Chapter 14

1474 Words
    Arthur berhenti berjalan, membuat kedua temannya turut menghentikan langkah mereka. Arthur menunjuk ke suatu arah dengan dagunya, "Itu Agatha."     Dua orang yang berjalan dengan Arthur segera menoleh ke arah yang ditunjuk dagu Arthur. Mereka sungguhan mendapati Agatha di sana.     Tanpa membuang waktu, mereka bertiga menghampiri Agatha. Agatha sendiri berdiri di depan sebuah ruangan dengan papan petunjuk tempat bertuliskan toilet.     "Dicariin ke mana-mana, ternyata di sini," omel Verrel.     Agatha menaikkan sebelah alisnya. Menatap bingung ke ketiga temannya. Ia bicara sembari mengarahkan telunjuknya ke papan bertuliskan toilet itu. "Lah, emang salah kalau gue ke toilet? Kalian kan juga masih sibuk sama urusan masing-masing. Gue nggak bisa pamit dong."     Agatha sempat bertatapan dengan Shana sebentar, tapi masing-masing dari mereka dengan cepat mengalihkan pandangan.     "Udah-udah, yuk balik ke lapangan basket." Shana berbalik dan kembali berjalan ke lapangan basket.     Arthur, Verrel, dan Agatha mengikuti Shana. ***     Latihan masih berlangsung. Padahal sekarang sudah pukul sembilan malam.     Seorang satpam datang dengan sepeda motornya. Satpam itu menegur para maba yang masih betah di kampus untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Ternyata jam sembilan adalah jam malam kampus ini.     Akhirnya karena bingung akan lanjut di mana, para anggota kelas memutuskan untuk menyudahi acara latihan mereka. Apapun hasilnya penampilan mereka besok, itu adalah hasil latihan mereka yang terbatas waktunya itu.     Masing-masing maba membubarkan diri. Arthur dan Verrel menghampiri Shana dan Agatha yang sudah lebih dulu beranjak dari lapangan basket.     "Agatha balik sama gue. Kalian gimana?" tanya Verrel pada Arthur dan Shana.     Arthur memakai jaketnya yang tadi sempat ia lepas karena gerah. "Gue bawa motor. Shana balik sama gue."     "Oke deh. Sampai ketemu besok ya," ujar Verrel kemudian berlalu bersama Agatha.     Arthur dan Shana mengangguk. Mereka masih bergeming di tempat.     "Sha, gue liat-liat, lo sama Agatha lagi diem-dieman. Kenapa?" tanya Arthur serius.     Shana menggeleng. Pura-pura tidak pernah terpikirkan oleh pertanyaan Arthur. "Masa sih? Perasaan biasa aja. Mungkin karena emang nggak ada yang perlu kami obrolkan, makanya kita diem."     Arthur masih menyimpan rasa penasarannya. Tapi ia tidak berniat mengulik lagi. Toh, Shana tetap akan berkelit. "Yuk ke parkiran."     Shana mengangguk. Sebenarnya, Shana juga merasakan kalau Agatha agak berubah jadi pendiam. Apa moodnya sedang buruk gara-gara liptint di mobil Verrel atau karena hal lain?     Shana naik ke boncengan motor Arthur. Sesaat kemudian, motor Arthur sudah melaju membelah jalanan kampus yang sepi karena sudah larut malam. ***     Shana terbangun karena mimpi buruk tiba-tiba singgah menghantui tidurnya. Shana melirik ke jam dinding di kamarnya. Ternyata sekarang sudah jam lima pagi. Dari pada pergi tidur lagi dan kebablasan sampai siang, Shana memilih turun dari ranjangnya.     Shana mencabut ponselnya dari kabel pengisi daya. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan menghabiskan waktu beberapa lama di sana.     Seberes mandi, Shana berdandan rapi. Ia meneliti meja riasnya. Shana memoles make up tipis yang kelihatan natural. Selama ospek memang mahasiswa baru tidak boleh memakai dandanan berlebihan. Semua sudah diatur beserta hukumannya dalam pasal-pasal yang dibuat oleh komisi disiplin.     Shana melirik ke jam di dinding lagi. Sudah pukul enam kurang lima belas. Ia bergegas menyambar tas dan ponselnya lalu meninggalkan kamar. Berhubung semalam ayahnya tidak pulang dan bundanya belum juga kembali dari pelatihan di luar kota, Shana jadi tidak berminat sarapan. Ia lumayan malas menyiapkan sarapan akhir-akhir ini.     Jadi Shana melewatkan makan paginya dan langsung keluar dari rumah. Ia mengecek ponsel, barangkali ada pemberitahuan dari Verrel kalau lagi-lagi dia akan nekat membawa mobil ke kampus.     Benar saja, Verrel sudah memberitahu akan menjemputnya. Tentunya Verrel juga menjemput Agatha dan Arthur seperti hari kemarin.     Setelah menunggu sekitar lima menit, mobil Verrel sampai juga di rumah Shana. Tanpa banyak membuang waktu, Shana membuka pintu belakang dan duduk di jok belakang bersama Agatha.     "Hai, Sha. Nih mama bawain sandwich. Lo mau nggak?" Agatha menawari Shana bekal sarapannya.     Shana mencomot satu sandwich telur itu dari kotak bekal Agatha. Shana lumayan lega dengan sikap Agatha yang kembali ceria pagi ini. Itu artinya, semua baik-baik saja, kan?     Verrel menyetir agak ngebut berhubung sedang dikejar waktu. Sesampainya di kampus, Verrel lagi-lagi memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang mendadak jadi tempat parkir pribadi Verrel.     Keempat s*****n itu turun dari mobil dan berjalan ke arah gerbang fakultas mereka. Kali ini semua tampak normal saat mereka memasuki gerbang. Tidak ada maba yang kelihatan antusias saat mendengar ada penemuan mayat di area fakultas.     Keempat s*****n itu langsung menuju ke lapangan gedung dekanat. Mereka langsung masuk ke barisan karena apel pagi akan dilaksanakan sebentar lagi.     Seperti biasa, apel pagi berjalan kurang lebih lima belas menit. Setelah selesai dengan apel pagi, para maba dibawa ke auditorium untuk diberi pengarahan rundown acara ospek hari ini.     Kakak observer membukakan pintu auditorium untuk maba yang telah selesai mengisi presensi. Tiba-tiba saja kakak observer yang bertugas di pintu masuk auditorium itu menjerit histeris.     Beberapa panitia ospek mendekati cewek itu. Memastikan apa yang salah hingga cewek itu menjerit histeris. Beberapa panitia lain justru manatap horor rekannya yang menjerit histeris itu. Mungkin mereka berpikir cewek itu kerasukan atau kesurupan.     "Tutup pintunya, tutup," perintah kakak observer lain yang sudah mengecek auditorium.     "Jangan pake ruang auditorium," imbuh yang lain.     "Iya, tutup aja. Itu nggak pantes dijadiin tontonan," timpal yang lain.     "Jagain pintunya, jangan sampai ada yang masuk dan lihat apa yang ada di dalem," pesan cewek berambut pirang.     Semua panitia jadi panik sekaligus penasaran. Sementara para maba harus puas hanya bertanya-tanya dan berusaha menebak apa yang ada di dalam auditorium.     "Panitia tenang. Jangan panik dan langsung bawa maba ke balairung. Presensi dilanjutkan nanti saja saat sudah di balairung," ucap seorang laki-laki memberi komando. Dia Panji yang kebetulan ada di sini.     Para panitia mengangguk patuh dan segera mengkondisikan para maba. Maba-maba itu digiring ke balairung. Toh memang tempat acara Parade Seni akan diadakan di balairung ini. ***     Para mahasiswa baru diberi pengarahan soal rundown acara Parade Seni hari ini. Mereka lalu diberi waktu untuk persiapan. Banyak juga yang berganti kostum untuk mendukung penampilan seni yang mereka bawakan. Sementara maba yang tidak ikut tampil menjadi pendukung perwakilan kelas yang tampil.     Sesuai kesepakatan kemarin malam, hari ini anggota kelas di mana empat s*****n tergabung memilih kompak menggunakan baju warna merah. Hari ini maba memang dibebaskan untuk berkreasi mendukung penampilan kelas mereka. Termasuk coret-coret wajah seperti yang kelas empat s*****n itu lakukan.     "Kurang Sha merah-merahnya," ujar Agatha sembari mengoleskan body painting warna merah ke wajah Shana.     Shana mendelik, "Ih, parah lo, Tha. Ini kebanyakan sekarang. Gimana kalau susah ilang?"     "Bagus dong, Sha. Pipi lo jadi merah merona alami sepanjang hari," kelakar Agatha.     Shana berdecak sebal tapi ia lalu memilih untuk tidak mempersoalkan hal kecil begitu.     "Guys," sela si Nolan meminta perhatian. "Kelas kita maju urutan ketiga. Kalian yang nggak ikut tampil, semangat buat dukung yang tampil ya. Jangan lupa yel-yelnya. Oh ya, drumnya bawa ke depan dong. Biar yang mimpin nanti dari depan."     Agatha dan Shana yang kebetulan duduk di barisan depan jadi terdorong mundur saat para pemimpin yel-yel kelas maju ke depan.     Nolan menepukkan tangannya beberapa kali, kembali meminta perhatian. "Lima menit lagi acara dimulai. Pembukaan nanti dipanggilin kelas-kelasnya. Pas giliran kita, jangan lupa heboh ya, guys. Thanks."     Benar kata Nolan. Selang lima menit sejak Nolan berhenti bicara dan menghilang ke bagian belakang balairung, acara Parade Seni dibuka. MC yang tak lain juga dari panitia ospek membuka acara dengan semangat dan keceriaan. Ya, acara ini memang acara bersenang-senang, penanda ospek fakultas akan segera berakhir.     "Nah, guys kita panggilin ya satu-satu kelas ospek kali ini. Nanti pas kelas kalian dipanggil, boleh banget buat ngumandangin yel-yel atau sekadar bersorak," ucap MC cewek.     MC cowok juga menambahkan, "Pokoknya yang rame deh. Kita seru-seruan hari ini. Udah nggak ada acara kalian bakal kena pasal-pasalnya komisi disiplin."     MC cewek tertawa ringan sembari mengangguk setuju, "Haha, bener banget tuh, Kak. Udah rileks aja, jangan tegang-tegang. Nanti komdis juga ada persembahan lho buat kalian, ditunggu ya."     "Oke deh, dari pada kalian bosen dengerin kita cuap-cuap, mending langsung aja nih kita cek semangat per kelas. Setuju?" MC cowok mengarahkan mikrofonnya ke arah para maba.     Kedua MC itu mulai menyapa satu per satu kelas ospek. Kelas yang dipanggil pun langsung mengumandangkan yel-yel kebanggaan kelas mereka.     "Njir, berisik banget nih kelas sebelah. Sok heboh bener deh." Agatha menutup sebelah telinganya. Ia mulai kesal sendiri.     Kelas yang duduk di sebelah kelas Agatha dan Shana sedang kebagian mengumandangkan yel-yel. Mereka menggunakan drum dan terompet untuk mengiringi teriakan dan lagu penyemangat khas kelas mereka. Memang suara hasil pukulan drum dan tiupan terompet terdengar terlalu berisik untuk ukuran balairung yang luasnya hanya sepertiga lapangan sepak bola.     Kelas itu akhirnya menyudahi kumandang yel-yel mereka. Kini giliran kelas Agatha dan Shana yang mengumandangkan yel-yel. Yel-yel mereka hanya dimeriahkan dengan pukulan drum. Tapi yang membuat yel-yel kelas Agatha dan Shana berbeda dari kelas lain adalah dengan ditambahkannya koreografi saat mengumandangkan yel-yel.     "Wah, keren banget ada koreografinya. Gerakannya lucu, jadi pengen ikut joget nih," puji MC cewek setelah kumandang yel-yel dari kelas Agatha dan Shana selesai.     MC cowok kelihatan tersenyum geli, "Tapi yang goyang cuma yang cewek-ceweknya aja. Yang cowok apa kabar? Kenapa kaku-kaku kaya sapu lidi gitu?"     "Gengsi kali mau goyang-goyang, Kak. Padahal harusnya diasikin aja," canda MC cewek.     "Oke deh, nanti kalau ada kesempatan buat goyang, eh maksud gue kesempatan buat yel-yel, haha. Kalian yang cowok kudu goyang." Si MC menunjuk cowok-cowok di kelas Shana dan Agatha. "Sekarang lanjut dulu deh ke kelas selanjutnya. Ada dari kelas mana nih?"     Acara pembukaan Parade Seni Fakultas Ekonomi masih diisi dengan kumandang yel-yel sampai beberapa waktu mendatang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD