Chapter 1

1474 Words
    Verrel berjalan keluar dari gedung dekanat dengan agak tergesa-gesa. Ia lalu menghampiri ketiga temannya yang menunggu di emperan gedung.     "Guys, udah ambil makan siang?" tanya Verrel saat sudah berdiri di antara ketiga temannya.     "Belum, mending sekarang kita keliling kampus ini dulu deh. Lumayan kan nyicil gambar peta gedung fakultas. Biar nanti sore, ospek beres kita bisa langsung balik dan nggak repot ngurusin peta lagi." Agatha bangkit dari duduknya sembari merapikan rok hitam semata kaki yang ia kenakan.     "Iya, mending kita jangan ambil makan siang yang udah disediain panitia." Verrel berkata dengan serius.     Arthur mendongak dan mengernyitkan dahinya menatap Verrel. "Kenapa memangnya?"     "Barusan pas gue keluar dari toilet, gue liat antrean buat pakai toilet itu panjang banget," jawab Verrel.     "Ya, terus?" Shana yang dari tadi diam, akhirnya menimbrung dalam pembicaraan.     Verrel merendahkan tubuhnya. Ia juga melirihkan suaranya dan bicara sambil berbisik, "Gue tanya ke mereka kenapa pada ke toilet. Jawaban dari beberapa anak yang gue tanya, katanya mereka sakit perut."     "Jadi lo menyimpulkan kalau yang bikin mereka sakit perut itu makan siang dari panitia?" Arthur memastikan.     "Ya, apalagi coba penyebabnya? Mereka kan habis makan siang. Eh, habis itu langsung pada sakit perut." Verrel melirik ke kanan ke kiri. Sepertinya dia tengah mencari sesuatu. "Tuh liat. Maba yang nggak makan siang, oke-oke aja. Kaya kita juga, kan?"     "Wah, parah sih. Masa baru ospek hari pertama, kita udah dikerjain!" Agatha geleng-geleng tak habis pikir.     Shana turut berdiri. "Gue mau ngecek, ah."     Arthur mencekal tangan Shana. Ia menahan cewek itu agar tidak pergi. Matanya menyipit dan penuh selidik. "Lo mau coba makan siang dari panitia?"     "Ya, enggak lah, Ar. Gue cuma mau liat ke dalem. Ngeliat kekacauan apa aja yang ada di sana," ujar Shana sebelum akhirnya melenggang masuk ke gedung dekanat.     "Sha, gue ikut!" Agatha berlari-lari kecil menyusul Shana.     Sepeninggal dua cewek itu, Verrel dan Arthur masih terdiam di tempat. Mereka justru sibuk melamun.     "Eh, Ar," ucap Verrel saat lamunannya terputus. "Kayanya ini bentuk realisasi dari ancaman di video yang tadi diputar di kelas ospek deh."     "Menurut gue juga gitu. Tapi kenapa dia nekat banget bikin banyak peserta ospek sakit perut?" Arthur berpikir, membuat kernyitan di dahinya makin rapat.     "Biar kacau kali acaranya," duga Verrel.     Arthur menggeleng. "Gue nggak yakin kalau cuma itu. Sebenernya target orang di video itu siapa sih?"     "Kita kayanya. Tadi orang aneh di video itu bilang kalau dia masih punya urusan kan sama seseorang atau beberapa orang. Ini pasti kerjaan Pak Ilham. Dia kan masih dendam sama kita-kita. Orang di video itu nggak lain adalah Pak Ilham, Ar!"     Arthur menggela napas. "Kok gue ngerasa kalau dia bukan Pak Ilham, ya? Dari suara dan postur tubuhnya, dia kelihatan masih muda."     "Ya elah, Ar. Sekarang juga teknologi udah canggih. Bisa lah kalau video tadi hasil editan. Buat nyamarin identitas, Pak Ilham tampil jadi anak muda." Verrel masih kekeh dengan pendapatnya.     Arthur mengusap dagunya. "Mungkin lo benar. Tapi gue masih tetep nggak yakin sih."     "Ya udah, ntar kita cari tau deh. Itu kan hobi lo, main detektif-detektifan?" Verrel menaik turunkan alisnya.     "Hmm," gumam Arthur sembari mengedikkan bahu. ***     Shana dan Agatha mendekati toilet wanita yang penuh sesak oleh antrian para maba bertampang kesakitan. Kebanyakan dari maba-maba itu menunggu sembari meremas perut mereka. Jadi mereka sungguhan sakit perut?     "Sha, panitia gila banget ya. Masa makan siang buat maba dikasih obat pencahar sih? Tega ya mereka." Agatha berbisik di telinga Shana.     Shana menoleh pada Agatha. "Nggak tau lagi deh gue, kenapa bisa hal kaya gini terjadi. Keterlaluan kalau semua ini beneran kerjaan panitia."     Shana berhenti bicara dan Agatha mengalihkan fokusnya. Beberapa panitia ospek mendatangi toilet wanita. Mereka memperhatikan antrean di toilet ini yang makin mengular.     "Kalian semua sakit perut?" tanya salah seorang panitia ospek.     "Iya, kak," jawab seorang cewek yang rambutnya diikat ekor kuda.     "Habis makan siang, saya jadi mules kak," timpal cewek yang bersandar di tembok dengan wajah kesakitan.     "Ya udah, kalian kelarin dulu deh urusan kalian. Tapi kalau udah beres, langsung balik ke kelas ya. Sesi ospek akan dilanjutkan lima menit lagi. Buat yang udah nggak ada kepentingan di sini, ayo balik ke kelas atau kalian akan kena hukum komisi disiplin!" perintah kakak panitia ospek sebelum meninggalkan toilet.     "Yuk, balik ke kelas!" Shana menggamit lengan Agatha dan menyeretnya berjalan kembali ke kelas.     "Btw, Sha, kita belum tanda tangan buat ambil makan siang." Agatha melirik ke tumpukan makan siang yang disediakan oleh panitia untuk peserta ospek. Di sana masih tersisa beberapa kotak makan. Ada kakak panitia yang bertugas mengabsen makan siang para maba.     "Biarin deh. Waktu istirahat juga udah habis." Shana mendorong pintu kelas. Ia lalu masuk ke dalam kelas dan memilih tempat duduk yang agak di belakang.     Di dalam kelas, sudah ada beberapa maba yang siap melanjutkan sesi ospek hari ini. Tapi sepertinya, jumlah maba yang ada di kelas tidak sampai sepertiga dari jumlah keseluruhan.     "Cuma segini aja yang balik ke kelas?" tanya salah satu kakak observer dengan kalem. Tapi pertanyaan itu terdengar cukup menegangkan untuk para peserta ospek. Suasana kelas pun jadi senyap. "Kalian nggak serius ya ikut kegiatan ospek ini? Ini baru hari pertama ospek fakultas dan kalian udah berani bikin alasan biar nggak balik ke kelas, gitu?"     "Sebentar lagi, komisi disiplin akan masuk ke kelas," imbuh observer yang lain dengan sama tenangnya. Tapi tetap saja semua peserta ospek merasa ngeri. Apalagi mereka membawa nama komisi disiplin.     Shana dan Agatha yang duduk agak jauh di belakang saling berbisik. Bukankah panitia seharusnya merasa bersalah karena telah membuat para maba sakit perut setelah makan makanan yang mereka siapkan? Kenapa mereka justru memanggil komisi disiplin untuk menangani hal ini?     "Verrel sama Arthur ke mana, sih? Mereka nekat banget nggak balik ke kelas!" Agatha masih mencari keberadaan kedua temannya itu.     "Kayanya emang mending kabur deh dari pada tetep ikut kelas dan bakal kena omelan lagi." Shana menyengir. ***     "Kami dari komdis!" teriakan itu menggema di seluruh kelas bersamaan dengan pintu auditorium yang terbuka. Hal itu sukses membuat para maba jadi menaruh perhatian atas kedatangan mereka.     Suasana tegang makin menjadi. Semua maba terdiam kaku di tempat duduk masing-masing. Termasuk Shana dan Agatha yang menatap ngeri pada jajaran anggota komisi disiplin yang berdiri di hadapan para mahasiswa baru itu.     "Untuk mahasiswa baru yang saat jam istirahat tidak mengambil makan siang, silakan meninggalkan ruang ini dan berbaris di luar," perintah itu keluar dari bibir Kepala Komisi Disiplin yang diketahui bernama Panji Taruna.     "Sha, maju nggak nih? Kita kan nggak makan siang. Tapi Kak Panji serem banget deh." Agatha mencolek bahu Shana.     "Dua maba yang duduk di belakang dan sedang bicara, apa kalian tadi mengambil makan siang atau tidak?" Panji meneriaki Shana dan Agatha yang kedapatan tengah berbisik-bisik.     "Tidak, Kak." Agatha menjawab.     "Siap, tidak." Shana juga berujar hampir bersamaan dengan Agatha.     "Maju ke depan!" perintah Panji galak.     Shana menghela napas dan menoleh pada Agatha. "Yuk, maju."     Selanjutnya, setelah dibentak-bentak, beberapa maba dengan sukarela maju ke depan untuk mengaku bahwa mereka tadi tidak mengambil makan siang. Setelah beberapa mahasiswa baru terkumpul di depan, Kak Panji memerintah anggota komdis untuk menggiring para maba keluar kelas.     Sesampainya di luar, para mahasiswa baru diminta berbaris rapi. Lalu satu per satu anggota komisi disiplin menanyai mahasiswa baru perihal alasan mereka tidak makan siang.     Shana dan Agatha lagi-lagi saling tatap. Saat tiba giliran Shana ditanya-tanyai, cewek itu cukup kelabakan.     "Ke mana tadi saat jam makan siang?" tanya Kak Panji. Suatu kehormatan sekaligus kesialan karena mendapat kesempatan ditanyai langsung oleh pak kepala komisi disiplin.     "Tadi saya jalan-jalan sebentar, Kak," jawab Shana ragu. Pasti habis ini ia akan kena makian Kak Panji.     Kak Panji menarik senyum miring. "Jadi maksud kamu jalan-jalan lebih penting dari makan siang?"     Shana menggeram kesal dalam hati. Jelas kalau kasusnya seperti ini, bukankah memang lebih baik jalan-jalan dari pada makan siang? Bukankah beruntung Shana tidak sempat memakan makan siang yang telah disediakan panitia? Kalau tadi Shana makan siang, tak pelak lagi dia akan menjadi bagian dari antrean di depan toilet itu.     Kak Panji tidak menunggu jawaban Shana. Dia beralih ke Agatha. "Kamu ngapain pas jam makan siang?"     "Saya juga pergi keluar gedung ini sebentar. Buat cari udara, Kak," jawab Agatha sambil nyengir takut-takut.     Kak Panji mendengkus. "Jadi makan siangmu diganti dengan mencari udara, begitu? Memang udara bisa bikin kamu kenyang, ya? Udara bisa bikin kamu nggak mati kelaparan, hah?"     Agatha menggeleng takut. Tapi dia terlihat cukup berani karena tetap memandang lurus ke mata Kak Panji.     Kak Panji berjalan kembali ke depan barisan. Dia diam di sana sembari menunggu anak buahnya di komisi disiplin selesai dengan tugas mereka.     Setelah semua anggota komisi disiplin kembali ke depan barisan mahasiswa baru, Kak Panji buka suara lagi. "Untuk kalian yang tidak menggunakan jam istirahat dengan baik, kalian akan diberi bonus oleh-oleh tanda cinta dari kami anggota komisi disiplin. Kerjakan essai dengan tema makan siang dan bahaya telat makan sebanyak tiga folio. Itu artinya ada dua belas halaman yang harus terisi. Tulis dengan tulisan tangan, tidak boleh diketik. Tulisan dibuat kecil dan rapi. Jangan coba-coba sengaja membesarkan ukuran huruf dalam tulisan kalian agar jumlah halaman essai cepat terpenuhi. Kalau sampai itu terjadi, kalian akan kami minta menulis ulang essai kali ini dengan jumlah halaman dua kali lipat. Juga margin kanan dan kiri satu sentimeter, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Tidak boleh ada coretan atau tulisan yang dihapus. Maksimal pengumpulan bonus oleh-oleh adalah pukul lima besok pagi. Bisa dipahami?"     "Siap, bisa dipahami Kak," jawab para maba kompak. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD