Chapter 2

1507 Words
    Shana dan Agatha pikir, pembacaan oleh-oleh dari Kak Panji tadi adalah penutup untuk sesi hukuman ini. Tapi berikutnya, seorang cewek anggota komisi disiplin mengangkat tangan. Dia menginterupsi Kak Panji. Kak Panji lalu mempersilakan cewek itu maju ke hadapan para maba.     "Tambahan! Siapa di antara kalian yang mengenal mahasiswa baru bernama Arthur Elias dan Verrel Aluka?" tanya cewek itu sembari menatapi mahasiswa baru yang mengkeret takut.     Lagi-lagi Agatha berbisik pada Shana. "Sha, jawab gih."     "Lo aja sana," balas Shana sambil menunduk dalam agar gerakan bibirnya tidak terlihat para komdis itu.     "Yang di belakang, kenapa kalian selalu berbisik-bisik? Apa kalian tengah menertawakan ucapan kami?" tukas cewek yang menanyakan keberadaan Arthur dan Verrel itu.     "Tidak, Kak," balas Shana dan Agatha bersamaan.     "Kalau begitu, kalian cari mahasiswa baru bernama Arthur Elias dan Verrel Aluka. Mereka tidak mengambil makan siang dan juga tidak kembali ke kelas. Waktu kalian untuk mencari dua orang itu adalah lima belas menit. Cepat cari dan bawa mereka kemari!" Cewek itu menggerakkan kepalanya, memberi isyarat agar Shana dan Agatha cepat memisahkan diri dari barisan.     "Ck, Verrel sama Arthur nyusahin aja sih!" gerutu Agatha saat dirinya dan Shana sudah berjalan menjauhi barisan dan menuju ke luar gedung dekanat. ***     Sementara Shana dan Agatha mencari-cari keberadaan Arthur dan Verrel, kedua cowok itu justru tengah menghabiskan waktu mengintip aktivitas di ruang BEM. Arthur dan Verrel mengintai ruang BEM dari selasar gedung perpustakaan.     Mereka tengah mengamati pergerakan para panitia ospek kali ini. Ternyata panitia ospek adalah gabungan dari pengurus BEM, Senat, Mawapres, dan pengurus himpunan jurusan.     Sekarang di hadapan Arthur dan Verrel, tengah terjadi pertengkaran antara dua orang laki-laki yang sama-sama menggunakan jaket almamater. Artinya mereka adalah panitia ospek. Beberapa orang juga berkumpul di sana. Mereka berusaha melerai pertikaian itu. Tapi sepertinya terlalu sia-sia karena emosi kedua orang yang tengah beradu argumen itu tidak terkendali.     "Mereka bukannya orang yang ngasih sambutan di upacara pembukaan ospek tadi pagi, kan? Pengurus petinggi dong?" Verrel menunjuk-nunjuk dua orang yang saling adu argumen di depan ruang BEM.     Arthur mengangguk, "Seingat gue, yang kiri itu Kak Langir Wijaya dan yang kanan itu Kak Morus Macroura."     Verrel mengedikkan bahu, "Gue nggak inget, Ar. Nama mereka susah-susah. Emang mereka siapa sih sampai tadi ngasih sambutan di upacara pembukaan ospek fakultas?"     "Kak Langir, ketua BEM Fakultas Ekonomi tahun lalu. Dia bakal purna tahun ini. Kayanya nggak lama setelah ospek, bakalan ada suksesi buat ketua baru BEM," terang Arthur sembari terus menatapi kedua orang yang sekarang mulai saling dorong. "Yang barusan kena tinju itu, namanya Kak Morus. Mawapres yang kebetulan jadi ketua ospek tahun ini."     "Wow, jabaran mereka keren-keren." Verrel geleng-geleng kepala.     "Woi, dicariin malah ngumpet di sini. Gue sama Shana disuruh cari kalian tau! Mati kalian ketemu Kak Panji." Agatha datang bersama Shana dan langsung mengomeli Verrel dan Arthur.     Verrel dan Arthur bangkit dari duduk. Mereka lalu mendekati dua cewek yang memasang tampang kesal.     "Yuk, balik ke kelas. Ditunggu banget sama kakak komdis." Shana memutar badan dan berjalan kembali ke arah gedung dekanat, tempat auditorium yang digunakan untuk ospek berada. ***     Sesampainya di hadapan komisi disiplin, empat orang yang baru tiba itu langsung disuruh berbaris. Kak Panji dan anggota komdis yang tadi mencari Arthur dan Verrel berdiri di hadapan mereka.     "Habis dari mana kalian berdua?" tanya Kak Panji pada Arthur dan Verrel.     "Dari luar, Kak," jawab Verrel singkat.     "Gue tau lo dari luar. Tapi luarnya mana?" cecar cewek yang berdiri di samping Panji. Ternyata nama cewek itu bernama Cila Sarwa dan jabatannya adalah sekretaris komisi disiplin. Begitulah yang tercetak dalam badge yang tertempel di jaket almamaternya.     "Dari gedung lab, Kak." Arthur berkata jujur.     Kak Panji menaikkan alisnya, "Kenapa ke sana? Kalian tau kan kalau jam istirahat sudah selesai."     "Maaf, Kak," gumam Verrel.     Cila mengangguk-angguk. Ia lalu tersenyum. "Oke, kalian boleh masuk ke kelas setelah ini. Tapi kalian akan diberi bonus oleh-oleh tanda cinta dari panitia komisi disiplin. Kak Panji, silakan jelaskan oleh-olehnya."     Kak Panji mengangguk. Dia lalu menatap Arthur dan Verrel bergantian sembari memberi instruksi oleh-oleh untuk dua peserta ospek itu. "Untuk kalian yang entah sengaja atau tidak sengaja melewatkan sesi ospek hari ini, kalian akan diberi bonus oleh-oleh seperti yang disebutkan Kak Cila. Jadi tanda cinta dari kami itu adalah kalian kerjakan essai dengan tema makan siang dan bahaya telat makan sebanyak tiga folio. Ditambah dengan essai bertema tolak budaya jam karet dan ketatkan budaya disiplin sebanyak dua folio. Jadi total halaman essai yang harus kalian tulis adalah dua puluh halaman folio. Tulis dengan tulisan tangan, tidak diperkenankan diketik. Tulisan dibuat kecil dan rapi. Jangan membesarkan ukuran huruf dalam essai kalian agar jumlah halaman cepat terpenuhi. Kalau sampai itu terjadi, kalian akan kami minta menulis ulang essai kali ini dengan jumlah halaman dua kali lipat. Margin kanan dan kiri satu sentimeter, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Jangan sampai ada coretan atau tulisan yang dihapus. Maksimal pengumpulan bonus oleh-oleh adalah pukul lima besok pagi. Bisa dipahami?"     "Bisa, kak," jawab Arthur dan Verrel.     "Oke, kalian bisa gabung lagi sama teman-teman kalian di auditorium. Silakan!" Kak Cila membubarkan barisan yang terdiri dari empat orang itu.     Sesampainya di dalam auditorium, mereka berempat langsung menempati tempat duduk mereka. Sepertinya mereka sudah tertinggal sesi ospek cukup lama. ***     Ospek fakultas hari pertama ini berakhir pada pukul empat sore. Tapi Arthur, Verrel, Shana, dan Agatha masih belum bisa pergi dari area kampus. Oleh-oleh dari kakak panitia ospek soal membuat peta kampus belum mereka kerjakan. Apalagi mereka juga dapat bonus oleh-oleh karena mangkir dari aturan.     "Gimana nih bikin petanya? Duh gila, oleh-oleh hari pertama nggak kira-kira banyaknya." Verrel bicara sembari matanya fokus ke ponsel.     "Oleh-oleh normalnya sih cuma bikin peta kampus. Kita aja yang apes dapat bonus oleh-oleh dari komdis." Agatha menimpali.     "Bagi tugas aja yuk buat ngamatin gedung-gedung di kampus," tawar Shana.     "Sebenernya, kita nggak perlu repot-repot keliling kampus sih. Gue liat tadi di deket gerbang belakang ada peta kampus ini." Arthur buka suara.     Ketiga temannya sontak menatapnya. Mereka memasang wajah meminta keseriusan Arthur.     "Serius. Kapan gue pernah bercanda?" tanya Arthur sambil mencebikkan bibir.     "Ya udah, ayo kita ke sana buat ambil gambar petanya." Verrel berjalan di depan. Dia jadi bersemangat.     Mereka tiba di bagian gerbang belakang yang dimaksud Arthur. Ternyata di sana juga ada beberapa siswa yang tengah memotret peta kampus itu. Tanpa membuang waktu, Verrel menggunakan ponsel yang sedari tadi ia genggam untuk mengambil gambar peta kampus mereka itu.     "Semoga peta ini masih berlaku. Kalau tata letak ruangan di sini udah diubah, tamat riwayat kita. Siap-siap ketemu komdis lagi kalau salah ngumpulin oleh-oleh." Shana mengamati papan peta kampus yang sudah tampak lama itu. Bahkan cetakan tulisan dan gambar di peta itu sudah mulai tidak jelas. Ini membuat Shana ragu kalau-kalau peta ini masih berlaku sampai sekarang.     "Yuk cabut. Habis ini gue harus nulis essai dua belas halaman." Agatha berjalan ke gerbang.     "Ye, lo mah cuma suruh buat essai dua belas. Gue sama Arthur diminta bikin essai dua puluh halaman. Gila ya komdis. Ngasih hukuman nggak kira-kira. Dia pikir kita mesin apa nggak ada capeknya. Bisa-bisa habis nulis essai dua puluh halaman, tangan dan jari gue keriting." Verrel menggerutu sepanjang jalan menuju gerbang.     "Eh, kalian balik naik apa?" tanya Shana sesampainya mereka ada di luar gerbang.     "Gue pesen ojol," jawab Verrel. "Susah ya, selama ospek nggak boleh bawa kendaraan ke area kampus."     "Sha, lo udah pesen?" Arthur bergeser mendekati Shana.     "Belum, kenapa?" tanya Shana balik.     "Pesen yang mobil aja. Gue mau mampir ke rumah lo." Arthur memberi perintah.     Shana mengangguk-angguk dan mulai memesan transportasi umum via online itu. Tak lama, jemputan mereka tiba. Shana pergi dengan Arthur. Sedangkan Agatha pulang dengan Verrel. ***     Shana dan Arthur tiba di rumah Shana. Seperti biasa, rumah Shana kosong.     "Gue ada janji sama bokap lo jam lima nanti," ucap Arthur yang berjalan mengekori Shana.     "Lo lagi sibuk ngapain sih sama bokap? Urusan yang kemarin itu, sama anak SMA Putra Bangsa?" tanya Shana sebelum masuk ke dalam rumah.     Arthur menggeleng, "Bukan, itu sih udah selesai."     "Terus?"     "Ini soal Pak Ilham. Gue sama bokap lo masih terus melacak keberadaan dia di Indonesia."     Shana mengangguk-angguk. Tapi kemudian dia menoleh cepat pada Arthur. "Ar, jangan-jangan kali ini ulah Pak Ilham?"     Arthur mengedikkan bahu, "Gue belum bisa memastikan soal itu. Pak Ilham ini bener-bener rapi banget mainnya. Dia susah dilacak dan aktivitasnya bener-bener nggak bisa dipantau. Pas kejadian beberapa bulan lalu, kita semua udah curiga kalau dia terlibat. Tapi nyatanya, nggak ada bukti yang mengarah ke sana."     "Gue heran ya, kenapa dia bisa secerdik itu. Selalu bisa berkelit dari tuduhan. Terlebih, kalau memang dia dalang di balik semua kejadian buruk yang kita alami, dia selalu berhasil memilih pion yang siap dikorbankan demi aksinya. Bayangin deh Ar, Pak Ilham nyuruh orang buat bikin rusuh di hidup kita. Terus akhirnya orang-orang itu harus menanggung hukuman sedangkan Pak Ilham bisa cuci tangan. Ck, kriminal sejati sih." Shana geleng-geleng. Dia meletakkan tasnya di sofa. Ia lalu mengeluarkan beberapa alat tulis dan kertas. Tak butuh waktu lama, cewek itu mulai mengerjakan oleh-oleh dari komdis.     Arthur juga mengikuti apa yang Shana lakukan. Ia mulai mencicil essai dua puluh halamannya. Tapi berhubung ia masih ingin tahu pendapat Shana soal Pak Ilham, akhirnya dia mengajak Shana lanjut ngobrol. "Terus menurut lo, kalau kali ini Pak Ilham terlibat, dia ambil peran apa?"     Shana mendongak manatap Arthur. "Nih ya, menurut gue, dia bakal jadi otak dari si pelaku yang terpilih jadi pionnya. Dia nggak akan muncul. Dia psiko tapi pengecut."     "Tapi siapa kira-kira yang bisa jadi pionnya di area kampus?" Arthur menopang dagunya.     Shana mengedikkan kepala, bingung juga dengan pertanyaan Arthur. "Iya ya, siapa pionnya kali ini?" ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD