Chapter 15

1452 Words
    Sudah dua kelas yang tampil dalam Parade Seni ini. Itu artinya, sekarang giliran kelas Verrel dan Arthur yang tampil. Kedua cowok itu sudah siap untuk tampil. Saat MC mempersilakan kelas mereka tampil, dua cowok itu kelihatan menyita perhatian.     Kedua cowok itu menggunakan baju ospek yang bagian kemejanya sudah tidak dikancingkan sampai atas dan memperlihatkan kaos putih polos yang menjadi dalaman kemeja. Ada slayer hitam yang terkalung di leher Arthur. Sedangkan Verrel menggunakan sleyer hitam untuk menutupi setengah wajahnya. Arthur dan Verrel juga menggunakan kacamata hitam untuk mendukung penampilan mereka. Tak lupa, Verrel dan Arthur sama-sama membawa sterofoam yang sudah dilapisi kertas manila dan ditulisi tulisan-tulisan dagelan yang biasa dibawa orang demo.     Ya, kelas Verrel dan Arthur membawakan musikalisasi puisi dengan tema demokrasi dan demonstrasi.     Ada siswa yang berperan membaca puisi sekaligus menyanyi, ada yang berperan mengiringi puisi dan nyanyian dengan petikan gitar, ada pula yang berperan sebagai aparat keamanan. Sementara Verrel dan Arthur, bisa ditebak kalau kedua orang itu sedang berperan sebagai pendemo.     Penampilan mereka berlangsung dramatis dan membuat banyak penonton tercengang dengan penampilan mereka. Puisi dibacakan dengan karakter kuat, nyanyian pilu terdengar mengiringi para tokoh pendemo yang jatuh tak sadarkan diri atau mati setelah terkena gas air mata dan tembakan aparat keamanan. Yah, semua itu hanya penggambaran yang didramatisasi. Kenyataannya, mungkin bisa tidak begitu buruk atau justru lebih buruk. Entahlah.     Setelah selesai dengan penampilan mereka, semua penampil berbaris rapi dan memberi salam. Tepuk tangan meriah mengiringi para penampil keluar dari panggung. ***     Siang ini, matahari bersinar terik. Para maba diberi jeda waktu kurang lebih satu jam untuk ishoma. Tapi kebanyakan dari mereka tidak beranjak kemana-mana dan memilih menghabiskan makan siang di balairung.     Sambil membereskan kotak makan siang yang telah tandas, Shana memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi pagi.     "Guys, kalian udah tau apa yang dilihat sama kakak observer di ruang auditorium?" tanya Shana sambil menatap satu per satu temannya.     Arthur mengedikkan bahu, Verrel menggeleng dengan wajah b**o, dan Agatha juga menggeleng dengan wajah penasaran.     "Yuk, kepoin ruang auditorium," ajak Shana.     Verrel menggeleng, "Percuma kali, Sha. Ke sana sekarang nggak akan dapet apa-apa."     "Terus mau gimana? Mustahil kan kita minta panitia beberin apa yang terjadi pagi tadi. Kita harus cari tau sendiri." Shana berusaha meyakinkan teman-temannya.     Agatha menghela napas, "Udaranya panas banget nih, Sha. Emang paling pas ngadem di sini."     Shana cemberut. Ada apa sih dengan teman-temannya? Kenapa mereka jadi masa bodoh sama kasus ini?     "Sha, kita nggak akan dapet akses buat ngecek auditorium. Panitia ospek pasti udah ngurus tempat itu. Kalau misal tadi pagi ada mayat yang bikin histeris kakak observer, kemungkinan ruangan itu udah digaris polisi." Arthur berusaha membuat Shana menyerah dengan keinginannya untuk mengecek auditorium.     "Oke, fine. Gue nggak akan ngecek ke sana sekarang, nggak tau nanti sore atau nanti malem," ketus Shana. Ia bangkit dari duduknya sembari membawa serta kardus kotak makan siangnya.     Shana menggerutu sambil membuang kotak itu. Ia kecewa pada teman-temannya. Kalau begini caranya, Shana memang harus mencari orang lain yang memiliki tujuan sama dengannya. ***     Verrel yang semula sibuk bermain hape akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya mengikuti langkah Shana keluar dari balairung.     "Eh, Shana marah?" tanya Verrel bingung.     Agatha menoleh ke arah Shana, "Mungkin. Tapi biarin aja, nanti juga bakal baikan lagi."     Arthur ada di sana tapi memilih diam dan tidak berkomentar. Ia hanya mengamati gerak-gerik Shana dari kejauhan.     "Ar, udah baca chat gue, kan? Menurut lo gimana?" tanya Agatha sembari mengalihkan tatapannya dari Shana ke Arthur.     Arthur menggeleng, "Gue belum bisa menyimpulkan. Apalagi informasi yang lo dengar itu sepotong-sepotong."     "Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Verrel tidak terima karena tidak diberitahu permasalahannya. "Nggak seru kalau main rahasia-rahasiaan. Kalian ngomongin Shana, ya? Dia kenapa dah?"     Arthur dan Agatha langsung terdiam. Mereka tidak lagi melanjutkan pembicaraan karena ada makhluk kepo bernama Verrel. ***     Shana terlalu kesal untuk kembali bergabung dengan teman-temannya di balairung. Shana memilih berjalan ke selasar gedung departemen akuntansi. Di sana, Shana menghubungi seseorang yang kemarin sempat mengajaknya bekerjasama. Selama tujuannya baik, kenapa tidak? Shana mengiyakan ajakan orang itu untuk menguak kasus yang terjadi selama ospek fakultas ini.     Orang itu bertanya di mana posisi Shana sekarang. Shana mengatakan posisinya sedang ada di selasar gedung departemen akuntansi. Orang itu bertanya apakah Shana sedang sendirian atau sedang bersama teman-temannya. Shana menjawab kalau dia sedang sendirian. Orang itu pun berjanji akan segera menemui Shana.     Shana harap-harap cemas. Ini kali pertama dia berniat menguak kasus tanpa teman-temannya. Padahal biasanya teman-teman Shana sangat bersemangat untuk menegakkan kebenaran. Tapi entah mengapa, kali ini lain ceritanya. Mereka di awal memang terlihat semangat menyelidiki kasus ini. Tapi belakangan, mereka jadi kelihatan pasrah pada keadaan.     Oke, hidup dan mati memang di tangan Tuhan. Shana juga tidak berniat mengubah takdir seseorang. Ia hanya ingin mencari kebenaran dari kasus ini. Ia hanya ingin memberikan ganjaran yang setimpal pada pelaku-pelaku kejahatan semacam ini. Shana yakin kalau teman-temannya tau itu. Tapi kenapa mereka berubah?     Lamunan Shana terhenti saat ia melihat seseorang berdiri tak jauh darinya melalui sudut matanya. Shana mendongak dan mendapati Morus berdiri di hadapannya.     "Udah nunggu lama? Sorry ya, barusan susah banget misahin diri dari Langir sama Panji." Morus mengawali obrolan.     Shana tersenyum canggung, "Kak Morus bilang udah punya bukti, kan?"     Morus mengangguk. "Nanti gue kirim ke lo buktinya. Gue cuma pengen kerja sama sama lo. Jadi jangan ajak cowok temen lo itu."     Shana menaikkan sebelah alisnya bingung. Tapi ia tetap mengangguki ucapan Morus.     "Kak, gue balik ke balairung dulu." Shana menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada tembok.     Morus mengangguk dan mempersilakan Shana berlalu. ***     Arthur menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Shana belum juga kembali ke balairung. Ke mana perginya Shana?     "Tha, lo yakin kalau semalem Shana beneran ketemuan sama Morus?" tanya Arthur pada Agatha.     Agatha mengangguk mantap, "Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Ar. Mereka ngobrol di depan mobil yang jadi TKP penemuan mayat maba itu."     "Terus menurut lo, mereka saling tukar-menukar sesuatu gitu?"     "Nggak ada sih. Mereka cuma ngobrol serius gitu."     Arthur mengangguk. Ia sudah punya gambaran kira-kira ada hubungan apa Shana dengan Morus ini.     Saat menoleh ke arah luar balairung, Arthur bisa milhat Shana berjalan masuk ke sini. Sebelum itu terjadi, Arthur melipir keluar dari balairung, menghadang Shana, dan membawa cewek itu menjauh dari balairung.     "Arthur, apa-apaan, sih? Kalau panitia tau kita kelayapan pas jam ishoma udah habis, kita pasti kena masalah."     "Makanya diem dulu dan jangan berontak atau lo bakal jadi pusat perhatian."     Shana menuruti kata Arthur. Dia terpaksa mengikuti ke mana Arthur akan membawanya.     Arthur membawa Shana ke balik gedung kegiatan mahasiswa. Tempat itu memang sepi dan sangat tidak terjangkau oleh orang banyak.     "Sha, lo lakuin penyelidikan sendirian?" tanya Arthur tenang tapi menyeramkan.     Shana menggeleng cepat-cepat, "Enggak, sama sekali enggak."     "Gue tau jawaban lo barusan itu bohong. Terserah lo sih, mau melakukan apa. Tapi apa lo yakin Morus bisa dipercaya buat bantuin lo ngungkap dalang di balik kejadian ini? Lo berhubungan sama Morus, kan?" Arthur menaikkan sebelah alisnya dan menenggerkan sebuah senyuman miring.     Shana kehilangan perbendaharaan katanya. Mendadak dia jadi mati kutu di hadapan Arthur. s**l, belum apa-apa, Arthur sudah mengetahui tentang kerja sama Shana dengan Morus! ***     Sepulang ospek, empat s*****n itu segera pulang. Mereka terlebih dahulu mengambil mobil Verrel yang terparkir di luar gerbang fakultas.     "Eh, Sha, lo diem-diem aja. Masih ngambek?" tanya Verrel sembari berjalan.     Shana menggeleng. Ia tidak mau berkomentar.     "Jangan gini dong. Nggak seru kalau kalian pada musuh-musuhan." Verrel kembali bicara. Kali ini ia mengatakan hal itu untuk ketiga temannya.     "Hmm," gumam Agatha.     Verrel berdecak karena merasa usahanya membuat hubungan di antara teman-temannya membaik kelihatan mustahil. Verrel sebenarnya masih bingung apa yang terjadi dengan ketiga temannya hingga mereka kelihatan memusuhi satu sama lain.     "Eh, ntar malem mau nguntit kakak ospek yang mana?" tanya Verrel lagi untuk memecah keheningan.     Agatha menggeleng, "Gue nggak ikutan. Gue pengen istirahat."     Verrel mengernyit mendengar jawaban Agatha. Tapi ia tidak protes dan berbalik menatap Arthur. "Lo, gimana Ar?"     "Gue ada agenda lain nanti malem. Jadi nggak bisa ikutan dulu," balas Arthur.     "Sha, lo gimana?" Kali ini Verrel menoleh pada Shana.     Shana menggeleng sembari melirik ke arah Arthur, "Gue juga kayanya nggak bisa. Gue ada janji sama orang."     Verrel menghela napas. Dia lalu memutuskan, "Ya udah deh, gue juga nggak mau cari tau."     Mereka tiba di mobil Verrel. Verrel segera duduk di balik kemudi. Arthur duduk di jok depan. Agatha dan Shana seperti biasa, duduk di jok belakang.     Meski duduk bersebelahan, Agatha dan Shana sama sekali tidak saling buka suara. Keduanya mencari kesibukan sendiri-sendiri. Agatha dengan ponselnya dan Shana dengan lamunannya.     Verrel yang merasakan keheningan tidak wajar di dalam mobilnya, akhirnya memutar musik keras-keras. ***     Shana mengucapkan terima kasih pada Verrel lalu turun dari mobil. Ya, Shana memang yang terakhir diantar pulang.     Setelah mobil Verrel kembali melaju di jalanan meninggalkan rumah Shana, Shana segera membuka gerbang dan masuk ke rumahnya. Shana membuka pintu depan. Seperti biasa, rumah Shana akan sekosong itu.     Shana segera menuju ke kamarnya. Ia menghempaskan badannya ke kasur empuk miliknya. Shana membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah.     Ponsel Shana berbunyi. Notifikasi pesan masuk bertengger di sana.     Shana harap-harap cemas saat mengecek ponselnya. Tapi ia lalu berdecak malas saat mengetahui notifikasi pesan itu bukan dari orang yang ia nantikan. "Ck, bukan dari Kak Morus."     Shana meletakkan kembali ponselnya. Ia menelungkupkan wajahnya ke bantal. Otaknya berpikir keras.     "Gimana kalau gue salah mengambil keputusan?" gumamnya lirih. Ia bertanya pada dirinya sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD