Arthur bangkit berdiri untuk menjabat tangan Gerald, ayahnya Shana sekaligus rekan kerja Arthur. Gerald sengaja pulang lebih awal karena Arthur minta ketemuan. Akhir-akhir ini memang Arthur sering menghubungi Gerald dalam penyelidikan mereka soal Pak Ilham. Penyelidikan itu sempat tertunda beberapa waktu lamanya.
"Jadi gimana, kamu sudah baca email hasil pencarian anak buah saya?" tanya Gerald pada Arthur.
"Sudah, Om. Tapi saya rasa data yang didapatkan palsu. Mana mungkin dia tidak melakukan transaksi apa-apa selama beberapa waktu terakhir." Arthur mengetukkan jari ke ponselnya.
"Saya rasa juga begitu. Mungkinkah dia punya identitas lain?" tanya Gerald.
Arthur menggeleng, dia tidak pernah terpikirkan soal hal itu. Bukankah sulit untuk membuat identitas baru? Kalau pun bisa, pasti ada jejaknya.
"Yah, memangnya Pak Ilham posisi di mana sekarang?" Shana yang juga ada di sana menyela pembicaraan ayahnya dan Arthur.
Gerald menoleh pada putrinya. "Dia hidup nomaden. Sepertinya dia tahu kalau pihak kepolisian belum menyerah mencari tahu tentangnya. Makanya dia tidak menetap di satu wilayah dalam waktu lama. Kali ini, pihak kepolisian masih berusaha mencari keberadaannya lagi."
"Anak buah om udah cek rumah terakhir yang ditempati Pak Ilham?"
"Sudah, Ar. Tapi ya seperti yang sudah-sudah. Sama sekali tidak ada jejak yang tertinggal di sana. Bahkan kabar terbaru mengatakan bahwa rumah itu sudah ditempati pemilik barunya."
Arthur menghela napas. "Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu pengintaian terhadap Pak Ilham ini?"
"Sebenarnya, Ar, saya rasa Pak Ilham ini tidak akan jauh-jauh dari kamu dan kawan-kawanmu. Dia punya dendam pada kalian. Jadi apa kamu mendapat teror lagi?"
"Ada, Yah. Di kampusku, pas ospek tadi ada video berisi ancaman yang entah sengaja atau tidak terputar di sesi pengenalan profil fakultas. Tapi itu nggak semata ditujukan pada Arthur, aku, Agatha, maupun Verrel. Jadi kami ragu apakah ini ulah Pak Ilham atau orang lain. Bahkan sepertinya panitia juga gerak-geriknya lumayan mencurigakan. Jadi video itu belum bisa dianggap sebagai teror dari Pak Ilham."
Gerald mengangguk-angguk. "Kalau gitu, kalian perlu waspada. Ayah dan anak buah ayah baru bisa bergerak kalau ada laporan. Jika tidak ada yang melaporkan, maka kami tidak bisa ikut campur."
"Kami akan terus mengawasi kegiatan ospek ini, Yah. Semoga teror itu nggak sungguhan dari Pak Ilham. Terlebih, semoga nggak akan ada hal buruk yang terjadi." Shana meremas pena yang ia gunakan untuk menulis dengan gemas.
"Ya, Om. Kami nggak akan tinggal diam kalau sampai ada kejadian buruk di kampus baru kami ini." Arthur menambahkan.
"Bagus, kalau kalian butuh pihak kepolisian, kalian langsung buat laporan saja. Biar kami bisa ikut bertindak." Pak Gerald mengangguk-angguk puas.
Arthur memberi hormat, "Siap laksanakan, Om."
***
Malam ini, Agatha masih begadang. Sambil menggerutu, ia menyelesaikan oleh-oleh essainya. Dia memang mengaku salah karena tidak mencicil mengerjakan tugas itu sejak tadi sore. Akhirnya, dia tidak bisa tidur tenang malam ini.
Agatha mendongak saat mendengar kaca jendelanya dilempari sesuatu. Bunyinya berisik. Dari yang Agatha duga, sesuatu yang mengenai kaca jendela kamarnya itu adalah batu kecil-kecil.
Dengan ragu, Agatha bangkit dari kursi belajarnya. Dia berjalan mengendap mendekati jendela kamarnya.
s**l, Agatha terlonjak kaget saat sebuah batu lagi-lagi menghantam kaca jendelanya tepat di depan mukanya. Agatha mendesiskan u*****n.
Agatha melongokkan kepala ke arah jendela kamarnya. Meski ia tidak membuka kaca jendelanya, Agatha tetap dapat melihat situasi di luar sana. Nyatanya tidak ada siapa-siapa di halaman depan rumahnya. Lagian kamar Agatha ada di lantai dua. Bagaimana bisa seseorang melempari kaca jendela kamarnya dengan batu?
Agatha bergidik ngeri menyadari bahwa kemungkinan ada seseorang yang berniat menerornya ini. Tapi apa motifnya?
Agatha berhenti berpikiran buruk dan segera menjauh dari jendela. Ia merangsek menuju tempat tidur dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Bodo amat soal oleh-oleh ospek, Agatha sudah tidak peduli. Lebih baik ia pergi tidur sekarang dari pada harus mendapat teror dari entah siapa itu.
***
Verrel berjalan menyusuri setapak menuju ke rumahnya. Ia baru saja membeli kertas folio di toko peralatan tulis di depan kompleks perumahannya.
Baru saja akan berbelok ke rumahnya, Verrel justru melihat sebuah motor tanpa plat nomor terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya. Tapi Verrel sendiri tidak pernah melihat motor itu.
Saat Verrel mendekati rumahnya, seseorang justru keluar dari gerbang rumahnya dengan mengendap-endap. Pasti ada yang tidak beres!
Verrel memutuskan bersembunyi terlebih dahulu sambil mengamati orang yang tengah berjalan mengendap-endap itu. Orang itu ternyata adalah pengemudi motor yang terparkir tak jauh dari gerbang rumah Verrel. Siapa dia? Kenapa dia terlihat sangat mencurigakan?
Verrel baru keluar dari persembunyiannya saat orang mencurigakan itu mulai melajukan motornya menjauhi rumah Verrel. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Verrel segera mengakses gerbang rumahnya.
Sejauh ini, Verrel belum menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sampai akhirnya, cowok itu melihat sebuah kotak teronggok di depan pintu rumahnya. Verrel mengernyit curiga menatapi kotak yang entah ada apa dalamnya.
Verrel berjongkok di dekat kotak dengan ukuran kira-kira tiga puluh sentimeter kali dua lima sentimeter. Kotak itu berwarna abu-abu tua. Bau anyir bisa tercium samar dari dalam kotak itu.
"Semoga bukan potongan tubuh orang," gumam Verrel sebelum membuka tutup kotak itu.
Verrel mengernyit saat mendapati ada bangkai tikus di dalam kotak itu. Tak hanya bangkai tikus, beberapa bendel dokumen juga dimasukkan ke dalam kotak itu. Verrel tidak bisa membaca dengan jelas dokumen apa itu karena tulisan di sampul dokumen itu sudah luntur terkena rembesan darah tikus.
Verrel menutup hidungnya karena jijik. Dia hendak menutup kembali kotak itu, namun niatannya harus tertunda lantaran Verrel menemukan sebuah foto tertempel pada bagian dalam penutup kotak. Verrel memperhatikan dengan saksama foto ukuran 6R itu. Foto itu sepertinya adalah foto para panitia ospek.
Verrel mencoba mencari keterangan waktu dari foto itu. Ternyata foto itu baru dicetak beberapa waktu lalu. Kalau tidak salah menebak, ini pasti foto para panitia ospek yang diambil sesaat setelah ospek hari pertama ini berakhir.
Verrel menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia melempas foto itu dari tutup kotak berisi tikus mati. Verrel lalu beranjak untuk membuang kotak itu di tong sampah depan rumahnya. Verrel sudah sangat jijik dan tidak sanggup kalau harus menyimpan kotak itu. Semoga tidak ada orang iseng yang mengecek isi kotak itu setelah dibuang ke tempat sampah.
Setelah beres membuang kotak berisi bangkai itu, Verrel lalu masuk ke rumahnya. Ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Ia segera beranjak ke kamar. Kebetulan sekali, dia sedang sendirian di rumah. Orang tuanya memang sering tugas luar kota.
Verrel menyalakan lampu kamarnya. Sejenak ia melirik ke kanan dan ke kiri. Ia jadi sedikit parno dan curigaan karena teror tadi.
Akhirnya sebelum mengerjakan oleh-oleh ospek, Verrel menyempatkan diri untuk memotret foto ukuran 6R itu dan mengirimkannya pada Arthur.
***
Arthur sedikit bingung saat tiba-tiba Verrel mengirim sebuah gambar padanya. Terlebih gambar yang dikirim Verrel adalah foto para panitia ospek.
Tapi kebingungan Arthur segera terjawab saat lagi-lagi sebuah pesan dari Verrel masuk ke ponselnya.
From : Verrel
Woi, Ar. Gue dapet teror nih. Masa gue dikasih kotak isinya bangkai tikus, dokumen entah apa itu yang udah berlumuran darah tikus, dan foto panitia ospek yang barusan gue kirim ke lo.
To : Verrel
Simpen dulu fotonya. Gue bakal cari tau maksud teror yang lo terima itu.
"Ada apa, Ar?" tanya Shana yang menatap Arthur penuh tanya.
Arthur meletakkan ponselnya, "Barusan Verrel dapet teror."
"Ih, serius? Liat dong chat lo sama Verrel," pinta Shana.
Arthur menggeser ponselnya dan membiarkan Shana membaca obrolannya dengan Verrel.
"Kok kita nggak dapet ya?" Shana menanggapi dengan polos. Bukannya berharap diteror juga, tapi Shana hanya merasa aneh. Biasanya satu diteror, maka yang lain juga akan kena teror.
"Belum, barangkali bentar lagi. Tunggu aja," ucap Arthur singkat. Ia sudah mulai kembali sibuk menyelesaikan essainya.
Arthur dan Shana sedang lembur bersama mengerjakan oleh-oleh ospek. Mereka benar-benar tidak bisa tidur karena dihantui essai s****n itu.
Tapi tak berselang lama setelah mereka berhenti mengobrol, listrik di rumah Shana padam. Shana menghela napas mengingat tugasnya yang masih belum beres. Sementara Arthur langsung melongok ke luar.
Arthur mengernyit, menyadari hanya lampu di rumah Shana saja yang padam. Padahal lampu jalan masih menyala. Itu artinya, hanya listrik di rumah Shana yang bermasalah.
"Ar, gue takut." Shana merangsek mendekati Arthur.
"Sha, meteran rumah lo di sebelah mana?" tanya Arthur sambil menyalakan senter dari ponselnya.
Shana berusaha mengingat-ingat, "Gue nggak tau, di luar sih yang pasti."
Arthur melangkah ke ruang tamu. Shana mengekor tak jauh di belakangnya.
Arthur mengintip dari jendela. Ia memastikan keadaan di luar rumah Shana. Sepi dan tidak ada siapa-siapa.
"Ar, lo mau keluar?" tanya Shana ragu. "Kemarin gue baca berita. Katanya kalau listrik di rumah mati secara tiba-tiba, mending jangan dicek deh. Bahaya, itu barangkali modus kejahatan."
Arthur berhenti mengernyit. Yang Shana bicarakan memang ada benarnya.
"Trus, kita mau gelap-gelapan?" Arthur menatap Shana dengan sebelah alisnya yang terangkat. Tapi Arthur rasa, Shana juga tidak akan melihat ekspresinya karena di sini gelap.
"Tugas kita masih banyak. Tapi kalau keluar buat benerin listrik dan ternyata ini kerjaan orang jahat gimana?" Shana turut mengintip ke luar rumahnya lewat jendela. Memang sepi. Sepertinya tidak ada orang di halaman rumahnya.
Arthur berpikir sebentar, sepertinya tidak masalah kalau dia keluar untuk membetulkan meteran listrik rumah Shana. Menurut Arthur, ini hanya teror. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
"Sha, ambilin tongkat golf," ujar Arthur sambil manodongkan tangannya.
"Ar, jangan nekat deh." Shana masih tidak setuju kalau Arthur harus keluar rumah.
"Udah, gue rasa ini cuma teror. Bukan berarti kita bakalan celaka." Arthur tetap ngotot.
Shana mengangguk dan mulai berjalan ke bagian lain rumahnya. Tapi belum sampai melangkah lebih jauh, suara kaca pecah terdengar mengejutkan mereka.
"Arthur, gue takut!" jerit Shana histeris sembari berjongkok dan menutup telinganya.
***