gawat, ia pasti akan kena hukuman lagi dari anggota komdis.     Verrel berjalan cepat menuju ke depan ruang Senat karena anggota komisi disiplin sudah menunggu di sana. Sesampainya di depan ruang Senat, ternyata sudah banyak maba yang berbaris sembari menunggu nama mereka dipanggil anggota komdis.     Verrel menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari keberadaan ke tiga temannya. Tapi nihil. Verrel tidak mendapati batang hidung Agatha, Arthur, maupun Shana. Apa mereka kesiangan dan datang terlambat?     "Verrel Aluka," panggil salah seorang anggota komisi disiplin.     Verrel segera memisahkan diri dari barisan dan maju ke depan. Ia menyerahkan oleh-oleh yang diminta komdis itu.     Wajah salah seorang anggota komisi disiplin itu tampak tidak suka saat tahu bahwa tugas Verrel belum kelar. Ia memanggil temannya untuk memproses pelanggaran Verrel.     "Cil, Cila, nih urusin maba yang satu ini. Dia nggak kelar ngerjain oleh-olehnya." Anggota komdis itu meneriaki temannya.     Anggota komisi disiplin yang dipanggil dengan nama Cila itu mendekat.     "Oh, jadi kamu yang nggak sanggup mengerjakan oleh-oleh. Kamu kan yang kemarin mangkir dari sesi ospek?" Cila menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan Verrel dengan tajam.     Verrel mengumpat dalam hati. Menyebalkan sekali bertemu lagi dengan orang ini.     Cila menodongkan tangannya, "Mana kartu tanda mahasiswamu?"     Verrel menghela napas pelan sembari membuka tasnya. Ia merogoh-rogoh saku tasnya untuk menemukan benda bernama KTM itu.     Setelah menemukan apa yang ia cari, Verrel lalu menyerahkannya ke Cila. Cila menerima KTM itu dan segera memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sudah ia siapkan.     "Baris di depan gedung dekanat sekarang. Gabung sama para pelanggar lain." Cila mengatakan hal itu sembari berbalik pergi.     Verrel meraih tas yang sempat ia campakkan ke lantai. Ia lalu melangkah menjauhi ruang Senat dan menuju ke depan gedung dekanat.     Ternyata, di sana Verrel dapat melihat Agatha, Arthur, dan Shana sudah berbaris rapi bersama para pelanggar tugas. Verrel nyengir lebar saat mengetahui fakta bahwa dia tidak akan dihukum sendirian.     "Woi, pada semangat banget dateng ospek cuma buat dihukum doang," kelakar Verrel saat sudah berbaris di sebelah Agatha, Arthur, dan Shana.     Agatha melirik Verrel, "Bacot!"     Shana dan Arthur hanya terkekeh menanggapi kelakar Verrel dan makian Agatha. ***     Shana mengetukkan kakinya dengan bosan sembari menunggu hukuman yang akan diberikan panitia komdis pada para pelanggar tugas ospek, termasuk dirinya.     Ya, Shana pada akhirnya tidak sanggup menyelesaikan tugasnya. Padahal Shana adalah tipe orang yang tidak sudi kalau tugasnya tidak beres. Tapi semalam rencananya untuk mengerjakan oleh-oleh dari anggota komisi disiplin harus tertunda karena serangan teror seseorang.     Entah atas alasan apa, Shana dan juga Arthur yang menginap di rumahnya mendadak mendapat teror. Seseorang sengaja mematikan aliran listrik di rumah Shana. Lalu kejadian selanjutnya adalah seseorang melempar pisau ke jendela rumah Shana hingga kaca jendela itu hancur.     Tak hanya itu, setelah mengecek ke sumber suara pecahan kaca, Shana dan Arthur mendapati kalau ada surat yang terikat di bagian pegangan pisau. Secarik kertas berisi peringatan agar Shana dan kawan-kawan tidak ikut campur. Entah dalam hal apa.     Shana mendongak saat salah satu anggota komisi disiplin mulai berbicara. Rupanya Shana akan segera mendengar vonis hukuman yang akan ia terima.     "Selamat pagi, kami adalah perwakilan komisi disiplin. Kalian yang berdiri di sini adalah mahasiswa baru yang entah sengaja atau tidak sengaja memilih untuk tidak menyelesaikan oleh-oleh dari kami. Oleh karena itu, sebelum bisa bergabung dengan teman-teman kalian di kelas ospek, kalian akan mendapat tanda cinta kasih dari kami." Salah seorang anggota komisi disiplin yang sudah Shana ingat namanya bicara di depan. Dia adalah Kak Cila. Sepertinya dia memang diberi tugas untuk menangani mahasiswa bandel dan hobi mangkir serta hobi bersikap seenaknya saja.     "Setelah kami bubarkan, kalian harus pergi ke rooftop gedung dekanat. Karena kami tidak ingin main fisik, makanya kami berniat memberi tanda kasih kepada kalian dengan kalian diminta membereskan gudang yang ada di rooftop. Di sini ada tiga belas orang, maka kami harap kalian bisa bekerja sama dengan baik agar pekerjaan kalian cepat selesai. Kalian boleh bergabung dengan teman-teman di kelas ospek kalian setelah merasa bahwa gudang di rooftop sudah bersih dan rapi. Bisa dipahami?" jelas seorang anggota komisi disiplin yang berdiri di sebelah Cila.     Shana menyipitkan matanya, berusaha membaca nama di name tag yang terpasang di bagian d**a jas almamater yang dipakai cewek yang baru saja bicara itu. Ari Balla? Asi Bella? Aci Bella? Ya, sepertinya yang terakhir lah yang benar.     Dua orang anggota komisi disiplin itu menggiring para maba menaiki tangga menuju ke rooftop. Sesampainya di rooftop Kak Cila dan Kak Aci meminta para maba segera membersihkan dan menata gudang. Mereka lalu meninggalkan para maba.     "Ck, males gue suruh beres-beres." Agatha sudah memegang sapu, tapi ia tampak sangat keberatan untuk melakukan tugas menyapu.     "Ya udah sini tukeran sama gue. Lo yang bersihin debu pakai kemoceng ini." Shana mengulurkan kemoceng yang ia genggam.     Agatha menggeleng cepat, "Ogah ah, enakan nyapu."     Shana hanya terkekeh melihat Agatha segera ngacir menjauhi Shana karena tidak mau diminta gantian tugas.     Tiga belas maba yang dihukum akhirnya dengan kesadaran masing-masing membersihkan bagian gudang yang luasnya hampir setengah rooftop gedung dekanat. Mereka membersihkan bagian dalam gudang, mulai dari menata meja dan kursi, membersihkan debu di lemari-lemari, dan menyapu lantai.     Saat semua sudah dirasa beres, tiga belas maba itu sepakat untuk pergi dari gudang ini. Namun sayang, pintu yang menjadi akses keluar masuk gudang tiba-tiba saja sudah terkunci. Apa-apaan ini?     Seorang cowok yang berbadan lumayan kekar maju untuk mencoba mendobrak pintu. Tapi usahanya itu tidak menghasilkan apa-apa.     Verrel juga coba mengakali bagian kunci gudang. Tapi tetap saja kunci pintu itu tidak terbuka.     "Gimana nih?" tanya Shana yang sedari tadi bersandar di tembok. Ia memperhatikan kepanikan yang terjadi.     "Kayanya sebentar lagi bakal ada sesuatu untuk kita." Arthur buka suara.     Verrel yang sudah menyerah berusaha membuka kunci pintu, akhirnya bergabung bersama ketiga temannya. "Maksud lo, Ar?"     "Kita dikurung di sini bukan sekadar dikurung. Pasti hal yang lebih buruk bakal terjadi." Arthur meramalkan bak cenayang.     Shana dan Agatha meringis ngeri. Sementara Verrel jadi kembali bersemangat untuk membuka kunci.     "Ar, nggak ada jalan keluar nih? Lo kan biasanya kreatif." Agatha mengenggol bahu Arthur.     Arthur dari tadi diam karena dia sedang memutar otak. Tapi memang belum ada jalan keluar yang sekiranya bisa digunakan untuk keluar dari gudang ini. Gudang ini hanya memiliki satu pintu. Tidak ada jendela di gudang ini. Bahkan tidak ada lubang angin.     "Gerah banget gila," keluh Agatha sembari menggulung lengan kemejanya.     "Ar, kalau kita bertiga belas tetap di sini, kita semua bisa mati gara-gara nggak ada udara. Di sini nggak ada ventilasi." Shana mengibas-ibaskan tangannya ke arah wajah.     "Woi, buka woi!" Salah seorang maba berteriak marah.     "Kak, kita udah selesai beresin gudangnya. Tolong pintunya dibuka!" pinta maba yang lain.     Tapi tetap saja tak ada respon. Bahkan sepertinya tidak ada siapa-siapa di luar gudang ini. Jadi benar-benar tidak ada yang tahu kalau ada tiga belas maba yang terkurung di dalam gudang minim udara.     "Eh, kalian ngerasa ada yang aneh nggak sih?" tanya seorang maba yang sepertinya menyadari sesuatu.     "Eh, iya anjir. Kok gue agak mabuk gini ya?" ujar yang lain panik.     Seorang cowok berdiri dari duduknya, "b*****t, kepala gue kok jadi berat sih."     "Ruangannya berputar, ya?" Seorang gadis dengan polosnya bertanya.     "Aduh, kepala gue pusing banget nih. Mata gue nggak bisa fokus liat objek," imbuh cewek yang berdiri tak jauh dari Agatha.     Seorang cowok yang berdiri di dekat pintu akhirnya mengubah posisinya jadi berjongkok, "Badan gue tiba-tiba lemes."     "Tutup hidung dan mulut kalian. Barangkali ada gas beracun dalam ruangan ini." Arthur memberitahu dugaannya.     Semua maba di dalam gudang itu menuruti kata Arthur. Tapi sepertinya, nasib baik tidak berpihak pada mereka. Karena dari waktu ke waktu, satu per satu maba jatuh tak sadarkan diri setelah berperang melawan gas beracun yang disebut-sebut Arthur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD